Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Tampilkan postingan dengan label Adi Zamzam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Adi Zamzam. Tampilkan semua postingan
CERPEN AKU OLEH ADI ZAMZAM

CERPEN AKU OLEH ADI ZAMZAM


sketsa aku
image mmffn
Akulah ketika kau mencinta. Akulah ketika kau mengasihi. Aku bercahaya ketika itu, sehingga hari-harimu menjadi terang. Lalu batangku menjadi kokoh seiring akarnya yang semakin nancap dalam hatimu. Lalu bertunaslah reranting, dan menjadi hijau, menjadi besar, menjadi kokoh, lalu berbuahlah pohonku di dalammu itu. Buah itu aku. Akulah buah. Cinta dan kasih adalah rasanya. Aku berjatuhan saat telah masak. 

Seperti keputusan yang akhirnya terjadi setelah lama menggantung dalam pertimbanganmu. Sebagian dariku kau makan—menjadi perbuatan, sebagiannya lagi membusuk kembali ke kekosongan, kembali ke masa ketika pikiran-pikiran itu mengambang di depan mulut-mulut syarafmu. Sebagian dariku yang beruntung lalu bersemayam dalam tubuhmu. Mula-mula melalui mulut, lalu turun ke kerongkongan, lalu lambung, lalu darah, lalu aku menyebar ke tubuhmu. Ada juga yang melalui telinga dan mata, lalu ke syaraf penglihatan dan pendengaranmu, berakhir di otak. 

Aku menggerakkanmu. Meski selalu kau abaikan. Seperti udara yang kau hirup. Akulah udara. Aku ada tapi sering tak kau anggap ada. Aku sering bisa dirasa dengan kelembutan karena kelembutan itu sendiri adalah aku. Aku lebih dekat dari urat nadi lehermu karena aku ada dalam tiap sel. Aku menyertai tiap denyut karena denyut itu sendiri adalah aku. Aku merasakanmu tapi kau belum tentu merasakanku. Ada yang menganggap aku ini hanya sebilah perasaan, tapi aku bukanlah itu. 

Aku melihatmu tapi kamu belum tentu melihatku. Sebenarnya aku tidak tertutup oleh sesuatu. Aku begitu nyata di depan mata. Kamu yang tidak memercayai keberadaanku lantas bilang bahwa aku hanyalah khayalan, bayangan, atau semacam ilusi. Itu karena kamu menutupi indramu sendiri sehingga semuanya pun jadi tertutup. Padahal aku ada pada setiap sudut, setiap ruang, setiap cahaya, setiap kegelapan, setiap gerak, setiap diam, setiap pandangan mata, setiap tarikan nafas, setiap desau suara, setiap kecapan rasa. 

Keberadaanku sebenarnya tidak membutuhkan penjelasan karena banyak yang kemudian tertipu oleh penjelasan itu sendiri. Kata-kata dan bahasa seringkali menimbulkan salah tafsir. Aku adalah aku meski kau menganggapku ada atau tidak. Aku tak butuh saksi atas keberadaanku karena aku sendiri adalah saksi atas segala keberadaan. Apakah aku adalah yang suka menyembunyikan diri sendiri? Tidak, mereka yang tidak percaya keberadaankulah yang sebenarnya menyembunyikanku. Apakah keberadaanku membutuhkan tempat? Sebenarnya tidak bisa dibilang begitu karena tempat itu sendiri adalah bagian kecil dariku. Lantas bagaimana caranya menemuiku, bercakap-cakap denganku, mengeluh, bercengkerama, atau bahkan bersahabat denganku? 

Sudah kubilang, aku adalah ketika kau mencinta, ketika kau mengasihi. Maka cintalah terhadap sesama, kasihlah terhadap semua. Tak usah memikirkan bagaimana kejadiannya, kau pasti akan bertemu denganku. Akulah udara. Meski kau tak bisa melihatku tapi kau bisa menghirupku. Rasakan saja itu. Nikmati dan hayati pelan-pelan. Dan jangan terpaku dengan satu indra karena setiap indramu memiliki pengertian yang berbeda-beda tentangku. Apakah aku ini sulit? Aku rasa tidak. Aku bahkan sering memperlihatkan diri dalam sesuatu yang sederhana. Saking sederhananya hingga kau kadang tak menyadari bahwa itu aku. Lihatlah kuku dan rambutmu yang terus bertumbuh itu. Setiap minggu kau harus memendekkannya. Itu adalah aku. 
 

Aku adalah tumbuh. Juga tunas-tunas pepohonan itu. Meski beberapa kali kau memotong atau menebangnya, aku akan terus tumbuh. Apakah aku terpengaruh kematian? Ah, itu pertanyaan yang kurang tepat. Kematian dan kehidupan adalah kedua tanganku. Tangan kananku menghijaukan, tangan kiriku menguningkan. Tangan kananku menyirami, tangan kiriku mengeringkan. Tangan kananku menumbuhkan, tangan kiriku memupuskan. Jangan bilang bahwa tangan kanan dan tangan kiriku saling bertentangan. Justru keduanya saling melengkapi. Bayangkanlah jika semua terus tumbuh, terus hidup, dan beranak-pinak. Tidakkah kalian berpikir bahwa dunia ini akan cepat meledak kelebihan penumpang? Kedua tanganku itu justru saling menjaga keseimbangan masing-masing. Keduanya bekerja beriringan. Jika salah satunya berhenti, maka terjadilah kekacauan. Lantas bagaimana caranya bercakap-cakap denganku? 

Aku sebenarnya tak membutuhkan kata-kata untuk bilang sesuatu kepadamu. Kata-kata hanyalah alat buatanmu sendiri yang masih punya banyak kekurangan. Kata-kata terlalu terbatas untuk alat berkomunikasi denganku, karena bisa saja langsung kuhunjamkan jawabanku ke dalam dada atau kepalamu. Maka bertanyalah apa saja kepadaku. Aku mahatahu. Pengetahuan adalah aku. Akan kujelaskan jawabannya sebaik-baiknya kepadamu. Soal bagaimana caraku menjawab, entah seketika itu juga, besok, lusa, atau kapan-kapan, kau pasti akan tahu. Aku selalu menjawab setiap pertanyaan, meski hanya berbisik saat mengucapkannya, atau bahkan baru terlintas dalam hatimu. Telingaku persis berada di depan mulut dan hatimu. Jadi, apa pun uneg-unegmu tentang sesuatu, aku bisa tahu. Misalnya kau bertanya tentang sebuah penyakit, kau bingung dengan penyakit itu; apa penyebabnya, bagaimana cara menyembuhkannya? Mungkin kau tak langsung menemukan jawabannya seketika itu juga. Mungkin kau baru akan tahu bertahun-tahun setelahnya, setelah seorang peneliti mengamati dan menyelidikinya dengan begitu cermat. Ketika akhirnya peneliti itu tahu bahwa karakteristik penyakit itu begini, begini, begini, bahwa penyakit itu akan muncul jika kau begitu, begitu, begitu, bahwa penyakit itu akan sembuh jika begini, begitu, begini, maka apa yang diterangkan oleh si peneliti itu tadi sebenarnya adalah jawabanku yang berhasil ia bahasakan untukmu. 

Kadang memang butuh proses untuk memahamiku. Tapi jika kau benar ingin tahu apa jawaban atas pertanyaanmu, sebenarnya bukan hal sulit. Di antaramu ada yang menganggap bahwa aku ini acuh dan tak peduli atas segala pertanyaan yang kau desiskan. Mungkin kau hanya kurang melihat, kurang mendengar, atau kurang merasa. Padahal jika kau mau bersungguh-sungguh, semua pasti akan sampai pada jawabannya karena segala jawaban sebenarnya sudah tersedia sejak lahir pertanyaan. Jawaban-jawabanku selalu memancar tanpa henti. Aku memang selalu begitu dan akan terus begitu. Aku tak ingin berbuat setengah-setengah, karena hal itu bukanlah sifatku. 

Aku adalah ketuntasan. Aku adalah keutuhan. Aku adalah kebermanfaatan. Semua yang ada dalam genggamanku, utuh dan bermanfaat. Kalau ada yang terlihat cacat dan tak bermanfaat, itu hanya karena kau belum tahu saja. Maka ketika itu sejatinya kau belum mengetahui aku. Aku seperti matahari. Tak pernah padam dalam memberikan pengertian. Aku inti cahaya. Terang benderang jika kau telah sampai pada pengertianmu. Meskipun kau memadamkan semua lampu. Bahkan jika kau menutup mata sekalipun. Cahaya pengertianku tak terhalang materi. Cahaya pengertianku mampu menembus tembok bahkan yang kerapatannya besi. Maka tidak ada yang bisa menghalangi jika aku sudah berkehendak hinggap di kepala atau dada siapa pun. Meskipun dia ingkar atas keberadaanku sekalipun, aku tetap bisa singgah dalam rumahnya dan lalu bercakap-cakap tentang segala sesuatu. 

Aku tak membeda-bedakan siapa pun, baik antara yang mengakui keberadaanku maupun yang tidak mengakui keberadaanku karena keharusanku hanyalah tinggal dan lalu memberikan pengertian tentang apa yang dipertanyakan. Aku akan terus berbicara tentang segala tanpa diminta. Aku bukan suara tapi aku ada dalam suara. Aku bukan bunyi tapi aku ada dalam bunyi. Aku tak punya bentuk karena aku bukan benda. Aku tak butuh makan dan minum. Apakah matahari butuh makan dan minum? Tapi aku bukan matahari, meskipun cahayaku lebih benderang dari matahari yang paling pijar. Aku hanya memberi dan tak butuh diberi. Aku ada di mana-mana, tapi hakikatku tetaplah satu. Meski kau menyebutku dengan berbagai nama, aku tetaplah satu aku. Aku sumber dari segala sumber; pikiranmu, kreasimu, napasmu, denyut jantungmu. 

Aku ada di dalam aku juga ada di luar. Aku membuka segala yang tertutup, aku juga menutup segala yang terbuka. Aku tak terpengaruh siang dan malam; seperti kau yang tertidur di malam hari lantas terbangun setelah semua berubah benderang. Aku sangat lembut dan bisa menyusup dalam setiap selmu tapi aku juga sangat besar karena bisa menggenggam dunia. Aku mencatat tiap kelahiran, aku juga mencatat tiap kematian. Aku hidup dalam setiap kehidupan, aku juga mati dalam setiap kematian. Aku hidup saat kau hidup. Aku mati saat kau mati. Tapi aku akan selalu ada karena aku adalah aku. 

Seorang anak kecil bertanya kepada ayah ibunya tentang siapa aku, kutuntun ayah ibunya untuk menunjuk dadanya; aku selalu ada di situ. Jika ingin melihat dan bercakap-cakap denganku, tempat terdekat adalah dadamu—meski keberadaanku tak mutlak butuh tempat. Jika kau ingin leluasa mendengarkan suaraku, maka luaskanlah dadamu. Suaraku akan sulit didengar jika kau menyempitkan atau bahkan menutup pintu-pintu dan jendela dadamu. Dada adalah telingamu juga. Dada juga adalah mata karena bisa kau pergunakan untuk melihat segala kebenaranku. 

Sungguh sangat mudah untuk kita saling bertemu, saling melihat, dan saling memahami. Meskipun aku begitu besar dan tak terjabarkan, meskipun aku begitu lembut sampai kadang tak terindra, tapi sesungguhnya aku begitu dekat denganmu. Sungguh. Sampai-sampai kadang tumbuh pemikiran; aku adalah kau, kau adalah aku.
Terima kasih sudah berkunjung. Semoga mengispirasi. Baca juga cerpen Kampung Lapar

CERPEN TRAKTOR OLEH ADI ZAMZAM

CERPEN TRAKTOR OLEH ADI ZAMZAM


petani mentraktor sawah
image 
Nyalang mata Wo Rikan acapkali melihat derum benda itu. Meraung-raung seperti tengah mentertawakan dirinya yang kini jadi sering menganggur karena tak ada lagi pekerjaan. Padahal telah lama musim penghujan menjadi mimpi indah dalam kepala lelaki gaek itu. 

Ia mematung di pinggiran sawah dengan mulut mengerucut, menahan amarah yang telah berhari-hari bersarang dalam dada. Telah hampir satu jam lelaki berperawakan sedikit bungkuk itu menunggu di situ. Tak dipedulikannya orang-orang yang lewat seraya bertanya, “Sedang apa, Wo?” Tak ada yang dikerjakannya selain hanya mengamati benda itu dengan penuh kebencian. 

“Aku mau yang cepat, Wo. Kalau pakai sapi kan lama? Mahal sedikit tak apa, asal kerjanya bagus,” kalimat Haji Ali terus terngiang dalam telinganya. 

Saat itu Wo Rikan tak mengerti. Berselang hari kemudian barulah ia paham bahwa makhluk berisik itulah penyebabnya. 

Tak cuma Haji Ali, semua orang yang semula pelanggan tetap Wo Rikan kini beralih pula darinya. Hanya dalam seminggu, semua pekerjaan yang telah enam bulan ditunggu habis tak bersisa! 

“Kalau dengan traktor, dua kotak cuma butuh setengah hari. Biaya per kotaknya pun cuma seratus ribu. Coba bandingkan jika aku menyewa bajaknya Wo Rikan. Sehari cuma mampu menyelesaikan satu kotak, itu pun lebih mahal dua puluh ribu. Jadi ya…,” begitu kata mereka. Membuat Wo Rikan merasa dikhianati. 

Kini ia telah melihat dengan mata kepalanya sendiri, hanya dalam waktu satu jam, separuh pekerjaan hampir selesai. Tanah terbajak sempurna, sementara sang pengemudinya hanya terlihat duduk manis di sadel belakang. Terlihat amat santai. Beda dengan dirinya ketika harus duduk di tuas belakang sapi, yang disamping menjadi pengendali arah juga harus berusaha menjadi pemberat agar mata bajak bisa lebih dalam menghujam tanah. 

Kata orang-orang benda itu bahkan mulai merambah ke desa-desa lain. Sungguh sebuah ancaman besar. 

Kini tak ada pekerjaan yang tersisa selain mencangkul galengan [1] sawah. Sayangnya Wo Rikan bukanlah tukang cangkul yang ulung. Lagipula tubuhnya sudah ringkih. Habis mencangkul seharian, tiga hari berikutnya tubuh tuanya serasa remuk dihajar pegal-pegal. Tak seperti ketika ia masih muda dulu. 

Wo Rikan benar-benar galau dengan masa depannya. Sepertinya ia akan mati sampai di sini. 

*** 

Malam merangkak pelan. Kedua mata Wo Rikan masih juga nyalang menemani separuh rembulan yang terlihat di genting kaca di atas pembaringan. Tadi istrinya baru saja meributkan dirinya yang menganggur dan cuma hilir-mudik ke sana ke mari, tak mau cari-cari pekerjaan. Meskipun tak punya anak, bukan berarti hidup bisa dibuat bersantai-santai saja. Justru di masa tua begini harus rajin-rajin bekerja karena tak ada anak tempat bergantung. Apalagi jika tubuh sering sakit-sakitan. 

Wo Rikan hanya bisa menggerutu menanggapi kemarahan istrinya. Perempuan itu tak tahu bahwa sebenarnya ia sedang sibuk memikirkan sesuatu. Dan akhirnya ia telah menemukan sebuah rencana. Rencana itu akan dikerjakannya malam ini juga. 

Ia bangkit sambil terus mengawasi istrinya. Dibukanya pintu dengan pelan. Ia tak mau perempuannya terbangun. Jika sampai itu terjadi, pasti perempuan itu takkan pernah berhenti bertanya yang macam-macam. 

Dalam gelap Wo Rikan mengendap-endap. Terang betul matanya mengamati keadaan sekeliling. Hening. Tak ada siapa pun. Dan memang inilah yang diingininya. Tak ada seorang pun yang melihatnya ketika menuju sebuah rumah yang belakangan ini sering diawasinya. Benda yang tengah diincarnya itu ditambatkan di samping rumah layaknya peliharaan. 

Namun sesampainya di tempat tujuan, Wo Rikan malah kebingungan. Ia tak tahu bagaimana caranya menyakiti atau melumpuhkan benda keras itu. Ia berputar-putar mencari titik lemah yang kiranya bisa menciderai musuhnya itu. 

*** 


Berhari-hari Wo Rikan menjadi orang bingung yang seringnya hanya duduk-duduk melamun di blabak teras rumahnya. Mendengarkan radio menjadi pekerjaan utama yang paling digandrungi. Lagu campursari dan cerita pewayangan adalah acara yang paling ia cari. Meski Mbok Tu—istrinya, sering marah-marah melampiaskan kejengkelannya. Wo Rikan terlihat tak peduli. 

Namun yang sebenarnya terjadi adalah Wo Rikan ingin melupakan kebenciannya terhadap benda bernama traktor itu, karena ia tahu hal semacam ini memang tak bisa dihindari. Ia ingat betul sebelum ada televisi, radionya terbilang benda mahal yang kala itu tak semua orang bisa memiliki. Tapi kini, radio telah menjadi sampah. Mungkin juga dirinya nanti, tak ada harganya lagi. Zaman yang terus bergerak akan menyingkirkan mereka yang sudah tua. 

Hal itu susah betul diterimanya secara penuh. Setiap berpapasan dengan Dikin dan traktor piaraannya, kemarahan dalam dada Wo Rikan melonjak-lonjak. Derum traktor terdengar bagai riuh kaum kala [2] ketika merusak ketentraman kahyangan. Aneka rencana langsung berhamburan masuk tanpa permisi ke dalam kepala, berebut untuk meraih persetujuannya. 

Tak ada lagi pekerjaan yang bisa membuat Wo Rikan makan enak. Maka ia pun tak balas marah-marah kepada pendamping hidupnya yang setia itu. Ia biarkan perempuannya mengumpat-umpat dirinya sepuas hati saat melihat Wo Rikan yang malas-malasan membantu pekerjaannya mengumpulkan daun waru dan jati, berburu keong besusul, memanen genjer liar, juga mengambil petet cina yang tumbuh liar di sepanjang pematang sungai pinggiran sawah. Istrinya tak pernah tahu karena Wo Rikan memang tak pernah memberitahu bahwa kemalasannya adalah tersebab malam-malamnya yang selalu sulit tidur dan selalu dipenuhi dengan aneka rencana. 

Tak pernah ada yang tahu pula kenapa Wo Rikan tiba-tiba suka tersenyum sendiri, terlebih ketika melihat Dikin yang selalu meributkan piaraannya. Ketika Pak Madi, Pak Kandar, ataupun Haji Ali menegur kebiasaan aneh itu, Wo Rikan hanya menjawab, “ Tadi malam Gatotkaca telah melumpuhkan Kala Pracona!” 

Pun ketika istrinya menegur karena teramat jengkel, Wo Rikan masih juga menjawab, “Tadi malam Gatotkaca telah melumpuhkan Kala Pracona!” tak peduli perempuannya semakin jengkel sampai pernah menyembunyikan radio tua itu, hingga Wo Rikan meradang dan tak mau lagi bantu-bantu pekerjaannya. 

Wo Rikan tak peduli meski ia tak dipedulikan lagi. Oleh istrinya, oleh pemilik sawah langganannya, bahkan oleh dunia sekalipun. Baginya, ketika Kala Pracona berhasil dilumpuhkan berkali-kali oleh Gatotkaca—meski hanya sementara—itu sudah sedikit mengurangi sakit hatinya. 

*** 

“Kalau aku mati nanti, apa kau akan cari suami lagi?” tanya Wo Rikan sebelum istrinya terlelap. 

“Kalau aku tak ada lagi, apa yang akan kamu lakukan?” bertanya lagi karena diacuhkan. 

Wo Rikan menoleh. Ternyata istrinya telah benar-benar terlelap. Ia mencoba memaklumi hal ini. Perempuannya memang selalu begini bila marah. Terutama semenjak ia merelakan Ngatimah—keponakan yang pernah ia ambil dari adik ipar semenjak masih umur tujuh—untuk kembali ke sisi orang tuanya karena dua saudaranya telah menetap di kota jauh. 

Mbok Tu sering tak peduli dengan apa yang dilakukan dan dipikirkan Wo Rikan selain ketika lelaki itu membantunya mencari kebutuhan makan. Maka ketika shubuh itu lelakinya telah raib dari sisinya, ia pun lebih peduli dengan pesanan daun, bothok keong dan bothok petet dari para tetangganya ketimbang mencari tahu ke manakah gerangan suaminya pergi. 

Hingga siang menjelang, dan seorang tetangganya terlihat tergopoh-gopoh mendekatinya, “Wo Rikan ditangkap polisi, Mbok!” 

*** 

“Kalau ingin Wo Rikan bebas, Mbok Tu harus mau mengganti rugi semua biaya perbaikan traktor saya selama ini,” wajah Dikin terlihat memerah saat menyebutkan satu per satu kerusakan yang pernah dibengkelkannya. 

Mbok Tu melangkah ke arah teralis suaminya. Menggerutu pendek, lalu mengakhirinya dengan kalimat, “Akan kujual salah satu sapimu.” 

Wo Rikan tersenyum. Akhirnya dunia mengakui dan menghargai keberadaannya juga! (*) 

Kalinyamatan – Jepara, September 2011 

Catatan: 

[1] Pembatas antar sawah 

[2] Raksasa
Terima kasih sudah membaca. Semoga bermanfaat. Baca juga cerpen Teh dan Kopi

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia