Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Tampilkan postingan dengan label Oka Rusmini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Oka Rusmini. Tampilkan semua postingan
CERPEN KEKAYI OLEH OKA RUSMINI

CERPEN KEKAYI OLEH OKA RUSMINI


lukisan penari bali
image Rustamadji
Perempuan tua itu masih menyisakan gurat-gurat kecantikan yang tidak dimiliki perempuan-perempuan lain di negeri ini. Matanya tajam, mata seorang penari yang begitu menggoda. Jika menatapnya, lelaki pasti akan bertekuk lutut dan menghamba kepadanya. Kerlingnya bisa mematahkan hati. Lelaki paling setia pun akan tunduk, takluk, dan melupakan istri yang dicintainya. 

Mata itu mampu mengatur hidupnya, sesuai dengan keinginan dan kebutuhannya. Dialah perempuan yang sadar bahwa tubuh perempuan adalah alat, tepatnya senjata mematikan! Jika perempuan mampu memainkan dengan baik dan penuh percaya diri, tubuh itu bernama: kekuasaan! 

*** 

PEREMPUAN tua itu juga suka menggulung rambutnya yang mulai berubah warna tinggi-tinggi, untuk memperlihatkan tengkuknya yang menggairahkan. Lehernya begitu jenjang, keriput tipis yang menghias kulit lehernya justru menjadi semacam aksesori, menambah gairah orang-orang yang melihatnya. Jika berjalan, ia selalu berjalan tegak dengan kepala sedikit mendongak. 

Sanggulnya selalu dihiasi bunga cempaka berjejer, jumlahnya selalu ganjil. Perempuan itu percaya, hidupnya yang ganjil harus ditandai juga dengan ritual yang ganjil. Jika hari kelahirannya, Anggara-Ugu, tiba, perempuan itu hanya meneguk air putih dan makan semangkuk kuncup melati. Mengunyahnya tanpa pernah membuka mulut. Menjelang tengah malam, dia akan mandi kembang tujuh macam tujuh warna. 

Jika berdekatan dengannya akan tercium bau wangi yang misterius, sedikit mistis, karena perempuan tua itu melabur rambutnya yang kelabu dengan minyak rambut buatannya sendiri. Dia membuat minyak kelapa sendiri, kemudian dimasukkan ke dalam botol besar yang berbentuk mirip bambu yang memiliki tutup botol runcing, bergerigi sangat tajam. Di dalamnya ia masukkan pula potongan bunga kenanga dan irisan daun pandan berduri. 

Warna kelabu rambutnya justru menambah kecantikannya. Kecantikan yang masih terlihat tegas dan nyata. Kecantikan yang memiliki taksu yang kuat. 

Tubuhnya ramping. Jika dilihat dari belakang, banyak orang berpikir bahwa perempuan itu adalah perempuan muda yang sangat cantik. Wajahnya juga masih memancarkan kecantikan memukau. Bahkan seorang kusir kuda berumur belasan tahun, terinjak kudanya sendiri ketika takjub menatap perempuan itu. 

*** 

SUDAH puluhan tahun perempuan itu selalu menghadap arah matahari, berharap dewa matahari bersimpati pada hidupnya, pada pengorbanan yang telah dia lakukan untuk hidupnya. Dia tahu, menjadi lakon di atas panggung hidup ini tidak ada yang gratis! Apa yang diambil harus dibayar. Yang datang pasti akan pergi. Yang hidup pasti akan mati! Cinta akan bertemu benci. Begitu hukum kehidupan ini. Tetapi mengapa hidup hanya merenggut semua miliknya, tanpa mau membayar kepadanya? Bahkan ratusan doa yang dia panjatkan dalam satu jam selama puluhan tahun belum dia rasakan. Kalau hidup berlaku tidak adil padanya, pada siapa dia harus mengadu? Protes dan marah? 

Ke mana doa-doa yang telah dipanjatkan mengalir? Jika sungai bertemu dengan laut. Ke mana larinya doa-doanya? 

Tubuhnya yang mulai berkerut, mirip kulit pohon kamboja yang berjejer di depan kamar tidurnya. Dia selalu terjaga pagi hari dengan amarah yang siap meledak. Kesabaran itu ada batasnya, perempuan hamil pun ingin segera memuntahkan dagingnya. Saat ini tak ada lagi yang bisa dipercaya kecuali matahari. 

Perempuan tua itu begitu mencintai matahari, seperti dia mencintai dirinya sendiri. Juga hidupnya. Jika matahari diusir, menjelma gelap. Kesedihan mengepung hati dan pikirannya. Tetapi dia tidak ingin menumpahkan butiran air di matanya yang bulat dan indah. Baginya malam hari adalah saat paling membosankan dalam hidupnya. 

“Aku tidak suka bau malam!” 

“Kenapa? Malam justru menaburkan kedamaian. Keheningan. Kau bisa berbicara dengan dirimu sendiri. Aku menyukai malam, karena malam membuatku paham arti hidup. Bukankah para penyair selalu terjaga pada malam hari untuk menuliskan hal-hal indah dalam hidup ini?” 

“Aku tidak suka malam!” 

“Kenapa?” 

“Malam membuat hidup ini tidak lagi menarik. Malam membuat hidup ini jadi cengeng dan melankolis. Aku tidak suka malam! Malam membuatku jadi perempuan lemah. Perempuan cengeng! Perempuan yang selalu mengeluh pada hidup! Perempuan yang menyesali perjalanan hidupnya sendiri. Hidup yang dipilihnya sendiri. Aku benci hal-hal yang berbau perasaan. Firasat. Dan hal-hal yang bagiku sudah tidak masuk akal. Cengeng.” 

“Dulu kau suka para penyair mengidungkan karya-karya mereka di depanmu.” 

“Itu karena aku bodoh!” 

“Apa maksudmu?! Kau bukan perempuan bodoh!” 

“Aku bodoh! Hanya perempuan bodoh yang mau menghabiskan waktu dengan hal-hal yang membuat dirinya mabuk. Tak ada keindahan dalam cinta! Romantisme. Puisi-puisi cinta, tatapan penuh kasih, kesetiaan, itu semua bohong! Aku mabuk pada diri sendiri. Terbenam dalam lautan kesedihan yang paling dalam. Ketika muda, aku adalah perempuan tolol! Yang mau saja dihidangi kidung-kidung cengeng. Membiarkan orang-orang datang dan menikmati kecantikanku. Tubuhku! Merampasnya dengan cara terhormat tanpa aku sadar. Mereka telah mencuri hidupku. Mencuri masa depanku! Kidung-kidung cinta itulah yang membuatku mabuk dan bodoh.” 

“Kau menyesal jadi Kekayi?” 

“Tidak! Aku menyesali kebodohanku sendiri. Aku tidak menyalahkan orang-orang yang menaburkan mimpi-mimpi kosong ke dalam hidupku. Aku juga tidak menyesal orang-orang menikmati kecantikan dan kemudaanku. Yang membuat aku menyesal, hidup telah memperlakukan aku tidak adil. Aku merasa dikhianati oleh hidup itu sendiri. Karena aku perempuan bodoh, perempuan yang tidak paham keinginannya sendiri. Perempuan yang mabuk karena kecantikannya. Kemudaannya. 

Aslinya aku perempuan tolol. Tolol sekali! Bahkan aku tidak mampu mengembalikan anakku. Aku tidak mampu meraih anak yang dua belas bulan hidup di tubuhku. Merampas seluruh makananku. Merampas pikiranku. Merampas seluruh kenikmatanku sebagai perempuan muda. Kau tahu, sering aku marah pada gumpalan daging yang tumbuh makin membesar di tubuhku. Merampas rasa laparku. Merampas tubuhkku. Kadang, pada tengah malam ia merampas napasku. Mungkin daging itu menginginkan aku mati pada tengah malam.” 


“Ah… pikiranmu selalu aneh-aneh.” 

“Aku tidak sedang berpikir. Aku sedang bercerita tentang hidupku sebagai perempuan muda. Hidupku sendiri. Hidupku yang kupilih dan kuyakini sendiri. Hidup yang telah kusia-siakan sendiri. Aku bercerita padamu, kuharap kelak kau bisa menuliskannya menjadi kidung, kakawin, atau serat. Aku tidak ingin diam saja, karena orang-orang tidak akan tahu pikiranku. Perjuanganku. Mereka hanya tahu aku perempuan culas! Perempuan jahat! Mereka harus tahu, aku juga punya mimpi dan cita-cita untuk hidupku dan keturunanku. Aku telah berkorban banyak dalam hidup ini. Juga untuk anak-anakku!” 

“Kau tidak lagi muda, Kekayi!” 

“Aku tahu!” 

“Umurmu…’’ 

“Umurku mungkin seratus tahun? Atau, seribu tahun. Aku tidak peduli angka-angka itu. Mau apa kau?! Kau percaya pada waktu? Aku tidak! Waktu telah lama berkhianat padaku. Aku tak percaya lagi padanya! Aku tidak peduli usiaku. Aku hanya peduli pada hidupku. Aku merasa, aku telah melakukan banyak hal untuk membuat pilihan hidupku menjadi impianku sebagai perempuan muda. Melahirkan raja-raja. Hidup sejahtera. Mendapatkan lelaki yang bisa mengangkat statusku makin tinggi, kalau bisa melebihi status sosial dan ekonomi seluruh perempuan yang ada di negeri ini. Sejak haid pertama, aku melakukan tapa. Memohon pada para Dewa. Sudah lama aku tidak menyentuh daging. Aku memutih. Semuanya kulakukan untuk hidupku sendiri!” 

“Ah… Kekayi. Ambisimu telah membunuhmu!” 

“Ambisi? Kau salah menilaiku. Bagiku, perempuan yang tidak memiliki ambisi, lebih baik mati saja! Aku telah menyerahkan seluruh hidupku. Seluruh keindahan tubuhku untuk mimpiku. Aku tak paham cinta. Aku tak paham berbagi gairah dengan lelaki. Yang merobek tubuhku dan melukaiku adalah Dasarata, lelaki tua yang begitu mabuk pada kemudaanku. Kecantikanku. Dia lebih cocok menjadi kakekku dibanding menjadi suamiku. Aku tidak pernah merasakan apa pun saat bersamanya. Bahkan ketika kami bersenggama, rasa sakit melumuri seluruh tulang-tulang dan urat dalam tubuhku. Tak sepotong manusia pun dititipkan di rahimku oleh lelaki tua bangka itu! Nafsunya yang menggebu telah melunturkan hasratku, lelaki tua itu tidak akan mampu menitipkan benih di rahimku. Berhari-hari aku harus melayaninya. Dia tidak peduli seluruh tubuhku sakit. Untungnya para Dewa tahu diri. Sejak haid pertama sampai disunting Dasarata, aku memilih tetap dalam tapa, memutih. Tidak makan apa pun selain nasi putih dan air putih.” 

“Apa sesungguhnya yang kau inginkan sebagai perempuan?” 

“Aku ingin dicintai secara tulus oleh orang-orang yang telah kubesarkan. Manusia-manusia yang tumbuh dalam tubuhku. Kupelihara dengan rasa sakit. Apakah Bharata tahu itu? Apakah Bharata tahu sulitnya menjadi perempuan? Sulitnya menjadi ibu? Sulitnya memeliharanya di dalam kandunganku, di tubuhku! Orang-orang yang tumbuh dalam tubuhku telah melukai pengorbananku sebagai Kekayi. Bharata anak lelakiku menolak jadi raja. Dan memakiku dengan kata-kata kotor.” 

“Kau tidak cocok jadi ibuku. Jika aku boleh memilih, aku tidak ingin mengeram dalam tubuhmu, Kekayi! Aku malu punya ibu culas macam kau! Ibu yang menginginkan hak yang bukan menjadi haknya. Ibu yang menghancurkan anaknya sendiri karena keinginannya yang tidak masuk akal. Aku menyesal dan mengutuk diriku sebagai manusia! Karena terlahir dari rahimmu. Kau telah membuat hidupku penuh bencana karena ambisimu. Kau telah melukai dan menistakan hidupmu dan hidup anak-anakmu. Kerajaan ini adalah milik Rama. Bukan milikku. Kau lihat sendiri di luar sana. Rakyat menatapku dengan tatapan aneh. Tatapan penuh iba. Sekaligus benci. Kau telah membuatku menjadi anak yang tidak berbakti! Anak yang dilecehkan sepanjang hidupku. Karena aku memiliki ibu sepertimu. Aku menyesal menjadi anakmu!” 

Begitulah Bharata, anak lelaki tampan yang telah dirawat Kekayi dengan cinta dan doa yang tulus. Telah melukai hati perempuannya. Hati seorang ibu. Hati seorang perempuan yang sesungguhnya telah lama patah hati. 

Tidak ada yang paham luka yang terus melumuri hidup Kekayi. Sejak muda perempuan itu selalu menghabiskan waktu bertapa. Memohon pada dewata agar memilihnya menjadi perempuan yang melahirkan raja-raja besar. 

Sejak kecil Kekayi sadar, sebagai anak angkat Raja Kekaya, posisinya sangat lemah. Dia tidak mungkin menjadi ratu, menggantikan Kekaya memimpin Kerajaan Padnapura. Padahal sejak kecil, ketika berumur dua belas tahun, dan diangkat anak oleh Kekaya, Kekayi selalu membayangkan duduk dengan kepala tegak di kursi singgasana Padnapura. Bahkan dia telah mempersiapkan diri untuk menjadi lelaki. 

Kekayi sejak kecil selalu minta dilatih bela diri, melempar tombak berburu, dan melakukan hal-hal yang biasanya tidak dilakukan anak perempuan. Kekayi akan marah besar jika Kekaya menolak permintaannya untuk bertarung dengan anak lelaki. Dan di setiap pertarungan Kekayi akan berpakaian seperti lelaki, sehingga para petarung tidak melihatnya sebagai perempuan. Di setiap pertarungan Kekayi selalu mudah menaklukkan lawan. 

Tetapi usaha kerasnya untuk menunjukkan pada Kekaya bahwa dirinya layak diperhitungkan sebagai salah satu calon penguasa sia-sia. Kekaya telah mempersiapkan seorang putra mahkota. Seorang lelaki yang lebih tua dari Kekayi. Putra mahkota yang sejak lahir sadar akan haknya sebagai penguasa. Lelaki bodoh, pemalas, dan sombong! Dia juga memperlakukan para perempuan muda di kerajaan dengan tidak hormat. 

Suatu pagi, dia meremas dada Kekayi, menepuk bokongnya sambil tertawa, bersama para pengawal dan saudara-saudara lelakinya. Kekayi menggunakan bagian ujung tangan—bagian yang bersentuhan langsung dengan objek—untuk memukul objek. Semakin kecil dan lancip ujung tangan yang digunakan untuk memukul, semakin mudah untuk meremukkan objek. Itu petunjuk dari gurunya. Kekayi pun mempraktikkan dengan riang teknik melumpuhkan lawan itu. Hasilnya, gigi calon raja itu rompal. Tangan kanannya patah. Leher terkilir. 

Sejak itu, lelaki bertubuh badut itu tak berani menyentuh dan menatapnya.
Terima kasih sudah membaca. Semoga menginspirasi. Baca juga cerpen Ibu Pergi ke Laut

CERPEN PASTU OLEH OKA RUSMINI

CERPEN PASTU OLEH OKA RUSMINI


perempuan
image
Percayakah kau bahwa di dunia ini tidak ada kebahagiaan? Setiap kebahagiaan yang aku petik, harus kubayar mahal dengan siksaan penderitaan? Benarkah hidup sekejam itu? Hidup hanya bisa menguliti, menyamak, juga menuangkan beragam racun ke seluruh napasku. Juga ke pori-pori darah. Lalu, di mana harus aku cari kebahagiaan? 

Adakah seseorang telah menanam pohon kebahagiaan? Itulah pertanyaan-pertanyaan yang mengepung masa kanak-kanakku. Aku tumbuh dan tetap hidup, berharap menemukan pohon kebahagiaan. Mungkin seseorang telah menanamnya, sementara aku tidak tahu di mana pohon itu ditanam? Kalau aku temukan pohon itu, aku akan cabut, lalu kutanam di jantungku, agar akar-akarnya mampu mengaliri darahku. Dan, beragam pastu, kutukan yang mengaliri pori-pori darah perempuanku akan lenyap. 

Belakangan ini aku hobi sekali berdiri di depan cermin. Rumah kecilku pun kusulap penuh kaca. Aku hobi sekali memandang diriku melakukan beragam aktivitas. 

Di ruang tamu kupasang kaca besar. Aku bisa menyaksikan tubuhku, tampangku yang bermalas-malasan di sofa sambil minum teh atau kopi, lengkap dengan camilan. 

Di ruang makan, kupasang juga kaca besar. Aku bisa menonton diriku menghirup jus buah setelah senam atau yoga. 

Di ruang tidur justru lebih parah! Sekeliling dinding kamar tidur kupasangi kaca. Jadi aku suka melihat diriku tertidur santai, kadang sampai terkantuk-kantuk. 

Dinding kamar mandi pun kupasangi kaca semua. Aku bisa melihat seluruh tubuhku yang telanjang. Ternyata masih indah untuk usia menjelang 40 tahun. 

“Kamu kan gak pernah beranak, tidak heran tubuhmu indah. Kamu bisa menghabiskan banyak waktu untuk merawat tubuh. Gaji di kantor besar. Rumah ada. Mobil ada. Kurang apa?” Aku terdiam. Setiap sahabatku berkata dengan penuh nada iri pada kehidupan yang sedang kunikmati. Apakah aku bahagia denga kelajanganku? Aku juga pernah bertanya pada karibku itu, “Apakah perkawinan membuatmu bahagia?”

“Aku yang bertanya padamu,” jawabnya ketus. 

Kalau sahabat perempuanku sudah merengut seperti itu, aku hanya diam, sambil mengunyah salad buah pelan-pelan. Aku tahu, belakangan ini dia pasti baru diteror. Penyakit musiman yang kunamakan “terror rumah perkawinan”. Sebetulnya mau kunamakan “teror cinta”. Terror yang membuatnya sedih, gelisah. Kecemburuan, ketidakpuasan, putus asa, entah menu apalagi yang terus keluar dari mulutnya. Sepertinya bagi si lajang model aku ini, perkawinan itu jadi makhluk buas yang siap mencabik dan memakanku hidup-hidup. Iiiih! Kalau dia dalam kondisi seperti itu, akulah korbannya. Seharian dia hanya merokok saja. Atau datang pagi-pagi sambil membawa minuman alkohol dosis tinggi, lalu maboklah dia! Namun, meski seminggu dia kost di rumahku, suaminya tak pernah meneleponnya. Juga tidak mencarinya. Aneh sekali, kan? 

Aku menyayanginya. Bagiku, pertemananku dengannya yang sudah kami mulai sejak duduk di bangku SMP begitu tulus. Tak tergantikan. Namanya Cok Ratih, putri tunggal seorang pemilik hotel di Kuta, Ubud, dan entah di mana lagi. Yang pasti, sejak mengenalnya, aku pun ikut mapan karena Cok Ratih menganggapku sebagai saudara satu-satunya. Bagiku, kehadiran Cok Ratih dalam hidupku membuat aku percaya bahwa ada hal yang layak dipercaya dalam hidup ini. Persahabatan. 

Kata orang-orang, Cok Ratih egois. Bagiku tidak. Dia memberikan apa saja yang dia punya untukku. Cok Ratih mengajari aku berbagi. Hubungan kami ters terjalin begitu erat. Saking eratnya, banyak teman mengira ada yang salah dengan hubungan kami. Tapi kecurigaan mereka terbantahkan ketika Cok Ratih terlihat sering menggandeng I Made Pasek Wibawa. Semua orang pun mengira, Pasek (begitu aku dan Cok Ratih memanggil lelaki yang berprofesi sebagai dokter itu), akan berbagi cinta. Aku dan Cok Ratih hanya tertawa. Hubungan mereka berdua begitu a lot. Keluarga besar Cok Ratih menentang hubungan itu. Orangtuanya juga. Tetapi Cok Ratih nekat. 

“Hari gini masih ada sekat-sekat manusia. Kasta, derajat. Memuakkan! Hidup ini sudah rumit, kenapa masih dibuat rumit?” papar Cok Ratih santai. Cok Ratih memang bangsawan. Keluarganya tidak kurang harta, juga tidak kurang martabat. Perempuan itu keras kepala. Akhirnya dia pun hamil diluar nikah. Terpaksalah orangtuanya mengawinkannya. 

“Kalau nggak hamil dulu, pasti ortuku nggak setuju,” katanya terkekeh. Bagi Cok Ratih, hidup begitu ringan dan tenang. Tak ada beban. Mungkin karena itulah persahabatan kami langgeng. Menurut orang-orang, aku perempuan yang terlalu serius. Bagiku, itu penilaian yang salah. Aslinya aku hanyalah perempuan yang takut melakukan kesalahan. Karena setiap kesalahan yang kuperbuat akan menimbulkan dampak psikologis yang begitu dalam bagi pertumbuhanku menjadi perempuan. 

Tiga bulan sudah menikah, Cok Ratih mengalami keguguran hebat. Usia kandungannya hamper tujuh bulan. Perdarahan yang tidak ada hentinya. Satu bulan dia dirawat di rumah sakit khusus. Berkali-kali tidak sadar. 

Hyang Jagat, begitu luar biasanya tubuh perempuan. Hanya untuk memuntahkan seorang manusia saja begitu sulitnya? Aku menggigil. Kubayangkan tubuhku digelendoti gumpalan daging hidup yang siap memakan seluruh isi tubuhku. Hyang Jagat. Hyang Jagat! Di tengah situasi berat seperti ini, Pasek diam-diam mulai merayuku. Dia terlihat genit. Menjijikkan. Berkali-kali dia menawarkan diri untuk mengantar pulang, menjemput, atau makan siang denganku. Aku tidak melihat keprihatinan di matanya. Lelaki apakah yang telah dikawini sahabatku itu? Sementara Cok Ratih telah meninggalkan kebangsawanannya. Hubungan baik dengan keluarga besarnya pun putus karena dia mnikah dengan lelaki yang tidak sederajat. Begitu banyak yang dikorbankan untuk cinta. 

Aku pernah menyiramkan segelas besar wine ke wajah Pasek ketika dia berusaha memepetkan tubuhnya ke tubuhku pada acara gala dinner di sebuah perusahaan milik sahabatku. Semua orang menatap kami. Aku pun meninggalkan ruangan itu. 

Yang membuat aku panas, Pasek menyebar gossip bahwa akulah yang tertarik padanya. Ya. Hyang Jagat. Senista itukah aku? Tertarik pada lelaki menjijikkan seperti Pasek? Aku memang lajang, kadang-kadang rindu memiliki kekasih. Pengalaman hidup mengajarkanku, jangan pernah mengusik dan bermain api denga lelaki milik perempuan lain. Bagaimana kalau Cok Ratih tahu? Siapa yang akan percaya? Aku atau suaminya? Aku memejamkan mata. Makin hari, keinginanku utuk kawin makin jauh. 

Namaku Dayu Cenana. Cenana berarti kayu cendana. Kayu yang keras. Entah bagaiman dan kenapa keluarga besarku memberi nama Cenana. Kupikir nama itulah yang membuat hidupku jadi pelik. Keras. Aku jarang sekali merassa puas pada apa pun yang telah dan akan kulakukan. Aku udah pattah dan kecewa. 


Semua bermula dari Aji, ayahku. Sejak ditugaskan mengambil spesialis mata, lelaki itu tidak pernah pulang ke rumah. Dia kecantol seorang janda beranak dua. Ibuku, Dayu Westri jadi stress berat. Dia sering menjerit-jerit tengah malam, lalu memesan arak, mabuk, muntah. Akhirnya ibuku bunuh diri dengan menyilet nadinya menggunakan pisau tatah milik Kakiang, kakekku, ayah dari ibuku. 

Kakiang adalah seorang lelaki tua yang sangat dihormati. Dia ahli membuat pratima, benda-benda suci yang disakralkan di pura-pura. Kematian ibu membuat Kakiang linglung. Makin hari kesehatannya menurun. Aku pun kemudian kehilangan Kakiang. Lelaki tua yang pandai menyanyikan kidung-kidung indah itu lebih suka berbicara sendiri, juga menjadi penyendiri. Kakiang pun akhirnya mati gantung diri di kamarnya. 

Tinggallah aku dengan Nini, perempuan sudra kebanyakan yang dikawini Kakiang. Nama asli perempuan itu Ni Luh Made Ragi. Karena menikah dengan Kakiang, bangsawan dari kasta tertinggi, Brahmana, Nini pun berganti nama menjadi Jero Tunjung. 

Aku memanggil perempuan tua cantik itu Nini, yang berarti nenek. Dari dialah aku belajar banyak bahwa semua harus diselesaikan sendiri, tidak boleh mengeluh, tidak boleh menunda pekerjaan, selalu bersyukur pada leluhur. Dan yang membuatku 

berpikir, Nini berkali-kali menasihati, menjadi perempuan itu jangan pernah menyakiti perempuan lain. Sekecil apa pun tidak boleh! “Kalau Tugeg menyakiti perempuan lain, Hyang Widhi akan memuntahkan seluruh pastu, kutukannya padamu!” kata-katanya selalu terdengar penuh amarah. Makin dewasa aku makin paham arti kata-kata itu. Pengalamnku juga mengajarkan betapa sakitnya dikhianati. Makanya, jangan mengkhianati. 

Perempuan sudra itulah yang membuatku mandiri. Dia hidupi aku, satu-satunya cucu miliknya dengan cinta yang aneh. Bagiku dia terlalu keras mendidikku. Setelah dia mati, baru kusadari bahwa perempuan itulah yang membuatku berani bertanngung jawab pada pilihan-pilihan hidup yang kuambil. Dia yang membiayai sekolahku, karena sejak kecantol janda itu, Aji tidak pernah pulang lagi. Aku telah kehilangan figur Aji pada usia 6 tahun, kehilangan Ibu pada usia 7 tahun, kehilanganKakiang pada 8 tahun. 

Begitu banyak kematian memberi aroma bagi pertumbuhanku sebagai Dayu Cenana. Belum lagi kematian binatang peliharaanku, bunga-bungaku, juga beberapa teman bermain dan sekolahku. Aku tumbuh dari kematian yang datang hampir setiap tahun. 

Aku terus dikepung rasa sunyi. Tetapi Nini telah membekaliku dengan kehidupan yang, setelah kupikir-pikir, luar biasa. Aku dibesarkan lahir-batin hanya oleh seorang perempuan. Perempuan tua cantik itu senang sekali melakukan ritual-ritual yang tidak biasa. Mandi bunga setiap purnama, bulan terang dan penuh. Tidur dengan kain kafan bila datang tilem, bulan mati dan langit jadi gelap, seolah mati. Setiap Selasa-Kamis, biasanya dia hanya makan nasi putih dan minum air putih. Kadang-kadang pada hari tertentu, Kajeng Kliwon, dia mandikan tusuk kondenya, keris, dan beragam batu-batu antik, lalu airnya dipakai untuk memandikan aku. Mungkin karena beragam pantangan yang dilakoninya, dia tumbuh makin kuat, makin cantik, dan bagiku dia luar biasa. Perempuan yang sangat menikmati hidupnya dengan kebenaran miliknya. 

“Jadi perempuan itu harus bisa menghormati diri sendiri,” katanya suatu hari sambil menghaluskan bata menjadi serbuk. Nini tidak pernah gosok gigi dengan odol. Setiap pagi dia menumbuk bata merah. Juga kumur dengan air garam. Giginya kuat. Kelak, ketika kematian menggiringnya, giginya masih utuh. 

Aku tidak pernah tahu berapa usianya ketika mati. Karena dialah satu-satunyapelingsir, perempuan yang dituakan di Griyaku, mati paling akhir. 

Bisik-bisik sempat kudengar, Niniku memiliki ilmu pengeleakan, ilmu hitam. Bagiku gosip itu murahan. Nini tidak pernah mengajariku hal-hal aneh. Yang kutahu, entah benar entah tidak, seseorang yang memiliki ilmu pengeleakan bisa menjelma jadi api, babi, angsa, atau binatang lainnya. Aku hidup dengan Nini berpuluh-puluh tahun. Bahkan aku paham betul lekuk tubuhnya karena kami sering mandi di kali atau pancuran sawah. Airnya bening dan membuatku betah berlama-lama. Nini dengan sabar menunggui aku mandi sambil menggosok tubuhnya yang sawo matang dengan lumpur sawah, atau menggosok daki-dakinya dengan batu kali. Nini tidak suka mandi dengan sabun. Katanya aneh, licin, dan membuat badannya gatal. 

Ketika Nini mati, aku pun memilih tinggal dan berkarier di luar rumah keluarga besar. Aku tidak pernah menginginkan perkawinan. Aku hanya menginginkan persahabatan yang tulus. Sampai kini, aku masih virgin. Memang terdengar kampungan. Aku menikmati hari-hari yang terus berjalan dengan menguras usiaku. Bagitulah aku hidup. Sejak muda, aku tidak tahu rassanya patah hati. Memulai mencintai lelaki pun aku tahu. Setiap ada lelaki yang mengatakan cinta padaku, aku demam. Seminggu aku migren. Apalagi kalau lelaki itu telah kuanggap sahabat baik. Tak ada cinta yang bisa kurasakan. Yang kubutuhkan adalah perhatian yang tulus, teman dialog, juga sesekali bermanja. Bagiku, cinta lelaki dan perempuan sama dengan seks. Aku tak mau hamil, melahirkan anak, karena aku takut anak yang lahir dari rahimku mengalami nasib seperti aku. Atau bahkan jadi lebih buruk! Aku menggigil. Dibunuh oleh pikiran-pikiranku sendiri. Keingat mengalir dari dahi, ketiak, dan seluruh tubuh. 

Telepon genggamku bordering. 

“Apa?! Kapan?!” Aku berteriak histeris. Tubuhku limbung. Menjelang tengah malam, aku tersadar. Aku terbaring di lantai dekat pintu masuk kamar mandi, hanya ditutupi handuk. Cahaya bulan membangunkanku. Hari ini purnama? Aku bergegas bangun, menyalakan lampu. Aku takut dikepung gelap. 

Tak ada upacara ngaben, pembakaran mayat. Hari ini, Cok Ratih dititipkan di ibu pertiwi, tanah lembab. Tubuh perempuan itu hamper tak kukenali lagi. Membengkak dan busuk. Cairan terus menetes dari tubuhnya. Tak ada lagi rona kecantikan di mayatnya. Sudah seminggu dia terbujur kaku di dalam kamar mandi kamar tidurnya. Tanpa diketahui lelakinya. Lelaki yang konon dicintainya. 

Sahabatku mati. Berkorban untuk cinta, tanpa pernah mendapatkan cinta yang sesungguhnya. Lelaki itu tak ada di rumah, bahkan tak pernah tahu istrinya telah menjerat lehernya dengan tali. Polisi yang menemukan tubuh Cok Ratih yang telah membusuk. 

Desa Adat memberinya sanksi, mayatnya tak boleh diaben karena Cok Ratih mati salah pati, mati bunuh diri. Mati yang salah! Menurut konsep agama. Kutelan kegetiran itu. Apakah Tuhan tahu? Apa alasannya sahabatku yang riang dan bersemangat itu menjerat leher dan mengiris nadinya? Apakah Tuhan mau mengerti dan menerima alasannya? 

Aku tak lagi bisa menangis. Ketika upacara penguburan itu selesai. Apakah Tuhan masih mau menghukum Cok Ratih? Perempuan yang mengorbankan seluruh hidupnya untuk mendapatkan cinta dari seorang lelaki? Lelaki yang tak pernah cukup dengan satu cinta? 

Selama ini Cok Ratih terus-menerus berusaha menyembuhkan lukaku. Katanya, kehidupan perempuan baru disebut sempurna jika sudah kawin. Perkawinan membuat perempuan sadar arti menjadi istri, juga arti menjadi ibu. Tapi kalau nyatanya kawin malah bikin susah dan rumit, apakah perkawinan masih bisa dijadikan alasan bahwa pohon kebahagiaan itu hanya bisa ditemukan di dalam rumah perkawinan? 

Aku bertambah menggigil. Menatap langit yang makin muram. Apakah ini pertanda suassana kematianku kelak semuram warna langit petang ini?
Terima kasih sudah berkunjung. Semoga menginspirasi. Baca juga cerpen Rumah Masa Kecil

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia