Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Tampilkan postingan dengan label ceroen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ceroen. Tampilkan semua postingan
CERPEN BAYI BERSAYAP JELITA OLEH AGUS NOOR

CERPEN BAYI BERSAYAP JELITA OLEH AGUS NOOR

bayi bersayap jelita
image
Kakek bisa membelah diri. Bisa berada di banyak tempat sekaligus…. Aku melihat Kakek tengah berdiri memandang keluar jendela, ketika aku masuk. Kamar gelap—mungkin Kakek sengaja mematikan lampu—aku merasa ia tak ingin diganggu. Pelan pintu aku tutup kembali. “Masuklah,” suara Kakek lemah. Ia tergolek, dengan selang oksigen dan infus yang bagai mencencangnya di ranjang. Demi Tuhan! Aku tadi melihat Kakek berdiri dekat jendela itu. Benarkah Kekek bisa berpindah dalam sekejap?

Kurasakan, Kakek mengedipkan mata: sini, tak usah heran begitu. Padahal kulihat ia terbaring memejamkan mata begitu tenang. Dua hari sebelum puasa, ibu menelepon. Kakek jatuh di kamar mandi, serangan jantung. Mas Jo memintaku segera saja ke Jakarta. Sebelum terlambat—ia rupanya tahu keenggananku menjenguk Kakek. “Biar aku urus Nina,” katanya. Bungsuku itu memang baru kena demam berdarah.

Aku tak terlalu dekat dengan Kakek. Bahkan tak menyukainya. Semasa kecil, kakak-kakak dan sepupuku suka sekali mendengarkan cerita Kakek. Duduk mengelilingi dan bergelendotan manja setiap Kakek bercerita tentang burung-burung cahaya yang terbang dari surga membawa biji-biji kebaikan, ular berkepala lima, makhluk-makhluk sebelum Nabi Adam diciptakan, angsa yang menyelam ke dasar samudera atau Nabi Sulaiman yang mendengarkan percakapan cicak dan buaya.

Itu bohong, kataku, setiap Kakek bertanya kenapa aku tak suka ceritanya. Aku lebih suka belajar matematika. Bagiku Kakek tak lebih tukang khayal. Dan khayalan itu penyakit yang gampang menular. Penyakit orang malas, kata Nenek. Aku memang tak suka setiap melihat Kakek hanya duduk-duduk dikelilingi para kakak dan sepupuku—seperti sekumpulan orang malas yang seharian hanya bercanda—sementara Nenek di dapur sibuk membuat kue. Aku lebih suka menemani Nenek di dapur, mencicipi remah kue yang dibikinnya, dan selalu merasa begitu bangga ketika Nenek memberikan padaku potongan kue yang lebih besar.

Tapi kakak-kakak dan sepupuku bilang, Kakek punya kue yang jauh lebih lezat dari kue bikinan Nenek. Kue itu kue yang dihidangkan ratu Balqis kepada Nabi Sulaiman. Seperti apem, tetapi bagai terbuat dari cokelat. Kue itu tak akan habis bila dimakan. Aku benci mendengar cerita itu. Benar, khayalan memang penyakit menular. Kupikir mereka sudah tertular khayalan Kakek.

Aku ingat setelah kejadian itu, tengah malam, antara tidur dan jaga, entah mimpi entah nyata, aku melihat Kakek duduk di sisi ranjangku, sembari makan kue pelan-pelan. “Mau?” ia menawariku. Seolah ada gerak yang mendorong tanganku untuk mengambil kue itu, memakannya. Rasa kue itu jauh lebih enak dari kue buatan Nenek

. ***

Kakek pingin ketemu kamu, kata ibu di telepon. Yakin, pasti Kak Sofyan yang menyuruh. Kakek tinggal bersama kakak keduaku itu, dan ia tahu aku pasti mau mendengarkan bila yang menelepon ibu.

“Kenapa kamu tak suka Kakek?” dulu, ibu bertanya. Aku terus pura-pura membaca.

Suaranya lembut, membuatmu merasa tenteram setiap mendengarkannya bercerita. Matanya keteduhan yang ingin kau jumpai. Nyaris tak pernah marah. Dan—ini yang menurut kakak-kakak dan sepupuku paling disukai dari Kakek—tak suka cerewet memberi nasehat. Rasanya tak ada alasan untuk tidak menyukainya.

Mungkin karena iri. Atau tak mau berbagi. Kakek membagi perhatian pada semua cucunya. Aku selalu ingat pada kejadian saat suatu kali Kakek membawa martabak. Kakek membagi rata buat semua cucunya. Semua gembira.

Tapi aku segera pergi. Aku ingin Kakek seperti Nenek! Bila punya kue, aku selalu dapat bagian lebih banyak. Aku senang bila kakak dan sepupu menatap iri bagian kue yang lebih besar milikku. Itulah saat-saat paling membahagiakan buatku. Nenek mengerti kebahagiaanku itu. Kakek tidak. Itulah sebabnya aku tak pernah terlalu suka Kakek. Tak pernah bisa merasa dekat.

Tapi Kakek ingin sekali ketemu kamu, kata ibu saat menelepon. Dan ibu bilang: Dua hari di rumah sakit, Kakek bersikeras pingin pulang. Rumah sakit hanya membuat kita benar-benar merasa sakit, keluh Kakek. Para suster mengatakan kalau Kakek adalah pasien paling tak bisa diatur. Tak mau minum obat, dan tak mau disuruh diam. Dia suka sekali mendongeng dan cerita, kata seorang suster. Pernah, malam-malam, Kakek memanggil suster jaga, hanya karena ia mau bercerita kalau baru saja ada lima laki-laki menjenguknya.

“Mereka tinggi besar dan bersayap. Mereka memijiti jempol saya, dan bilang saya tak apa-apa. Suster lihat, kan… tadi mereka masuk ke sini? Lima laki-laki tinggi besar bersayap…,” kata Kakek. Suster hanya diam. Karena suster itu memang tak melihat siapa-siapa memasuki kamar ICU. “Mereka memberi saya ini,” Kakek memperlihatkan sebutir kurma. Kurma nabi, kata Kakek.

***

Aku teringat beberapa tahun lalu.

Mbak Rin, istri Mas Moko, kakak sulungku, mengalami masalah persalinan. Bayinya melintang, kata dokter, dan harus operasi. Lalu Kakek muncul, memberinya sebutir kurma. Mbak Rin yang sudah terlihat lelah dan pasrah, perlahan tak lagi merasa kesakitan. Kemudian melahirkan dengan lancar. Pernah pula Tante Ida, yang tinggal di Jombang, menelepon malam-malam: Kakek barusan datang menjenguk anaknya yang panas. Kakek mengusap keningnya, kemudian pergi. Dua jam setelahnya panas Ibra berangsur lenyap. Sumpah, sepanjang malam itu, aku melihat Kakek hanya duduk sambil tiduran di kursi goyangnya.

Kakek bisa berada di dua tempat sekaligus, kata Einda. Ia bisa muncul begitu saja saat kita membutuhkan. Lalu sepupuku itu bercerita, betapa pernah suatu kali ia sakit dua hari sebelum ujian kelulusan SMA. Kakek tiba-tiba muncul di kamar kosnya, memberinya segelas air putih, dan ia tertidur. Saya bermimpi berada di tempat yang begitu tenang dan nyaman. Besok paginya saya sudah bugar!

Semasa kanak, kakak-kakakku juga sering bercerita kalau Kakek kerap muncul malam-malam di kamar, memberi mereka eskrim atau cokelat. Eskrim dan cokelat itu, tiba-tiba saja sudah ada di tangan Kakek.

“Sulap! Itu sulap,” kataku.

“Itu mukjizat,” kata mereka, “Kakek berbakat jadi nabi.”

Kakek terkekeh ketika mendengar itu. “Jangan pernah punya cita-cita jadi nabi,” katanya. “Tidak enak jadi nabi. Karena tidak semua orang menyukai.”

Baca: Cerpen Mari!, Oh Marni!

***

Kalau punya mukjizat, pastilah Kakek tak tergolek seperti ini—seolah suara dari masa kecilku muncul kembali. Tubuh Kakek terlihat begah dan membengkak. Seperti ada tumpukan jerami yang dimasukkan ke dalam perut dan dadanya. Seolah seluruh makanan yang selama ini disantapnya dijejalkan semuanya ke tubuh Kakek. Tongseng, sate klatak, empal, paru, kikil dan sop buntut, kepala kambing bacem, gulai, dan tengkleng…. Bahkan seorang nabi pun pernah sakit—aku seperti mendengar suara berbisik di belakangku. Aku bisa merasakan napas lembut merambati tengkukku. Aku yakin ada seseorang berdiri di belakangku. Kakek?

Tidak. Kulihat Kakek terbaring di ranjang. Akankah ia sebentar lagi mati? Bila iya, bahkan menjelang kematiannya pun wajahnya tak berubah: terlihat bersih. Sepanjang yang saya ingat, wajah Kakek memang nyaris tak pernah berubah. Seperti tak tersentuh usia. Sampai saat ini wajahnya masih wajah yang aku kenal saat aku kanak-kanak: sekilas terasa jenaka karena suka tertawa, rambutnya putih, juga alisnya. Ia tak memelihara jenggot dan kumis. Klimis. Matanya bening bulat, mata yang selalu gembira. Wajah agak bundar. Dengan tahi lalat mirip butir beras ketan hitam di dahi kiri. Ketika Nenek mulai sakit-sakitan, Kakek seperti tak berubah. Ada yang bilang karena Kakek punya kesaktian. Tetapi seingatku tak ada yang aneh dari keseharian Kakek. Ia tak suka kungkum atau nyepi untuk semedi. Tak kulihat ia melakukan ritual-ritual mistis tertentu. Pati geni atau sejenisnya. Tak pernah kulihat ia sibuk dengan jimat atau barang-barang pusaka keramat. Bahkan, di banding Nenek, Kakek termasuk tak rajin ibadah. Saat waktu salat, malah sering kulihat Kakek tetap duduk-duduk klempas-klempus menikmati rokoknya.

“Ibadah Kakek ya berbuat baik… itu saja,” pernah kudengar ia bicara begitu saat ditanya sepupuku.

Kupandangi wajah Kakek. Seperti ingin belajar mengenalnya kembali.

“Kau tahu…,” kudengar ia bergumam, matanya masih memejam. Aku kaget, menyangka ia tidur. “Kau tahu, kenapa kita membutuhkan orang lain? Karena dokter pun tak bisa mengobati dirinya sendiri. Kita selalu membutuhkan orang lain, itulah kenapa kita mesti baik pada orang lain.”

Jari-jari gemetar Kakek menyentuh lenganku.

“Terima kasih mau datang.” Ada yang jauh lebih dalam dari kepedihan.

“Aku selalu melihat ada yang berkelebat, di luar sana. Menunggu di sebalik jendela. Dan tadi…. Tadi kulihat ia berdiri di belakangmu….” Kugenggam tangan Kakek.

“’Lihatlah….” Pandangannya mengarah jendela, dan entahlah, seperti ada tangan gaib yang perlahan memaksaku menoleh. Kesiur angin menerobos, korden bergoyang dan sekelebat bayangan merambat gelap. Tak kulihat apa-apa. Selain tugur pepohonan dan bentangan kesunyian. Cahaya terasa lamur.

“Maukah kau kali ini, mendengarkan ceritaku?”

Suaranya memelan. Aku membungkuk, ke arah bibirnya, takut tak mendengar kata terakhirnya.

Dengarlah, mereka mendekat….

Rasa kantuk seperti angin lembut. Suara Kakek menjauh, tinggal dengung AC memenuhi ruangan. Aku meriap merasakan ada yang perlahan masuk melalui jendela. Pastilah aku tak lagi mampu menahan kantuk dan lelah, sampai kurasakan ada tangan halus mengusap wajahku, membangunkanku. Ia tampak letih. Berdiri di bawah pohon putih, yang menjulang hingga ke langit warna ganih. Pandanganku seketika terpesona pada bayi-bayi bersayap jelita yang bermunculan dari balik cakrawala. Bayi-bayi itu terbang mengitari Kakek yang melangkah pelan menuju batu besar. Bayi-bayi bersayap jelita memberi isyarat agar Kakek berbaring, sementara angin sejuk berhembus dari sayap-sayap lembut itu.

Aku menyaksikan bayi-bayi itu membedah dada Kakek, mengeluarkan jantungnya. Ada bejana kecil, dan bayi-bayi itu mencuci jantung Kakek. Aku memejam, merasakan tubuhku melayang. Seperti memasuki rongga sunyi. Merasakan tidur panjang abadi.

***

Hari masih gelap—atau telah kembali gelap?—ketika aku terbangun oleh suara-suara percakapan. Sayup-sayup terdengar suara orang mengaji. Seperti suara ibu. Aku mencoba mengenali sekeliling. Kekelaman yang bagai tabir berlapis-lapis. Setiap suara seperti merembes dari tabir yang berbeda-beda. Kulihat arak-arakan orang membawa keranda, menjauh. Jeritan yang bagai jerit iblis. Bau harum melati mengapung. Kusaksikan beberapa suster yang sibuk memberesi tabung oksigen dan membawa keluar kereta dorong, kemudian lenyap begitu saja, raib ke sebalik tabir kegelapan yang hampa. Ranjang itu kosong. Pasti mereka telah membawa Kakek ke kamar mayat. Aku berlari, melesat—seakan melangkah di hamparan awan—sampai kelelahan dan lesap dalam gelap.

Aku terbangun seperti orang yang telah berabad-abad ditidurkan. Kudapati ibu, Mas Jo dan istrinya, Mbak Rin, Mas Moko, Einda, dan hampir seluruh kerabatku menggerombol berbincang pelan. Pelan-pelan aku mulai mengenali, di mana aku berada: kamarku.

Ibu pelan-pelan memelukku. Aku terisak. Saat itulah, aku mendengar suara tawa Kakek.

Aku hanya bengong ketika ibu bercerita keadaan Kakek. “Kau kira Kakek mati, ya?”

Adakah ini mukjizat….

“Dokter juga heran dengan jantung kakek. Tiba-tiba sudah bersih, seperti baru dicuci….”

Di ruang ten

gah kulihat Kakek tertawa-tawa gembira dikerubuti tujuh keponakanku yang tampak bagai segerombolan kurcaci. Lama aku terdiam memandanginya. Aku seperti mendengar kelepak sayap bayi-bayi itu terbang menjauh.

Terima kasih sudah berkunjung. Semoga memberi manfaat. Baca juga cerpen Hujan Mulai Deras, Malam

CERPEN NISAN TAK BERMAKAM OLEH VEVEN SP WARDHANA

CERPEN NISAN TAK BERMAKAM OLEH VEVEN SP WARDHANA



nisan tanpa makam
image 
#1. Kesaksian Entah

Banyak yang sudah mencatat mengenai makam tanpa nisan. Catatan-catatan itu tergurat dalam banyak hikayat, juga babad, bahkan sejarah. Bisa saja itu makam massal, yang berisi mayat-mayat korban bencana, korban pembantaian, mati ramai-ramai bunuh diri, lalu karena jumlahnya sangat banyak dan dimakamkan dalam satu lubang, atau satu galian, atau satu kubangan, satu tonggak nisan yang ditancapkan sudah dianggap cukup untuk menandainya. Nisan itu sendiri tanpa nama. Satu nisan untuk sangat banyak jenazah sama maknanya dengan banyak makam tanpa nisan. Kini: nisan-nisan ditancapkan di atas sehamparan lahan sebagai penanda bahwa yang dinisani adalah sebuah makam.

Dinamakan makam karena di dalamnya ada jenazah yang disemayamkan. Ada mayat yang dikubur, atau ada kerangka manusia yang dipendam, atau ada abu hasil pembakaran yang diendapkan di dalamnya. Namun, yang belakang-belakang hari saya hadapi adalah begitu banyak beronggok nisan yang ditancapkan di salahsatu ujung gundukan tanah sebagai penanda ada jenazah di baliknya, ternyata jenazah itu sudah tak lagi ada pada esok harinya—begitu saja lenyap, tanpa sama sekali ada tanda-tanda habis dibongkar saat dinihari yang sangar.

Jenazah selalu buru-buru dimakamkan sebelum matahari benar-benar tenggelam. Tak ada yang menginginkan—bahkan karena alasan terpaksa sekalipun—menginapkan jenazah untuk dikubur esok saja. Kalau sampai mayat itu diinapkan, kata mereka, warga kampung kami akan membaui mayat yang terlambat dimakamkan itu. Apalagi jika yang meninggal itu bukan karena usia tua. Mayat yang tewas terbunuh, katanya, menguarkan bau yang sangat busuk pada tengah malam. Karena itu, jenazah buru-buru dimakamkan, sebisanya sebelum ujung cahaya matahari meninggalkan jejak senja; esoknya, sebelum cahaya matahari pagi menerobos rimbunan daun, yang tertinggal hanya nisan yang tertancap, dengan posisi yang sama persis dengan saat senja kemarin. Tak ada yang berubah. Tak ada yang bergeser. Tak lagi ada jenazah di balik gundukan tanah, yang posisinya sedikit pun tak tergoyah. Baru senja kemarin….

#2. Kesaksian Penggangsir Makam

Makam itu terletak tepat di kaki tebing. Tebing itu sendiri menghadap ke arah matahari tenggelam, sehingga jika senja tiba, tebing itu seperti menjadi satu-satunya saksi yang menatap matahari yang perlahan terbenam menyusup di balik rerimbunan hutan, yang tak satu pun orang pernah menembus dan melintasinya. Hutan itu tampak lebih dari sekadar hijau kelam. Tentu, bukan karena hutan itu benar yang menyebabkan tak seorang pun memasuki dan melintasi hutan; pinggiran hutan itu sendiri dibatasi oleh endapan lumpur yang sesekali menggelegak dan menyemburatkan uap panas bercampur lelehan lumpur cair. Bahkan bau yang sangat menyengat dari genangan lumpur itu sudah membuat orang enggan mendekat.

Awalnya, penduduk mengebumikan jenazah di dekat-dekat pinggiran genangan lumpur itu. Namun, karena jarak wilayah pemakaman begitu dekat dan lumpur itu dirasa bakal merambat ke wilayah pemakaman, penduduk memilih mengalihkan tempat pemakaman yang sekalian saja jauh dari genangan lumpur. Pilihan yang paling mudah adalah menentukan lahan yang paling akhir ditimpa sinar matahari senja. Hamparan tanah yang paling akhir mendapatkan sinar matahari itu adalah kaki-kaki tebing itu. Lahannya juga yang paling mudah dicangkul dan digali di antara hamparan berpadas, keras, layaknya cadas.

Di antara deretan tanah yang terkadang gembur itulah penduduk menanam tumbuhan. Berbagai tumbuhan yang bahkan tak mereka kenal namanya. Ada yang memanfaatkan lembar-lembar daun untuk dimakan—jika memungkinkan—ada pula di antara jenis lain tumbuhan yang menumbuhkan buah, yang awalnya juga diragukan bisa dimakan ataukah bahkan mengacaukan pencernaan, yang bisa menghantarkan pada pencabutan nyawa, karena menyimpan racun dan tuba. Tak ada umbian yang muncul dari akar tumbuhan yang tertanam. Saat ada yang mencoba menjebol akar salah satu tumbuhan, pangkal tumbuhan malah patah, sementara akarnya tetap tertanam di balik gundukan, dan ketika patahan akar yang masih terpendam dicoba digali, yang mereka dapatkan adalah bebatuan. Akar-akar yang tertanam itu telah berubah menjadi batu. Bahkan ada yang lebih keras dari sekadar batu…. Besi. Besi berserabut. Besi bertunjang. Tak ditemukan tumbuhan yang berbuah. Adanya hanya bunga—dan putik bunga itulah yang biasanya dipetik sebelum ditaburkan ke atas gundukan tanah pemakaman.

Beberapa butir putik bunga itu masih tertebar di atas tanah makam. Posisi buliran dan kelopak bunga itu sama sekali tidak berubah sejak kemarin senja ditaburkan setelah jenazah selesai dikebumikan. Kebetulan angin tak berkelebat. Dia, lelaki, tahu benar posisi kelopak kembang itu, karena senja kemarin dialah salah satu yang menjemba kembang itu sekaligus menebarkan sekuntuman kembang itu di atas makam.

Malam itu, saat semuanya lelap dan suara senyap, udara terasa nyenyap, dari balik rimbunan yang gelap lelaki itu mengendap. Dia biasa menggangsir makam. Dia gali tanah beberapa jengkal dari makam hingga kedalaman tertentu, lalu dia gali lagi ke samping ke arah makam hingga sebongkah lobang menembus sampai makam, bahkan persis di mana jenazah dibaringkan. Karenanya, pucuk-pucuk kembang di atas gundukan makam tak sempat talimburan.

Bukan jenazah itu yang dia arah. Barang-barang bawaan jenazah itulah yang hendak dia rayah. Cincin emas, gelang dan kalung emas, juga barang berharga lainnya. Penggangsir itu paham, jenazah yang dimakamkan senja kemarin tak disertai barang bawaan. Hanya berderet gerahamnya bersepuh emas. Penggansir itu tak butuh gemuruh halilintar dan derasnya air hujan yang runtuh untuk menyembunyikan suara cangkulannya menggali dan menggangsir tanah di sekitar makam. Kelesik malam yang senyap, penduduk yang senantiasa berangkat tidur dengan cepat, semuanya bahkan menjadikan percikan debu pun bisa terbekap.

Penggangsir itu mendadak tercekat ketika cangkul dan linggisnya bahkan sudah melampaui jarak lokasi jenazah direbahkan. Penggangsir itu tidak mendapati sesosok jenazah itu. Cangkul dan linggisnya sama sekali bahkan tak terantuk kayu papan penyekat jenazah dari urugan tanah. Jenazah itu tak ada. Gigi-gigi bersepuh emas ikut lenyap.

“Siapa yang berani mendahului aku?” penggangsir itu bergumam.

Dia paham, di kawasan ini, tak ada yang seahli dirinya menggangsir makam. Dia paham, belum ada yang menggangsir makam itu, karena dia tak menemukan bekas tanah galian di sekitaran makam, sementara putik bunga di atas makam juga tak bergeser sama sekali, bahkan pun setengah senti.

#3. Kesaksian Bunga Rumah Minum

Bunga bukan nama saya. Hanya saja, orang-orang yang datang ke rumah minum kami senantiasa memanggil saya Bunga. “Kamu satu-satunya perempuan di sini. Karena itu kamu dipanggil Bunga,” Pak Nangla, pemilik rumah minum membisik ke telinga saya. Istri Pak Nangla juga perempuan. Saya bukanlah satu-satunya perempuan di rumah minum ini.

Saya hanyalah salah satu pengantar minuman yang dipesan para tamu di rumah minum atau kedai tempat kami. Saya hanya pengantar, bukan pemilik, bukan salah satu pemilik kedai—jadi, salah besar saya katakan “kedai kami”. Saya sebut “kedai kami” lebih untuk menggampangkan penyebutan. Saya mengambil gelas-gelas berisi air minum, meletakkannya di atas nampan, untuk kemudian saya hantarkan ke meja para tamu yang memesan. Ada yang memesan air butek warna kelam, campuran air panas adukan serbuk entah apa; ada yang menginginkan air hangat berwarna kecoklatan; ada juga yang hanya memesan air bening dingin—dan itu tak perlu dimasak lebih dulu. Kata beberapa tamu yang pernah datang, air yang memancar dari belik [1], perigi kecil di belakang kedai kami langsung layak tenggak. Jika kami harus menjerangnya, itu lebih untuk melarutkan serbuk yang akan sempurna jika menggunakan air mendidih.

“Pak Nangla harus menjaga air perigi Bapak. Jangan sampai tercemar, jangan sampai ada yang jahat menaburkan racun…,” kata beberapa di antara tamu yang datang. Mereka, tamu dari seberang. Maksud saya, dari seberang hutan, yang harus melewati lumut licin dan endapan lumpur panas yang terkadang memuncrat dadakan.

Pak Nangla juga tak tahu nama asli saya. Bahkan Pak Nangla tak tahu siapa orangtua saya. Katanya, dalam sebuah percakapan diam-diam dengan istrinya, yang sempat saya curi dengar dari bilik sebelah, saya adalah sosok yang tak jelas asal-usuknya. Tak hanya saya sebetulnya, istri Pak Nangla juga tak jelas silsilahnya. Kejadiannya begitu saja terbentang di hadapan. Kami sama-sama merasa baru siuman. Saya terbangun di bawah kursi rumah minum. Pak Nangla terbangun di bawah ranjang di dalam kamar, berdekapan dengan seseorang, sama-sama dalam keadaan telanjang. Maka perempuan itu dianggap sebagai istrinya.

“Kalau saja waktu bangun itu yang ada dalam pelukan itu Bunga, pastilah Bunga istriku,” kata Pak Nangla setengah berbisik pada istrinya. Dia hendak mengatakan bahwa dia merasa beruntung yang ada dalam pelukannya adalah yang kini menjadi istrinya. Bukan karena dia lebih cantik ketimbang saya, tapi karena usianya tampak lebih sepadan dengan Pak Nangla dibandingkan dengan usia saya yang sangat jauh lebih muda—dan saya memanggilnya Bu Nangla, sekalipun kami tahu nama aslinya Qodwei.

Saya hapal benar: sebentar lagi suara pintu kedai kami akan dikuak lebar-lebar oleh serombongan orang dari seberang. Seberang hutan, seberang kawasan. Suara kulik burung nasar [2] yang memekik di atas bubungan, setelah sebelumnya memusar-musar di langit, menjadi penandanya. Begitu selalu. Setelah daun pintu kedai dikuak dan menutup kembali dengan sendirinya—setelah beberapa orang melintas—burung pemakan bangkai itu ikut meliuk menerobos masuk kedai dan hinggap di salah satu cuatan kayu di atas kami, untuk kemudian bertengger.

Hmmm, siapa lagi yang akan duel hingga senja hari ini? Siapa pula yang bakal jadi bangkai—dan buru-buru dikubur sebelum matahari benar-benar tenggelam menyelusup dan disungkup dalam rimbunan hutan?

Seperti itulah biasanya. Saban kali rombongan yang kedatangannya ke kedai kami disertai burung nasar itu, seusai makan siang, bahkan saat makanan baru mulai disantap, selalu ada pertikaian yang diawali oleh mereka yang saling mengata-ngatai dan diakhiri dengan baku pukul yang dipungkasi oleh tersungkurnya salah satu dari mereka.

Saya semakin hapal: suara gebrakan dari kayu balok yang dipukulkan ke papan kayu muncul dari arah dapur. Untuk itu, saya buru-buru segera menuju arah dapur, karena minuman yang dipesan para tamu sudah siap saya pindahkan ke nampan untuk segera saya suguhkan ke mereka.

Saya terus belajar menghapal: jika ada suara meja digebrak, itu pasti para tamu kedai memukulkan kepalan tangannya ke atas meja di hadapan mereka. Jika bukan karena ada yang marah pada kami yang dianggap lamban melayani pesanan, bisa jadi itu gebrakan tamu yang ingin menambah pesanan minuman, atau hendak membayar karena perut mereka sudah dirasa cukup kenyang. Saya benar-benar harus belajar untuk bisa membedakan macam-macam suara meja digebrak, termasuk gebrakan yang nyaris menjadi dentuman—karena yang dihantamkan ke atas meja adalah genggaman tangan—itu pertanda ada tamu yang murka pada tamu lainnya, entah lantaran apa. Saya akan tahu musababnya jika mendengar isi kata-kata yang saling mereka serapahkan.

Kali ini saya dengar dua suara gebrakan dalam waktu hampir bersamaan. Dalam dentuman yang sama berdentam. Muasalnya dari meja yang sama, meja serombongan yang disertai seekor burung nasar. Di antara mereka telah terjadi saling gebrak.

“Diam-diam kau menikam dalam lipatan!” tuding salah seorang.

“Kamu sendiri menikam kawan setilam!” balas satunya.

“Kau tebar sesuatu ke perigi agar kamu punya alasan membantu Pak Nangla untuk mengelola sucinya air perigi,” tuding salah seorang.

“Kamu tak punya cukup bukti. Tak ada bukti apa pun untuk membuktikan alasan itu,” tangkis satunya.

“Bukan alasan itu yang penting. Tapi, kamu diam-diam mendekati, kamu tempel anak Pak Nangla,” sembur salah seorang.

Anak Pak Nangla? Tak ada lain, itu saya.

“Kamu perdaya Bunga!” Nama saya disebut.

“Kamu pelet Bunga!”

Saya tak mendengar nama saya disebut lagi, karena seseorang satunya kembali menggebrak meja lebih keras.

“Jika kau cemburu, tak pantas kau bawa-bawa ke persoalan bersama kita!”

Saya tak tahu, apa benar salah seorang itu cemburu, karena saya tak pernah merasa dia dekati. Hanya yang satu itu yang mendekati saya. Bahkan mendekap saya. Saya merasa nyaman berada dalam dekapan yang satu itu. Ada rasa hangat menjalar dalam tubuh saya, dan itu bukan kehangatan pertama. Saya merasa sudah pernah merasakan sebelumnya—entah kapan. Saya merasa tenteram—entah kenapa.

“Dengan mendekati Bunga, kamu bisa punya alasan untuk buang air kecil di bilik dekat belik.” Seseorang menuding satu lainnya.

Saya ingat, sehabis kami bergumul, seseorang satunya beringsut pamit ke balik bilik. Katanya, mau cuci muka. Saya sedang berada dalam kelelahan yang sangat. Malam menyengatkan rasa hangat.

Ketika saya mulai merasa berhasil menguntai lagi ingatan saya, burung nasar itu mendadak meliuk meninggalkan tempatnya bertengger sambil mengibaskan sayapnya di atas para pengunjung kedai, menuju keluar kedai. Saya paham, perkelahian dua lelaki satu rombongan itu segera dilanjutkan di halaman luar kedai. Saya mendadak disergap rasa cemas. Saya mengkhawatirkan lelaki yang kerap mendekap dan menyingkap tubuh saya itu gagal memenangi perkelahian. Sedari kedatangannya tadi saya membayangkan dia tak ikutan kembali ke seberang hutan seberang kawasan bersama-sama rombongan sebagaimana sering dia lakukan.

Firasat saya terbukti. Lelaki itu langsung terkapar begitu dia mengambil ancang-ancang pasang kuda-kuda. Lelaki sebelumnya begitu mendadak menyarangkan belatinya ke dada lelaki saya.

Burung nasar terbang menjulang. Kuliknya seperti suara jerit panjang menancap batas langit bersamaan dengan membenamnya belati itu ke ulu hati lelaki saya yang tak sempat memekik menahan rasa sakit. Dan burung itu kemudian menukik meliuk-liukkan badannya sebelum kemudian melesat menuju arah hutan seakan menjadi penunjuk jalan rombongan kembali pulang ke seberang.

Matahari redup. Senja mempersegera temaram. [3] Penduduk segera merubung tubuh yang terkapar itu untuk segera dikuburkan. Saya meminta izin Pak Nangla untuk beberapa bentar meninggalkan kedai. Saya hendak mengantar kekasih saya ke pemakaman. Sekawanan rombongan sudah lebih dulu mencongklang kuda-kuda mereka yang menghela kereta menyeberang hutan menyeberang kawasan. Pemakaman selesai bersamaan dengan kian menipisnya bias sinar matahari senja. Saya sendiri yang menancapkan kayu nisan di ujung gundukan. Saat satu per satu yang memakamkan kekasih saya meninggalkan tempat pemakaman, saya memilih tinggal bersimpuh di salah satu sisi makam kekasih saya. Saya ingin merasakan sisa-sisa kelebatan kenangan kami membilas-bilas hati saya.

“Saya sepertinya sudah pernah ketemu kamu sebelumnya,” kata saya pada kekasih saya.

“Itu tanda berjodoh, Bunga. Tapi, maaf, aku sama sekali belum pernah mengenal perempuan sebelum kamu.”


“Tapi aku merasa pernah bersamamu sebelum-sebelumnya,” saya menegaskan.

“Mungkin bukan aku yang kamu temui. Mungkin lelaki lain. Bisa saja kamu sudah pernah kelonan dengan lelaki lain.”

“Kok….”

“Tak apa, Bunga. Tak soal untukku. Aku tetap mencintaimu. Maaf, apakah kamu juga sudah pernah ham…, sudah pernah merasa mengandung?” Kekasih saya mengelus perut saya yang sedikit lebih mengeras. Ada janin di dalamnya. Janin yang tumbuh setelah kekasih saya kerap mendekap, menyingkap, dan menyelinapi tubuh saya.

Berarti masih ada yang tersisa yang ditinggal kekasih saya. Janin dalam perut saya adalah bawaan lelaki saya yang harus dibawa serta jika dia meninggal.

“Aku tetap sayang kamu, Bunga,” lelaki saya meyakinkan saya. Seraya berkata demikian, dia keluarkan sekeping binggel [4] emas dari balik pinggangnya, yang kemudian diselusupkan ke pergelangan kaki saya. “Ini tanda aku terikat kamu, kamu terikat aku. Kita saling terikat.”

Ah, janin bukan semata milik lelaki saya. Itu milik kami. Milik lelaki saya yang masih ada di saya tinggal binggel emas di pergelangan kaki saya. Binggel itu masih milik lelaki saya karena kami belum resmi mengikatkan diri. Saya harus sertakan binggel ini bersama jenazah lelaki saya di balik gundukan makam.

Angin berkelebat. Udara dingin menjilat-jilat. Sekeliling gelap sangat. Hanya karena makin terbiasa, mata saya masih dapat melihat yang berjarak dekat.

Cepat-cepat saya lepaskan binggel di kaki saya. Saya tak tahu bagaimana caranya menyertakan binggel itu bersama jenazah kekasih saya. Di saat saya memikir mencari cara untuk memasukkan binggel itu ke balik gundukan makam, tanah tempat saya taruh binggel itu tampak mendadak melunak, dan binggel itu membenam. Begitu cepat membenam sampai-sampai saya gagal menahannya agar binggel itu tak terserap gundukan tanah yang mendadak gembur.

Saya bongkar makam lelaki kekasih saya untuk meyakinkan bahwa binggel itu benar-benar sudah bersama bapak bagi janin yang ada dalam perut saya. Saya gali dengan cepat gundukan tanah yang belum benar-benar mengeras itu. Binggel itu sudah benar-benar lenyap, seperti mencair dan merembes menuju jasad jenazah lelaki saya.

Tidak hanya binggel, gelang kaki itu, jasad lelaki saya juga tak saya temukan. Seperti ada yang menyerap. Seperti ada yang menyesap. Lesap.

Saya tak mau lagi menghapal suara burung nasar dan derap kaki-kaki kuda mencongklang menyeret kereta berisi sekelompok orang dari seberang. Saya enggan menghapalnya karena tak ada lagi lelaki saya dalam kelompok yang datang esoknya. Saya mendengar mereka memasuki rumah minum kami. Saya dengar salah seorang dari mereka bertanya pada Pak Nangla: apakah jasad kawan mereka yang dikubur kemarin senja—setelah terkapar kalah ditikam belati kawan lainnya—juga sudah lesap pagi tadi.

Saya tak mendengar jawaban Pak Nangla. Sejak kedai dibuka pagi tadi, Pak Nangla menyarankan agar saya beristirahat tak melayani pengunjung rumah minum kami. Saya berada di balik bilik.

“Tampaknya, petaka akan terus terjadi di kampung ini, Pak Nangla,” seseorang berkata. Saya tak hendak menghapal itu suara siapa. Suara lelaki yang berduel dengan kekasih saya ataukah seseorang yang dituakan dalam kelompoknya atau….

“Mayat yang hilang belum lama setelah dikubur adalah petaka. Tanda-tanda bencana,” seseorang yang tadi menambahkan.

“Penyebab petaka itu harus dicari. Pak Nangla bisa kabarkan itu pada penduduk. Pada pengunjung kedai Bapak….”

“Penyebab itu ada di kawasan ini sendiri.”

“Mungkin ada yang murtad, berpindah keyakinan?”

Tak ada suara yang menanggapi.

“Dulu, ada sebuah kerajaan yang didera wabah penyakit gara-gara ada raja yang mengawini ibu kandungnya sendiri.”

“Sebelumnya, raja itu membunuh ayah kandungnya.”

“Raja itu kemudian mencucuk kedua belah matanya karena merasa gagal menggunakan matanya untuk melihat ketidakberesan yang ada di kawasan yang dia perintah. Dia cucuk matanya karena dia bertekad hendak melihat dengan mata batinnya.”

Saya ingin menyela pembicaraan di luar bilik.

Saya berharap Pak Nangla, atau Bu Nangla—Qodwei!—menimpali kelompok orang dari seberang itu. Saya berharap mereka menegaskan: di kampung kami tak ada raja.

#4. Lagi, Kesaksian Entah—Yang Lain

Di kemudian waktu—entah berapa puluh tahun kemudian—penduduk kawasan itu tak pernah lagi memakamkan jenazah di tanah lapang atau di dataran biasa. Jenazah dimakamkan dalam batu yang lebih dulu dilobangi, yang banyak ditemukan di pinggir jalan; atau dimakamkan dalam goa-goa di tebing yang susah dijangkau. Jika di kawasan itu tak didapatkan bongkahan-bongkahan batu besar yang cukup untuk menampung jenazah, juga tak ada lereng tebing, mayat itu dimakamkan dalam rongga pokok pohon besar yang menjulang ke langit. Ada yang mencatat: jika yang meninggal itu tak mempunyai keluarga, atau kerabat, atau tetangga yang ringan tangan memakamkannya, jenazah itu akan mencari sendiri lokasi pemakamannya—mengembara hingga menemukan batu besar berlobang, tebing bergoa, pohon besar yang menusuk cakrawala.

Catatan:

[1] belik: mata air kecil.
[2] burung nasar: Rüppell’s Griffon Vulture (Gyps rueppellii).

[3] Terkait frasa “senja mempersegera temaram”, di kemudian waktu, saya temukan (lagi) lirik “gerimis mempercepat kelam” tulisan Chairil Anwar, dalam sajak Senja di Pelabuhan Kecil(1946).

[4] binggel: gelang kaki.

Terima kasih sudah berkunung. Semoga memberi manfaat. Baca juga cerpen Di Tubuh Tarra, Dalam Rahim Pohon

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia