Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Tampilkan postingan dengan label A.A Navis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label A.A Navis. Tampilkan semua postingan
CERPEN ANGIN DARI GUNUNG OLEH A.A NAVIS

CERPEN ANGIN DARI GUNUNG OLEH A.A NAVIS


angin dari gunung
image Weheartit
Sejauh mataku memandang, sejauh aku memikir, tak sebuah jua pun mengada. Semuanya mengabur, seperti semua tak pernah ada. Tapi angin dari gunung itu berembus juga. Dan seperti angin itu juga semuanya lewat tiada berkesan. Dan aku merasa diriku tiada.

Dan dia berkata lagi. Lebih lemah kini, "Kau punya istri sekarang, anak juga. Kau berbahagia tentu."

"Aku sendiri sedang bertanya."

"Tentu. Karena tiap orang tak tahu kebahagiaannya. Orang cuma tahu kesukarannya saja."

Dan dia diam lagi. Kami diam. Angin dari gunung datang lagi menerpa mukaku. Dan kemudian dia berkata lagi. "Sudah lima tahun, ya? Ya. Lima tahun kawin dan punya anak." Aku masih tinggal dalam diamku. Aku kira dia bicara lagi.

"Kau cinta pada istrimu tentu."

"Anakku sudah dua."

"Ya. Sudah dua. Kau tentu sayang pada mereka. Mereka juga tentunya. Dan kau tentu bahagia."

Dia berhenti lagi. Lalang yang ditiup angin bergelombang menuju kami. Lalu angin menerpa mukaku lagi. Dan aku merasa. ketiadaanku pula. Angin pergi.

"Kau ingat, Har?"

"Apa?" kutanya dia dengan gaya suaranya.

"Sembilan tahun yang lalu."

"Ya. Aku masih ingat. Tapi itu sudah lama lampaunya."

"Ya. Sudah lama. Aku tak pernah mau mengingatnya. Tapi kini aku ingat lagi." Dia diam lagi. Dan memandang jauh ke arah gunung itu. "Ketika itu seperti macam sekarang. Kita duduk seperti ini juga. Tapi tempatnya bukan di sini. Aku masih ingat, sekali kau menggenggam jariku erat sekali. Aku biarkan dia tergenggam. Dan dalam tekanan genggamanmu, aku tahu kau mau bicara. Dan aku menunggunya. Tapi kau tak berkata apa-apa."

"Masa itu, masa kanak-kanak kita," kataku. Tapi cepat kemudian aku jadi menyesal telah mengatakannya.

"Ya," katanya dengan suara tak acuh. "Jari-jariku itu sudah tak ada lagi kini. Kedua tanganku ini, kaulihat? Buntung karena perang. Dan aku tak lagi dapat merasa bahagia seperti dulu. Biar kau menggenggamnya kembali. Mulanya aku suka menangis. Menangisi segala yang sudah hilang. Tapi kini aku tak menangis lagi. Tak ada gunanya menangisi masa lampau. Buat apa?"

Aku jadi sentimental dan hatiku berteriak, meneriakkan seribu kenangan yang datang mengharu biru. Kucoba membuang segala kesenduan, tapi aku menjadi tambah tenggelam olehnya. Dan angin meniup lebih syahdu terasa. Serasa ada nyanyian iba besertanya.

"Tak ada gunanya," katanya lama kemudian. Dan aku menunggu dia bicara lagi. Tapi itu saja yang dikatakannya. Tak diteruskannya. Kedua tangannya yang buntung itu diacungkannya ke depan, disilangkan, lalu digesek-gesekannya. Melihat itu, aku mau tersedu. Tersedu seperti ketika pusara Ibu mau ditimbuni.

"Kau punya anak, punya istri. Dari itu kau punya pegangan hidup, punya tujuan minimal. Tapi yang terpenting kau punya tangan. Hingga kau dapat mencapai apa saja yang kaumaui. Sebagai suami, sebagai ayah, sebagai laki-laki, sebagai manusia juga, seperti yang kita omongkan dulu, kau dapat mencapai sesuatu yang kauinginkan. Alangkah indahnya hidup ini, kalau kita mampu berbuat apa yang kita inginkan. Tapi kini aku tentu saja tak dapat berbuat apa yang kuinginkan. Masa mudaku habis sudah ditelan kebuntungan ini."

Dan tangan itu diturunkannya lagi. Dia memandang lebih jauh melampaui balik gunung dari mana angin meniup. Kala itu aku ingin mengatakan sesuatu kepadanya. Sebuah ucapan yang indah dan memberi semangat seperti dulu sering kuucapkan untuk anak buahku di front Barat. Tapi bagaimana aku dapat mengatakan, kalau semangat itu sendiri telah kulemparkan jauh-jauh pada suatu ketika.

"Dulu aku cantik juga, bukan?" katanya pula. "Bahkan tercantik di front Barat itu. Aku tahu semua orang mau menarik perhatianku. Semuanya mau mati-matian dan bekerja berat di depanku. Semuanya mau berjuang membunuh musuh demi mendekatiku. Tapi keitika musuh datang, aku kebetulan tak ada disana, mereka habis lari kehilangan keberanian.

Kalau pemimpin yang datang di front, di waktu tak ada perempuan, aku menjadi sibuk. Aku diminta mengatur tempat tidur mereka. Dan ketika mereka mau pergi, dicarinya aku dulu. Dijabatnya tanganku erat-erat. Dan di ucapkannya kata-kata yang indah berisi keharuan. 'Kami atas nama pemerintah dan seluruh pemimpin perjuangan revolusi kemerdekaan mengucapkan terima kasih kepada Saudari. Kami sangat merasa bangga dengan adanya patriot wanita seperti Saudari, yang selamanya menyediakan waktu untuk memberi semangat kepada prajurit kita. Kami juga yakin, kalau Saudari tak di sini, tentu front ini sudah lama di duduki musuh.'

Begitulah. Kalau ada orang sakit, aku juga yang merawatnya. Dan di waktu malam-malam yang damai, mereka minta hiburan. Aku bernyanyi. Mereka memetik gitar. Dan mereka dapat melupakan segala hal-hal yang menekan. Dan waktu itu, aku sering merasa jumlah tanganku yang masih kurang. Aku mau tanganku lebih banyak lagi. Kalau boleh sebanyak jari ini.

Tapi sekali pernah juga aku berpikir-pikir, bahwa hidup seperti itu tidaklah akan selamanya berlangsung. Suatu masa kelak akan berakhir juga. Dan kalau perang sudah selesai, aku ingin bersekolah lagi. Sekolah apa? aku tak tahu. Yang aku tahu Cuma, tambah banyak ilmu, tambah banyak yang dapat diperbuat. Ya, itulah semua."

Satu demi satu ucapannya bercekauan dalam hatiku. Dan kini kumandangnya lebih menyayat terasa, lebih menusuk. Aku jadi tak berani mengangkat kepalaku. Makin lama kian terkulai keseluruhan adaku di dekatnya.

Matahari ketika itu sangat cerahnya. Bayangan pohon manggis bertelau-telau pada rumput hijau. Dan di kiriku dia duduk mengunjurkan kakinya. Kaki itu kaki yang dulu juga. Kaki yang pernah menggodaku. Sekarang kaki itu terhampar begitu saja. Dan aku tak dapat memandangnya lama-lama, karena kaki itu tidak berbicara apa-apa lagi bagiku kini. Dan perasaanku tidak seperti dulu lagi. Justru itulah yang menyebabkan aku merasa dipilukan perasaanku sendiri. Hendak kuelus hatinya, hendak kuceritakan sejarah hidup Helen Keller. Bahkan hendak kukatakan juga, bahwa aku mau memeliharanya. Memelihara dia? Tidak. Dan aku sudah punya dua anak. Agus dan Hafni. Ketika aku sadar jalan itu buntu, aku menyesali diriku sendiri. Juga menyesali segala yang sudah terjadi. Dan aku tak bisa berdoa untuknya. Doa serasa tak berharga kini. Tiap-tiap orang punya doa. Dan doa sekadar doa, tak ada gunanya. Maka aku merasa segalanya jadi terbang.

"Apa yang kaupikirkan?" tanyanya tiba-tiba.


Aku jadi gugup dan tersentak dari keterbanan perasaanku. Dan aku katakan, bahwa aku sedang memikirkannya.

"Masa dipikirkan lagi," katanya. "Apa perlunya? Semua sudah sewajarnya, bukan?"

"Apa?" tanyaku ragu-ragu.

"Kau memikirkan aku, kan?"

"Tidak setepat itu benar. Aku sedang memikirkan apa yang hendak kulakukan."

"Untuk apa?"

"Untukmu."

"Sia-sia saja."

Tiba-tiba kuingat pada pusat rehabilitasi di Solo. Dan lalu kukatakan kepadanya. Lama ia terdiam, dan matanya seperti melangkaui segala apa yang dapat dilihatnya.

"Bagaimana? Setuju? Kalau kau setuju jangan kaupikir apa-apa. Aku yang uruskan semua."

Tapi dia masih tiada memberi reaksi. Dan aku mendesak lagi.

"Kalau perlu ...Ah, tidak, Aku sendiri yang akan mengantarkan kau. Barangkali tidak lama kau di sana, kau sudah bisa pulang lagi. Dan selanjutnya kau sudah bisa berbuat sesuatu lagi, seperti dulu."

Lalu ia memandang padaku. Dan tersenyum. Tapi senyumnya ini menusuk hatiku. Aku jadi gugup.

"Mengapa kau tersenyum?" tanyaku dalam kehilangan keseimbangan diriku.

"Mungkinkah orang seperti aku ini dapat berbuat sesuatu?" tanyanya dengan suara yang lain sekali bunyinya. Begitu pahit.

Dan aku jadi ragu-ragu untuk meyakinkannya lagi. Lalu aku pura-pura tak mendengarkan apa katanya. Aku beri dia semangat yang bernyala-nyala, yang aku sendiri pada dasarnya sudah tak percaya akan semangatku sendiri. Dan dia tahu itu rupanya. "Kau sendiri tak yakin dengan ucapanmu. Bagaimana mungkin aku meyakinkannya?" katanya.

"Tapi sedikitnya, kau lebih bisa berbuat banyak nantinya."

"Ya. Tentu saja. Seperti juga dulu, kan? Seperti dulu, seolah-olah kalau tidak ada aku, semuanya seperti tidak akan sempurna, semua pekerjaan seolah takkan selesai. Semua orang memerlukan tenagaku. Semua orang jatuh cinta padaku. Semua orang haus akan segala yang ada padaku. Tapi setelah itu, setelah itu apa lagi?"

Aku tak merasa terpaan angin dari gunung itu lagi. Yang kurasakan terpaan ucapannya pada mukaku, karena terasa sebagai umpatan yang pahit tapi dicelup dengan tengguli.

"Kau kasihan padaku, bukan?"

"Kenapa tidak?"

"Ya. Tentu saja kau kasihan padaku. Karena kau merasa berdiri di tempat yang sangat tinggi, sedang aku jauh di bawahmu. Lalu dari tempat yang itu, kau memandang kepadaku, 'Oh, alangkah kecilnya kau, Nun, katamu'."

Aku mau membantah. Tapi sebelum aku dapat memilih kata, dia berkata lagi. "Seperti tadi saja. Kalau bukan aku yang menyapamu, kau takkan tahu siapa aku, bukan? Sedang mata pertamamu melihat aku tadi, kau seolah melihat pengemis yang dijijiki. Alangkah cepatnya segalanya berubah. Dan lebih cepat lagi seseorang melupakan seseorang lainnya, meski pernah orang itu dicintanya."

Aku ingin memandangnya tepat, hendak mencoba menyatakan bahwa segalanya mempunyai alasan-alasan tertentu. Ingin aku menentang matanya, hendak meyakinkannya, seperti pernah kulakukan dulu kepadanya.

"Meski bagaimana, aku tahu kau baik," katanya lagi.

"Ni Nun, Uni Nuuun," tiba-tiba seorang gadis kecil memanggil-manggil. Dan panggilan yang tiba-tiba itu mencairkan impitan yang memberat antara kami.

"Ke mana Uni Nun? Melalar saja. Tidak tahu dibuntung awak, " gadis kecil berkata lagi sambil memandang padaku dengan curiga dan kebencian. Aku jadi kaget, kalau gadis kecil semanis ini bisa bertingkah begitu terhadap Nun. Inikah lingkungan hidup Nun, pikirku. Di mana sedari kecil anak-anak telah memandang Nun sebagai manusia tak berguna, manusia yang sial. Kupandang wajah Nun yang berubah-ubah. Tapi cepat-cepat disembunyikannya wajahnya itu dari pandanganku.

"Nenek memanggil. Cepatlah!" gadis itu memamer lagi.

"Tolong tegakkan aku. Aku mau ke Nenek," Nun berkata padaku dengan suara dalam lehernya. Dan kutolong dia berdiri. Tapi waktu itu aku jadi sentimental lagi, melebihi tadi.

"Nenek sudah tua benar. Sudah lupa segalanya. Selain aku. Dan kalau aku tak di dekatnya, Nenek merasa kehilangan nyawa," katanya pula dan lalu pergi meninggalkan aku yang tercenung. Ketika ia mau membelok ke arah jalan raya, dia membalikkan badannya lagi ke arahku dan berkata pula. "Nenek tak bisa berpisah denganku. Antara kami berdua ada perpaduan nasib. Dan Nenek ingin hidup lebih lama, karena dia tak hendak membiarkan aku hidup sendirian."

Dia melangkah lagi. Tapi sebentar kemudian dia memaling lagi dan berkata, "Tapi kalau Nenek sudah tak ada lagi, aku juga tidak memerlukan apa-apa pula."

Lalu dia melangkah. Tapi sebelum dia hilang di balik belukar yang bergoyang ria ditiup angin dari gunung itu, kukatakan kepadanya, "Besok aku datang lagi ke sini, Nun."

Tapi dia tidak menoleh lagi. Hilang di balik belukar itu. Dan belukar itu bertambah ria menari ditiup angin dari gunung. Angin dari gunung yang meniup belukar hingga bergoyang dan menari ria itu, angin itu juga yang meniup aku, meniup Nun, dan meniup gadis kecil itu.
Terima kasih sudah berkunjung. Semoga menginspirasi. Baca juga cerpen Bedug Mesjid Tua

CERPEN TAMU YANG DATANG DI HARI LEBARAN OLEH A.A NAVIS

CERPEN TAMU YANG DATANG DI HARI LEBARAN OLEH A.A NAVIS


Sepasang orangtua yang rambutnya telah memutih memandang dari ruang tamu ke jalan raya yang ramai oleh orang orang berbaju indah-indah dan baru. Berjalan kaki, berbendi atau bermobil sebagaimana tradisi setiap lebaran Idul Fitri. Keduanya memandang sambil bergoyang pelan di kursi goyang yang dipisahkan oleh meja kecil bardaun marmar Itali. 


Rumah kedua orang tua itu bangunan kayu model lama yang berkolong tinggi. Bercat oker yang telah pudar warnanya. Kelihatan ganjil di antara sederetan bangunan bergaya terkini. Mungkin karena sudah terlalu biasa dalam pandangan penduduk kota kecil itu, tak terasa lagi ada keganjilan pada rumah itu. Setiap orang tahu siapa penghuninya. Yaitu Inyik Datuk Bijo Rajo dan Encik Jurai Ameh. Lazimnya orang menyebutnya Inyik dan Encik saja. Inyik dulunya seorang pejuang dan pernah menjadi gubernur. Menurut istilah lama yang kini terpakai lagi, mereka "dikaruniai" enam orang anak. Semua telah jadi orang terpandang di rantau. Pada hari tua yang sudah lama terpakai mereka tinggal dengan sepasang pembantu yang telah puluhan tahun bersamanya. Pembantu yang laki-laki ialah paman Si Dali. Encik berkulit gelap dan bertubuh gemuk. Hampir tidak dapat bergerak seleluasa maunya. Dan Inyik berkulit cerah, tapi tubuhnya ceking. Keduanya sama mengenakan baju yang terindah, meski modelnya sudah kuno. Sambil bergoyang di kursinya sejak tadi Encik bicara sendiri tak henti- hentinya. Mengatakan apa yang lewat di kepalanya. Sedangkan Inyik berbuat yang sama. Dalam hatinya pula. 



Kata Encik: "Pada setiap lebaran begini aku mau semua anak-cucuku berkumpul. Aku rindu mereka antri, bertekuk lutut sambil mencium tanganku waktu bersalaman. Seperti anak-cucu presiden di televisi. Terharu aku melihatnya. Berdiri seluruh bulu romaku. Namun mataku sabak oleh airmata bila ingat aku tidak pernah memperoleh kebahagiaan seperti itu. Padahal, sebetulnya anak-anakku mampu pulang bersama. Yang tak mampu hanya Ruski. Rezkinya memang pas-pasan. Lebih sulit lagi dia tinggal jauh. Di Irian sana. Kalau mau, saudara-saudaranya bisa patungan membiayai yang tidak mampu. Tapi itu tidak pernah terjadi. Rasanya aku tidak salah didik. Aku datangkan guru agama tiga kali seminggu agar mereka menjadi penganut yang tawakal. Tapi mengapa setelah makmur mereka hidup nafsi-nafsian? Setiap lebaran datang luka hatiku kian dalam. 



Dulu, waktu ayahnya jadi gubernur setiap lebaran mereka bisa berkumpul. Kata mereka, akan apa kata orang nanti bila mereka tidak datang waktu lebaran. Setelah itu mereka tidak lagi datang dengan lengkap. Mengapa? Sama seperti anak-buah Inyik dan pejabat lain. Kalau mereka tidak lagi datang, itu adat dunia masa kini. Dimana padi masak disana pipit berbondong-bondong. Tapi kalau bagi anak-menantuku tentu tidak berlaku ungkapan itu." Inyik pun berkata dalam hatinya: "Dulu aku pernah baca artikel, kalau tidak salah Ki Hajar yang menulis. Katanya, Idul Fitri hari yang istimewa. Karena pada hari itu setiap orang tanpa pandang usia dan status saling bertemu dan saling memaafkan. Tak ada rasa rendah diri. Tidak ada rasa lebih diri. Tapi kini, setelah Idul Fitri jadi kebudayaan baru, bawahan dan orang miskin yang wajib datang ke penguasa untuk minta maaf. Penguasa akan merasa tidak pantas minta maaf kepada rakyat. Meski kementerengan hidup yang mereka dapat, karena banyak rakyat yang diterlantarkan. Tak tersentuh hati mereka. Paling-paling mereka memberi zakat fitrah senilai satu hari makan untuk satu orang miskin. Kenapa tidak untuk sepuluh atau seratus orang miskin. Atau untuk makan sepuluh atau seratus hari orang miskin?" 



Kata Encik melanjutkan lamunannya: "Ruski memang keras hati. Pantang meminta-minta. Saudara-saudaranya mau membantu kalau Ruski mau meminta. Kenapa harus menunggu dulu kalau sudah tahu saudara sendiri tidak punya kemampuan? Siapa yang mengajar mereka begitu? Seperti mereka tidak tahu betapa rindunya aku. Si Mael yang paling kaya dari semuanya. Lain perilaku hidupnya. Setiap akhir tahun dia pergi berlibur membawa anak dan isterinya. Ke Amerika atau ke Eropa atau ke Jepang. Tutup tahun ini berkebetulan sama dengan lebaran. Tapi dia tidak pulang. Dia ke Mekkah karena sudah bosan ke kota-kota dunia lainnya. Begitu janjinya kepada anak-anak. "Sambil libur, sambil mencari ridha-Nya." tulisnya dalam surat. Sepertinya menemui ibu-bapa tidak merupakan ridha-Nya. Aneh fahamnya beragama." 



"Tulisan siapa yang pernah aku baca dulu? Hasan, Roem, Natsir atau siapa, ya? Katanya, Nabi tidak menyuruh orang berpesta untuk merayakan Idulfitri. Melainkan berzakat dan takbiran. Tapi kebudayaan baru menjadikannya lain. Acara takbir dijadikan acara tontonan di lapangan. Pakai musik segala. Takbir bukan lagi ibadah pribadi, melanikan dijadikan pesta dunia dengan biaya milyaran rupiah. Sepertinya uang sebanyak itu tidak lagi berfaedah untuk orang miskin. Sebetulnya Idul Adha tak kurang mulianya. Bahkan lebih. Kewajiban inti pada kedua hari raya itu membantu orang miskin. Pada Idul Fitri memberi zakat firah. Sedangkan pada Idul Adha memberi Qurban senilai seekor kambing."



Inyik terbatuk-batuk. Setelah minum sereguk air, renungannya melanjut: "Waktu jadi gubernur dulu, aku mencoba merobah tradisi lama itu. Mengikis keduniawian pada acara ritual itu. Aku minta ulama mengeluarkan fatwanya. Sebagai kepala pemerintahan aku dipojokkan. Kolegaku menyalahkan aku dengan kata-kata durjana: "Biarkan saja agama begitu, asal stabiltas terjamin." 



"Sabir juga tidak pulang. Katanya, dia harus berlebaran ke rumah menterinya yang baru. Menteri bisa salah sangka kalau dia tidak datang. Aku maklum alasannya. Untuk keamanan jabatannya. Dulu ketika ayahnya jadi gubernur, aku pun dendam jika ada bawahannya tidak datang berlebaran ke gubernuran. Terlambat datang pun jadi pertanyaan dalam hatiku." kata Encik melanjutkan kata hatinya. Dan dia terus merunut satu demi satu alasan anaknya tidak bisa pulang berlebaran. Melani karena tidak mendapat tiket pesawat. Sofi karena suaminya belum bisa kembali dari Eropa. 






Sedangkan Gafar lain lagi alasannya. Pikiran Inyik masih terus menerawang. Katanya: "Lima tahun jadi gubernur, sesungguhnya tidak cukup waktu untuk merobah tradisi yang usang. Akan tetapi menjadi gubernur lebih lama, akulah yang akan menjadi usang. Kiayi Marzuk mengatakan kepadaku: "Kalau mau jadi pemimpin, teladani Nabi. Nabi diberi waktu dua puluh tiga tahun oleh Tuhan. Ketika berhenti karena umurnya sampai, beliau tetap seperti Muhammad sebelum menjadi Nabi. Tidak kaya raya seperti umumnya diktatur yang berkuasa. Kalaupun punya warisan, semuanya dihibahkan menjadi wakaf untuk umatnya. Itu yang pertama. Kedua, sebagai pemimpin umat umurnya dibatasi Tuhan sampai enampuluh tiga tahun saja. Jika lebih dari itu, kondisi mental dan fisiknya sudah menurun dan terus menurun. Bagaimana nasib umat dibawah pimpinan yang pikun? Dan bagaimana umatnya meneladani perilaku Nabi apabila diakhir hidupnya kepikunan lebih menonjol. Apakah tidak akan terjadi kekacauan pada kehidupan umatnya?" 



Tiba-tiba Inyik merasa dadanya sesak. Dia mengalaikan kepala ke sandaran kursi. Beberapa saat kemudian dia berdiri. Kursi yang ditinggalkannya terus bergoyang. "Aku lelah, Jurai, Aku mau berbaring dulu." katanya kepada isterinya sambil melangkah dengan gontai. 



"Aku juga." kata Encik hampir tak berdaya. "Rasanya hari lebaran ini terlalu panjang. Coba kalau anak-anak kita disini semua, waktu dirasakan terlalu singkat." 



Lama kemudian masih dalam goyangan kursi, pikirannya terus menerawang: "Alangkah anehnya hidup ini. Rasanya aku sudah mendidik anak-anak, supaya menjadi anak yang bersatu kukuh dalam persaudaraan serumpun. Tapi kenapa pada hari tua kita, mereka telah hidup menurut pikiran dan caranya masing-masing. Selagi aku masih hidup mereka tidak lagi berpikiran sama seperti sebelum mereka menjadi apa-apa? Apalagi kalau aku sudah mati. Mungkin mereka akan bercerai-berai." 



Goyangan kursi Encik kian lama kian pelan. Lama-lama berhenti sendiri. Menjelang berhenti, dalam penglihatannya beberapa mobil sedan yang mengkilat catnya karena baru, memasuki halaman. Setiap pintu terbuka. Dari setiap pintu keluar semua orang yang dikenalnya. Anak, menantu dan cucunya. Satu demi satu secara khidmat mereka berlutut ketika menyalami, menciumi tangannya dan kemudian memeluk untuk mendekapi pipinya. Persis seperti yang dilakukan anak-cucu presiden dalam tayangan televisi. Kalau masih ada airmatanya tersisa, mungkin akan turun deras melelehi pipinya oleh rasa bahagia. "Tuhan telah mengabulkan doaku. Semua anak-anakku pulang berlebaran. Oh, alangkah indahnya Hari Raya sekali ini. Terima kasih, Tuhan, terima kasih. Terima kasih juga seandainya ini hanya mimpi. Mimpi terakhirku." 



Dalam berbaring di bangku tidur yang biasa digunakan pada waktu tidur siang, pikiran Inyik masih terpaut pada waktu ketika di kursi goyang ruang tamu. "Sebenarnya aku ingin jadi gubernur lebih lama. Terutama sekali karena aku tidak melihat ada bawahanku yang mampu menggantikan aku. Meski mereka berpendidikan tinggi, namun nyalinya kecil-kecil. Aku cemas pada nasib negeriku ini bila dipimpin orang-orang seperti itu." 



Tidak diduganya seseorang masuk ke kamar tidurnya. Lalu duduk di kalang-hulunya. Inyik tidak bereaksi, selain heran oleh kedatangan tamu yang tidak dikenal itu. Tamu yang berani-berani saja sudah duduk di bangku tidurnya. Dan bicara tanpa basa-basi. "Sebetulnya aku tidak akan ke sini. Tapi aku mendengar yang kau katakan." Hati Inyik merasa tertusuk oleh kata kau ke alamatnya. Kata yang tidak pernah ada dalam hidupnya diucapkan orang kepadanya. "Ternyata kau sama saja dengan golonganmu. Tambah tua kian sombong. Sebaiknya kau tahu, bahwa waktu Nabi sampai umurnya, baru separoh jazirah Arab yang Islam. Tetapi dalam masa seratus tahun, para khalifah telah meluaskan wilayah Islam sampai ke Spanyol di barat, sampai ke Pakistan di timur. Maka itu janganlah kau punya pikiran yang berlawanan dengan kodrat alam." 



"Kodrat alam?" 



"Ya. Karena alam dan kodrat-Nya. Sunnatullah." 



Lama Inyik terdiam. Tak mampu dia memahami apa yang dimaksud tamunya. Kini disadarinya benar, bahwa memang usia tua membuatnya lamban berpikir, lamban bereaksi. Bahkan pelupa. Tapi berapa sesungguhnya usianya sekarang? "Ah, baru tujuhpuluh usiaku sudah begitu lambannya aku." katanya pada dirinya. Lalu kepada tamunya: "Apa maksudmu?" 



"Dalam peribahasamu ada ungkapan: "Patah tumbuh, hilang berganti. Masa kau lupa." kata tamu itu 



"Pengganti belum tentu sebaik yang digantikan." Inyik menggugat. 



"Tergantung pada perilaku kepemimpinanmu. Kalau kau berkuasa seperti diktator, akan terjadi kekacauan pada ujung kekuasaanmu. Pemimpin pengganti akan didambakan dengan sorak gembira oleh rakyat. Apabila kepemimpinanmu berganti pada kondisi yang baik, kau akan selalu dikenang dengan segala kekaguman oleh rakyat." kata tamu itu. 



Inyik merasa tamu itu menguliahinya. Harga dirinya tersinggung. Maunya dia marah. Tapi ada rasa tak berdaya pada dirinya. Dialihkannya pembicaraan. 



"Engkau ke sini berlebaran, bukan?" 



"Ada sedikit urusan dengan isterimu." 



"Bagaimana dia?" 



"Kursinya tidak bergoyang lagi." 



Inyik lama termangu sambil membolak-balik makna ucapan tamu itu. Tiba-tiba dia sadar bahwa tamu itu tidak lain dari Sang Maut. Dia mencoba meraba-raba perasaannya sendiri. Tidak ada perasaan apapun. Karena rasionya yang lebih kuat. Bahwa manusia itu lahir, hidup dan akhirnya mati. 



"Pantarai." desis dalam mulutnya ketika ingat pelajaran sejarah Yunani Kuno pada klas terakhir sekolah menegahnya dulu. "Sudah tiba waktuku kalau begitu." 



"Belum. Belum sekarang." kata tamu itu. 



"Kalau waktuku belum akan tiba, aku mau kehadiranku tidak akan menyiksa hidup bangsaku." kata Inyik pula dalam keragu-raguan. 



"Tidak. Tidak akan. Karena kau tidak berkuasa lagi." kata tamu yang disangka Inyik sebagai Sang Maut seraya keluar dari kamar. Inyik yang berbaring lemas sendirian di bangku tidurnya masih mendengar samar-samar gema takbiran dari pesawat televisi di ruang tengah.

Terima kasih sudah berkunjung. Semoga bermanfaat. Baca juga cerpen Senja di Kairo

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia