Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan
CERPEN KAFIR OLEH RISDA NUR WIDIA

CERPEN KAFIR OLEH RISDA NUR WIDIA


Orang tidak waras duduk dipinggir jalan
image 
Warga kampung menganggap pria itu sebagai nabi. Pria yang sebenarnya setengah tidak waras karena ditinggal istrinya itu tiba-tiba menjadi buah bibir di tengah masyarakat. Ia menjadi terkenal karena kata-katanya yang bertuah. Warga pun mengira, setiap kata-katanya merupakan sebuah doa. Maka, banyak orang yang mengamalkan serta mengikuti setiap petuah yang diucapkannya. 

Satri, begitulah orang-orang acap memanggilnya. Pemuda ini sebenarnya gemar melamun dan bergumam tidak jelas di depan rumah. Tetapi, warga meyakini, jika pria itu tidak sekadar melamun atau merapal kalimat tanpa makna. Pria itu sedang mencari wahyu dari Tuhan. Setiap hari, banyak warga yang berkumpul di rumahnya, sekadar mencari berkah atau petuah. Bahkan, pernah, ada seorang pejabat yang meminta berkah untuk pemilihan dirinya sebagai dewan rakyat. 

“Ini sudah tidak bisa dibiarkan, Pak!” kataku, suatu sore, kepada ketua adat di kampung, melaporkan tingkah menyimpang warga. 

“Apa yang tidak bisa dibiarkan?” 

“Warga menganggap, Satri adalah seorang nabi.” 

“Bukankah itu benar, Satri adalah nabi.” 

“Pak?!” Aku mengernyit kening. Apakah semua orang sudah tidak waras di kampung ini? 

“Kau masih juga tidak percaya, kalau setiap perkataannya selalu bertuah dan menjadi kenyataan? Ia adalah nabi yang diutus Tuhan untuk menyampaikan wahyu kepada kita.” 

Aku ingat, memang, untuk beberapa kali kata-kata Satri sekilas tampak menjadi doa yang sangat manjur. Ia pernah mengatakan kalau di desa ini akan turun hujan. Hujan pun tidak akan reda sampai warga menyiapkan sesaji berupa ayam kampung berbulu hitam, beras merah, dan secangkir kopi hitam, kemudian diletakkan di setiap rumah. Benar, hujan turun selama berhari-hari dan menyebabkan banjir. Hujan pun menenggelamkan seluruh rumah dan ternak. Hujan hanya berhenti ketika warga melunasi petuah yang diucapkan Satri. 

“Satri pun pernah mengatakan, kalau musibah akan silih berganti datang di desa ini,” kata pria setengah baya itu dengan tubuh mengigil. “Perkataannya sungguh bertuah, berbulan-bulan, kampung mendadak dilanda musim kemarau, semua tanaman mengering, ternak-ternak mati, dan banyak warga yang kelaparan seraya terkena penyakit, bahkan di antaranya ada yang mati.” 

“Itu hanya kebetulan, Pak!” 

“Tidak! Tidak ada sebuah kebetulan di dunia ini! Kau ingat, ketika Satri mengatakan, kalau kampung ini juga akan mendapatkan rezeki yang melimpah. Setelah segala bentuk bencana yang menimpa. Benar! Desa ini, menjadi sangat subur, semua tanaman dapat tumbuh dengan baik, anak-anak lahir dengan sehat, dan para perawan menikah dengan para perjaka dari kota.” 

“Tetapi, semua rezeki, adalah urusan Tuhan, Pak!” 

“Ya, urusan Tuhan, tetapi Satri adalah perantara-Nya. Karena Satri adalah nabi.” 

Mulutku seperti dijejali setumpuk batu, arkian tak lagi berucap. Aku mendengus kecewa. 

Aku tinggalkan rumah ketua adat di kampungku itu. Sepanjang jalan, aku bergumam tak menemu arah, sesekali aku pun mengumpat, tentang tingkah penduduk desa yang sudah mulai aneh, karena menganggap orang yang sebenarnya tak waras itu, menjadi seorang nabi. *** 

Sepulang dari rumah pemangku adat, aku singgah sebentar di masjid. Di tempat itu, tidak ada seorang pun. Masjid begitu senyap dan kotor. Aroma tak sedap menguara. Tempat itu, seakan telah ditinggalkan begitu lama oleh umatnya. Tempat yang seharusnya menjadi pusat bersembahyang, dan media untuk menyambung komunikasi kepada Tuhan, kini, menjadi rumah tua yang angker. 

Warga kampung pun lebih memilih meminta segalanya kepada Satri, bukan kepada Tuhan! 

“Ini sudah tidak dapat dibiarkan!” Pekikku, setelah mengumandangkan azan, dan tidak ada seorang pun yang datang untuk melakukan shalat berjamaah. 

Sore itu, aku mendatangi rumah Satri. Seperti biasa, ia hanya termangu di serambi rumah, seraya merapalkan kalimat-kalimat tak jelas serupa mantra, dengan mata yang mengerjap-ngerjap. Ia tidak memerdulikan kehadiranku. Aku pun melihat, di dekat kakinya, ada dua orang yang sedang duduk bersila. Mereka seperti sedang menghambakan dirinya kepada Satri. 

“Apa yang sedang kalian lakukan?” 

“Menunggu wahyu dari nabi.” 

“Nabi?!” Umpatku heran. “Kalian aneh!” 

Aku mengusir dua orang itu. Tetapi, tanpa aku duga, muncul orang-orang bertubuh besar yang tidak aku kenal. Mereka pun menyeretku dengan paksa keluar dari tempat tersebut. 

“Kalian penyembah setan!” Pekikku seraya meronta mencoba meloloskan diri. 

“Tutup mulutmu!” 

“Kalian akan dikutuk!” 

“Kau yang akan dikutuk karena kau telah mengumpat seorang nabi!” Kata seorang, seraya melemparkan kepal tangannya ke wajahku. Aku terjerembab jatuh. “Cepatlah, minta maaf kepada sang nabi!” 


“Aku tidak sudi!” Aku menentang keras. 

Hantaman-hantaman liar pun kemudian tanpa ampun merajah tubuhku. Mereka menghajarku dengan membabi buta. Sedangkan, Satri tetap tampak tenang, merapal, dan memerhatikan langit senja yang kemerahan. 

Mereka menyeretku dan melemparkan tubuhku ke tepi jalan. Tak ada seorang pun yang berani menolongku, mereka malah menatapku dengan mata yang bengis dan jijik. Mereka pun menyebutku sebagai kafir! 

*** 

Terhuyung-huyung, aku berjalan menuju masjid. Sesampainya di masjid, pelan-pelan aku merebahkan tubuh yang terasa remuk. Apakah di dunia ini sudah tidak ada lagi kebenaran? Atau, semua orang sudah tak lagi waras karena kehendak dan keinginannya yang pintas? Aku meratapi diriku sendiri yang tak berdaya dan bersimbah darah. 

Seekor tikus melintas, berhenti di depan wajahku, kemudian sepasang matanya mengamatiku iba. Tetapi, tidak begitu lama, tikus itu menjadi gelisah, kemudian pergi. Lamat-lamat, aku mendengar gemuruh langkah kaki yang mendekat. Puluhan orang mendadak berkerumun di luar masjid seraya berteriak-teriak lantang. 

Mereka mengepung masjid lengkap dengan obor dan galon-galon berisi bensin. Mereka seakan ingin membakar masjid. 

“Bakar!” 

“Ayo, bakar masjid ini!” 

“Bakar!” 

“Kita sudah tidak membutuhkan masjid ini lagi!” 

Orang-orang itu seperti telah dirasuki setan. 

“Ya! Karena kita sudah memiliki Tuhan baru!” 

“Kita tidak lagi membutuhkan Tuhan yang lama!” 

“Tuhan yang baru, lebih cepat mengabulkan permohonan-permohonan kita.” 

“Betul! Tuhan yang lama, terlalu lama mengabulkan doa-doa kita!” 

“Bakar Tuhan!” 

“Bakar!” 

Mereka pun menyiramkan cairan pekat ke sekeliling bangunan, kemudian menyulutnya dengan obor. Api berkobar, membakar masjid dengan begitu cepat. Aku pun masih di dalam masjid ketika api meluluhlantahkan bagunan. Orang-orang itu bersorak girang, seperti tak tergurat sedikit pun wajah penyesalan setelah membakar masjid. Bahkan, mereka berjingkat-jingkat bahagia. *** Tidak begitu lama, setelah masjid itu terbakar habis, gerimis turun. Hujan pun semakin deras, bahkan hujan turun berhari-hari, berbulan-bulan, bertahun-tahun, dan tidak juga reda. Hujan seakan tak mampu memadamkan bara api, bekas puing-puing reruntuhan masjid itu. 

Asap terus mengepul, hujan pun membuncah, menjadi sebuah banjir yang menelan desa. Tetapi, asap dari puing-puing rumah Tuhan yang terbakar itu masih terus berkepul tebal. Asap tebal itu, seakan menjelma menjadi sebersit doa yang dipanjatkan kepada Tuhan.
Terima kasih sudah membaca. Semoga menginspirasi. Baca juga cerpen Pohon Jejawi

CERPEN SUNGAI BUNTUNG OLEH RISDA NUR WIDIA

CERPEN SUNGAI BUNTUNG OLEH RISDA NUR WIDIA


Sungai
image Thomas Schoeller
Orang-orang di kampungku percaya bahwa sungai itu bertuah. Sungai itu bernama Sungai Buntung, dan entah mengapa dinamakan seperti itu padahal sama sekali tak buntung. Air tetap mengalir deras seperti biasa. Tetapi, orang-orang dahulu meyakini bahwa sungai itu buntung, dan ujung dari sungai yang buntung itu, adalah Laut Selatan. 

Setiap hari, pasti ada saja orang-orang yang bertapa di Sungai Buntung. Mereka mengasingkan diri di sana, dengan duduk bersila di bawah pohon, di samping batu besar, atau di bawah sebuah jembatan, yang umurnya sudah tidak dapat dihitung dengan jari lagi. Orang-orang itu akan berhari-hari bertapa di sana, dan seandainya mereka merasa lapar, mereka cukup memakan daun yang tumbuh di sekitar sungai. 

Kebiasaan aneh itu dimulai ketika ada seorang pemuda, yang tiba-tiba dapat meramal nomor-nomor togel. Pemuda itu memang acap termenung di tepi Sungai Buntung. Melamun. Ia dianggap memiliki kesaktian setelah seorang pria yang gemar berjudi, menanyakan nomor togel padanya, dan pria itu menjadi kaya karena nomor yang ditanyakan tembus. 

Tetapi, kejadian itu, tak serta-merta dipercayai oleh warga, karena pada mulanya, mereka menggangap hal itu hanya kebetulan saja. Tetapi, pemuda itu kembali memprediksi bahwa akan ada bencana besar yang melanda kampung serta akan banyak memakan korban. Keesokan harinya, kabar itu menjadi kenyataan. Terjadi sebuah gempa bumi, hingga meruntuhkan semua rumah, dan ribuan manusia mati. Pemuda itu pun tidak luput dari kematian. Sejak itu, orang-orang mulai percaya bahwa Sungai Buntung memiliki tuah, yang dapat memberi kesaktian pada seorang. 

Kini, Sungai Buntung tidak pernah sepi oleh para petapa yang memiliki berbagai ambisi di dalam kepalanya. Orang-orang itu berdatangan dengan berbagai macam keinginan, ada yang ingin cepat kaya, dimudahkan jodoh, bahkan pernah ada seorang wakil rakyat yang rela menahan lapar, dan dahaga, hanya untuk mencari wangsit, untuk keberhasilan pencalonan dirinya, sebagai anggota dewan.  

‘’Akhirnya, Darto memenangkan pemilihan bupati di kotanya.’’ 

‘’Ya, itu mungkin berkat ia bertapa di Sungai Buntung.’’ 

‘’Apa kau tidak ingin bertapa di sana, mencari berkah untuk keberhasilanmu?’’ 

‘’Aku ingin, tetapi aku takut.’’ 

*** 

Sungai Buntung memang memiliki banyak rahasia yang disimpan. Selain dipercaya punya tuah, sungai itu juga dihuni banyak ular. Belum lama ini, ada seorang petapa yang meninggal dipatuk. Ia ditemukan mati dengan tubuh biru, dan buih berwarna putih keluar dari mulutnya. 

‘’Itu mungkin salah satu ujian yang harus ditempuh oleh para petapa kalau ingin berhasil,’’ kata pemuda ketika ronda. 

Aku sebenarnya tidak begitu memercayai hal-hal absurd semacam itu, tetapi warga kampungku, seakan telah mendewakan Sungai Buntung. Setiap Jumat Kliwon, warga di kampungku selalu menyiapkan berbagai macam sesajen, seperti bunga tujuh rupa, ayam berumur tiga bulan, kopi pahit, ketan tiga warna, dan kemenyan. Penduduk percaya, penunggu di Sungai Buntung akan mengamuk, dan meminta banyak tumbal, bila tidak dilakukan ruwatan. 

‘’Kita semua tidak mau terkena getahnya? Kami takut, kejadian dua tahun lalu, seperti banjir yang hampir menelan semua rumah dan ternak, atau mungkin gempa bumi, akan terulang kembali,’’ kata Ketua Adat yang bersikukuh mempertahankan pemberian sesaji. 

Pemangku agama di desaku hanya menggelengkan kepala, karena tak sanggup lagi, menghilangkan kebiasaan buruk warga, mendewakan sebuah sungai. 

Sungguh, Sungai Buntung seakan memiliki sebuah bibir yang manis, yang terus membisiki kata-kata rayuan kepada warga-baik berupa ancaman, atau keberuntungan. Tidak ada yang berani melanggarnya, karena setiap warga takut akan tulah, kalau mereka melawan kehendak sungai tersebut. 


*** 

Selain di desaku, arus Sungai Buntung juga mengalir ke beberapa desa tetangga seperti Desa Dongkelan dan Tegal. Tetapi, seolah-olah hanya desaku saja yang mendapatkan rahmat sekaligus kutukan dari sungai tersebut. Mengapa kutukan? Selain sebagai tempat untuk bertapa, Sungai Buntung merupakan tempat favorit bagi orang-orang yang telah putus asa untuk mengakhiri hidupnya. Banyak orang yang mati dengan cara tak wajar di sana, baik dengan cara mencerat lehernya, atau meminum racun serangga. Tetapi, yang sering terjadi, yaitu orang mati dalam keadaan tergantung. Tak ayal, sungai Buntung semakin dikeramatkan. 

Seorang warga di desaku pun pernah mengalami kejadiaan ganjil di sana, yaitu dihampiri oleh seorang wanita cantik, dan diajak menuju semak belukar untuk berkencan, tetapi ketika mereka telah sampai di tengah semak, wanita itu menghilang, dan menjelma menjadi seekor ular besar. 

‘’Aku nyaris kencing di celana malam itu karena dihampiri ular besar.’’ 

‘’Lantas, apa yang kau lakukan?’’ 

‘’Lari sekencang mungkin!’’ 

Sungai Buntung pun dikenal sebagai tempat untuk membuang jin, atau jimat-jimat, yang sudah tidak digunakan lagi. Kami menganggap, Sungai Buntung, merupakan tempat berkumpulnya atau istana bagi makhluk-makhluk halus. 

‘’Ketika, aku bertapa, ada seorang anak kecil tak berambut menghampiriku?’’ 

‘’Anak kecil botak? Tuyul? 

‘’Mungkin.’’ 

‘’Apa yang tuyul itu lakukan?’’ 

‘’Mengelitiki tubuhku, mereka mencoba menganggu semadiku.’’ 

Setiap ronda, kisah tentang Sungai Buntung selalu diceritakan. Tetapi, aku masih saja tidak percaya dengan berbagai macam cerita itu, karena sampai saat ini, aku belum pernah digangu oleh makhluk-makhluk halus itu. Aku punselalu melewati Sungai Buntung, ketika malam, bahkan sering singgah di sana,untuk menghabiskan batang-batang rokok, sembari melamun, justru nyamuk-nyamuk kelaparan yang menggentayangiku. 

Ya, setiap malam, aku selalu melamun di sana, kegelapan seolah menjadi teman baikku, meratapi nasib. Apalagi setelah aku gagal menikah dengan Nova, kekasihku. Gadis itu, tiba-tiba, membatalkan begitu saja pernikahan kami, yang tinggal menghitung hari. Ia berkilah padaku, dia ingin bekerja di kota sekaligus mencari pengalaman. Tetapi, aku tahu, ia melakukan hal itu, karena ia telah jatuh cinta dengan seorang pemuda lain, yang tinggal di kampung seberang. Ia pun telah mengandung beberapa bulan. 

Malam ini, aku berharap, hantu-hantu itu mendatangiku. Tetapi, di mana hantu-hantu itu sekarang? Yang hadir malah hening, serta kegelapan kosong, yang membuatku semakin frustasi. Tidak ada apa pun di sini, selain kerik serangga, atau ilalang yang bergesekan diterpa angin. Dan pantas, tempat ini, selalu menjadi langganan bagi orang-orang malang, sepertiku untuk meratapi nasibnya. 

‘’Setan-setan penunggu sungai, bila kalian benar-benar ada, tunjukkan rupamu, atau aku akan menyusul kalian dengan caraku.’’ 

Malam sedikit gerimis, dan aku sudah siap menjemput mereka. Setidaknya, setelah aku selesai menghisap linting rokok terakhir di tangan, aku akan menjerat leherku dengan tambang. Aku berharap kematianku berlangsung cepat, dan tidak ada seorang pun yang tahu, begitu pun Nova. 

Dan benar, tidak ada satu pun hantu di Sungai Buntung, yang mendatangiku, karena ketika aku meloncat dari atas jembatan tua itu, dengan leher yang terbelit, hanya ada kegelapan, serta hening yangmengantarkanku pada kantuk, yang maha dahsyat. Atau (mungkin) hantu-hantu itu sedang berbisik, seraya mengamatiku dari kegelapan.
Terima kasih sudah berkunjung. Semoga menginspirasi. Baca juga cerpen Warung Nyi Taslima

CERPEN KOTA INGATAN OLEH SUNGGING RAGA

CERPEN KOTA INGATAN OLEH SUNGGING RAGA


kota bekas perang
image Encyclopaedia
Di matanya tersimpan ribuan kenangan yang ganjil tentang kota itu. Kota yang sekujur bangunan dan tanahnya—serta jurang semestanya—kini telah berselimut debu, tak tersisa bahkan reruntuhan secuil nisan pun, semuanya mendadak abu-abu seragam, seperti bangunan sejarah yang menganga, dengan masih menyisakan beberapa helai napas penduduknya. 

Orang-orang datang ke kota itu hanya untuk berwisata, bukan tentang keindahan, melainkan tentang rasa kehilangan. Lelaki itu, masih dengan matanya, menatap kotanya sendiri dengan perasaan yang menggebu, ia seperti berdiri di tapal batas, di sebuah medan yang memisahkan masa depan dengan masa lalu, ia tak lagi bisa bergerak, sekujur tubuhnya kaku, seperti kepedihan yang menahannya selama bertahun-tahun di tempatnya berdiri. Sekarang ia hanya bisa memandang, tanpa bisa dipandang oleh orang-orang yang berlalu-lalang—ia telah terbungkus debu yang amat berjarak bagi setiap penglihatan.

Mengunjungi kota itu seperti mengunjungi detik-detik kematian. Aroma debu terasa sampai ke hidung, aroma penderitaan terasa sampai ke ubun-ubun. Aroma kematian seperti cuaca kemarau yang tersedak. Dan hujan tak pernah datang, kecuali dalam puisi anak-anak yang sekolahnya telah sempurna terendam. 

Bagaimana pun, ingatan akan tetap berjalan, bersama tumpukan kisah yang berkelindan, menebas masa lalu yang tumbuh sewaktu-waktu. Ingatan itu mengucur setiap saat dalam pikirannya. Lelaki itu akan selalu punya cara, entah bagaimana, untuk tetap menganggap kota ini masih berbentuk seperti sedia kala. 

“Dulu, rumahku di sana itu, yang pagarnya bambu, di dekat sebuah pos ronda yang dibangun bergotong-royong sebelum tahun baru. Di halaman rumah, aku punya kebun anggur, biar kecil, tetapi istriku rajin merawatnya, menggunting ranting yang nakal, menyapu daun-daun kering, ranting-ranting anggur itu terjulur sampai menyentuh genteng, rumahku jadi sejuk, para tetangga senang berkunjung, hanya untuk duduk-duduk, memetik anggur yang dekat, dan bersandar sambil berbincang tentang apa saja. Ada juga bunga matahari yang tertanam di pot-pot, berbaris di teras rumah, bersebelahan dengan bunga mawar, melati, dan tanaman bonsai. Aku, meskipun bekerja sebagai buruh pabrik, tetapi hidupku sempurna, gaji bulanan memang kecil, itu pun sudah dengan korupsi kecil-kecilan setiap kali ada proyek bulanan. Aku bahagia di kota ini, terutama desa tempatku tinggal, begitu asri, bahkan secara khusus, desaku pernah jadi juara lomba kebersihan lingkungan, aku pun pernah ditunjuk jadi seksi kebersihan. 

Tetapi tentu tak semuanya bersih, di kota ini, industri tumbuh seperti jamur musim penghujan. Sepanjang siang, aku akan memakai masker, helm, dan seragam, beradu dengan cerobong yang menganga, mengeluarkan gas dan menumpahkan limbah: plastik dan cairan kental berbau busuk. Saluran-saluran terkadang saling bersilang di tempat yang tak semestinya. Tetapi inilah hidup kami. Dan kami menikmatinya, dan kami mengamininya.” 

Dalam setiap ucapannya yang entah kepada siapa, lelaki itu seperti hendak melakukan ziarah masa lalu, entahlah, apa yang diucapkannya seperti tidak pernah ada, seperti tidak mungkin ada di tempat yang penuh debu pejal seperti sekarang ini. 

Debu itu, awalnya adalah air keruh di perut bumi, berupa titik yang tak terpikirkan, lalu sebuah industri merasa terdesak, lalu kepanikan melanda sebuah dusun, dinding retak, lalu tanah ikut merendah, bumi seperti sedang melakukan metabolisme tingkat tinggi. Selanjutnya semua menyebar, dari dusun ke dusun, bertambah luas area, desa, kecamatan, hingga bertahun-tahun kemudian, seluruh kota retak, pecah, semacam ledakan kimiawi yang menantang sebuah peradaban. Kemudian debu datang sebagai hadiah perpisahan, bersama dengan lubang menganga yang mengeluarkan asap menantang. Dan bumi, bagi mereka, seperti tak mau lagi berjabat tangan. 

*** 

Sesaat terdengar derak-derak gerbong dan suara peluit kereta. Tak jauh. Mata lelaki itu selalu bisa menangkap bagaimana kereta menyibak kesuraman waktu, menyalakan lampu lokomotif yang temaram menelan udara kelabu. Kereta merangkak pelan, rel pernah terisap cairan keruh, yang setelah mengering hanya menitipkan debu. Kereta apakah yang melaju seperti cacing itu? Mutiara Timur? Sri Tanjung? Logawa? Warna gerbongnya begitu samar. Para penumpang dalam kereta pun hanya memandang, entah memandang apa. Sekali lagi, sebab ini bukan wisata, melainkan sebagai terapi hati yang bisa didatangi setiap hari. 

“Lihat Nak, itu pasti tinggi dan dalam sekali.” 

“Hebat ya, Bu. orang-orang bisa membuat gunung.” 

“Itu bukan gunung, Nak. Tapi pulau, kita sedang melihat janin sebuah pulau.” 

“Itu asap apa, Bu?” 

“Anggap saja itu gunung berapi.” 

“Gunung berapi?” 

“Ya. Kamu harus tahu, pulau selalu punya gunung berapi.” 

Rel kereta bergetar pelan, tak jauh di seberang rel, orang-orang pekerja sibuk menutupi jalan raya yang pecah, di mana-mana pecah, berlubang, dan memancar cairan kental, basah. Itu jalan raya terakhir yang masih bisa terlihat, mereka hendak menyelamatkannya. Orang-orang menutup pecahan itu dengan tanah, lalu merembes lagi. Orang-orang menimbunnya lagi, dengan karung beras, dengan batu-batu, lalu menambalnya dengan aspal panas. Namun tak lama, di bagian lain tak jauh dari situ, sebuah lubang muncul lagi, jalan retak lagi, orang-orang bekerja lagi. Jalan raya itu menjadi penuh tambalan yang memilukan, tanpa pola yang manis, abstrak, dan mencemaskan.

Dari kejauhan, lelaki itu bisa melihat mobil-mobil seperti terayun di lautan. Debu menjebak kaca mereka seperti malam menyergap kelam. Jurang mengancam. Kemudian ia kembali sibuk dengan monolog batinnya. 

“Tentu saja, sepanjang hidup ini, sepanjang udara yang kuhirup di bawah kebun anggur, aku tak pernah terpikir untuk tidur di pasar, bertumpuk seperti bangkai binatang yang tak laku dijual. Tak pernah terpikir bahwa rumahku hanya setumpuk debu, sisa cairan yang mengendap bisu. Tetapi bukankah hidup penuh disharmoni? 


“Memang seperti sihir saja, tak butuh waktu lama, tiba-tiba kota ini menjadi debu, rumahku menjadi debu, dinding retak seperti roti kering, bau menyengat tercium sampai ke tempat tidur kami. Air keruh, sumur seperti jurang neraka menganga, kami tak bertanya, tiba-tiba kami hanyalah sampul sebuah berita. 

“Ya. Tiba-tiba dunia berubah, dunia menjadi sempit, sebatas pasar yang hampir runtuh, kami ditumpuk di sana, istriku begitu cepatnya menjadi tua, wajahnya keriput, dahinya mengkerut, anak-anakku muntaber, sekolahnya hanya di angan-angan. Buku-buku menjadi bungkus kacang yang dijual setengah kilo. Aku tidur bersama bau bacin selokan, selokan yang penuh limbah, yang ketika diperas akan mengucurkan uang, dan uang itu mengalir entah ke laut mana. Kami, para lelaki yang masih memiliki tanggung jawab, hanya menghabiskan malam dengan main kartu, domino, tetapi kami tidak berjudi, apa yang harus dipakai untuk judi? Sampah-sampah? Bukankah kami yang justru telah menjadi korban perjudian? Kami juga main catur, kami gerakkan pion, dan setiap kali aku memindahkan sesuatu dalam petak segiempat itu, entah kuda, menteri, atau ratu, aku merasa memindahkan sebuah dunia, memindahkan sekumpulan nasib yang meraung-raung tak bisa kemana-mana. Tetapi itu hanya papan catur, yang ketika dini hari menyergap, maka akan dirapikan dan ditumpuk di atas kardus-kardus mie. Kami melihat mie seperti padi, menjadi makanan pokok, tetapi mie tak bisa ditanam, tak bisa dipanen, entahlah, plastik itu menjadi sangat berharga bagi kami. Setelah lelah bermain, kami pun kembali ke tempat masing-masing, melihat anak dan istri kami tak ubahnya calon ikan asin. 

“Dunia kemudian hanya menawarkan sayuran yang tumpah. Malam hari dingin udara menusuk, siang hari panas merasuk, seharian bau badan membusuk. Tiba-tiba istriku bilang tidak kuat lagi. Ia ingin pergi ke rumah orangtuanya. Tak jauh memang, hanya berselang beberapa kota. Anak-anak juga seperti lidi, kurus kering bukan karena dimakan usia atau penyakit, melainkan dimakan oleh manusia yang tak kasat mata. Ya, kami semua telah menjadi mangsa manusia. Dan yang tersisa hanya debu, yang membuat kami merasa hanya bertelanjang dada tanpa bisa tersedu. 

“Anak-anakku dibawa istriku pergi, ke kota yang tak begitu kukenal. Sebenarnya ia sudah memaksaku ikut, tetapi, apakah mudah seseorang pindah dari kota yang lama ditinggalinya? Kota yang bertahun-tahun menabung kenangan di kepalanya? Aku memilih untuk tinggal, mengumpulkan kembali secercah harapan. Bahkan dalam debu pun aku berpikir tentang sisa keindahan, kota ini memang telah rata, sama dengan gurun Sahara, tetapi kenangan tak akan hilang, meski perjuangan hanya berhenti di tangan undang-undang, tetapi toh kami masih bisa merasakan gerimis turun di ubun-ubun kami, seperti hendak mencairkan pikiran yang membatu. Seperti ingin menghibur bahwa hidup tak selamanya peluru. 

“Kami masih punya doa, kami punya mulut yang tak sepenuhnya terkatup, sudah habis rintihan, tetapi segalanya seperti ziarah, ketika Hari Raya tiba, seakanakan sirna debu itu, seakanakan kami menjelma kembali, dan orang-orang pun merasa takjub. Kemudian kami akan kembali, berdiri, berpencar, di batas-batas tempat kami pernah hidup sebagai manusia.” 

*** 

Setiap saat, suara lelaki itu terus menggema dan bertiup bersama debu, debu yang dinikmati sebagai bencana, sebagai sisa jelajah manusia. Lelaki itu sendiri masih berdiri di pintu batas kota, seperti pangeran yang tiba di panggung sandiwara, seperti pengelana yang merenungi sisa kepergiannya: Halaman rumahnya masih ia hapal, ia ingat betul berapa langkah untuk tiba di depan pagar, membuka pintu bambu yang artistik, lalu menerima sambutan hangat dari anak-anaknya yang masih kecil dan lucu. Tetapi kini tubuhnya pun hanya debu, berapa tahun ia tak berganti pakaian? Haruskah ia masih berpikir tentang penampilan? Di bibirnya yang pecah itu seperti memancar sisa-sisa doa. 

“Ibu, Ibu, orang itu siapa?” 

“Yang mana?” 

“Itu, yang berdiri, yang bajunya abu-abu.” 

“Abu-abu? Mana, sih?” 

“Lho, Ibu tidak lihat? Itu, jelas kok, berdiri mengadap ke sana.” 

“Ah, kamu ada-ada saja. Di sini sudah tidak ada orang tinggal, semuanya pergi….” 

Orang-orang—siapa pun dan dari mana pun asalnya—memang tak pernah bertanya keberadaan sisa penduduk kota itu, semua jejak kisah dan jerit rintih meresap alami, mengendap dan hilang ke dalam debu. Seperti berita dalam koran bekas. Padahal mereka semua juga manusia, yang paham tentang hakikat kehilangan. Tetapi bukankah segenap cerita tentang manusia di tempat ini telah usai? Ya. Sama seperti benda-benda lain di kota ini, rasa kemanusiaan pun telah lama hilang, menjadi debu.
Terima kasih sudah berkunjung. Semoga memberi manfaat. Baca juga cerpen Dua Orang Sahabat

CERPEN PEMAKAMAN YANG BAHAGIA OLEH SUNGGING RAGA

CERPEN PEMAKAMAN YANG BAHAGIA OLEH SUNGGING RAGA


mawar putih diatas makam
image 
Ketika tak ada lagi yang bisa diharapkan dari hidupnya, ketika tak ada lagi yang bisa dibanggakan setiap kali mata itu terbuka menatap dunia yang muram, lelaki itu pun bersumpah, bahwa setidak-tidaknya ia harus bisa menciptakan sesuatu yang akan memuaskannya kelak, sesuatu yang barangkali akan menjadi satu-satunya sejarah yang tercatat atas namanya. Ya, dan hal itu sudah ada di antara sepasang matanya. Diam-diam, ia ingin sekali mengakhiri hidupnya, dengan sebuah pemakaman yang bahagia. Pagi ini, ia bangkit dari lelap dengan dahaga yang tak sudah-sudah, baru saja ia beranjak dari kasur lapuk itu, membuka mata yang berair, sementara sang istri masih mendengkur di sampingnya. Terkadang ia heran bagaimana bisa menikah dengan istri yang suka mendengkur keras-keras. Setiap kali tetangga bertanya —sebab merasa terganggu—maka lelaki itu akan mengaku bahwa itu adalah dengkurannya. 

Cahaya matahari tak juga masuk ke dalam kamar yang penuh dengan kenangan lapuk itu. “Inilah kamar tempat aku merasa dilahirkan kembali.” Harusnya ia bangga karena memulai hidup baru dengan seorang wanita, tentu masih teringat ketika ia melepaskan baju masa kecilnya yang sungguh tidak bahagia. Kebahagiaan macam apa yang didapat dari bekas luka di sekujur tubuh akibat seorang ayah yang bengis? Kebahagiaan macam apa yang dihasilkan dari terik matahari ketika ia dan sebuah sepeda harus mengantarkan hewan-hewan ternak curian itu ke penadah yang selalu datang pada siang hari ketika bumi terbakar. 

Kemudian ia pun dilahirkan kembali, dengan takdir-takdir yang justru menggerogoti usia pada akhirnya. Segalanya diawali ketika seorang wanita mulai menemaninya, wanita yang ditemuinya sedang tertawa sambil mencuci pakaian di tepian sungai, waktu itu, setiap detik baginya sungguh luar biasa, sungguh pesona yang lebih jernih daripada muara. Proses perkenalan hingga pernikahan seperti menuju gerbang istana lapuk yang lama tak dibuka. Ia sudah membayangkan kebahagiaan memang sesuatu yang tertahan, dan butuh seseorang untuk membukanya. Tetapi apalah kemudian arti tidur bersama, malam-malam mutiara, pesona yang membabi buta, kalau pada akhirnya ia kembali harus menerima kenyataan yang sama pahit dengan masa kecil itu. Wanita itu memang menarik, cantik dari setiap sudut, dan selalu nampak ceria dalam keadaan apa pun. Namun itu tak mengubah garis takdirnya. Bagi lelaki itu, kedewasaan adalah ular berbisa yang tidak pandang bulu. Lelaki itu menggambarkan hidupnya sebagai mimpi buruk yang nyata, mimpi yang keluar begitu saja dari otak lantas menjelma kengerian-kengerian yang tak terbantahkan.

Maka hari-harinya kemudian diliputi keresahan, istri mulai hamil, apa yang didapat? Bahkan ia tak sempat mengecapnya, ia tak peduli jika anak itu ternyata anak dari salah satu laki-laki yang setiap malam bergantian menjemput istrinya. Ya, hanya sesaat wanita itu menemaninya. Kemudian segalanya berlangsung kilat, istrinya pergi tanpa tujuan yang jelas, hingga tiba-tiba hamil dan melahirkan seorang bayi. Laki-laki tua dan muda yang hadir silih berganti itulah yang mungkin berhak menjadi ayah bayi itu. Lelaki itu tak berhak apa-apa, bahkan ia tak punya kuasa terhadap hidup istrinya, ia tidak merasa bekerja begitu keras hingga wanita yang hanya pulang untuk mendengkur itu memiliki banyak perhiasan yang diimpor dari luar negeri. Perhiasan antik itu memang kemudian membuat kamar tampak indah, cermin rias selalu memantulkan cahaya kemilau itu, cahaya yang bagi lelaki itu adalah cahaya dari neraka. 

Ia merasa lumpuh, ketika bayi itu lahir, bahkan seminggu setelahnya bayi itu belum juga ia beri nama. Dan sebulan kemudian ia bahkan tak tahu bahwa bayi itu sudah memiliki nama, entah siapa yang memberinya. Sementara istrinya seperti kerang yang dengan cepat kembali segar. Hanya sebentar lelaki itu merasakan keberadaan seorang wanita di rumah yang tersusun dari bamboo itu. Kemudian laki-laki demi laki-laki kembali hilir-mudik menjemput istrinya setiap malam, ketika ia sendiri harus sabar mengajak bicara bayi yang sering menangis itu, mengajak bayi itu untuk mengerti bahwa hidup memang sulit untuk bahagia, berbagi kesepian bersama sepasang mata yang masih bening, mata yang diturunkan oleh wanita yang telah menyiksanya. 

Apa yang kemudian membawanya di titik tempat ia merasa pasti tidak akan memperoleh kebahagiaan selamanya? Ketika bahkan di rumahnya sendiri ia merasa seperti dibalut neraka. Ia menahan benci terhadap istrinya. Wanita itu memang tak pernah peduli, dan lama-kelamaan ia tak minta untuk dipedulikan. Sudah habis kesabarannya—sebagaimana ia tak pernah ingin menumpuk amarah— kepada wanita yang entah mengapa bisa dinikahinya itu. Lelaki itu ingin kembali ke rumah, membalik waktu yang purba, merasakan pukulan dari sang ayah seperti masa kecil dulu, ia lebih suka siksaan fisik daripada batin yang setiap saat digerogoti takdir yang menyayat, melipat hidupnya lebih cepat. Tetapi itu hanya bayangannya, bayangan sesaat yang bahkan tak mampu mengembangkan bibit-bibit senyumnya. Hidup berlalu sangat cepat dan hari-hari diliputi rutinitas batin yang menyesakkan. Lebih menyesakkan lagi sebab istrinya selalu tampak bahagia, wanita itu adalah antitesis dari suaminya sendiri. Wanita itu murah senyum, bahkan pada hal-hal kecil semacam cicak yang berkejaran di dinding pun ia tersenyum, bahkan pada kucing yang tiba musim kawinnya pun ia sempat tertawa. Wanita itu adalah potret seorang istri yang bahagia, menebar keceriaan di mana saja, di setiap sudut tempatnya berpijak. Tetapi bagi lelaki itu, setiap senyum adalah petaka, seperti silet yang siap mengiris selaput mata agar selalu memancarkan air mata higga darah, sampai kering semuanya.

“Kau terlalu memberatkan dirimu sendiri. Kau harus bisa menerima kenyataan, belajar dari keadaan. Aku seperti ini karena kau seperti keledai yang tidak berguna. Kau tidak bisa bekerja. Kau hanya terpaku merenungi masa kecilmu dan berharap kebahagiaan jatuh tiba-tiba dari langit. Ayolah, kau kuizinkan keluar, temui siapa pun yang bisa membuatmu tertawa seperti aku.”


Wanita memang pandai bersilat kata. Ia bergumam. Ia melihat srikandi yang diliputi kemewahan, yang dengan pongah mengangkat kaki di depan wajahnya. “Apa kau tidak pernah merasa sedih? Menangis? Seperti aku?” tanya lelaki itu kemudian. 

“Setitik air mata pun tak pernah jatuh dari kelopak mataku.” Saat itulah, ketika semua rasa sakit sudah membatu di hatinya, ia mulai menyusun rencana kecil untuk mengakhiri hidupnya. Ia membeli setumpuk kertas, melarikan dirinya ke sebuah tempat terpencil, di bawah ridang pohon cemara, ia mulai menulis surat. “Aku ingin semua kawanku datang tanpa baju hitam. Aku ingin mereka bahagia pada hari kematianku. Aku akan memandangi mereka meski mereka tak bisa melihatku,” katanya kepada diri sendiri. 

Lelaki itu mulai berjalan ke setiap rumah yang dikenalnya untuk menyampaikan surat itu. Sebagian surat juga dikirimkan lewat pos, surat itu ditujukan pada seluruh kawan-kawan yang masih sempat diingatnya. Ia kirimkan surat itu pada hari yang sama, dengan ratusan tujuan berbeda. Ia merasa lega, menghabiskan uang terakhir untuk menulis. Lantas ketika malam menjelang, ia mengecup bayinya dan meninggalkannya di kamar tidur. Ia pun memasuki sebuah ruang gelap tak jauh di sebelah rumah, semacam gudang, yang ketika dimasuki maka menyeruaklah bau tikus mati, botol minyak tanah, jerami, dan sepotong tali telah siap bergantung di langit-langit. Segalanya memang telah matang dipersiapkan, dan dalam malam yang remang, lelaki itu pun kemudian terbakar cahaya. Sementara di tempat lain, istrinya baru saja dinobatkan sebagai wanita termahal di kota ini, penobatan itu diputuskan di sebuah bar ingar-bingar yang dihadiri pejabat-pejabat setengah botak berperut gendut, wanita itu telah ribuan kali berpindah-pindah untuk bersandar ke perut mereka, bahkan ia bisa tahu pejabat mana yang paling punya uang, ia lah yang paling mengerti hubungan antara perut dan kepala botak dengan kekayaan. Wanita itu merasa indah malam itu ketika semua mata tertuju kepadanya, hanya kepadanya. Dan di tempat lain pula, di sebuah kamar abu-abu yang lampunya redup, seorang bayi menangis menghentak-hentak, jeritannya terdengar sampai ke pekarangan, namun tak ada seorang pun yang mendengar tangisan bayi itu. Bayi yang terus menggetarkan pita suaranya. Ia hanya butuh susu. Ia hanya butuh susu. 

Tiga jam kemudian, mayat lelaki itu diturunkan perlahan oleh pihak kepolisian setempat. Puluhan kawan yang menerima undangan kematian mulai berkumpul di sana. Mereka lihat kulit yang terkelupas hangus itu, mulut yang masih menampakkan sisa busa. Sebagian dari mereka juga langsung menggendong bayi yang entah ke mana ibunya. “Barangkali ini anaknya,” ucap salah seorang dari mereka. 

Lelaki itu benar-benar bunuh diri dengan tiga cara sekaligus yang terlalu sadis untuk dijelaskan dengan kata-kata. 

***

Pagi memaparkan mendungnya di langit ketika keesokan harinya pemakaman yang bahagia itu benar-benar berlangsung. Beberapa mobil terparkir di sepanjang jalan di luar pagar. Mobil-mobil mewah yang bisa membuat dugaan bahwa yang meninggal adalah orang kaya terhormat. Namun orang-orang di sekitar kompleks merasakan keganjilan itu, para peziarah datang dengan suka cita dan canda tawa yang seharusnya adalah hal paling terkutuk dalam keadaan seperti sekarang ini. Mereka lah kawan-kawan yang telah mendapatkan surat dan kini hadir dengan pakaian warna-warni. Mereka mengingat dengan baik permintaan lelaki itu, kompleks makam yang sedianya menyiratkan kepedihan mendalam itu justru meriah seperti pesta badut. Setiap orang hadir dengan warna pakaian yang mencolok. Tak ada karangan bunga. Tak ada tulisan belasungkawa yang dilingkupi warna-warna kelabu, apalagi isak tangis baik yang tertahan atau pun terlepas ke langit, tidak ada, semuanya ceria. Sesuatu yang sungguh terlihat ajaib bagi setiap yang kebetulan lewat. 

“Ada apa di situ?” 

“Ada pemakaman.”

“Pemakaman?” 

“Ya.” 

“Tidak mungkin. Mereka tertawa-tawa. Itu tidak seperti pemakaman.” 

“Sungguh, Kawan. Itulah pemakaman yang bahagia. Kalau tak percaya. Ikutlah. Kau tidak perlu berbaju hitam, kau hanya perlu tertawa, tertawa, dan tertawa, bersama kami.” 

Pemakaman itu pun semakin meriah. Bahkan orang-orang tak dikenal pun mulai ikut berkerumun. Diletakkan juga sebuah meja dan gelas-gelas minuman dengan botol-botol bersoda selayaknya pesta. Lelaki itu barangkali sudah nyenyak di bawah tanah, sayup-sayup menikmati canda tawa yang semua ditujukan kepadanya. Untuk kali pertama ia bahagia. Meski itu tak tampak bagi setiap orang, tetapi barangkali arwahnya sedang duduk di pohon yang paling tinggi, menatap takjub pada sikap kawan-kawan yang telah dengan baik mengapresiasi kematiannya dengan pesta dan canda tawa. Pesta itu baru berakhir menjelang siang, orang-orang mulai surut dan di sekitar makam tersisa sampah-sampah meski bukan bekas tisu. Ketika itulah dari kejauhan, muncul seorang wanita yang berjalan ke arah makam.Wanita itu berpakaian serba hitam, seperti bidadari kegelapan, tetapi ia tidak melayang, ia datang tersandung-sandung batu sambil memeluk bayinya yang tentunya tak bisa tenang. Ia terus berlari sambil sedikit menyingkap rok hitamnya, melewati deretan nisan tua yang namanya telah kabur, menuju tempat hiruk-pikuk tadi yang kini telah sepi. Ia pun kemudian duduk. Tertunduk. 

Bermenit-menit kemudian, wanita itu hanya bisa terkulai, entah apa yang telah menggerogoti pikiran dan perasaanya begitu cepat. Di atas nisan sang suami, untuk kali pertama dalam hidupnya yang serba bahagia, jatuhlah air matanya.
Terima kasih sudah berkunjung. Semoga memberi manfaat. Baca juga cerpen Epitaf Bagi Sebuah Alibi

CERPEN IA YANG BERTEMU MALAIKAT OLEH GUNTUR ALAM

CERPEN IA YANG BERTEMU MALAIKAT OLEH GUNTUR ALAM


Ia yang bertemu malaikat
image Gina Sendef
Mulanya, lelaki itu tak hendak menterakan kisahnya ini. Cerita tentang ia yang pernah bertemu dengan malaikat pada satu pagi lembab. Duganya, orang-orang akan sepakat memberi ia cap gila, lalu lamat-lamat orang sekampung akan mengucilkan anak bininya pula. Hal itulah yang membuat lelaki itu kuat mendekap mulutnya. Akan tetapi, semakin lama ia menyimpan cerita itu, semakin tak kuat ia mengunci mulutnya. Lidahnya terasa seperti seekor ular yang melata, menggeliat-geliat, memaksanya membuka mulut. Hingga, ia pun tak kuasa, dan cerita itu bergulir begitu saja tanpa bisa ia tahan. 

Beruntungnya, aku menjadi orang pertama yang mendengar kisah itu, dan kau yang menyimak adalah orang kedua. Pada diriku, lelaki yang bertemu malaikat itu berpesan: Janganlah aku mengisahkan cerita ini pada siapa pun, tersebab ia takut orang-orang akan mengatakan ia gila dan jiran kiri-kanan pun karib-kerabat akan mengucilkan anak-bininya. Aku pun mengangguk-anggukkan kepala. Tetapi, lepas gerimis turun petang tadi, lelaki itu menyambangiku, tiba-tiba saja ia memintaku untuk menceritakan kisah ini padamu. Aku berkeryit. Lelaki itu berujar: Aku tak sanggup untuk menyimpannya sendiri, pun kuyakin dirimu. Atas permintaannya itulah, aku menguraikan cerita ini padamu. 

Beginilah ceritanya. 

Di pagi lembab pada bilangan bulan yang selalu kuyup oleh rinai hujan, lelaki itu bertemu dengan malaikat. Pada mulanya, lelaki itu tidak tahu kalau orang yang ia temui itu adalah malaikat. Rupanya seperti halnya manusia lainnya, tak ada pembeda sedikit pun. Hanya saja, lelaki itu merasa, wajah orang yang ia temui itu begitu berkilau. Ah, tidak terasa sangat enak untuk dilihat lama-lama. 

Pagi itu, seperti biasa, lelaki yang mengangkat dirinya sendiri menjadi tukang bersih-bersih masjid di samping rumahnya itu, telah ada di masjid sebelum azan subuh berkumandang. Tak ada sesiapa –dan memang lebih sering tidak ada siapa-siapa, ketika ia datang. Masjid masih pekat, terlebih rintik gerimis masih saja asyik berkejaran ke muka tanah. Tentu waktu seperti itu, orang-orang akan lebih memilih untuk menarik selimut bahkan menambah ketebalannya. 

Lelaki itu menyalakan lampu masjid, berjalan menuju lemari yang menyimpan tape recorder, merogoh saku bajunya, mengeluarkan kunci, dan memutar kunci lemari. Ia menarik kabel tape dan menyambungkan dengan colokan listrik. Tak lama, pelan-pelan terdengar suara orang mengaji mengudara dari corong toa tua yang ada di atas wuwungan masjid. Seperti itulah, seperti pagi yang sudah-sudah. Kemudian, lelaki itu akan berwudhu, duduk diam sembari berzikir di atas sajadah, sesekali matanya akan melirik jarum jam yang berjalan pelan. Bila jarum jam itu telah bertemu menit yang ia tunggu, lelaki itu akan mematikan tape dan menggantinya dengan suara seraknya, mengajak orang-orang untuk ke masjid, setelah itu ia akan mengumandang azan. Begitulah. Dan selalu begitu. 

Aku pun kerap mendengar suara serak lelaki itu di subuh buta yang mengudara dan menerobos mimpi-mimpiku. Aku memang menyalangkan mata bila mendengar suaranya, tetapi setelah itu aku lebih kerap melanjutkan mimpi yang terbuyar. Entah, rasanya sangat berat untuk terjaga di subuh seingusan itu, terlebih bila menyentuh air. Walau sesekali, aku pun akan datang, itu pun bila lelaki itu telah berkali-kali bercerita padaku betapa ia selalu tak punya kawan untuk berjamaah Subuh. 

Nah, pada subuh yang lembab itu, ia bertemu dengan malaikat. Tepatnya seseorang yang ia duga malaikat. Setelah azan berkumadang lima menit yang lalu, lelaki itu masih saja menunggu, kalau-kalau ada seseorang yang datang di bawah gerimis. Sayangnya, tak seorang pun yang datang. Hingga lelaki itu memutuskan untuk sembayang sendiri. 

Lepas ia bertakbir dan mulai mengeja al-Fatihah, seseorang menepuk pundaknya. Mahfumlah ia, seorang makmum telah ada di sampingnya. 

“Usai sembayang, aku melihat rupanya. Ia lelaki yang rupawan, berjenggot tipis, dengan baju putih bersih, wajahnya berkilau, bibirnya basah oleh zikir yang tak henti dilafaz,” lelaki itu menerawang, seolah-olah tengah menggambarkan wajah malaikat yang menjadi makmumnya Subuh itu. Aku berjinjit mendengarnya. Tidakkah itu terasa ganjil? 

“Hampir setengah jam, lelaki itu duduk di sajadahnya. Mulutnya terus berkomat-kamit. Ah, betapa aku takjub melihatnya.” Lagi, lelaki itu menerawang dan aku menjadi ikut-ikutan membayangkan rupa seseorang yang ia duga malaikat itu. 

“Lalu, apa yang ia bicarakan? Apakah Mas bercakap-cakap dengannya?” mendadak saja, aku begitu penasaran dengan ceritanya. 

“Ya, kami bercerita sebentar. Karena aku tidak pernah melihat rupanya, tentu hal yang pertama kutanya adalah asalnya. Dan ia menjawab, ia orang baru di sini. Baru dua hari pindah, menyewa sepetak kamar di salah satu kos-kosan di kompleks kita. Ia bilang dari Sumatera. Mendengar itu, tentu saja aku tahu tidak akan bisa mengajaknya ngobrol dengan bahasa Jawa.” 

“Di kosan mana?” aku mengejarnya. 

“Entah, aku lupa menanyakan itu, sebab aku sudah terpesona dengan cerita yang ia uraikan,” kembali mata lelaki itu menerawang seperti menemukan hal yang indah di pelupuknya. 


“Cerita apa?” aku kian tak dapat menahan diri dan menutupi rasa penasaran yang bergumul-gumul dalam dada. 

“Ia berkisah tentang taman Firdaus. Taman yang akan diisi oleh orang-orang yang meramaikan masjid di subuh kelam. Ada bidadari-bidadari bermata jeli yang bersuara mendayu lagi penuh rindu. Dan tahukan kau, Id, orang itu mengatakan, bidadari-bidadari itu paling rindu kepada orang yang mengumandangkan azan Subuh. Tentu saja, bidadari-bidadari itu juga sangat merindukan orang-orang yang berjamaah Subuh di masjid. Ah, tidakkah kau merasa betapa ceritanya itu luar biasa?” mata lelaki itu berbinar, penuh nyala terang dan bintang gemintang. Kudukku meremang menyaksikannya. “Lelaki itu kerap datang saat subuh dan sembayang berjamaah denganku. Bahkan beberapa hari ini, ia datang bersama serombongan lelaki lain. Wajah mereka seragam, penuh binar yang aduhai. Janggut tipis, bibir basah oleh zikir, dan tentu saja kesejukan tiba-tiba terasa begitu kental saat aku duduk di sekitar mereka. Dan lagi, mereka akan mengisahkan tentang taman Firdaus, para bidadari, dan hal-hal indah yang selama ini tertera dalam Alquran. Aku selalu hanyut dalam kisah mereka.” 

Aku senyap, teramat senyap ketika mendengar cerita lelaki itu. Entah, aku merasa kudukku begitu meremang mendengar kisah ajaibnya, terlebih ketika ia mengatakan ini kepadaku. 

“Sayang, aku selalu kehilangan jejak lelaki itu dan kawan-kawannya saat keluar masjid. Begitu aku berbalik merapikan tape dan mikrofon ke dalam lemari masjid, usai percakapan itu, mereka telah raib. Gegas sekali mereka pergi. Lantaran rasa penasaran pulalah yang membuatku beberapa kali mengitari kompleks kita ini, menyambangi kos para lelaki, sekadar berbasa-basi sembari mencari tahu di mana lelaki itu menyewa kamar. Entah, aku selalu ingin mendengar ceritanya lagi. Tetapi, aku belum jua menemukannya. Nah, tidakkah pantas bila kuduga ia adalah malaikat yang turun ke bumi untuk sembayang Subuh berjamaah denganku? Meramaikan masjid kompleks kita yang selalu saja lengang di pagi dan petangnya.” Aku tiba-tiba saja merasa setuju dengan duga lelaki itu. Mungkin saja benar apa yang ia sangkakan. Bukankah itu terdengar sangat masuk akal? Malaikat datang untuk sembayang Subuh sembari meramaikan masjid besar yang selalu lengang di tengah perumahan yang demikian padat ini. Dan mendadak saja, aku ingin sekali bertemu dengan malaikat itu. Aku ingin mendengar ceritanya, aku ingin melihat rupanya, aku pun ingin bertanya banyak hal, terutama masa depan: Mungkinkah ia tahu siapa jodohku? Nasib karierku? Dan segumpal besar pertanyaan yang melenat-lenat. 

“Apakah setiap subuh lelaki itu datang?” 

“Iya, hampir setiap subuh, sejak satu purnama ini. Kenapa, Id?” lelaki itu balik bertanya. 

“Aku ingin sekali melihatnya.” 

“Kau datanglah subuh nanti, semoga saja ia datang dan sembayang berjamaah dengan kita.” Mataku berbinar mendengarnya. Perasaan itu meluap-luap, aku ingin sekali bertemu dengan malaikat itu. Hal itu membuatku tak sabar menunggu subuh yang datang begitu lambat. 

*** 

Mungkin, kau pun akan terkejut serupa diriku begitu datang ke masjid subuh ini. Setelah melewati malam yang demikian gelisah, aku sangat gegas bersiap dan melesat ke masjid lantaran keinginan untuk bertemu malaikat. Lalu, apa yang kutemui di sana sungguhnya ajaib sekali. Masjid begitu ramai. Lelaki, tua muda, berkumpul seperti hendak jumatan. Kukenal semuanya, tetangga kiri-kanan, penghuni kompleks yang ada di blok paling ujung pun datang. Ada apa gerangan? 

“Mereka pun hendak bertemu dengan malaikat yang aku ceritakan tadi petang,” itulah jawaban lelaki itu ketika aku menanyakan keajaiban ini. “Siapa yang menceritakan pada mereka? Sedang aku pun belum sempat mengisahkan cerita Mas pada siapa-siapa,” keningku sungguh berlipat dibuatnya. 

“Aku benar-benar tak sanggup menyimpan cerita itu sendiri. Jadi, kuceritakan saja. Ternyata, ketakutanku tak berdasar. Justru, orang-orang ramai datang untuk sembayang Subuh berjamaah dan tentu saja hendak bertemu dengan malaikat.” 

Aku terdiam, benar-benar diam dibuatnya. Tidakkah aku merasa cerita ini kian ganjil terasa? Mungkinkah lelaki itu tengah mengarang semata agar orang-orang ramai sembayang Subuh berjamaah. Entah, mendadak saja aku benar-benar melihat segerombolan malaikat tengah berwudhu di luar sana. Mereka tersenyum melihat masjid yang sesak dan wajah semringah lelakiyang mengaku telah bertemu malaikat itu.
Terima kasih sudah berkunjung. Semoga menginspirasi. Baca juga cerpen Perempuan Di Satu Rumah

CERPEN HATI YANG MERONA ITU MENUNGGU-NUNGGU OLEH GUNTUR ALAM

CERPEN HATI YANG MERONA ITU MENUNGGU-NUNGGU OLEH GUNTUR ALAM


nenek yang menunggu-nunggu
image William
Mungkin, ia tidak pernah menduga kalau di usia kepala tujuh orang bisa juga bergejolak hatinya. Seperti yang tengah mendera hatinya kini. Ah, betapa jari-jemarinya yang telah keriput itu menggigil saat meraba kulit pipinya yang telah mengendur. Memang terasa begitu ganjil debar yang menggelepar-gelepar dalam dadanya. Kalaulah saja ia masih gadis belia, berumur sekitar enam belas tahun, kali pertama ketar-ketir menunggu bujang pujaan lewat di depan pagar rumahnya, barangkali ia akan memaklumi dirinya sendiri. Oi, perasaan ini begitu ajaib. 

Ia mematut wajahnya di cermin. Sesungguhnya, ia masih cantik. Tanda-tanda kecantikannya di masa muda itu masih terekam jelas di garis-garis pipinya yang telah mengendur. Menyadari itu, kian merona saja hatinya. Ia membayangkan dirinya di usia delapan belas tahun, kali pertama ia merasakan betapa mata tembaga lelaki yang ia puja sejak kelas satu SMA itu berbinar-binar. Ia tersenyum, berusaha mengibas usianya yang telah tua. Diam-diam ia berharap, lelaki bermata tembaga itu akan merasakan hal yang sama kalau saja lelaki itu menemukannya di teras dengan dandanan seperti ini. Ah, apakah lelaki itu akan memeluk dan mencium dirinya serupa dulu? Debar-debar kian menggelinjang saja dalam dadanya. Membayangkan mata tembaga itu memeluk matanya dengan hangat, lalu mata itu akan memuja bibirnya yang tipis menawan. Ah, ia menghela napas. Teringat bibir, membuat ia merasa gamang. Betapa kering dan keriput bibirnya kini. Ragu-ragu, tangan keriputnya membuka dompet yang ada di atas meja rias. Dikeluarkannya sebuah lipstik dari dalam dompet itu. Berlahan ia buka penutupnya dan memutar pantat lipstik itu, mencuatlah sebatang pemerah bibir. 

Ahai, berapa lamakah ia tidak mempergunakan benda ini? Sejak menjadi pengantin puluhan tahun silam, mungkin. Ingatan itu tentu saja kian membuatnya ragu. 

Lima hari yang lalu, ia membeli lipstik itu secara diam-diam. Tentu tanpa sepengetahuan Lasmi, pembantu yang pagi-pagi bertugas ke pasar membeli sayur. Ah, ia ingat sekali mimik muka gadis pendiam itu ketika ia memaksanya untuk tidak pergi ke pasar karena ia yang akan pergi pagi itu. Kebingungan. Tapi, Lasmi memang pembantu yang baik, gadis itu menurut saja ketika ia mengatakan kangen membeli sayur sendiri. Di pasar itulah, ia mampir ke warung penjual lipstik. Pada gadis penjual yang berkerut kening saat ia mengutarakan niatnya membeli lipstik warna merah jambu itu, ia mengatakan akan membelikan cucunya yang duduk di bangku kelas dua SMP. Gadis penjual itu jadi tak bertanya-tanya, walau mungkin saja di batok kepalanya itu bergumul tanya yang begitu banyak. Selesai menyerahkan uang sepuluh ribu, untuk harga lipstik merah jambunya, gegas ia menyimpan benda itu di dasar dompetnya. Ia tak mau orang lain melihat lipstik itu, terutama Lasmi dan lelaki bermata tembaga itu. 

Tangan keriputnya terlihat kikuk memoleskan ujung lipstik itu pada bibirnya. Mungkin juga lantaran bibirnya tak semulus dulu. Tentu keriput membuat lipstik itu tak mulus melicinkan bibirnya. Oh, betapa ia ingin tertawa saat memoleskan lipstik itu. Sungguh, terasa kikuk, asing, dan demikian lucu. Tiba-tiba ia teringat sesuatu saat matanya melihat pantulan jam dinding yang ada di belakangnya. 

“Lasmi! Lasmi!” serunya, terdengar langkah kaki mendekat. Ia menjadi gugup, buru-buru diselipkannya lipstik merah jambu itu ke dalam dompetnya, daun pintu kamar berderit, seraut wajah menyembul di sana, tanpa suara. 

“Tengok ke depan, apakah mobil biru itu sudah datang?” gadis itu mengangguk, lalu kembali menghilang di balik daun pintu. Ia tersipu. Ah, tentu Lasmi melihat warna bibirnya yang merah jambu ini. Ia tersenyum di dalam cermin, membayangkan Lasmi yang tengah bertanya-tanya. Sesungguhnya, telinganya masih tajam mendengar bunyi. Sendari tadi, ia belum jua mendengar deru mobil yang demikian ia kenal. Hanya saja, hatinya tak yakin dan ingin memastikan, kalau cupingnya memang tak salah. 

Langkah kaki Lasmi terdengar menuju teras depan, semakin lama semakin mengecil. Lalu senyap, diganti dengan suara derit daun pintu yang terkuak. Beberapa detik senyap kembali mengisi reruang. Ia menajamkan telinga, kalau-kalau terdengar deru mobil biru itu, atau terdengar ucapan salam, orang yang berkata-kata, mungkin pula sebuah percakapan. Tak ada. Tak ada perkataan apa-apa dari ruang depan, hanya terdengar kembali derit pintu yang ditutup dan suara langkah Lasmi yang kembali mendekat. 

“Aku tahu, ia belum pulang,” ucapnya begitu terdengar daun pintu kamarnya dikuak berlahan, tanpa menoleh ia mengucapkan itu. Wajah Lasmi yang terpantul di cermin mengangguk kecil, “Siapkan saja makan siang. Jangan lupa atur seperti yang aku ajarkan kemarin. Pakai piring, gelas, sendok, dan garpu yang ada di dalam lemari,” perintahnya. Lagi-lagi gadis itu mengangguk. Dan menghilang kembali di balik daun pintu, dari derap langkahnya, ia tahu, gadis penurut itu tengah menjalankan perintahnya. 

Ah, betapa dia menyukai gadis penurut itu. Ya, sejak kepergian satu-persatu anaknya, Lasmi menjadi satu-satunya orang yang ia andalkan. Sebenarnya, ia ingin menuruti keinginan anak-anaknya agar mau tinggal bersama salah satu dari mereka. Akan tetapi, lelaki bermata tembaga itu tak ingin meninggalkan rumah dan kota kecil mereka. Jadilah, ia mematuhi keinginan lelaki itu. Tetap di rumah yang menyimpan sejuta kenangan mereka. 

Masa panjang yang tenggelam mudah sekali menghanguskan kenangan dan perasaan, kata lelaki bermata tembaga itu. Dan, lelaki itu tak ingin kehilangan semua itu. Lelaki itu tetap ingin menyegarkan semua itu dalam memorinya. Sesekali, anak-anaknya datang mengunjungi dirinya. Namun, tak rutin, hanya berbilang jemari, tentu mereka sibuk mengurus pekerjaan mereka, seperti ia dan lelaki tembaga itu sebelum pensiun dari pekerjaan. Cucunya? Libur sekolah adalah waktu yang ia tunggu-tunggu saban tahunnya. 


*** 

Setelah memastikan bedak yang ia pergunakan tak terlampau tebal, lipstik merah jambu itu tidak terlalu menggumpal, dan baju yang ia pakai terlihat pantas. Ia berdiri dari duduknya, diputarnya sedikit badan di depan cermin rias. Ah, kibasan rok lebarnya serasa membuatnya menjadi gadis belia. Dibiarkannya saja dompet, bedak, sisir, dan segala hal yang ia pergunakan untuk memoles wajahnya siang ini, berserakan di atas meja rias. Ia tak perduli lagi kalau Lasmi menemukan benda-benda itu di atas mejanya, atau lelaki bermata tembaga itu, semua boleh tahu kalau ia wanita tua yang sangat cantik siang ini. Sebelum keluar dari kamarnya, ia menjangkau kerudung yang ada di atas ranjang, lalu menutup rambut putihnya. Ia membawa kaki ke ruang depan, disibaknya tirai hijau itu, mengintip ke arah jalan di depan rumah. Belum ada tanda-tanda mobil biru itu pulang. 

Dua-tiga kali ia melakukan itu, mobil itu tak kunjung muncul. Untuk membuang cemasnya, ia menuju dapur. Memeriksa meja makan. Lasmi sudah melakukan semua yang ia perintahkan. Meja makan besar itu telah diganti dengan sebuah meja kayu kecil, hanya ada dua kursi yang berhadap-hadapan, di atas meja makan terlihat ikan bakar, secangkir besar jus yang diberi dua sedotan, nasi putih, sayur sup, piring, sendok, garpu, dan gelas yang ditata rapi. Ia tersenyum melihatnya. Dadanya kian menggelepar. 

Setelah memastikan meja makan siap, ia kembali menuju ruang depan. Hatinya yang merona tak sabar menunggu lelaki bermata tembaga itu muncul bersama mobil birunya. Ah, lama sekali lelaki itu ke kantor pos. Apa mungkin antrian begitu panjang hingga lelaki itu lama menunggu giliran dan uang pensiunannya belum bisa dicairkan? Atau, jangan-jangan lelaki bermata tembaga itu bertemu dengan kekasih masa mudanya. Ia tiba-tiba merasa lebih cemas. Ada perasaan cemburu yang meluap begitu saja. Mengapa juga harus ke kantor pos di hari ulang tahun pernikahan? Desisnya, menyesali keputusan lelaki itu. 

Terdengar deru mobil di halaman depan, seketika ia mendongak, matanya berlari begitu cepat dan berhenti pada satu sosok lelaki yang tengah membuka pagar. Terburu ia menjangkau daun pintu, mobil itu memasuki halaman dan berhenti di depan teras. Lelaki yang membuka pagar tadi berlari kecil menuju pintu belakang mobil, membukanya. Ia menyerbu ke sana. Ah, betapa hatinya meronta-ronta saat ini, matanya semringah saat menemukan lelaki bermata tembaganya telah berdiri di samping mobil. Ia memeluk lelaki bermata tembaga itu. Tak perduli lagi ia dengan dandanannya yang begitu sempurna siang ini. 

“Lama sekali,” desisnya, membuyarkan ketakjuban lelaki bermata tembaga itu. 

“Aku ada urusan sebentar,” jawab lelaki itu dengan senyum manis. 

“Ah, kau bertemu dengan mantan kekasihmu?” kejarnya. 

Lelaki itu menggeleng, lalu menggandeng mesra wanita itu menuju ke dalam rumah. Lelaki yang membukakan pintu mobil biru itu tersenyum dikulum, menggeleng, sebelum akhirnya menutup pintu mobil dan membawa mobil itu menuju garasi. 

*** 

“Honey, kau ingat dengan ikan bakar kesukaanmu? Tiap awal bulan di tahun pertama kita menikah, aku membuatkannya untukmu,” kenangnya, lelaki bermata tembaga itu tersenyum, ia meletakkan pantatnya di atas kursi. Kini, keduanya berhadap-hadapan. 

“Ya, rasanya baru kemarin kita melewatinya, saat anak-anak belum ada dan kini kembali tiada,” jawab lelaki itu. Ia tersenyum hangat, rona di dadanya kian kentara. Betapa berbunga hatinya, merayakan pernikahan yang keempat puluh lima, menggelepar seperti malam pertama. 

“Aku membelikanmu lipstik merah jambu sebagai hadiah pernikahan kita, maukah kau memakainya untukku?” pinta lelaki itu, ia tersipu. Ia lupa kalau ia telah menggunakan lipstik merah jambu. Mungkin lelaki bermata tembaga itu juga tak melihat warna bibirnya siang ini. Ia hanya mengangguk malu-malu, lelaki itu merogoh saku bajunya. Hati yang merona itu menunggu-nunggu, hadiah lipstik dari lelaki bermata tembaga itu. Ah, ia tidak pernah menduga kalau di usia kepala tujuh orang bisa juga bergejolak hatinya, seperti mereka.
Terima kasih sudah berkunjung. Semoga menginspirasi. Baca juga cerpen Nisan Tak Bermakam

CERPEN HANTU SERIMAN OLEH GUNTUR ALAM

CERPEN HANTU SERIMAN OLEH GUNTUR ALAM


hantu
Image Lady Orlando
Bila petang berubah pekat dan cericit kelelawar terdengar ingar di atas bubungan Limas. Bergegaslah, Tuan, panggil anak-anak Tuan yang masih di pekarangan. Jangan sampai terlambat atau Tuan akan menyesal sepanjang malam. Sebab, kata Kajut-ku, Hantu Seriman tengah melayap. Mencari anak-anak kecil untuk dimangsa. Mencari anaknya yang pernah hilang di petang temaram. 

Oo, tahukah Tuan, siapa itu Hantu Seriman? Ah, bila tanya itu Tuan lontarkan kepada orang-orang tua di dusunku, kampung kecil di kabupaten Muara Enim, Tanah Abang, dapat kujamin tengkuk mereka akan nyenggeret, berdiri gemetar bulu-bulu roma di sekujur tubuh mereka. Lekas mereka memanggil anak-anak untuk berkumpul di dalam Limas, menutup semua lempedan, dan meminta agar tak keluar sampai magrib usai di gerbang isya. Tentu saja, mereka selalu berpesan: Jangan sesekali merajuk di petang kelam. 

Ah, Tuan pasti bertanya-tanya: Apa hal yang membuat Hantu Seriman demikian ditakuti? Lebih-lebih oleh orang tua yang mempunyai anak kecil. Oo, ke mana nyali orang-orang Tanah Abang itu? Iii, jangan Tuan meremehkannya. Memang (seingatku, Tuan) belum ada anak-anak yang meregang nyawa setelah diculik Hantu Seriman. Tapi, ada kepercayaan yang diyakini oleh orang dusunku, anak-anak yang pernah diculik Hantu Seriman akan kehilangan kesadarannya alias menjadi sedikit tak waras! Oo, tentu Tuan akan berjinjit ngeri mendengar akibat itu. 

Ah, Tuan pasti bertanya-tanya kembali, mungkin pula telah bergumul-gumul tanya itu di kepala Tuan. Mengapa bisa demikian? 

Mengenai hal itu, tak ada yang dapat menemukan musababnya, Tuan. Pasalnya, tak satu pun anak-anak yang pernah jadi korban Hantu Seriman dapat menceritakan apa hal yang dibuat makhluk mengerikan itu kepadanya. Hanya, Tuan, anak-anak itu dapat menceritakan wujud si Hantu Seriman. Kata mereka, Hantu Seriman itu seorang wanita bertubuh gemuk hitam, dengan dada yang demikian besar. Teteknya bergelayut seperti pepaya besar yang lembek, ketiak lebar yang asam tak kepalang—di ketiak lebar dan asam itulah, Hantu Seriman kerap menyembunyikan anak-anak culikannya, membuat sang anak jatuh pingsan lantas menyembunyikannya pada tempat yang tak dapat dinalar orang tua. Tak hanya itu, Tuan, kata anak-anak itu lagi. Hantu Seriman berambut panjang awut-awutan dengan baju dari perca berwarna coklat, kain busuk itu cuma menutupi bawah pinggangnya. Oo, dapatkah Tuan melukiskan sosok Hantu Seriman itu dalam angan Tuan?

***

Banyak kisah tentang muasal si Hantu Seriman yang beredar dari mulut ke mulut di dusunku, Tuan. Ada yang mengatakan kalau sesungguhnya Hantu Seriman itu adalah seorang nenek sihir yang mengumpulkan air mata dan keberanian anak kecil untuk ramuan umur panjangnya. Ada juga yang menterakan kalau Hantu Seriman adalah hantu rimba yang kesepian dan menculik anak-anak untuk dijadikan teman bermain dalam semalam. Ada lagi yang menguraikan kalau Hantu Seriman adalah hantu jelmaan dari seorang anak yang mati setelah merajuk dari rumahnya. Dan masih banyak versi lainnya. Tapi, aku cuma percaya dengan satu kisah saja. Dapatlah Tuan tebak. Ya, aku hanya percaya dengan kisah yang dituturkan Kajut-ku, emak dari bapakku. Karena aku memang selalu memercayai semua kisah yang Kajut andai-andai-kan kepadaku. Akan aku terakan kisah Hantu Seriman versi Kajut-ku ini kepada Tuan. Oo, tapi aku ingatkan di muka, Tuan boleh percaya atau tidak.

Aku akan mulai kisah Hantu Seriman yang telah menjadi kisah temurun di dusunku itu. Simaklah dengan cermat, Tuan. Jangan sedikit pun terlewat. Bila Tuan ingin lebih nikmat, buatlah secangkir kopi hitam dan sepiring ubi rebus yang panas untuk menemani Tuan menyimak. 

Pada masanya, jauh bertahun-tahun silam, mungkin ratusan tahun yang lampau (Kajut-ku pun tak dapat memastikan bilangan angka tahunnya, Tuan), hidup seorang wanita bernama Serina. Ia berparas rupawan, wajah elok bulan purnama. Bulat penuh. Hidung bangir yang menggemaskan. Leher jenjang dengan kulit yang menggeliatkan rasa. Ditambah pula dengan bibir tipis bak pinang masak, merekah, menggoda untuk dilumat lekas-lekas. Oo, tentu Tuan dapat mereka-reka bagaimana rupanya. Namun sayang, Tuan, nasib Serina tak seelok wajahnya. Mungkin pula telah jadi suratan semesta, kalau orang jelita begitu banyak cobaan.

Terteralah dalam kisah Kajut-ku, Tuan. Serina belaki bujang dengan perangi tak sedap. Saban hari ada saja yang menyulut larva meledak-ledak di dada lakinya. Selalu sumpah-serapah termuntah dari lubang tenggorokannya. Telah langganan tangan lelaki itu mendarat di tubuh empuknya. Mencium, melumat dengan penuh berahi kulit halusnya. Ah, telaga telah kering di retina Serina, Tuan. Mungkin pula sumur air mata itu telah kerontang karena saban hari dikuras tak bosan-bosan. Cuping tetangga pun telah kapalan mendengar jerit dan tangis Serina tiap petang-pagi. Orang-orang pun mulai hapal dengan irama kemarahan lakinya. Meluap-luap dalam oktaf yang maha. Oo, pastilah Tuan kembali bertanya: Mengapa pula Serina tak melawan? Ah, lebih baik meminta talak. Tentu saran itu yang Tuan lontarkan.

Kajut-ku menjelaskan, adalah tabu seorang wanita di kampungku meminta talak pada lakinya —pada zaman itu. Bukankah wanita tempat melampiaskan segala hasrat bagi lelaki? Tak hanya urusan ranjang dan berahi. Segala hal. Boleh ditumpah-ruahkan di pundak bini. Oo, aku percaya, Tuan akan menentang lekas-lekas.

Pangkal masalah yang kerap meletuskan gunung amarah di dada lakinya, tak lain tak bukan adalah Seriman, anak semata wayang mereka. Bujang ingusan yang selalu menggumpalkan kesal dalam dada Serina. Oo, Tuan pasti berpendapat: Anak kecil sudah pasti di mana-mana nakal. Mungkin, pendapat Tuan ada benarnya. 

“Serina…! Ooii…! Kemane pule?” tergopoh-gopoh Serina muncul dari dapur. Peluh bercucur dari keningnya. Wajah rupawan itu memerah masak. Tungku api yang ada di dapur telah menjilati kulit mukanya. 

“Buat kopi. Jangan manis-manis,” dengusnya. 

Serina tak menjawab. Lagi, ia tergopoh menuju dapur. Mengambil cerek aluminium yang tergantung di dinding. Menuang segayung air dari dalam ember plastik yang ada di pojokan Limas, dan menghitamkan kembali pantat cerek itu di atas tungku dapur setinggi pinggangnya. Berderak-derak api memamah puntung kering dari kayu balam itu. 

“Seriman mane? Lah bale belum?” terdengar suara lakinya dari ruang tengah. 

“Belum,” sahut Serina sembari meniupniupkan suling api ke arah tungku. Api kembali membesar, melumat puntung dengan rakusnya. 

“Ai, magrib ini nih. Malam. Suroh bale!” perintah lakinya dengan nada suara meninggi. 

Serina menghela napas. Telah berbusa mulutnya memanggil Seriman yang buse di pekarang Limas Seman. Saban petang bujang ingusannya itu bermain Tuntut-tuntutan, Ayam Kokok, Lipan Hoo, Menggalo-menggaloan, Kocan, Patah Lelen, Teta-teta Tebu, Gasing, Beretes Siput, dan segala permainan yang tak habisnya kalau telah mereka suka-citakan dengan karib- karib sebayanya. 

Serina tak membantah, ditinggalkannya cerek yang mulai mendidih. Periuk yang menggelegak. Ia menggegas langkah, mincas menuju garang dapur, menyembulkan muka di kelendang Limas. Gelak tawa dan jerit bujang-gadis ingusan masih terdengar hingar di petang temaram itu. Pekarangan Limas Seman riuh. 

“Seriman! Seriman!” tak ada sahutan, mata belok Serina menggerayangi sosok-sosok yang terlihat gegap-gempita di muka lapang itu. Bujangnya terlihat tengah berkejar-kejaran dengan Kurek, anak bujangnya Rajen. 

“Man, Emak mengan mantau!” jerit Gedo. 

“Ngape Mak?” 

“Bale. Magrib!” 

“Sejoros lagi!” rengut Seriman dengan wajah merajuk. 

“Bale ji Ebak!”delik Serina. 

Bujang ingusan itu mengerucutkan mulut. Jelas sekali ia tak ingin pulang, permainan Beretes Siput yang mereka gelar tengah meriah-meriahnya. Sangat sayang untuk ditinggalkan. 

“Sejoros lagi Mak!” rengek Seriman. 

Serina mendengus. Mulutnya baru hendak terbuka lagi begitu lubang hidungnya mencium bau angus. Dadanya terkesiap. Beras yang ia tanak tercium anget. Lekas ia melompat ke dalam pintu dapur. 

Tangan Serina tergesa menyisihkan puntung-puntung api yang ada di bawah tungku. Dijangkaunya sereket dari kayu Ribu-ribu, mengaduk nasi yang ada di dalam periuk. Di bagian dasar periuk, nasi itu telah menjadi kerak berwarna kecoklatan. Air dalam cerek pun telah menggelegak, gemuruh. Serina menatak cangkir di atas piring kecil, mengambil beberapa sendok gula dan kopi. Dituangnya air panas itu ke dalam cangkir. Aroma kopi seketika menyeruak, mengelindap, meniduri lubang hidungnya. Tergopoh-gopoh ia membawa cangkir kopi itu ke ruang tengah. Lakinya menyulut kretek, bau tembakau mengisi reruang. 

“Kopinya, Bang.” 

“Lah bale Seriman?” mata lelaki itu mengerling tajam. 

“Belum, lah ku-pantau. Sejoros lagi katanya,” Serina hendak memutar badan. 

“Betine bange! Suro bale! Magrib!” bentak lelaki itu. Serina terkesiap. 

“Katanya sebentar lagi, Bang.” 


Brraaakkkk…! 

Serina terlonjak, tangan itu menggebrak meja. Cangkir yang berisi kopi panas itu terlocat beberapa senti dari atas meja, isinya tumpah, meleber di pinggir gelas dan jatuh ke dalam piring kecil yang jadi tatakannya. Beberapa terciprat di atas meja kayu. 

“Nak kene marah terus kau ini! Bange nian!” lelaki itu memaki, wajah Serina memias. Lututnya gemetar. Tanpa berkata-kata, Serina memutar badan, mengangkat sedikit besannya dan berjalan tergesa-gesa menuju dapur, menuruni tangga kayu gelek. Dua-tiga anak tangga sekaligus ia loncati. Repetan lakinya masih terdengar meracau di dalam rumah. 

“Seriman! Seriman!” teriaknya.

Dadanya bergemeretupan. Takut dan marah bergumul di atas ranjang dalam dadanya, bertaut, dan bertindih-tindih. Bergumul-gumul. Matanya memanas, menahan tangis, dan gelegakkan larva yang bergemuruh. 

“Seriman!” tak ada sahutan.

Beberapa bujang-gadis ingusan yang masih ada di pekarang Limas Seman mendadak diam. Mereka melarikan bola mata ke arah Emak Seriman yang berjalan mincas dengan kedua tangan mengangkat besan, betis bulir padi Serina sedikit terlihat. 

“Do, mane Seriman?” tanyanya kepada Gedo yang berdiri mematung, mata belok Serina tak menemukan sosok bujang ingusannya itu. 

“Tadi sembunyi. Kami maen Tuntut-tuntutan. Seriman belum dapat,” cerita Gedo. 

“Seriman!” jerit Serina. 

Ia memutar-mutar di pekarang Limas Seman, menyusuri kolong-kolong Limas yang ada di kiri-kanan jirannya Seman. Tak ada sahutan. 

“Seriman!” panggil Serina, mendadak wanita itu merasa cemas. Tak ada sahutan. Telah ia longok salangan puntung, ramean, reban ayam-kambing, pondok bambu, bahkan lesung. Tak ada sosok bujang ingusannya itu. Meriap-riap hati Serina. Mukanya benyai, muazin terdengar mengumandangkan azan dari langgar. Ia kebingungan beberapa saat, sebelum gegas berlari ke rumah Limasnya. 

“Bang! Bang!” jeritnya. Ia meloncati dua-tiga anak tangga kayu gelek dapur Limasnya. Napasnya megap-megap begitu kakinya menjejak di geladak dapur, “Bang!” 

“Ngape? Ataubanau magrib-magrib!” rutuk lakinya. 

“Seriman, Bang. Seriman tak ada. Lebar!” lapornya dengan napas tersengal. 

“Pedie?” wajah itu mengelam. Saga. 

“Lah kukateke, suroh bale. Magrib. Eee, betine bange!” 

Plaakkk…! Tangan kapalan lelaki itu mendarat di muka Serina. Wanita itu terjengkang. Matanya panas. Mendadak hatinya menciut seperti leliput. Ditahannya airmata yang hendak tumpah-ruah. 

“Tuntuti!” perintah lelaki itu. 

Tangannya berkacak pinggang. Serina beringsut. Tak membantah, ia memutar badan, menggegas langkah menuju tangga gelek Limasnya. Ia menjerit-jerit memanggil Seriman yang tak menyahut-nyahut. Karib-karib sebaya anaknya pun ikut membantunya. Nihil. Tak ada sosok bujang ingusannya itu. Cemas bukan kepalang Serina. Takut, marah, khawatir bergumul dalam dadanya. Ia takut pulang tanpa Seriman di sebelahnya. Ia marah karena bujang ingusannya itu selalu membuat masalah, tak pernah mau mendengar apa yang ia katakan. Ia khawatir karena anak semata wayangnya itu mendadak lenyap di petang temaram, saat cericit kelelawar terdengar hingar di atas bubungan Limas. 

Petang pekat itu, Tuan, kata Kajut-ku, Serina berputar-putar. Ia menggerayangi dusun Tanah Abang ngangah. Menyingkap beruang, mengintip sela-sela salangan puntung, membuka reban ayam-kambing, melongok lesung, mendongak pohon mangga dan jambu air. Tak ada batang hidung bujangnya itu. Dusun gempar. Seriman lenyap di petang yang berubah pekat. Orang sedusun tumpah-ruah mencarinya. Tetabu dipukul agar terdengar oleh Seriman kalau orang-orang mencarinya. Ebaknya mencak-mencak, memaki, dan menyalahkan emaknya, Serina. Bahkan lelaki itu berkali-kali menampar Serina, tak berhenti kalau tak dilerai oleh orang-orang dusun. 

Semalam suntuk orang-orang mencarinya. Bahkan Serina terlihat mencari ke arah kuburan angker di selatan dusun. Itulah kali terakhir orang-orang melihat Serina. Pasalnya, wanita itu pun mendadak lenyap saat mencari anaknya. Orang-orang tua mengatakan, ia tersesat di dalam area kuburan atau terjun ke dalam pusaran air Sungai Lematang yang terkenal ganas di pinggir kuburan angker itu. 

Sejak itulah, Tuan, bila petang berubah pekat dan cericit kelelawar terdengar hingar di bubungan Limas, orang-orang tua di dusunku gegas memanggil anak-anaknya yang masih bermain di pekarang Limas. Mereka percaya, Serina telah menjelma menjadi hantu, mencari anaknya Seriman yang hilang di petang temaram.

***

Bila pada suatu masa, Tuan sengaja atau pun tidak, tengah bertandang di dusunku, Tanah Abang di Kabupaten Muara Enim, janganlah Tuan lupa akan cerita ini. 

Gegaslah Tuan panggil anak-anak Tuan yang masih berada di pekarangan Limas, bila Tuan melihat petang berubah pekat dan cericit kelelawar terdengar hingar di bubungan Limas, itu pertanda Hantu Seriman tengah melayap, mencari anaknya yang pernah hilang di petang temaram. Ingatlah, Tuan: Jangan sampai terlambat atau Tuan akan menyesal sepanjang malam.
Terima kasih sudah berkunjung. Semoga bermanfaat. Baca juga cerpen Kebun Kelapa 

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia