Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Tampilkan postingan dengan label Kuntowijoyo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kuntowijoyo. Tampilkan semua postingan
CERPEN ANJING ANJING MENYERBU KUBURAN OLEH KUNTOWIJOYO

CERPEN ANJING ANJING MENYERBU KUBURAN OLEH KUNTOWIJOYO


anjing-anjing berlari
image Donna
IA tidak usah khawatir. Sekalipun kecibak air sungai, bahkan batu yang menggelinding oleh kakinya di dalam air terdengar jelas, tapi tidak seorang pun akan mendengar. Gelap malam dan udara dingin telah memaksa para lelaki penduduk desa di atas menggeliat di bawah sarung-sarung mereka. Para perempuan mendekami anak-anak mereka seperti induk ayam yang ingin melindungi anaknya dari kedinginan.

Tidak seorang pun di sungai, pencari ikan terakhir sudah pulang, setelah memasang bubu. Bilah-bilah bambu yang menandai bubu itu muncul di atas air, tampak dalam gelap malam itu. Tidak ada angin, pohonan menunduk lesu setelah seharian berjuang melawan terik matahari. Ketika perjalanannya sampai di persawahan, hanya kunang-kunang yang menemaninya. Dan di ujung persawahan itu, ada gundukan tanah. Dalam gundukan tanah itulah terletak kuburan-kuburan desa. Dia tinggal mencari timbunan tanah yang masih baru. Kuburan itulah yang ia cari : seorang perempuan telah meninggal pada malam Selasa Kliwon. Itu telah disebarkan dari desa ke desa, seperti api yang membakar jerami kering di sawah.

Dengan celana dan baju tentara yang lusuh, yang dibelinya dari tukang rombeng di pasar, ia keluar rumah. Digulungnya baju itu ke atas, dan menyembullah otot lengannya. Ia berjalan tanpa sandal. Di tangannya adalah plastik hitam. Dalam gelap malam, plastik itu nyaris tak tampak. Ada teplok di rumahnya, tapi lampu itu kalah dengan gelap malam.

“Ke mana, Kang?” Tanya istrinya, ketika dia keluar lewat tengah malam itu.

“Ronda”.

“Bukan harinya kok ronda?”

“Hh”

Ia tahu orang desa akan menjaga kuburan itu sepanjang malam. Mereka akan bergerombol di sekitar petromaks yang dibawa dari desa. Mereka akan mendirikan atap dari daun kepala, mencegah kantuk dengan mengobrol atau main kartu. Makan, makanan kecil, dan minum akan dikirim dari desa. Tetapi itu pun tidak perlu dikhawatirkan. Ia telah membawa beras kuning dari dukun dalam kantung plastik. Apa yang harus dikerjakan ialah menabur beras itu di empat penjuru angin yang mengelilingi para penjaga kubur. Selanjutnya, biarkanlah beras kuning itu bekerja.

Ia mengendap-endap dalam gelap. Terdengar dari jauh canda orang-orang di bawah bertepe, atap dari daun kepala itu.

“Mati kau! Terimalah, ini as!” kata orang itu sambil membantingkan kartunya di tikar plastik. Ia menaburkan beras kuning, tanda kemenangan, dan mengucapkan mantra.

“Rem-rem sidem premanen, rem-rem sidem premanen, rem-rem sidem premanen.” Gurunya menyebut jimat itu dengan Begananda, aji penyirep yang diturunkan oleh Raden Indrajit, pangeran dari Alengkadiraja. Begananda telah menidurkan prajurit Rama, dan akan menidurkan orang-orang yang menjaga kuburan. Setelah selesai satu arah, ia harus bergerak ke arah lain. Setelah selesai dengan kiblat papat, arah yang keempat dan orang-orang sudah tertidur, ia harus menaburkan beras kuning yang kelima kali di pancer, pusat, tempat orang-orang menjaga. Ketika ia menaburkan beras kuning yang kedua kalinya, terdengar kentong dipukul jauh di desa. Beruntunglah ia, makam itu terletak di gundukan pinggir desa, sehingga kentong itu tidak berpengaruh apa-apa pada penduduk desa yang di makam itu.

Kentong terdengar lagi ketika ia menaburkan beras ketiga kalinya. Ada tanda-tanda bahwa orang mulai mengantuk. “Oahem suk ruwah mangan apem,” kata seorang keras-keras, sambil menguap. Dan suara-suara mulai berhenti ketika ia menaburkan beras keempat kalinya.

***


IA menunggu sebentar. “Sabar, sabar, bekerja itu jangan grusa-grusu,” katanya pada diri sendiri. Ia keluar dari gelap.

Dilihatnya orang-orang sudah tertidur. Tempat itu seperti bekas orang bunuh diri minum racun. Disebarnya beras kuning terakhir, dan mengucapkan mantera. Orang-orang tertidur, dibuai mimpi indah yang tak ingin segera berakhir. Seorang pemain kartu terlena, ditangannya masih ada setumpuk kartu yang belum habis dibagikan. Semut yang menggotong butir nasi berhenti di jalan, tertidur. Cengkerik berhenti berbunyi. Rumput-rumput menunduk lesu. Kunang-kunang berhenti terbang dan mencari tambatan, tertidur di seberang tempat. Angin berhenti mengalir. Laki-laki itu menuju petromaks dan mematikannya.

Ia mendekati kuburan baru. Beruntunglah dia, tanah itu berpasir. Dia harus mengeduk kuburan itu dengan tangan telanjang, mengeluarkannya dan menggigit telinga kanan-kiri dengan giginya, dan membawanya lari dengan mulutnya ke rumah guru. Dia mencabut patok-patok, mulai menggali timbunan itu. Ini adalah laku terakhir baginya. Dan yang akan membuatnya kaya-raya telah memintanya bertapa tujuh hari tujuh malam, dan mencari daun telinga orang meninggal pada hari Anggara Kasih. Pada hari kelima pertapaannya di sebuah hutan yang gawat kelewat-lewat karena sangat angker seluruh tubuhnya serasa dikeroyok semut. Dan hari keenam dirasanya tempat itu banjir, membenamkannya sampai leher. Pada hari terakhir ia dijumpai kakek-kakek dengan janggut putih, dan ditanyai apa keinginannya. Ia sudah siap dengan air gula kelapa, yang akan dengan cepat memulihkan tenaganya.

Pendek kata, tujuh hari bertapa itu dia lulus. Dan sekarang ia menghadapi ujian terakhirnya! Kuburan orang yang meninggal Selasa Kliwon akan dijaga sampai hari ketujuh. Itulah sebabnya ia perlu bekal beras kuning dari guru.

Tidak, bukan karena ia kemasukan setan, kalau ia bekerja keras menggali kubur itu dengan tangannya. Karena dengan cara itulah ia akan bisa mendandani istrinya dengan sepasang subang emas berlian di telinganya, dan di tangannya melilit ular-ularan dari emas. Niatnya untuk mengganti gigi kuning istrinya dengan emas sudah lama diurungkannya, karena memakai gigi emas bukan zamannya. Anak-anaknya akan memakai sepatu ke sekolah, dan uang SPP tidak akan menunggak. Ia akan membelikan truk supaya keponakannya tidak usah ke kota. Dan adiknya yang bungsu, yang jadi TKI di Bahrain, akan dipanggilnya pulang, sebab cukup banyak yang bisa dikerjakan di rumah. Lebih dari segalanya, ia akan pergi pada lurah dan menyerahkan tanahnya yang seperempat hektar dengan gratis yang semula dipatok dengan harga lima ratus rupiah semeter untuk pembangunan lapangan golf. Ia akan membuka warung-warungan di rumahnya, sekedar untuk menutupi kekayaannya yang bakal mengucur tanpa henti. Benar, mungkin warungnya tidak laku, tapi uang di bawah bantalnya takkan pernah kering. Namun kalau terpaksa mencuri, akan dimintanya danyang hanya mencuri harta orang-orang kaya yang serakah. Setelah kaya, dia akan berhenti mempekerjakan danyangnya.

Sekalipun jari-jarinya kasar oleh kerja serabutan sebagai kuli, menggali kuburan dengan tangan itu membuat jari-jarinya sakit. Keringat yang keluar dari tubuhnya yang panas karena bekerja di ruangan sempit itu mengalir ke jari-jarinya dan terasa perih. Tetapi hal itu tidak dirasakannya. Eh, dalam benar mereka menggali. Peti kayu itu sudah tampak. Kaya juga orang ini, pakai keranda segala, pikirnya. Kayu-kayu dibuangnya. Dan sebagian tanah itu berguguran dan menutup mayat. Agak kesulitan dia mengeluarkan mayat itu, karena lubangnya sempit dan gelap, sinar bintang tertutup oleh tanah, dan dia tidak bisa berdiri di situ tanpa menginjak mayat. Akhirnya, dengan kedua kakinya mengangkang dia merenggut kain kafan mayat dan berusaha mengangkat. Mayat itu masih baru, bau kapur barus, amis, dan bau tanah bercampur kapur. Dia tidak peduli mayat itu rusak waktu dinaikkan.

Mayat itu dingin dan kaku. Dia berhasil mengangkat mayat itu, tetapi ruangan terlalu sempit baginya untuk menggigit dua telinganya. Ia memutuskan untuk menaikkan mayat itu. Dan mayat itu tergeletak di tanah.

Dengan cekatan dibukanya kain kafan yang menutupi kepala. Eh, rupanya rambut perempuan itu terlalu panjang dan menutupi telinganya. Pada waktu itulah dia mendengar baung anjing untuk pertama kalinya. Suara anjing itu panjang dan berat, memecah kesunyian malam, menambah betapa keramatnya malam itu karena suara itu dipantulkan oleh pohon-pohon, oleh bambu berduri yang mengelilingi desa, oleh sumur-sumur berlumut, dan rumah-rumah tembok.

***

DITERANGI bintang-bintang di atas ia dapat melihat dua ekor anjing, seekor putih dan seekor tidak putih, menunggui dia bekerja. Sekalipun matanya tidak bisa melihat, tapi dia tahu bahwa anjing-anjing itu menjulurkan lidah, meneteskan air liur, dan memperlihatkan taring. Dia berpikir mungkin itu anjing siluman, sebab ia lupa bersila khidmat, “Demi periprayangan yang mbaureksa makam, jangan diganggu, izinkanlah cucumu bekerja.” Diucapkannya kalimat itu tiga kali. Tetapi anjing itu malah bertambah, jadi empat. Ia dapat melihat dalam temaram anjing-anjing itu menantikan kesempatan. Tahulah ia, bahwa bekerja cepat.

Ketika ia membungkuk, mau menggigit telinga, seekor anjing menyambar. Dia membatalkan niatnya, menggunakan tangan untuk mengusir anjing itu. Anjing yang tiga ekor berusaha merobek kain kafan dengan moncongnya dan cakarnya. Dia menggunakan sebelah kakinya untuk mengusir anjing-anjing itu. Didengarnya ada anjing-anjing lain menggonggong di pinggir makam. Mereka segera menyerbu mayat.

Celaka, anjing itu menjadi tujuh ekor. Mereka tidak memberi kesempatan baginya untuk menggigit telinga lagi. Sementara itu jari-jari tangannya yang terluka, mungkin oleh kerikil-kerikil tajam terasa pedih. Tapi dia tidak mau mundur. Setiap kali ia mau menggigit telinga ada saja mengganggunya. Kalau saja anjing-anjing itu mau diajak berdamai, sebenarnya dia hanya butuh dua telinga, selebihnya biarlah untuk anjing-anjing itu. Dia mau bilang pada anjing-anjing bahwa bagian kepala itu kebanyakan hanya tulang, kalau mau bagian yang berdaging, pahalah tetapi jangan kepala. Biarlah bagian penuh tulang itu untuk bangsa manusia, untuk bangsa hewan ya bagian yang berdaging. Tetapi anjing-anjing itu tidak mau berkompromi. Kain kafan itu robek-robek oleh moncong dan cakar anjing.

Sebagai orang desa matanya terbiasa dengan malam. Jelas terlihat bahwa daging di bagian paha mayat mulai robek. Dia melupakan urusan telinga itu. Yang akan dikerjakan ialah mengusir anjing-anjing, yang mungkin binatang liar yang tak tahu aturan. Jari-jarinya mulai mengeluarkan darah. Ia menahan rasa sakitnya, dan mempergunakan tangan dan kakinya untuk menyerang binatang-binatang itu. Dia ingat bahwa ada patok kayu di kepala dan kaki kuburan. Ditemukannya kayu-kayu itu. Dia mengamuk dengan kayu-kayu itu di tangan. Ternyata hasilnya lumayan. Anjing-anjing itu menepi dari mayat.

Itu memberinya kesempatan untuk kembali membungkuk. Yang dikerjakannya sederhana : menggigit telinga-telinga dan pergi. Tetapi anjing-anjing liar itu tidak memberi kesempatan. Begitu ia tidak memperhatikan mereka dan membungkuk, anjing-anjing mulai menyambar lagi. Rupanya ia harus mengusir anjing-anjing agak jauh. Dan dengan kayu dan “sh sh sh” ia berhasil mengusir mereka lebih jauh. Lagi, anjing-anjing itu menyerbu waktu ia membungkuk.

Darah di jari-jarinya menderas, membasahi kayu-kayu di tangannya. Matanya berkunang-kunang, dan ia merasakan badannya mulai lemas. Dan anjing-anjing itu semakin galak. Mereka tidak lari ke pinggir, tapi menahan kesakitan oleh pukulan-pukulan kayu yang makin lemah.

Suara-suara mereka yang gaduh dan lolongan– sebagian lolongan karena kesakitan – telah membangunkan orang-orang yang menjaga kuburan.

Orang-orang itu masih sempat melihat dia mengayunkan kayu, sebelum akhirnya ia terjatuh, tak sadar. Anjing-anjing itu menyelinap ke balik kegelapan ketika melihat banyak orang datang. Mereka memandangi mayat dan laki-laki pingsan itu.

“Pencuri!” kata seorang.

“Penyelamat!” kata yang lain.
Terima kasih sudah membaca. Semoga bermanfaat. Baca juga cerpen Sesaat Sebelum Berangkat

CERPEN RUMAH YANG TERBAKAR OLEH KONTOWIJOYO

CERPEN RUMAH YANG TERBAKAR OLEH KONTOWIJOYO


rumah yang terbakar
image 
Ada dua pantangan yang tak boleh di langgar di dusun pinggir hutan itu. Kata orang, mahluk halus yang menunggu dusun, mbaurekso, akan marah bila ada yang berani menerjang larangan. Kemarahan tidak hanya ditimpakan pada pelanggarnya, tetapi pada seluruh warga. Tidak seorangpun, kecuali yang berani nyerempet-nyerempet bahaya melanggarnya. Itupun dengan resiko dikucilkan oleh penduduk. Pantangan pertama ialah orang tak boleh kawin dengan orang dari dusun di dekatnya, dusun yang terletak di sebelah utara pematang, meskipun secara administrative masuk dalam kelurahanyang sama. Kedua, orang tidak boleh mendirikan surau di dusun itu. 

Pantangan pertama bisa dimengerti karena ada perbedaan pekerjaan. Di sebelah selatan adalah petani, sedang di sebelah utara adalah pedagang. Engkau tak akan berbahagia kawin dengan orang pelit, apa-apa dihitung, kata orang-orang tua. Pantangan yang kedua ada hubungannya dengan yang pertama. Dulu perbedaan pekerjaan itu telah menyebabkan perang antar desa. Karena itu orang selatan harus berbeda dengan orang utara dalam segala hal. Memakai bahasa sekarang, orang akan bilang “harus punya jati diri”. Kebetulan dusun di utara itu adalah dusun santri dan mau tidak mau orang selatan harus jadi abangan. 

Demikianlah, untuk menyambut kelahiran bayi orang-orang utara akan slawatan dan orang selatan klenengan. Perbedaan itu dulu konon jadi serius katika Pak Jokaryo (orang arab akan menyebutnya Zakaria ) dari dusun itu tiba-tiba jadi santri. Dia ingin mendirikan surau di pekarangannya. Tentu saja itu membuat marah besar danyang dusun. Kabarnya umpamanya suatu hari sebuah tiang selesai dibangun, pagi harinya tiang itu sudah pindah ke tengah hutan. Kalau suatu hari dinding-dinding telah dibuat, pagi hari dinding akan terlihat di tepi sungai. Seseorang yang kesurupan danyang dusun mengatakan bahwa surau boleh dibangun, tetapi di luar desa, di tengah hutan yang wingit, tidak boleh ada mihrab, bangunan yang menonjol tempat imam itu, jadi seperti rumah biasa. Orang harus percaya bahwa yang nyurupi adalah danyang desa. Bagaimana tidak. Yang kerasukan itu adalah petani-petani, yang tidak pernah makan sekolahan, tidak tahu pa-bengkong-nya kraton, tapi bahasa jawa kawinya bagus, lengkap dengan sira (“engkau”) dan ingsun (“aku”). Jokaryo pun mengalah, dan membangun surau tidak di desa, tapi di tengah hutan. Sehabis maghrib mereka bertemu, bersama-sama berdzikir sampai malam. Semacam gerakan tarekat. 

Rupanya tidak ada penerus Jokaryo, ketika dia meninggal surau itu dikosongkan. Kalau orang berkendaraan atau jalan melewati hutan itu orang akan melihat rumah dari kayu dan bamboo itu. Tetapi tentu saja rumah itu sudah berubah fungsi. Anak laki-laki Jokaryo ikut transmigrasi ke Kalimantan dan anak-anak perempuannya kawin, pindah desa. Di dusun itu tanah dan rumah yang ditinggalkan jadi milik dusun, dan siapa saja dapat memanfaatkan. Kira-kira selama lima belas tahun, rumah itu hanya dimanfaatkan untuk berteduh petani, pencari kayu, dan pejalan yang kelelahan. Ada gentong tempat air dan siwur untuk mengambil air. Malam hari orang yang lewat akan takut, sebab kata orang dusun rumah yang tak berpenghuni akan ditempati sebangsa lelembut, apalagi hutan itu dikenal keramat. 

Rumah itu begitu telantar, genting-gentingnya pecah. Maka datanglah Bu Kasno sebagai penyelamat. Dia mengganti genting-genting yang pecah, kayu-kayu yang lapuk, dan dinding-dinding yang menganga. Beberapa dicatnya. Pendek kata, orang yang lewat dan tidak tahu riwayat akan mengira itu rumah baru. Kata orang Bu Kasno berbuat itu karena perewangannya mengatakan bahwa syaratnya menjadi kaya ialah memperbaiki rumah itu. Rumah itu dibuat ramai kembali oleh Bu Kasno. Mula-mula orang-orang dusun berterima kasih pada Bu Kasno. Tetapi, tidak semua orang bergembira dengan “kebaikan hati” Bu Kasno. Rumah itu jadi aib dusun! Sekaligus membuat dusun kecil itu terkenal! 

Bagaimana tidak terkenal, Bu Kasno telah menyulap banguna tua di tengah hutan itu jadi tempat yang hidup di malam hari. Rumah itu telah menjadi semacam pulau kebebasan yang terlengkap di dunia: ada tempat minum-minum, ada bordil. Pikiran untuk menjadikan rumah itu sebagai tempat judi juga, selalu dibuang jauh oleh Bu Kasno karena ia segan berurusan dengan polisi. Kabarnya perewangan pun setuju dengan kebijakan Bu Kasno. 

Orang-orang dusun itu terbagi tiga. Yang tidak setuju dengan Bu Kasno berpikir bahwa tidak nglakoni (“ menjalankan syariat”) itu boleh-boleh saja, tapi tidak ada caranya untuk pergi ke perempuan nakal. Itu tidak sesuai dengan ajaran adapt manapun, tidak cocok dengan agama manapun. Perempuan tiu boleh asal yang baik-baik perempuan rumahan masih ada, mosok cari yang murahan. Mereka yang setuju dengan Bu Kasno berpendapat bahwa ia telah menyuguhkan hiburan yang paling top di dunia. Orang jawa itu harus ja dan wa, harus nglegena artinya telanjang, apa adanya, sewajarnya, tidak boleh mengatakan tidak butuh padahal memerlukan. Petani harus jadi petani, jangan berpura-pura jadi santri, tidak ada gunanya pura-pura alim. 

Minum dan perempuan itu tidak dilarang oleh undang-undang. Yang bisa dihukum itu memperkosa, tetapi tidak hubungan yang suka-sama-suka. Sebagian kecil orang, terutama yang di sekitar masjid (tidak ada yang tahu kenapa akhirnya yang mbaurekso pun mentolerir pembangunan mesjid), sangat tidak setuju dengan ulah Bu Kasno. Mereka berpendapat itu telah mencoreng muka sendiri. Orang-orang desa pun bertambah maju. Mereka juga tahu tentang cara-cara modern untuk menikmati servis yang disediakan Bu kasno itu. Begini: mula-mula minum, lalu ngamar. Minum menjadikan badan panas dan orang yang paling pemalu pun akan jadi pemberani, hilang sekat-sekat. Jangan terbalik. Atau, kalau terang bulan, minum sekadarnya lalu ajak salah seorang penghuni untuk jalan-jalan di hutan. Dan disanalah rumah yang paling alami, mungkin sama seperti nenek moyang sebelum peradaban sopan santun menjerat orang. Hutan yang dulu keramat dan banyak hantunya, telah ditinggalkan oleh para mahluk halus, karena mulai banyak orang lalu-lalang di situ. Lagi pula Bu Kasno telah membuat perjanjian bahwa mereka yang tidak kelihatan tak akan mengganggu “anak-anaknya”. Pada malam hari rumah itu akan di hiasi lampu-lampu gantung, sekalipun dari luar tampak sunyi, di dalam meriah, banyak orang. 


Yang paling gelisah dengan servis Bu Kasno ialah orang-orang sekitar mesjid. Masih banyak yang tahu persis bahwa rumah yang ditempati (mereka tidak sampai hati untuk menyebut rumah bordil apalagi pelacuran, sebab itu akan menyakitkan hati mereka sendiri) ialah bekas milik Jokaryo yang dulu untuk surau. Tetapi tidak ada cara menyalurkan kegelisahan. Menggugat ke desa hanya mengingatkan orang akan “luka-luka” lama. Kekhawatiran mereka akan kegagalan memang beralasan, sebab banyak aparat desa telah menjadi pelanggan Bu Kasno. Kalau berhasil akan beruntung, kalau gagal akan buntung selamanya. 

Di antara orang yang paling gelisah ialah Ustadz Yulianto Ismail. Dia telah datang jauh-jauh dari sebuah pesantren, tinggal disitu untuk mengajar, nyaris tanpa gaji, dan menghadapi tantangan yang begitu berat. Dia merasa bertanggung jawab. Dan susahnya, ia tidak bisa berbuat apa-apa. Demikianlah usaha itu berjalan bertahun-tahun tanpa gangguan. Bu Kasno pun menjadi kaya. Dari rumah bamboo (orang menggambarkan rumah Bu Kasno yang dulu ibarat sarng laba-laba yang akan terbang oleh angina dan akan hanyut oleh hujan) telah menjadi rumah tembok (orang desa bilang rumahnya sekarang magrong-magrong, megah). Selain itu, Bu Kasno juga punya tiga buah colt yang menghubungkan desa pelosok itu dengan kota. 

Akhirnya, jalan itu ditemukan oleh Ustadz Yulianto. Bu Kasno kematian suaminya, dan orang-orang desa menghubungkan kematian suami dengan kekayaan Bu Kasno. Dikabarkan, kematian itu termasuk dalam perjanjian dengan perewangan. Bu Kasno mengumumkan usahanya akan ditutup selama seminggu, selama tujuh hari penuh rumah ditengah hutan akan ditutup sama sekali. Untuk melaksanakan rencananya, Yulianto harus bekerja sendirian, sebab ini pekerjaan rahasia. Dengan sepeda sudah ditelitinya bahwa rumah itu sama sekali kosong, tidak seorangpun menjaga, hanya satu lampu minyak yang tetap dinyalakan di depan. Apa yang akan dikerjakan Yulianto? Membakar rumah alias surau bekas peninggalan Jokaryo ialah pekerjaan utama seorrang ustadz! Itu berarti nahi `anil munkar, mencegah kejahatan. 

Demikiankah pada lepas tengah malam Yulianto keluar membawa sepedanya. Ditangannya ada minyak tanah dalam kaleng plastic. Penduduk desa itu sudah tertidur karena lelah setelah tiga malam berturut-turut gaple di rumah Bu Kasno. Jadi tidak seorangpun akan menjadi saksi perbuatan ustadz itu. Ia keluar dari desa ketika terdengar seekor ayam jantan berkokok. Kata orang desa, ada jago berkokok tengah malam begitu berarti ada janda mengandung. Yulianto melihat jam tangan dengan korek api begitu ia memasuki kawasan hutan: pukul dua. Hutan itu sunyi, gelap, pohon-pohon jati berdiri kaku. Dengan ketetapan penuh dan semangat bernyala-nyala Yulianto mengayuh sepedanya. Ia menyandarkan sepedanya di pohon, syukurlah tidak ada orang. Bahkan mungkin bintang dan angina pun tertidur. Dia mulai menuangkan minyak pada dinding-dinding dari bamboo dan tiang dari kayu. Pekerjaan itu belum pernah dilakukannya, seumur hidup dan baru sekali, namun ia mengerjakan dengan sempurna. Sekarang ia mengeluarkan korek dan berdoa sebentar. 

Dinyalakannya korek itu. Dinding bamboo menyambut api. Setelah yakin akan hasil kerjanya, usaha ini tidak boleh gagal, Yulianto menarik sepedanya dan kembali memasuki desa. Dia mencoba tidur, tapi sampai subuh tiba, badannya hanya miring ke kanan dan ke kiri. Ketika subuh tiba, dia mengambil wudhu, orang lain telah mendahului adzan. 

Selesai sembahyang, seseorang berkata,”Ustadz, rumah di tengah hutan itu terbakar:.

“Alhamdulillah,” kata orang banyak.Jamaah masjid itu pergi keluar desa untuk melihat apa yang telah terjadi. Banyak orang mengerumuni rumah itu. Api telah padam. Orang mulai bergerak maju melihat apa yang tertinggal. Tiba-tiba seorang berteriak,”ada orang disini!”

Orang pun mulai mengeluarkan mayat dari reruntuhan. 

“Dua orang!” Orang menemukan dua mayat. 

“Satu laki-laki, satu perempuan!” 

Rasanya mereka kenal betul dengan yang perempuan. Kerumunan itu disibakkan oleh seorang perempuan yang segera menubruk mayat. 

“Oalah, nduk. Begitu besar tekadmu. Maafkanlah ibumu ini!” 

Tahulah orang bahwa mayat perempuan itu adalah gadis dusun itu, dan mayat laki-laki adalah pemuda dari dusun di utara pematang. 

Orang tua gadis itu melarang mereka berhubungan. Mereka telah terbakar di tempat itu waktu berpacaran. Orang-orang berpikir mereka sengaja bunuh diri bersama. Dari kerumunan muncul Ustadz yang memandangi dengan nanar pada dua mayat. 

“Astaghfirullah,” katanya, kemudian terjatuh tak sadar. 

Yogyakarta, 25 Mei 1996
Terima kasih sudah membaca. Semoga menginspirasi. Baca juga cerpen Di Sini Dingin Sekali

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia