Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Tampilkan postingan dengan label sastrawan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sastrawan. Tampilkan semua postingan
BIOGRAFI BUDI DARMA

BIOGRAFI BUDI DARMA


BUDI DARMA
image 
Budi Darma adalah anak ke empat dari enam bersaudara yang semuanya laki-laki. Dia lahir di rembang, Jawa tengah, 25 April 1937. Walaupun keluarganya hidup berpindah-pindah karena ayahnya Munandar Darmowidagdo berprofesi pegawai Kantor Pos. dan ibunya Sri Kunmaryati. Kedua orang tuanya berasal dari rembang. Mereka pernah tinggal di Bandung, Yogyakarta, dan Semarang.

Karena hidup berpindah pindah tersebut. Budi menyelesaikan sekolahnya di beberapa daerah. Sekolah dasar selesai tahun 1950 di Kudus, Jawa Tengah. Sekolah menengah pertama selesai tahun 1953 di Salatiga, Jawa Tengah. Dan SMA di selesaikan di Semarang tahun 1956. Melanjutkan studi ke Universitas Gadjah Mada, Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra.

Budi pernah berguru keluar negeri untuk memperdalam ilmu. Diantaranya Universitas Hawaii, Honululu , Amerika (1970-1971). Meraih MA dari Universitas Indiana, Bloomington, Amerika (1976), dan mendapat gelar Ph.D dari Universitas yang sama (1980). Sumbangsinya dalam memajukan dunia sastra sangatlah banyak. Dalam kerjasama dengan Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera), Budi membimbing para cerpenis dan esai muda dari Brunai Darussalam, Indonesia, dan Malaysia dalam sebuah Program Penulisan Mastera (1998)-1999).

Dia benar-benar menggeluti dunia menulis setelah berada di tahun 1968. Salah satu tulisannya. Antologi cerpen Kritikus Adinan. Delapan bukunya telah berhasil diterbitkan . Novel Olenka (1983), Raflus (1998), dan Nv. Talis (1996), dan kumpulan cerpen Orang-Orang Bloomington (1981), tiga kumpulan esai Solilokui (1983), dan beberapa Esai Sastra (1984), dan Harmonuium (1995). Novelnya yang pertama kali diterbitkan berjudul Olenka. Novel tersebut menarik perhatian pegiat sastra dan pembaca. Hingga memperoleh beberapa penghargaa. Raflus adalah novel keduanya, dia mulai menulis novel tersebut setelah mendapatkan undangan mengunjungi Inggris pada tahun 1985. Budi lebih cenderung mengamati masalah manusia sebagai gejala umum bukan serta merta sebagai gejala social.

Budi Darma menikah pada tanggal 14 Maret 1968 dengan Sitaresmi, S.H. Dari pernikahannya dikaruniai tiga orang anak, Diana, Guritno dan Hannato Widodo.

PENGHARGAAN

1.Dua kali berturut-turut, tahun 1987 dan 1988. Budi Darma mendapat penghargaan sebagai warga yang berprestasi dalam bidang sastra oleh Walikotamadya Surabaya, yang saat itu dipegang oleh dr. H. Purnomo Kasidi. Tahun 2004, dia mendapatkan penghargaan warga berprestasi seni oleh gubernur Jawa Timur

2. Novel Olenka (1983), mendapat Hadiah Pertama Sayembara Mengarang Roman DKJ 1980 dan sekaligus memperoleh Hadiah Sastra DKJ 1983. Tahun 1984 dia menerima Hadiah Sastra ASEAN

3. Penghargaan Sastra Dewan Kesenian Jakarta, SEA Write Award, dan Anugerah Seni Pemerintah RI. Di tengah macam-macam kesibukannya, ia tercatat sebagai Chief Editor Modern Literature of ASEAN terbitan COCI (Committee on Cultural Information) ASEAN, 2000. Buku ini mengenai sastra di tujuh negara ASEAN, yakni Brunei Darussalam, Filipina, Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, dan Vietnam.

Sumber: Wikipedia
Terima kasih sudah membac. Semoga menginspirasi. Baca juga biografi KH. Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus). 

BIOGRAFI AGUS NOOR

BIOGRAFI AGUS NOOR


Agus Noor
image Andreas
Agus Noor merupakan sastrawan yang lahir di Kecamatan Margasari, Tegal, Jawa Tengah 26 Juni 1968. Memiliki latar belakang pendidikan jurusan Teater, Institur Seni Indonesia (ISI), Yogyakarta. Walaupun pendidikannya yang beraliran seni tapi kemampuannya dalam menulis berhasil membawa namanya tenar. Agus biasa menghasilkan karya berwujud cerpen, prosa, dan naskah panggung dengan gaya khas mengkritik. Salah satu karyanya yang menarik perhatian stasiun televise yaitu Metro TV hingga menjadi salah satu program tayang bernama Sentilan Sentilun. Karyanya ini di pilih dari berupa monolog yang berjudul Matinya Sang Kritikus. Yang sebelumnya penah dipentaskan di sejumlah kota oleh Butet Kertaradiasa. 

Karyanya yang lain masih berbaur dengan kritikan. Agus menggarapnya dengan Ayu Utami, sebuah naskah Sidang Susila yang ditujukan pada Rancangan Undang Undang Anti-Pornografi. Karyanya selain prosa adalah kumpulan cerpen dimuat dalam Antologi Ambang (1992), Pagelarang (1993), Lukisan Matahari (1994). Antologinya yang dimuat bersama Lampor (cerpen pilihan Kompas, 1994), Jalan Asmaradana (Cerpen pilihan kompas, 2005) Kitab Horison Sastra Indonesia (Mjalah Horson dan The Ford Foundation 2002), dan dari Pemburu ke Tapuetik (Majalah Sastra Asia Tenggara dan Pusat Bahasa 2005).

Agus merasa kaku saat menulis puisi hingga akhirnya selama 20 tahun lewat kumpulan puisinya berhasil di terbitkan Ciuman yang Menyelamatkan dari Kesedihan. Dia menuturkan “Sejak awal, saya memang bermasalah dengan puisi. “ lanjutnya kembali “Tak banyak yang tahu, pada awal proses kreatif saya, saya menulis puisi. Bahkan beberapa puisi saya, sempat terbit di Koran, seperti Bernas, Pikiran Rakyat, Media Indonesia dan lainnya. Tapi kemudian saya merasa ada yang tidak nyaman dalam diri saya. Saya seperti tidak menemukan kegembiraan, ketika menulis puisi. Di hadapan puisi yang tampak agung dan sakral di mata saya. Saya seperti tidak mampu rileks. Saya berhadapan dengan puisi dengan penuh ketegangan. Saat itulah, Linus Suryadi AG (almarhum) menyarankan saya untuk menulis prosa, sebagai rekreasi berbahasa mencairkan ketegangan saya. Tapi, kemudian, saya malah keterusan. Ketika saya menulis puisi akhirnya hanya saya simpan dalam file, dan saya nikmati sendiri. Juga kadang, saya memperlakukannya sebagai upaya mengeksplorasi cara berhasa saya, yang kemudian saya munculkan dalam prosa saya.”
Terima kasih sudah membaca. Semoga menginspirasi. Baca juga bioragrafi Raditya Dika

BIOGRAFI A. A NAVIS

BIOGRAFI A. A NAVIS


A. A Navis
image 
Salah satu sastrawan Indonesia yang produktif semasa hidupnya. A.A Navis memiliki nama asli H. Ali Akbar Navis. Merupakan anak sulung dari lima bersaudara. Lahir di Padangpanjang, Sumatera Barat, 17 November 1924. Walaupun kebanyakan dari tanah kelahirannya memilih merantau, Navis tetap ingin berkarya di Padang. Dia bertahan di tanah kelahirannya, dengan pemikiran bahwa merantau hanyalah soal pindah tempat dan lingkungan, tetapi yang menentukan keberhasilan tetaplah kreativitas itu sendiri. Memutuskan terlibat dalam dunia menulis dimulai sejak kecil. Saat orang tuanya berlangganan majalah, dia suka membaca rubrik cerpen dan cerita bersambung setiap edisinya. Ayahnya paham kegemaran anaknya. Dia memberikan Navis uang untuk membeli bacaan yang disukainya. Karena perjalanan ke sekolah yang jauh, dia memanfaatkan waktu tersebut untuk membaca. 

Pendidikan Navis secara formal hanya sampai sekolah Indonesisch Nederiandsch School (INS) di daerah Kayutaman. Selebihnya dia selalu belajar sendiri, bukan hanya buku sastra namun buku pengetahuan lainnya tetap dipelajari. Hingga intelektualnya berkembang dengan baik. Pembawaan Navis yang suka mengkritik, dia menyoroti gaya bercerita cerpen asing, dan membandingkan cerpen Indonesia. Kelemahan yang ditemukan dalam cerpen Indonesia diperbaiki dengan mempelajari cerpen asing.

Navis mulai aktif menulis tahun 1950. Namun mulai disoroti media setelah namanya banyak mengisi media sebagai cerpenis. Seperti majalah Kisa, Mimbar Indonesia, Budaya, dan Roman. Navis juga menulis beberapa naskah sandiwara untuk stasiun RRI. Kepribadiannya jujur dan mengkritik secara terang-terangan dengan upaya membangkitkan kesadaran pribadi bangsa Indonesia. Terkhusus kritik sosialnya ditujukan koruptor yang terus menggrogoti negara.

Pernah Navis berencana menulis dengan tema peristiwa kemiliteran yang pernah dihadapi bangsa Indonesia dan tentang kebangkitan umat Islam. Tetapi, kenyataannya tidak dapat terealisasi akibat sulit menemukan penerbit yang mau menerbitkan cerita yang berisi kedua peristiwa tersebut. Jikapun dipaksa, akan jadi sia-sia. Navis merasa prihatin dengan nasib bangsa Indonesia saat itu jangankan saat itu, saat inipun masih sama prihatinnya sehingga tidak perlu heran mengapa banyak pengarang bangsa Indonesia memilih cerita “hiburan” agar dapat terbit.

Salah satu cerpennya yang tenar Robohnya Surau Kami, menjadi salah satu cerpen terbaik versi majalah Sastra Kisah tahun 1955. Kisah yang bercerita tentang orang yang alim tapi malah masuk neraka. Terdengar tidak masuk akal memang, tapi ini jadi pembelajaran berarti untuk keseimbangan mengejar dunia dan akhirat. Dalam cerita berkisah tentang seseorang yang alim melalaikan pekerjaan dunia sehingga tetap menjadi miskin. Roboh dalam cerita bukanlah keadaan fisik melainkan nilai kepribadian orang tersebut.

Ada banyak penulis Indonesia yang tidak menjadikan sumber penghasilan dari menulis, sekalipun ada hanya beberapa saja. keadaan ini disadari oleh Navis, hingga dia berpikir dia menjadi pengarang hanya ketika dia mengarang. Setelah itu, dia menjadi orang biasa lagi yang harus bekerja untuk mendapatkan nafkah.

Dibalik dunia menulis, Navis bekerja sebagai pemimpin redaksi di harian Semangat (harian bersenjata edisi Padang), Dewan Pengurus Badan Wakaf INS, dan pengurus Kelompok Cendekiawan Sumatera Barat (Padang Club). Terkadang masih menghadiri seminar tentang masalah social dan budaya.

Adapun wejangan dari Navis untuk orang-orang mengaku ingin jadi penulis. Dalam setiap Dalam setiap tulisan, menurutnya, permasalahan yang dijadikan topik pembahasan harus diketengahkan dengan bahasa menarik dan pemilihan kata selektif, sehingga pembaca tertarik untuk membacanya. Selain itu, persoalan yang tidak kalah pentingnya bagi seorang penulis adalah bahwa penulis dan pembaca memiliki pengetahuan yang tidak berbeda. Jadi pembaca atau calon pembaca yang menjadi sasaran penulis, bukan kelompok orang yang bodoh.

Hingga diusianya yang senja masih membuktikan produktivitasnya sebagai sastrawan. Dia merencanakan menulis cerpen dan ingin menggarap novel. Bukan hanya usianya yang sudah tua, diperparah dengan komplikasi jantung, asma dan diabetes. Dua hari sebelum meninggal, ia meminta pada putrinya agar mengirim surat kepada Kongres Budaya Padang bahwa dia tidak bisa ikut Kongres di Bali. Buku terakhirnya, berjudul Jodoh, diterbitkan oleh Grasindo, kerjasama dengan Yayasan Adikarya Ikapi dan The Ford Foundation, untuk ulang tahunnya yang telah genap berusia 75 tahun. Jodoh berisi sepuluh cerpen yang ditulisnya sendiri. Dimana Jodoh berhasil meraih penghargaan sebagai pemenang pertama sayembara Kincir Emas Radio Nedeland Wereldemroep tahun 1975, cerita 3 malam, Kisah Seorang Hero, Cina Buta, Prebutan, Kawin (memenangkan majalah Femina, 1979), Kisah Seorang Pengantin, Maria, Nora, dan Ibu. Navis wafat tepat tanggal 22 Maret 2003, Padang Sumatera Barat.

Karya

• Robohnya Surau Kami (1955)
• Bianglala: Kumpulan Cerita Pendek (1963)
• Hudjan Panas (1963)
• Kemarau (1967)
• Saraswati: Si Gadis dalam Sunyi: sebuah novel (1970)
• Dermaga dengan Empat Sekoci: Kumpulan Puisi (1975)
• Di Lintasan Mendung (1983)
• Dialektika Minangkabau (editor) (1983)
• Alam Terkembang Jadi Guru: Adat dan Kebudayaan Minangkabau (1984)
• Pasang Surut Pengusaha Pejuang: Otobiografi Hasjim Ning (1986)
• Hujan Panas dan Kabut Musim: Kumpulan Cerita Pendek (1990)
• Otobiografi A.A. Navis: Satiris dan Suara Kritis dari Daerah (1994)
• Surat dan Kenangan Haji (1994)
• Cerita Rakyat dari Sumatera Barat (1994)
• Filsafat dan Strategi Pendidikan M. Sjafei: Ruang Pendidik INS Kayutanam (1996)
• Cerita Rakyat dari Sumatera Barat 2 (1998)
• Jodoh: Kumpulan Cerpen (1999)
• Yang Berjalan Sepanjang Jalan (1999)
• Dermaga Lima Sekoci (2000)
• Cerita Rakyat dari Sumatera Barat 3 (2001)
• Kabut Negeri si Dali: Kumpulan Cerpen (2001)
• Bertanya Kerbau Pada Pedati: kumpulan cerpen (2002)
• Gerhana: novel (2004)
• Antologi Lengkap Cerpen A.A. Navis (2005)
Terima kasih sudah membaca. Semoga menginspirasi. Baca juga Biografi Habbiburrrahman El Shirazy

BIOGRAFI DANARTO

BIOGRAFI DANARTO

Danarto
image Firdaus
Danarto lahir di Sragen Jawa Tengah, 27 Juni 1940. Anak ke empat dari lima bersaudara. Ayah berprofesi mandor pabrik tebu di Sragen. Jakio Harjodinomo dan ibu Siti Aminah. Danarto tidak mengalami masa-masa sulit dalam menempuh pendidikan hingga jenjang perguruan tinggi karena di samping ayahnya yang bekerja sebagai mandor, ibunya membantu jualan batik. 

Salah satu sastrawan Indonesia yang suka memakai kemeja putih ini meninggalkan kota kelahirannya menuju Yogyakarta untuk menempuh pendidikan di ASRI (Akademi Seni Rupa Indonesia) dan fokus pada seni lukis. Tahun 1959-1964 dia bergabung dengan Sanggar Bambu Yogyakarta, sering kali ambil bagian dalam pegelaran drama yang diadakan Rendra dan Arifin C. Noor, walaupun hanya sebagai rias dekorasi.

1969, Danarto meninggalkan Yogyakarta dan pindah menuju Jakarta. Dia bergaul di kawasan Taman Ismail Marzuki. Sebelum akhirnya menjadi tenaga pengajar di IKJ (Institut Kesenian Jakarta) tahun 1973, Danarto bekerja sebagai tukang poster.

Tahun 1974 kumpulan cerpennya berjudul Godlob terbit, yang sebelumnya sudah pernah dimuat di majalah Horison tahun 1968. Menyusul antologi cerpen ke dua yang berjudul Adam Makrifat. Tahun 1982 Mendapat penghargaan sebagai cerpen terbaik dari Dewan Kesenian Jakarta. Menjelang beberapa bulan kemudian kembali mendpat posisi sebagai antologi cerpen terbaik dari Yayasan Buku Utama. Masih dari Yayasan Buku Utama mempercayakan sebagai antologi cerpen terbaik di tahun 1987, dengan judul cerpen Berhala. Selanjutnya, 1996 Danarto mencetak Gergasi, 1999 sebuah novel berjudul Asmaraloka, tahun 2000 Setangkai Melati di Sayap Jibril. Karya terbarunya terbit pertengahan tahun 2008 berjudul Kacapiring.

Tahun 1982 Danarto mendapat Ahmad Bakrie Award dalam bidang Kesusasteraan. Di tahun 1979 -1985 dia bekerja di majalah Zaman, kemudian tahun 1976 mengikuti International Writing Program di Universitas Iowa, Iowa City, Amerika Serikat. Selanjutnya, tahun 1983 menghadiri Festifal Penyair Internasional di Rotterdam Belanda. 1974, bergabungnya dengan Teater Sardono berhasil mengantarnya ke Eropa barat dan Asia.

Danarto dikenal sebagai sastrawan yang Realis Magis, tapi ada sedikit ketidak cocokan dengan mengatakan demikian karena perbedaan pada karyanya yang berjudul Adam Makfirat. Aliran Realis Magis tersebut diberikan oleh Akmal Nassery dari Tempo, dengan dasar penilaian dari cerpen Kacapiring. Namun berbeda dengan dengan Umar Kayam tidak menganggap Danarto sebagai sastrawan realis maupun surelis, melainkan berada diperantaranya. Entah sebagai surelis maupun realis. Karya-karya Danarto memiliki cirri khas yang berbau spiritualitas.

Kaya akan prestasi, dan pengalaman hidup baik dalam negeri dan luar negeri. Namun kisah asmaranya kandas dengan Siti Zainab Luxfiati, seorang psikolog, setelah merajut rumah tangga kurang lebih 15 tahun lamanya.

Karya

• Godlob, kumpulan cerpen, 1975
• Adam Ma'rifat, kumpulan cerpen, 1982?
• Orang Jawa Naik Haji, catatan perjalanan ibadah haji, 1983
• Berhala: Kumpulan Cerita Pendek, 1987
• Setangkai Melati di Sayap Jibril, kumpulan cerpen, 2000
• Kacapiring, 2008
Terima kasih sudah membaca. Semoga menginspirasi. Baca juga biografi Tere Liye

BIOGRAFI AHMAD NASERY BASRAL

BIOGRAFI AHMAD NASERY BASRAL

ahmad nasery basral
image 
Akmal Nasery Basral lahir dari pasangan Basral Sutan Ma’ruf dan Asmanjar yang merupakan asli dari Minangkabau. Tepat tanggal 28 April tahun 1968, di Jakarta, Akmal Nasery Basral lahir. Telah menuntaskan studi menengah atas di SMAN 8 Jakarta. Kemudian melanjutkan pendidikan di jurusan Sosiologi. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di Universitas Indonesia.

Akmal berprofesi sebagai sastrawan dan wartawan. Sebelum menjejakkan kaki ke dunia sastra Akmal adalah seorang wartawan, yang bekerja berbagai media cetak. Salah satunya majalah mingguan Tempo, Gatra, Gamma, Travelounge, Koran Tempo, dan beberapa lainnya. Tahun 2002 ia mendirikan dan memimpin majalah musik MTV Traz.  Namun, pada tahun 2010, ia ingin fokus pada dunia Sastra hingga meninggalkan dunia jurnalistik. Pada tahun 2005 Akmal menunjukkan kemampuannya sebagai sastrawan dengan menerbitkan sebuah novel yang berjudul Imperia. Kemampuannya dalam dunia menulis semakin berkembang dan banyak dikenal masyarakat. Bukan hanya sebatas terbit sebuah buku, namun berhasil terjun ke dunia perfileman dengan di sutradarai Hanung Bramantio. Novel tersebut adalah Sang pencerah yang bercerita tentang perjuangan selama hidup KH. Ahmad Dahlan yang merupakan pendiri organisasi massa Islam Muhammdiyah. Tidak hanya sebatas itu, kumpulan cerpen Ada Seseorang di Kepalaku yang Bukan Aku (2006) terdiri 13 cerpen, berhasil menyandang dalam long-list Khatulistiwa Literary Award 2007.

Tahun 2012, Akmal menuntaskan satu novel lagi, Anak Sejuta Bintang. Bertajuk masa kecil Aburizal Bakrie. Cerita lainnya, cerpen Legenda Bandar Angin yang mendapat predikat cerita terbaik versi harian Pikiran Rakyat.

Kehidupan rumah tangganya, telah menikah dengan Sylvia, dan memiliki tiga orang putri Jihan, Aurora, dan Ayla.

Karya

·         Imperia (2005)
·         Ada Seseorang di Kepalaku yang Bukan Aku (2006)
·         Legenda Bandar Angin (2006)
·         Nagabonar Jadi 2 (2007)
·         Parlemen Undercover: Kisah-kisah Sontoloyo Wakil Rakyat Negeri Indosiasat (2008)
·         Sang Pencerah (2010)
·         Presiden Prawiranegara (2011)
·         Batas (2011)
·         Anak Sejuta Bintang (2012)
·         Tadarus Cinta Buya Pujangga (2013)

Terima kasih sudah membaca. Semoga menginspirasi. Baca juga biografi Eka Kurniawan

BIOGRAFI AYU UTAMI

BIOGRAFI AYU UTAMI


Ayu Utami penulis Indonesia
Image Yvette
Ayu Utami salah satu penulis Indonesia memiliki nama asli Justine Ayu Utami, beragama khatolik. Lahir di Bogor, Jawa Barat, 21 November 1968 dari pasangan Johanes Hadi Sutaryo dan Bernadeta Suhartina. Walaupun dia lahir di Bogor tapi dibesarkan di Jakarta.

Sebelum tenar dengan tulisannya kategori fiksi. Dia adalah seorang jurnalis. Pernah berkarir di majalah Humor, Matra, Forum Keadilan, dan D&R. menempuh pendidikan di Universitas Indonesia Fakultas sastra, bidang studi Sastra Rusia. Ayu juga pernah sekolah Advance Journalism, Thomson Foundation, Cardiff, UK (1995) dan terakhir Asian Leadership Fellow Program Tokyo, Japan (1999).

Tidak banyak yang tahu Ayu menggemari cerita petualangan, seperti Lima Sekawan, Karl May, dan Tin Tin. Kebanggan akan tanah air ditunjukkan dengan rasa suka pada musik tradisional, selain itu dia juga menyukai musik klasik. Pernah terpilih sebagai gadis sampul di majalah Femina urutan kesepuluh. Walaupun demikian Ayu tidak menekuni dunia model.

Namanya mulai melambung di tanah air setelah menulis sebuah novel yang berjudul Saman. Berhasil memperoleh sebuah penghargaan dari sayembara penulis Roman Dewan Kesenian Jakarta 1998. Kemampuannya menulis fiksi menjadi aroma baru dalam dunia sastra. Novel berjudul Sama menembus 55 ribu eksemplar penjualan. Dan penghargaan lain yang diperolah, dia memperoleh Prince Claus Award 2000 dari Prince Claus Fund, bertepatan di Den Haaq, Belanda dengan tujuan memajukan kegiatan di bidang budaya dan pembangunan. Tepat diakhir tahun 2001, dia menghasilkan satu lagi novel yang berjudul Larung.

 Karier Dan Kegiatan

• Wartawan lepas Matra
• Wartawan Forum Keadilan
• Wartawan D&R
• Anggota Sidang Redaksi Kalam
• Kurator Teater Utan Kayu
• Pendiri dan Anggota Aliansi Jurnalis Independen
• Peneliti di Institut Studi Arus Informasi

Karya

• Novel Saman, KPG, Jakarta, 1998
• Novel Larung, KPG, Jakarta, 2001
• Kumpulan Esai "Si Parasit Lajang", GagasMedia, Jakarta, 2003
• Novel Bilangan Fu, KPG, Jakarta, 2008
• Novel Manjali Dan Cakrabirawa (Seri Bilangan Fu), KPG, Jakarta, 2010
• Novel Cerita Cinta Enrico, KPG, Jakarta, 2012
• Novel Soegija: 100% Indonesia, KPG, Jakarta, 2012
• Novel Lalita (Seri Bilangan Fu), KPG, Jakarta, 2012
• Novel Si Parasit Lajang: , KPG, Jakarta, 2013
• Novel Pengakuan: Eks Parasit Lajang, KPG, Jakarta, 2013
• Novel Maya

Penghargaan

• Pemenang Sayembara Penulisan Roman Terbaik Dewan Kesenian Jakarta tahun 1998 untuk novelnya Saman
• Prince Claus Award dari Prince Claus Fund, sebuah yayasan yang bermarkas di Den Haag, tahun 2000
• Penghargaan Khatulistiwa Literary Award tahun 2008 untuk novelnya Bilangan Fu

Terima kasih sudah membaca, semoga menginspirasi. Baca juga biografi J.K Rowling


BIOGRAFI A.S LAKSANA

BIOGRAFI A.S LAKSANA


A.S Laksana
image Muhammad Rasyid
A.S Laksana salah satu sastrawan Indonesia yang merupakan pengarang, kritikus sastra, dan sekaligus wartawan Indonesia. Detik, Detak dan Tabloid Investigasi merupakan tempatnya bernaung sebagai wartawan. Pernah belajar di IKIP Semarang jurusan Bahasa Indonesia, dan jurusan Ilmu Komunikasi FISIP di universitas Gadjah Mada. Dia dikenal aktif menulis cerpen di berbagai media cetak nasional Indonesia. selain itu dia telah mendirikan majalah Gorong-Grong Budaya.

Sastrawan yang lahir di Semarang, Jawa Tengah, 25 Desember 1968 ini. Telah mendirikan sekaligus mengajar di sekolah penulisan kreatif Jakarta School. Dan kini aktif di bidang penerbitan. Salah satu karyanya jenis fiksi, cerita pendek yang berjudul “Bidadari yang Mengembara” mendapat penghargaan sebagai buku sastra terbaik tahun 2004 versi Majalah Tempo.


KAYA FIKSI

Bidadari yang Mengembara, berisi kumpulan cerita pendek (KataKita, 2004)
Cinta Silver, Novel yang telah di adaptasi menjadi film (Gagas Media, 2005)
KARYA NON- FIKSI

Creative Writing: Tips dan Strategi Menulis Cerpen dan Novel (Mediakita, 2007)
Podium DeTik (Sipress, 1995)
Skandal Bank Bali (Detak, 1999)

Terima kasih sudah berkunjung. Semoga menginspirasi. Baca juga biografi Khalil Gibran


KUMPULAN PUISI MENARIK WIJI THUKUL

KUMPULAN PUISI MENARIK WIJI THUKUL


bunga dan tembok
Image
BUNGA DAN TEMBOK

Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak
Kau hendaki tumbuh
Engkau lebih suka membangun
Rumah dan merampas tanah
Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak
Kau kehendaki adanya
Engkau lebih suka membangun
Jalan raya dan pagar besi
Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang
Dirontokkan di bumi kami sendiri
Jika kami bunga
Engkau adalah tembok itu
Tapi di tubuh tembok itu
Telah kami sebar biji-biji
Suatu saat kami akan tumbuh bersama
Dengan keyakinan: engkau harus hancur!
Dalam keyakinan kami
Di manapun – tirani harus tumbang!

NYANYIAN AKAR RUMPUT

jalan raya dilebarkan
kami terusir
mendirikan kampung
digusur
kami pindah-pindah
menempel di tembok-tembok
dicabut
terbuang
kami rumput
butuh tanah
dengar!
Ayo gabung ke kami
Biar jadi mimpi buruk presiden!

PUISI UNTUK ADIK

Apakah nasib kita akan terus seperti
sepeda rongsokan karatan itu?
o… tidak, dik!
kita akan terus melawan
waktu yang bijak bestari
kan sudah mengajari kita
bagaimana menghadapi derita
kitalah yang akan memberi senyum
kepada masa depan
jangan menyerahkan diri kepada ketakutan
kita akan terus bergulat
apakah nasib kita akan terus seperti
sepeda rongsokan karatan itu?
o… tidak, dik!
kita harus membaca lagi
agar bisa menuliskan isi kepala
dan memahami dunia

TENTANG SEBUAH GERAKAN

Tadinya aku pingin bilang
aku butuh rumah
tapi lantas kuganti
dengan kalimat

SETIAP ORANG BUTUH TANAH
Ingat: Setiap orang

Aku berpikir
tentang sebuah gerakan
tapi mana mungkin
aku nuntut sendirian

Aku bukan orang suci
yang bisa hidup dari sekepal nasi
dan air sekendi
aku butuh celana dan baju
untuk menutup kemaluanku

Aku berpikir
tentang sebuah gerakan
tapi mana mungkin
kalau diam

DI BAWAH SELIMUT KEDAMAIAN PALSU

Apa gunanya ilmu
kalau hanya untuk mengibuli
apa guna baca buku
kalau mulut kau bungkam melulu
di mana-mana moncong senjata
berdiri gagah
kongkalikong
dengan kaum cukong
di desa-desa
rakyat dipaksa
menjual tanah
tapi, tapi, tapi, tapi
dengan harga murah
apa guna baca buku
kalau mulut kau bungkam melulu

Baca: Kumpulan Puisi Joko Pinurbo

SAJAK SUARA

Sesungguhnya suara itu tak bisa diredam
mulut bisa dibungkam
namun siapa mampu menghentikan nyanyian bimbang
dan pertanyaan-pertanyaan dari lidah jiwaku
suara-suara itu tak bisa dipenjarakan
di sana bersemayam kemerdekaan
apabila engkau memaksa diamaku
siapkan untukmu: pemberontakan!
sesungguhnya suara itu bukan perampok
yang ingin merayah hartamu
ia ingin bicara
mengapa kau kokang senjata
dan gemetar ketika suara-suara itu
menuntut keadilan?
sesungguhnya suara itu akan menjadi kata
ialah yang mengajari aku bertanya
dan pada akhirnya tidak bisa tidak
engkau harus menjawabnya
apabila engkau tetap bertahan
aku akan memburumu seperti kutukan

PERINGATAN

jika rakyat pergi
ketika penguasa pidato
kita harus hati-hati
barangkali mereka putus asa
kalau rakyat bersembunyi
dan berbisik-bisik
ketika membicarakan masalahnya sendiri
penguasa harus waspada dan belajar mendengar
bila rakyat berani mengeluh
itu artinya sudah gasat
dan bila omongan penguasa
tidak boleh dibantah
kebenaran pasti terancam
apabila usul ditolak tanpa ditimbang
suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
dituduh subversif dan mengganggu keamanan
maka hanya ada satu kata: lawan!

HARI ITU AKU AKAN BERSIUL-SIUL

Pada hari coblosan nanti
aku akan masuk ke dapur
akan kujumlah gelas dan sendokku
apakah jumlahnya bertambah
setelah pemilu bubar?
pemilu oo… pilu, pilu
bila hari coblosan tiba nanti
aku tak akan pergi ke mana-mana
aku ingin di rumah saja
mengisi jambangan
atau menanak nasi
pemilu oo… pilu, pilu
nanti akan kuceritakan kepadamu
apakah jadi penuh karung beras
minyak tanah
gula
atau bumbu masak
setelah suaramu dihitung
dan pesta demokrasi dinyatakan selesai
nanati akan kuceritakan kepadamu
pemilu oo… pilu, pilu
bila tiba harinya
hari coblosan
aku tak akan ikut berbondong-bondong
ke tempat pemungutan suara
aku tidak akan datang
aku tidak akan menyerahkan suaraku
aku tidak akan ikutan masuk
ke kotak suara itu
pemilu oo… pilu, pilu
aku akan bersiul-siul
memproklamasikan kemerdekaanku
aku akan mandi
dan bernyanyi sekeras-kerasnya
pemilu oo… pilu, pilu
hari itu aku akan mengibarkan hakku
tinggi, tinggi
akan kurayakan dengan nasi hangat
sambel bawang dan ikan asin
pemilu oo… pilu, pilu
sambel bawang dan ikan asin

(TANPA JUDUL)

Kuterima kabar dari kampung
rumahku kalian geledah
buku-bukuku kalian jarah
tapi aku ucapkan banyak terima kasih
karena kalian telah memperkenalkan
sendiri
pada anak-anakku
kalian telah mengajar anak-anakku
membentuk makna kata penindasan
sejak dini
ini tak diajarkan di sekolahan
tapi rezim sekarang ini memperkenalkan
kepada kita semua
setiap hari di mana-mana
sambil nenteng-nenteng senapan
kekejaman kalian
adalah bukti pelajaran
yang tidak pernah ditulis

Terima kasih sudah membaca. semoga memberi manfaat. Baca juga kumpulan puisi D. Zawawi Imron

PUISI POTRETKU OLEH WIDJATI

PUISI POTRETKU OLEH WIDJATI


potret lelaki sedih
image
Seperti itukah aku yang kaulukis
Dalam gelap warna yang samar
Wajahku terpampang.
Bergaris pada cahaya keremangan
Engkaupun mempermainkan warna
Sehingga aku jadi terasing.

Gelisahku tak pernah kautahu
Pada pertarungan seru seresah itu
Yang bergelut pada hidup, pada mimpi
Dan dalam tumpukan kabut, puisi-puisi.

Seperti itukah aku yang kaulukis
Dalam gelap warna yang samar
Wajahku terdampar.
Gelisahku tak pernah kautahu, absurd
Di sini jua segera kaupenggal kepalaku.

Terima kasih sudah berkunjung. Semoga menginspirasi. Baca juga kumpulan puisi D. Zawawi Imron

KUMPULAN PUISI SUTAN TAKDIR ALISJAHBANA

KUMPULAN PUISI SUTAN TAKDIR ALISJAHBANA


maut menjemput korban perang
image 
MENGHADAPI MAUT

Kulihat,
Kurasakan:
Peluru mendesing menembus kening,
Pedang bersinau memenggal leher,
dan
Tergulinglah jasad di tanah:
Darah mengalir merah panas.

Sekejap pendek:
Kaki melejang-lejang,
Urat berdenyut meregang-regang.
Sudah itu
Diam
Sepi
Mati,
Muka menyeringai pucat pasi.

Datang mendorong dari dalam:
Mana harapanku, mana cita-citaku?
Sebanyak itu lagi ‘kan kukerjakan!
Mana isteriku, mana anakku,
karib handai tolan?
Lenyapkah sekaliannya selama-lamanya?
Hampa!
Kelam!
Ngeri!

Tanganku mengapai-gapai:
orang karam mencari ranting.
Wahai nasib,
Sebanyak itu perjuangan!
Sebanyak itu pengikat!
Pemberat hati kepada dunia!

Sedangkan,
Dari semula telah kutimbang,
Kupikir, kurenung matang-matang:
Ditengah peperangan seluruh buana,
Hebat dahsyat tiada beragak:
Bom peluru mungkin menghancur remuk,
Perampok penyamun mungkin menggolok,
Disentri, kolera, lapar mungkin mencekik …

Dan diantara mati perlbagai mati,
Bukankah ini telah kupilih,
Dengan hati jaga, mata terbuka?
Wahai rahsia hidup!
Penuh pertentangan, penuh kesangsian!
Berat sungguh menjadi manusia!

KERABAT KITA

Bunda,
masih kudengar petuamu bergetar
waktu ku tertegun di ambang pintu,
melepaskan diriku dari pelukmu:
“Hati-hati di rantau orang, anakku sayang,
Berkata di bawah-bawah, mandi di hilir-hilir.
Dimana bumi dipijak disana langit dijunjung.”

Telah lama aku mengembara:
Jauh rantau kujelajah,
banyak selat dan sungai kuseberangi,
gunung dan gurun kuedari.
Baragam warna, bahasa dan budaya manusia,
teman aku bersantap, bercengkerma dan bercumbu,
lawan aku bertengkar dan berselisih.

Di runtuhan Harapa dan Pompeyi aku ziarah,
Dari menara Eifel dan Empire State Building
aku tafkur memandang semut manusia.
Di pembajaan Ruhr dan Nagasaki
aku bangga melihat kesanggupan ummat
berpikir, mengatur dan berbuat.
Kuhanyutkan diriku dalam lautan manusia
di Time Square di New York dan di Piccadily di
London.
Kuresapkan lagu kesepian pengendara unta
di gurun pasir dan batu Anatolia,
saga Islandia yang megah di padang salju yang putih.

Bunda,
Pulang dari rantau yang jauh
berita girang kubawa kepadamu,
resap renungan petua keramat,
sendu engkau bisikkan di ambang pintu:
Dimana-mana aku menjejakkan kaki,
aku berjejak di bumi yang satu.
Dan langit yang kujunjung
dimana-mana langit kita yang esa

Bunda,
Alangkah luasnya dan dahsyatnya kerabat kita,
kaya budi kaya hati,
pusparagam ciptaan dan dambaan.

SEINDAH INI

Tuhan,
Terdengarkah kepadamu himbau burung di hutan
sunyi meratapi siang di senja hari?
Remuk hancur rasa diri memandang sinar lenyap
menjauh di balik gunung.
Perlahan-lahan turun malam menutupi segala pan-
dangan.
Menangis, menangislah hati!
Wahai hati, alangkah sedap nikmatnya engkau pandai
menangis!
Apa guna kutahan, apa guna kuhalangi?

Aku terima kasih kepadamu, Tuhan, memberiku hati
tulus-penyerah seindah ini:
Sedih pedih menangis, waktu menangis!
Girang gembira tertawa, waktu tertawa!
Marak mesra bercinta, waktu bercinta!
Berkobar bernyala berjuang, waktu berjuang!

AWAN BERKUAK

Duduk beta merenung awan,
Bercerai menipis di langit biru.
Sayu sendu alun di kalbu,
Menurut mega berkuak menjauh.

Wahai Chalik, mengapa kejam
Seganas ini hidup di dunia?
Mengapa gerang dicerai pisah
Segala yang asik bercinta?

Menangislah jiwa tersedu-sedu
Mengalirlah air mata berduyun-duyun.

Dalam jiwa sedang meratap,
Dalam sukma pilu mengeluh,
Menyerbu sinar ke dalam kabut,
Menjelma kembali awan menjauh.

Beta melihat kilau bergurau,
Beta menyambut suria bersinar.
Segar gembira sukma menggetar
Menunda melanda pergi berjuang

KALAH DAN MENANG

Tidak, bagiku tidak ada kalah dan menang!
Sebab kuputuskan, bahwa kemenangan sudah
pasti untukku saja. Kalah tinggal pada mereka yang lain:
Yang mengeluh bila terjatuh,
Yang menangis bila teriris,
Yang berjalan berputar-putar dalam belantara

Di padang lantang yang kutempuh ini,
aku tak mungkin dikalahkan:
Sebab disini jatuh sama artinya dengan bertambah
kukuh berdiri.
Tiap-tiap pukulan yang dipukulkan berbalik berlipat
ganda kepada sipemukul.
Malahan algojoku sekalipun yang akan menceraikan
kepalaku dari badanku, akan terpancung sendiri seumur
hidupnya:
Melihat mataku tenang menutup dan bibirku berbunga
senyum.

Baca: kumpulan puisi Rivai Apin

KEMBALI

Ketika beta terjaga di dini hari
Melihat alam sepermai ini,
Terasalah beta darah baru
Gembira berdebur di dalam kalbu.

Girang unggas bersuka ria,
Gemilang sekar bermegah warna.
Mega muda bermain di awang,
Kemilau embun menyambut terang.

Hidup, hiduplah jiwa,
Turut gembira turut mencipta
Dalam alam indah jelita

Jalan waktu terhambat tiada,
Siang terkembang malamlah tiba:
Percuma dahlia tiada berbunga.

BUAH KARET

Sekali aku duduk dibawah pohon karet dan terkejut
mendengar letusan nyaring diatas kepalaku: biji matang
menghambur dari batangnya.
Ya, aku tahu, dimana-mana tumbuh menghendaki
bebas dari ikatan!

Terdengarkah itu olehmu, wahai angkatan baru?
Putuskan, hancurkan segala yang mengikat!
Rebut gelanggang lapang disinar terang!
Tolak segala lindungan!
Engkau raja zamanmu!

Biar mengeluh, biar merintih segala nenek moyang!
Lagi pohon yang bisu insaf, bahwa biji yang sekian
lama dikandungnya itu akan mati busuk dibawah
lindungan.
Bahwa bayangan rindang yang meneduhi itu meng-
halangi tumbuh.

BERTEMU

Aku berdiri di tepi makam
Suria pagi menyinari tanah,
Merah muda terpandang di mega
Jiwaku mesra tunduk ke bawah
Dalam hasrat bertemu muka,
Melimpah mengalir kandungan rasa.

Dalam kami berhadap-hadapan
Menembus tanah yang tebal,
Kuangkat muka melihat sekitar:
Kuburan berjajar beratus-ratus,
Tanah memerah, rumput merimbun,
Pualam berjanji, kayu berlumut.

Sebagai kilat ‘nyinari di kalbu:
Sebanyak itu curahan duka,
Sesering itu pilu menyayat,
Air mata cucur ke bumi.
Wahai adik, berbaju putih
Dalam tanah bukan sendiri!

Dan meniaraplah jiwaku papa
Di kaki Chalik yang esa:
Di depanMu dukaku duka dunia,
Sedih kalbuku sedih semesta.
Beta hanya duli di udara
Hanyut mengikut dalam pawana.
Sejuk embun turun ke jiwa
Dan di mata menerang Sinar.

SELALU HIDUP

Dan ketika aku melihat dari kebunku kebawah
ke sawah tunggul jerami di tanah yang rekah,
dan dari sana memandang ke bukit kering merana,
terus ke hutan hijau dibaliknya,
sampai ke gunung yang permai bersandar di langit biru,
maka masuklah bisikan kedalam hatiku:
Hidup ialah maju bergerak,
selalu, selalu maju bergerak,
gembira berjuang dari tingkat yang satu ke tingkat
yang lain.

Topan, datanglah engkau menyerang!
Malang, datanglah engkau menghalang!
Kecewa, engkaupun boleh datang mendera!
Badanku boleh terhempas ke bumi!
Hatiku boleh hancur terbentur!
Wahai, teman, besi baja yang keras
hanya dapat ditempa dalam api yang panas.
Dan Tuhan,
berikan aku api senyala-nyalanya!

Tiap-tiap beta keluar dari nyalamu,
terlebur dalam bakaran apimu,
nampak kepada beta:
Dunia bertambah jelita!
Diriku bertambah terkurnia!
Dan engkau, Tuhan, bertambah mulia!

AIR MATA

Ngalir, ‘ngalirlah air mata,
Aku tiada akan ‘nahanmu.
Apa gunanya aku halangi,
Engkau ‘ngalirkan penuh kalbuku.

Seperti air jernih memancar
Dari celah gunung rimbun,
Seperti hujan sejuk gugur
Dari mega berat mengandung

Ngalirlah, wahai air mata
Engkau pun mendapat hakmu
Dari Chalik yang satu.

Ngalir, ‘ngalirlah air mata,
Aku hendak merasa nikmat
Panasmu ‘ngalir pada pipiku.

HIDUP DI DUNIA HANYA SEKALI

Mengapa bermenung mengapa bermurung?
Mengapa sangsi mengapa menanti?
Menarik menunda badai dahsyat
seluruh buana tempat ngembara
Ria gembira mengejar berlari
anak air di gunung tinggi
memburu ke laut sejauh dapat
Lihat api merah bersorak
naik membubung girang marak
mengutus asap ke langit tinggi!

Mengapa bermenung mengapa bermurung?
Mengapa sangsi mengapa menanti?
Hidup di dunia hanya sekali
Jangkaukan tangan sampai ke langit
Masuk menyelam ke lubuk samudra
Oyak gunung sampai bergerak
Bunyikan tagar berpancar sinar
Empang sungai membanjiri bumi
Aduk laut bergelombang gunung
Gegarkan jagat sampai berguncang
Jangan tanggung jangan kepalang

Lenyaplah segala mata yang layu
Bersinarlah segala wajah yang pucat
Gemuruhlah memukul jantung yang lesu
Gelisahlah bergerak tangan
Terus berusaha selalu bekerja

Punah
Punahlah engkau segala yang lesu
Aku hendak melihat
api hidup dahsyat bernyala,
menyadar membakar segala jiwa.
Aku hendak mendengar
jerit perjuangan garang menyerang
langit terbentang hendak diserang.
Aku hendak mengalami
bumi berguncang orang berperang
Urat seregang mata menantang

MENUJU KE LAUT

Angkatan Baru
Kami telah meninggalkan engkau,
tasik yang tenang, tiada beriak,
diteduhi gunung yang rimbun
dari angin dan topan.
Sebab sekali kami terbangun
dari mimpi yang nikmat:

“Ombak ria berkejar-kejaran
di gelanggang biru bertepi langit.
Pasir rata berulang dikecup,
tebing curam ditantang diserang,
dalam bergurau bersama angin,
dalam berlomba bersama mega.”

Sejak itu jiwa gelisah,
Selalu berjuang, tiada reda,
Ketenangan lama rasa beku,
gunung pelindung rasa pengalang.
Berontak hati hendak bebas,
menyerang segala apa mengadang.

Gemuruh berderau kami jatuh,
terhempas berderai mutiara bercahaya,
Gegap gempita suara mengerang,
dahsyat bahna suara menang.
Keluh dan gelak silih berganti
pekik dan tempik sambut menyambut.

Tetapi betapa sukarnya jalan,
badan terhempas, kepala tertumbuk,
hati hancur, pikiran kusut,
namun kembali tiadalah ingin,
ketenangan lama tiada diratap.

Kami telah meninggalkan engkau,
tasik yang tenang, tiada beriak,
diteduhi gunung yang rimbun
dari angin dan topan.
Sebab sekali kami terbangun
dari mimpi yang nikmat

Terima aksih sudah membaca. Semoga menginspirasi. Baca juga kumpulan puisi Afrizal Malna

KUMPULAN PUISI SOBRON AIDIT

KUMPULAN PUISI SOBRON AIDIT


kakek pulang dari bajak sawah
image rokok indonesia
BAJAK UNTUK PETANI

Apakah yang lebih indah di dunia ini
Selain mempertahankan tanah kepunyaan sendiri?
Kalian berjuang untuk makan
Di kampung halaman
Kampung yang terasing oleh tangan-tangan laknat
Tapi betapa di hati melekat erat.
Kalian gemetar dan lapar
Di bumi yang subur, di tengah yang makmur
Betapa tinggi perbedaan kehidupan
Di tanah air tercinta yang diagungkan.
Bintang-bintang di pundak semakin meninggi
Di tengah banjir airmata dan darah
Antara dua pahlawan:
Satu pahlawan pengkhianat
Satu pahlawan rakyat.
Dan kami barisan penyair
Tegak siap pada yang benar
Di barisan yang terhina dan lapar.

AKU

Aku adalah sisa fosil dari generasi yang hilang
tapi nafsu hidupku sulit layu - terus berkembang
tak mau hidup seratus tahun lagi
terlalu banyak menyusahkan orang.

Aku adalah angin - udara
ada di mana-mana dan mampu ke mana-mana
aku adalah titisan kapas - ringan melepas
aku adalah rotan - liat tak patah - tapi bisa putus.

Sudah terlalu banyak aku kehilangan
keluarga dan nyawa-nyawa teman-teman
seperti kata temanku - seorang penyair
kuburan kami ada di mana-mana
ada di pelosok dan pojok-pojok dunia
kami dulu adalah anak-anak Nusantara
tapi terusir - terpinggir - tak bertanah-air
rasa rindu-kangen - sudah tak tajam lagi
tanah-air kami adalah kebebasan itu sendiri
garam siksa dunia adalah makanan kami
ada sumber utamanya yang bikin kami jadi begini
ratusan kami masih berkehidupan
tapi tetap tak masuk hitungan
kami adalah sisa fosil dari generasi yang hilang
tapi semangat hidup kami - tumbuh dan terus berkembang
di mana ada tanah dan bibit bisa tumbuh
turunan kami terus bersemi - bagaikan padang-ilalang,-

INGATAN

Siapakah itu yang sedang duduk di pojok sana?
apakah Arnash atau Anna Farhana
atau Marla dan siapa tahu Savitri?!
yang pasti bukan Jajang!
Gila! Eropa yang begini lautan cinta
lautan dan samudra kencan
ingatnya selalu melayu
si bule sering-sering bau susu dan bau keju
si melayu sedap bau tomat dan bau timun
penaka yang sudah dibelah
jernih harum - putih merah dan merkah,-

Baca: Kumpulan Puisi Afrizal Malna

BUATAN ITA SOBRON

Walau jauh di negeri China
terbanglah ke sana - datangilah dia
ziarah - pertanda kita sayang dan cinta
bawalah rangkaian melati - dimana ketika dia masih hidupnya
sangat suka - mama yang telah memberikan
teladan luhur dan mulia.

Katakan padanya - semua cucunya dalam gembira
tumbuh - sehat - lovely dan sejahtera
dan kita semua ingat selalu akan dia
yang telah dia berikan
yang termahal dalam kehidupam
pergilah - datangilah dia
walau sejauh di negeri China
tahun ini juga - tahun ini juga,-

ORANG KITA

Orang Indonesia paling suka ketawa
dalam penderitaan - kemiskinan - kesusahan
perih - sedih - dan sakit hati
sekali-sekali tetap terdengar adanya gurauan
menghantar sesama yang sudah duluan
buat dimakamkan
ada saja bahan tertawaan
dengan matanya yang memancar
berat mengandung beribu pertanyaan
sinar matanya bergelayutan pada diri
orang yang sedang dipandang
entah itu jawaban entah itu teka-teki
mungkin bukan pula dosa
mungkin ketika itu bukan pula pahala,-

Terima kasih sudah membaca. Semoga mengispirasi. Baca juga kumpulan puisi Rivail Apin

CERPEN PEREMPUAN YANG TERGILA-GILA PADA MESIN CUCINYA OLEH MASHDAR ZAINAL

CERPEN PEREMPUAN YANG TERGILA-GILA PADA MESIN CUCINYA OLEH MASHDAR ZAINAL


Ibu yang tergila-gila dengan mesin cucinya
image Lesley
“Akan kutunjukkan sesuatu,” katanya sambil menyeret tanganku menuju ruang dapur.

“Lihatlah!” serunya riang.

Di depan kamar mandi, di sebelah pintu, aku melihat benda terkutuk itu. Sebuah mesin cuci dengan penutup di bagian atas. Persis ibu-ibu gemuk yang mendekam karena kekenyangan.

Aku pun bertanya. “Mesin cuci? Kamu beli mesin cuci? Untuk apa?”

“Mesin cuci tentu saja untuk mencuci, kamu pikir untuk apa? Untuk menanak nasi?” dengan sigap ia menjawab, sambil mengelus-elus mesin cuci itu seperti mengelus-elus binatang piaraan yang setia.

“Tapi untuk apa kau beli mesin cuci? Di rumah ini cuma ada kamu dan aku, berdua saja, pakaian kotor bisa dikucek sambil mandi, tak harus beli mesin cuci.”

“Tapi aku sudah terlanjur membelinya.”

“Apa benda itu tak bisa dikembalikan.”

“Tulisan di toko tadi bilang barang yang sudah dibeli tak bisa dikembalikan.”

“Seharusnya kamu bilang dulu padaku.”

“Semalam aku sudah bilang, tapi sepertinya kamu sudah tidur. Ya, mungkin kamu sudah tidur, jadi tak mendengar apa yang kukatakan.”

“Pandai sekali kamu berdalih. Terserah kamu sajalah. Lagi pula sudah terlanjur dibeli.”

“Sebab itu, jangan marah-marah. Aku yakin mesin ini akan berguna. Aku butuh mesin ini, ada banyak barang yang harus kucuci.”

“Contoh?”

“Seprai, sarung bantal, taplak meja, boneka, kain lap, karpet, pengesat kaki, banyak.”

“Apa kamu juga berniat mencuci sofa di mesin cuci?”

“Kalau bisa mengapa tidak,” balasnya. Ia terkikik seperti menertawakan dirinya sendiri. Dan itu membuatku berpikir bahwa mungkin perempuan itu, istriku, ia sudah mulai gila.

Malam harinya, kami tidur bersisian di ranjang, setelah lampu diredupkan perempuan itu menggumam, “senang sekali bisa memiliki mesin cuci, semuanya bisa dicuci, semuanya bisa bersih, semuanya akan bersih. Kalau bersih kan enak dilihat mata, tak meyebabkan penyakit. Oh mesin cuci, beruntung sekali aku…”


Aku memejamkan mata meski belum mengantuk, perempuan itu menyikut lenganku sambil menggumam lagi, “Tuh kan, sudah merem lagi.” Aku tak menjawab. Aku hanya merasa cemas perempuan itu mulai gila. Benar-benar gila. Gila dalam istilah yang sesungguhnya. Pagi hari, ketika tiba waktu sarapan. Di depan meja makan, sambil menyiapkan menu-menu, perempuan itu tersenyum lebar sambil berkata,

“Bagaimana nasinya, harum kan?”

Aku tak menjawab, karena dengan tangkas ia menjawab pertanyaannya sendiri, “Tentu saja harum. Aku tadi sudah mencucinya bersih, dengan mesin cuci. Buah-buahan, sayur, semua ini kucuci dengan mesin cuci, tinggal pencet tombol on, kasih sabun aroma jeruk, dan semuanya jadi cling, jadi bersih, jadi wangi.”

Aku mengerutkan alis, menatap perempuan itu dengan cemas. Aku yakin ia sedang bercanda.

“Jangan menatapku begitu, kalau kau pikir aku bercanda anggap saja aku memang bercanda. Sudah, habiskan saja sarapannya dan berangkat kerja… aku juga akan bekerja di rumah, mencuci apa-apa yang harus kucuci, dan itu banyak sekali…”

Sore hari, sepulang kerja, seperti biasa, ketika sampai di ruang tamu aku selalu mengucapkan, “aku pulang,” tapi kali ini tak ada sahutan. Biasanya, begitu mendengar pintu berderit perempuan itu langsung menyambut dan membantuku membawakan tas atau melepaskan dasi. Tapi, semenjak ia membeli mesin cuci sialan itu, begitu aku pulang, aku selalu menemukan ia sedang sibuk di depan mesin cucinya.

“Aku pulaaang,” seruku lagi setengah berteriak.

“Oh, kamu sudah pulang,” katanya, “suara mesin cucinya memang sedikit berisik, jadi aku tak bisa mendengarmu.”

“Apa sepanjang hari kamu hanya berdiri di depan mesin cuci itu?” aku menyindir.

“Mencuci sesuatu itu lebih berbudi ketimbang menonton gosip murahan di tivi.”

Entah bagaimana ceritanya, selalu ada saja barang-barang yang ia cuci, seperti yang ia katakan, seprai, sarung bantal, taplak meja, boneka, kain lap, karpet, pengesat kaki, dan apa saja. bahkan, mungkin sesuatu yang sudah ia cuci hari lalu akan ia cuci lagi esok harinya. Sejak ia memiliki mesin cuci itu ia memang berubah jadi sedikit aneh. Tepatnya ia mengalami konversi dari waras menjadi setengah waras. Dan sebentar lagi, dari setengah waras menjadi sedikit kurang waras. Dan seterusnya.

Suatu siang, ketika aku pulang agak cepat, lagi-lagi aku menemukan ia terduduk di sisi mensin cuci tercintanya. Ia sedang tergugu di depan pecahan mangkuk, gelas, dan piring, sambil membalut jarinya yang mengeluarkan darah.

“Kenapa dengan jarimu?” aku bergegas menghampirinya karena cemas.

“Tergores pecahan piring,” ujarnya.

“Ya Tuhan, apa barusan terjadi gempa, sampai-sampai piring, gelas, mangkuk, semua hancur berantakan begitu,” aku menatap barang pecah belah itu dengan tatapan bingung.

Ia menatapku minta maaf, “Ini salahku, aku hanya mencoba mencuci perabotan itu menggunakan mesin cuci, tapi malah hancur.” Aku mendengus geram, “Ya Tuhan, apa kepalamu habis terbentur tembok atau apa? Ini mesin cuci untuk pakaian, untuk kain-kain, bukan untuk untuk perkakas seperti itu. Kau benar-benar sudah gila, ya?”

Perempuan itu terdiam, menatapku sekilas lalu menunduk, membuatku sedikit menyesal karena sudah mengumpatnya. Aku mengambil obat luka antiseptic dan membantu merapikan balutan lukanya lantas menyingkirkan barang pecah belah itu dari hadapannya.

“Aku mulai berpikir, lama kelamaan, kau akan benar-benar mencuci sofa itu di mesin cuci. Lalu mencuci tivi, laptop, handphone, kipas angin, dan entah apa lagi.”

“Sofa mana muat, kipas angin juga tidak muat,” ia menjawab dengan santai,

“tivi, laptop, handphone mungkin bisa tapi aku takkan melakukannya.”

“Oh. Bagus kalau begitu,” sambarku.

Malam harinya, ketika kami berangkat tidur seperti biasanya, ketika lampu sudah diredupkan, perempuan itu menggumam lagi, “aku memikirkan kira-kira benda apa, ya, yang masih kotor dan belum dicuci. Aku benar-benar ingin mencuci sesuatu.”

Aku sebenarnya sudah terpejam, tapi karena tidak tahan mendengar ocehannya, aku pun menjawab, “otakmu itu yang perlu dicuci, pikiranmu itu kotor, gara-gara mesin cuci itu.”

Ia menyikut lenganku cukup keras lalu berpaling. “Kau tidak pernah menghargai apa-apa yang sudah kulakukan untuk rumah ini,” bisiknya. Aku merasa tak harus menanggapinya. Malam itu kami tidur bertatapan punggung.

Esok paginya, istriku bangun lebih awal seperti biasanya. Aku bangun menyusul. Tapi, begitu menghampiri meja makan, aku tak melihat apapun. Aku pun menyusup ke ruang dapur, dan nyaris terjengkang karena kaget. Di sebelah pintu kamar mandi, aku melihat perempuan itu sedang berendam dalam cairan penuh busa di lubang mesin cuci yang tutupnya masih terbuka karena tertahan oleh kepalanya.

Sambil tersenyum menatapku, ia bilang, “Syukur, akhirnya kau bangun juga. Apa kau bisa membantuku memencet tombol on?”

Terima kasih sudah membaca. Semoga bermanfaat. Baca juga cerpen Terbang

CERPEN RELIKUI IBU OLEH MASHDAR ZAINAL

CERPEN RELIKUI IBU OLEH MASHDAR ZAINAL

rambut ibu
image
Cahaya berwarna kuning kunyit masih melimpahi kamar ibu, ketika kami mendapati si bungsu duduk bersimpuh meluberkan tangis. Tangan si bungsu menggenggam gulungan rambut tipis yang sebagian besar telah memutih. Rambut ibu. Sementara di hadapannya dompet kain kesayangan ibu tergeletak di lantai menumpahkan isinya: sejumlah uang receh dan remah-remah potongan kuku. Kuku ibu. Genap empat puluh hari ibu pergi meninggalkan kami semua. Pada hari itu kami menggelar upacara selamatan dan kirim doa buat almarhumah. Kepergian ibu adalah luka terdalam yang sebelumnya tak pernah bisa kami bayangkan bagaimana cara menghadapinya. Empat puluh hari sudah kami menata hati, mencoba mengikhlaskan kepergian ibu. Namun, tangisan si bungsu petang itu bagai sebilah pisau yang menyudet luka kami. Tak sedikit pun memberi kesedihan kami tempat untuk bersembunyi.

***

Saat jenazah seseorang diletakkan di relung kubur, apalagi yang bisa kau dapat darinya selain sebuah kenangan yang kadangkala mekar menjadi sebuah melankolia? Barangkali seseorang meninggalkan wasiat atau benda-benda berharga untuk orang-orang yang dikasihinya, sebelum berhijrah ke alam baka. Itu adalah bentuk turut campurnya atas kehidupan yang ia tinggalkan. Namun tetap saja jasadnya tak boleh kembali. Tat kala ruh seseorang lepas dari tangkai kehidupan, maka segenap jasadnya harus dilenyapkan atau sekurangnya dijauhkan dari jasad orang-orang hidup. Dengan cara ditimbun tanah, dibakar, atau diawetkan. Haram bagi orang hidup menyimpan jasad orang mati. Meski seumpama itu hanya sehelai bulu dari si mati.

Namun ibu diam-diam meninggalkan tilas jasadnya untuk kami. Berupa rambut dan remah-remah potongan kuku. Ketika kami menatap helai-helai rambut dan remah-remah potongan kuku itu, kami tak memiliki kesempatan untuk menginsyafi diri, bahwa ibu kami tercinta telah benar-benar pergi. Menjadi milik bumi. Tidak kembali.

Semasa hidup, ibu memiliki kebiasaan menyimpan rambutnya sendiri yang rontok waktu dipangkas atau disisir. Juga remah-remah kuku usai dipotong. Kata ibu, “Rambut dan kuku ini adalah jasadku yang pergi mendahuluiku. Sebagaimana jasadku kelak berakhir, rambut-rambut dan potongan-potongan kuku ini akan kutanam di dalam tanah.”

Jadi, pada suatu waktu selepas helai-helai rambut yang rontok dan remah-remah kuku itu terkumpul dalam jumlah tertentu, ibu mulai menggali liang lahat kecil di pekarangan belakang untuk mengubur rambut dan kuku-kukunya yang telah pergi mendahului. Dengan sejumput doa, ia mengantar sebagian kecil jasadnya menuju alam abadi. Dan ia mengajarkan itu pada kami, untuk mengubur tilas jasad yang mendahului kami.

***

Selepas kepergian bapak, waktu-waktu yang lewat bagai lekas-lekas melipat tubuh ibu. Menjadikan tubuh tangguh itu menyusut dan keriput. Bagai buah ranum yang mengering dan kisut dalam lemari pendingin. Sementara kami, anak-anak ibu, terasa semakin membengkak, beranak pinak dan melesat pergi menjauhi tubuh kisut renta itu. Pada suatu masa yang telah lewat, ibu pernah berkias perihal bunga dandleon. Setangkai induk semang bunga, yang ketika tiba waktunya harus rela melepaskan biji-bijinya terbang menjauh untuk menumbuhkan bunga-bunga yang baru. Ibulah induk semang bunga itu, dan kamilah biji-biji yang pergi untuk melahirkan bunga-bunga baru. Di tanah yang juga baru. Ibu adalah induk semang yang mencokolkan tujuh biji bunga yang subur makmur. Kami, keenam anak ibu, telah lepas dan menemukan tanah baru untuk menyemaikan bunga-bunga baru. Bersisa si bungsu, bocah perempuan dua puluh lima tahun yang awet melekat pada induk semang dan urung menemukan tanahnya.

Beberapa tahun terakhir, ketika kami menjenguk ibu, terutama saat Lebaran—saat semua anak-anak ibu berkumpul, si bungsu banyak bercerita. Katanya, ibu masihlah utuh sebagaimana ibu kami yang dulu. Hanya mungkin jasadnya yang tampak mengecil terlipat waktu. Ibu masih saja membersihkan rumah di pagi hari, memberi makan ayam di kandang belakang, mengelap kompor yang usai dipakai, menyapu pekarangan, dan merebus air untuk minum sehari-hari. Rasa lodeh nangka buatannya pun tak bergeser sedikit pun dari puluhan tahun silam. Asinnya, gurihnya, pedasnya, menetap pada kesempurnaan yang sama. Memberi cubitan kecil pada lidah kami. Membuat kami kerap menahan haru karena rindu sentuhan tangannya yang ajaib.

Ibu juga masih melakukan ritual yang sama terkait rambut dan kuku-kukunya. Di kamarnya, di muka meja rias lawas pe ninggalan nenek buyut—dengan cermin yang mulai buram, ibu terduduk menatap bayangan diri. Bagai memunguti kecantikan di masa muda. Biasanya ia melakukannya selepas keramas dan mengeringkan rambutnya dengan handuk. Ia mengurai rambutnya yang kelewat tipis dan sebagian besar telah menguban itu. Menyisirnya perlahan ke depan hingga menjutai di pundak kanan. Setiap usai menyisir, ibu akan mengamati sisirnya dan memunguti rambut-rambut tuanya yang tersangkut di gigi sisir. Menggulungnya atau kadang memilinnya dengan jari sebelum membenamkannya ke dalam dompet kain kesayangan, dompet tempat biasa ia menyimpan uang. Di dompet itu pula remah-remah kuku ibu bersemayam dalam beberapa waktu sebelum ibu melahadkannya. “Rambut dan kuku-kuku ini adalah penjaga dompet Ibu. Membuat duit Ibu tetap aman. Tuyul-tuyul tak akan berani mendekati dompet ini, kecuali gundul mungil mereka bakal terlilit rambut-rambut Ibu,” kelakar ibu, dan sewaktu kecil kami menganggap itu masuk akal.

Atas segala kenangan, kelembutan, nasehat, tabiat, aroma masakan, dan segala yang berbau ibu, kami telah merawat luka yang begitu purba. Maka, ketika sosok yang amat familiar bagi kami itu pergi ke tempat yang tak menyediakan pintu untuk kembali, kekosongan serupa rindu tanpa muara itu bergelung dalam dada kami. Membelit kami dalam melankolia yang bisu. Terutama bagi si bungsu, yang paling dekat dengan ibu. Gulungan rambut ibu dan remah-remah potongan kuku dalam dompet kain yang digenggam si bungsu itu adalah relikui termahal bagi kami. Aroma shampo kesukaan ibu masih melekat samar-samar pada rambut itu. Si bungsu menghidunya begitu dalam, seakan tengah tunduk sungkem di kaki ibu. Dan pada remah-remah kuku yang tampak rapuh itu, kami melihat kembali setiap sentuhan tangan ibu yang begitu syahdu.

“Ibu telah pergi, sebaiknya rambut dan kuku-kuku yang tertinggal itu kita makamkan di pekarangan belakang sebagaimana ibu melakukannya. Agar ibu tenang di sana,” usul kakak sulung kami.

“Kalau beliau masih hidup, beliau pasti akan melakukannya sendiri,” sambut kakak kedua, menyetujui usul kakak pertama.


Tapi si bungsu bersikeras, ketika kami meminta dompet itu beserta isinya untuk kami kubur, si bungsu mengenggam dompet kain peninggalan ibu itu erat-erat. Mirip anak kecil yang tak sudi mainannya dipinjam. Katanya, biarlah rambut dan kuku-kuku itu menjadi relikui terakhir dari ibu yang akan disimpannya baik-baik sebagai kenangan.

Sepeninggalan ibu, rumah itu tentu akan semakin sepi. Tak mungkin si bungsu mendiaminya seorang diri. Tak mungkin pula kami meninggalkan keluarga dan anak-anak kami untuk boyongan ke rumah itu. Sebagaimana kukuhnya si bungsu mempertahankan relikui jasad ibu, sekukuh itu pula ia mempertahankan keputusannya untuk tinggal di rumah itu. Meski cuma seorang diri.

***

Sore itu, tiga hari selepas upacara kirim doa empat puluh hari meninggalnya ibu, aku melihat si bungsu menjelma jadi ibu. Seperti biasa, cahaya kuning kunyit menerobos ke kamar ibu lewat jendela yang kordennya terbuka. Cahaya kuningnya tampak lebih bening. Keriap anak ayam di kandang belakang terdengar lebih nyaring. Kakak-kakak kami sudah kembali ke kota dan ke keluarga masing-masing. Tinggal aku seorang yang sudi meluangkan waktu untuk menemani si bungsu, setidaknya sampai ia benar-benar bisa tersenyum. Legawa sepenuh jiwa. Di muka cermin lawas di kamar ibu, si bungsu duduk termangu menatap bayangan diri. Rambutnya yang basah seusai mandi sudah mulai mengering. Disirnya rambut itu perlahan dengan sisir hitam bergagang yang biasa dipakai ibu. Persis ibu, usai menyisir, ia mengamati sisir itu dan memunguti rambut-rabut yang tersangkut di sana. Wajahnya yang tirus menampakkan wajah ibu. Tindak-tanduknya yang kalem benar-benar serupa ibu. Dan di antara juntaian rambut yang sehitam sulang itu, aku menemukan kilatan berwarna perak, samar-samar. Masih sambil menggenggam sisir dan menatap bayangan diri, si bungsu berujar lirih, “Menurutmu, apa yang akan terjadi pada biji dandleon kalau tangkai induk semang bunganya patah sebelum biji-bijinya matang dan melepaskan diri?” Aku membisu. Tak sanggup menjawab pertanyaannya itu. Sementara si bungsu mulai memilin rontokan rambutnya dengan jemari. Menjadikannya gulungan mungil sebelum membenamkannya ke dalam dompet kain kesayangan ibu.

Terima kasih sudah berkunjung. Semoga memberi inspirasi. Baca juga cerpen Dua Perempuan di Satu Rumah

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia