Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Tampilkan postingan dengan label Benny Arnas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Benny Arnas. Tampilkan semua postingan
CERPEN ANAK IBU OLEH BENNY ARNAS

CERPEN ANAK IBU OLEH BENNY ARNAS

anak ibu
image
Apa Bahagia Itu, Anakku

Bahagia adalah ketika kau mendapatkan kegembiraan, kedamaian, dan rasa syukur, dalam waktu bersamaan. Hilang saja salah satunya, hidupmu akan timpang.

Kau nanti akan mendapati orang-orang yang berlebihan dalam banyak hal. Misalnya seorang hajjah, yang bila melenggang serupa manekin toko emas berjalan; bergelantungan perhiasan di leher, pergelangan tangan, centil telinga, bahkan lingkar kakinya. Tapi tak banyak yang peduli bahwa ia selalu dihantui kecemasan. Suaminya dibelit kasus korupsi, pun saban dua minggu harus cuci darah; anak-anaknya sudah tiga kali tertangkap basah nyimeng di belakang sekolah.

Kau jangan mencari kegembiraan dengan mengorbankan rasa damai, Anakku. Kau jangan lupa bersyukur hanya karena merasa semua didapat lewat kerja kerasmu. Kau jangan jadi orang kaya yang miskin!

Seperti Neknang

Mengapa orang-orang tua banyak yang renta?

Selain perkara usia, karena mereka tak mampu mengambil saripati kehidupan yang sudah kapalan dilalui. Mereka hendak berehat saja ketika senja, namun lupa, rehat dapat membunuh hasrat untuk senantiasa siap. Maka, kautiliklah, orang-orang tua yang bersantai ketika waktu sudah sudah hampir bosan memeringati usia, akhirnya akan menjadi benalu dalam keluarga. Kehadirannya justru merepotkan orang saja (walaupun tak ada yang mengungkapkannya).

Maka, kuceritakan padamu tentang Kakek. Dalam bahasa kampung kita, Neknang. Menjelang kepala delapan, ia masih berkebun, ia masih mengitari kampung saban petang, ia masih membaca koran (walau kadang minta ditunjuki arti beberapa kata atau kalimat serapan asing), bahkan ia masih punya cita-cita. Ke Tanah Suci.

Ibu ingin kau pun mewarisi semangatnya, Anakku. Menjadi tua, sudah ketentuan. Namun kau dapat menjadi muda, demi kehidupan!

Kehilangan Matahari

Kau tak tahu bagaimana kita sudah kehilangan matahari sekian lama. Sejak gedung-gedung itu tumbuh tinggi dengan cepatnya, mengalahkan tunas-tunas tanaman yang mesti disirami saban hari.O, kau juga tak tahu perihal pohon itu, kan?

Suatu waktu Ibu akan keluar dari kampung tembok ini, Anakku. Akan kubawa ember dari rumah menuju tanah lapang yang dirimbuni ilalang. Siapa tahu ada anakan jambu terong atau anakan srikaya yang tiba-tiba menyeruak dari sana. Akan kucungkil tanah tempatnya tumbuh: ya, bersama tanahnya sekalian. Kumasukkan ke dalam ember.

Di rumah, setelah disiram sedikit air. Kukabarkan padamu bahwa itulah cikal-bakal pohon. Aku hanya masih berpikir, apakah benar anakan itu akan menjadi pohon, bila matahari selalu disembunyikan oleh tembok-tembok?

Makan-makan

Bila ada yang meninggal, kaukabarkan saja pada keluarganya dan mereka yang tahu agama. Bakda dimandikan dan dikafankan, baru kaumaklumatkan pada 40 orang. Sembahyangilah ia. Lalu tanamlah ia di pemakaman umum di selatan kelurahan. Tak usah kau tanam di dekat rumah. Ia juga ingin berkawan dengan orang-orang mati, bukan hanya dengan kalajengking, lipan, dan cacing-cacing berwarna cokelat bening.

Bila para tetangga hendak mendoakannya di rumah, kau bantu ahli-musibah menyiapkan buku Yaasin dan Al-Qur’an. Lalu jeranglah air sepuluh kali lebih banyak dari biasa. Itu saja. Tak usah kau petik nangka muda, tak usah menebang batang kelapa untuk diambil umbutnya dan diparut kulit daging buahnya, tak usah menyembelih ayam kampung, tak usah membeli bumbu-bumbu gulai di pasar pagi. Ia tak restu bila kalian mesti berutang demi menyelenggarakan malam-malam doa di rumah hingga 100 hari kematiannya.

Aku Akan Jadi Gurumu

Maka, kuboyong kau ke sebuah kampung suatu hari. Kampung yang tersuruk. Nyaris dilupakan sesiapa (apalagi pembuat peta). Bukan tempat Ibu dilahirkan. Bukan pula tempat kakek-nenekmu hidup dulu. Ibu sudah lama mencari-cari daerah di mana Ibu dapat melihatmu tumbuh menjadi manusia yang paling manusia.

Ibu akan mengajarimu banyak perkara. Tak perlu kau mendaftar ke sekolah. Kau akan kudidik sendiri. Dengan tertib. Ibu tak ingin menitipkanmu ke gedung-gedung yang dibangun dengan batako yang dilapisi adukan semen dan pasir dengan perbandingan 1:7. Ibu tak ingin kau didikte pelajaran yang gurunya sendiri tak paham apa yang (hendak) ia berikan. Apalagi menurutku kau benar-benar tak perlu belajar bila sudah sekolah. Bukankah sudah ada tim sukses masing-masing sekolah yang akan mengisi lembar jawabanmu? Satu-dua siswa mereka tak lulus, dipecatlah kepala sekolahnya, digantilah kepala Dinas Pendidikannya, ditegurlah menterinya. Kita tak usah menyusahkan banyak orang, Anakku.

Bila Kau Jadi Pengarang


Bila kau menjadi pengarang, jadilah pengarang yang santun. Kau tak usah ikut-ikutan pengarang yang banyak bicara. Lain yang ditulis, lain pula tindak tanduknya.Yang kerjanya menghina karangan orang. Yang kerjanya menghardik pengarang lain. O ya, Ibu lupa kau perempuan, ya! Jadilah pengarang perempuan yang benar-benar perempuan. Tak usah kaukuak hal-hal busuk perihal kaummu. Tak penting itu. Hanya akan membuatmu terkenal karena kebusukanmu (bila ada yang bilang itu “wangi”, itu bukan urusanmu).

Ingat Nak, mengarang itu menggambar atau bahkan membocorkan kenyataan agar orang lain ingat bahwa seperti ini rupanya hidup itu; kalau begini akan begitu, kalau begitu akan begini. Maka, bila berhubungan dengan pengarang lain, bercengkeramalah sebagaimana kau mengarang. Aku tak memintamu menjadi munafik. Aku memintamu bertanggungjawab terhadap apa-apa yang kau karang. Ingat pula, mengarang adalah mengingati orang lain tanpa mereka merasa digurui. Nah, bila tukang ingat-nya saja sembrono dalam bertabiat, bagaimana orang-orang yang membaca karangannya mendapatkan manfaat dari apa-apa yang (pura-pura) ia baik-baikkan dalam bahasa ceritanya?

Senja yang Telat Pergi

Kau harus tahu, di waktu-waktu tertentu, ada kalanya senja tak ingin pergi. Hingga, ketika jejak azan magrib sudah hilang dari gendang telinga pun, langit masih jingga. Jingga yang pucat. Dengar, itu bukan pertanda bahwa serombongan PKI hendak menggorok leher ibumu ini. Bukan pula karena Hantu Wewe tengah berkeliaran mau menyembunyikanmu di balik jubah landungnya. Itu adalah selingan alam.

Kadang-kadang kau tak tahu bagaimana ranting kering tiba-tiba patah tanpa didahului embusan angin yang kuat, tanpa didahului seekor prenja yang silap menghinggapinya. Nah, itulah. Tuhan kadangkala memainkan kekuasaannya pada hal-hal kecil, Nak. Kauresapilah.

Pun dengan senja itu. Tuhan hanya ingin memersilakanmu menikmatinya agak lama. Jangan kau menggerutu sebagaimana orang-orang merutuki hujan lebat yang membuat seng rumahmu berkereokan tak sedap didengar. Kau jarang berpikir, ketika itu anak-anak tetangga senangnya minta ampun setelah sekian lama tak mandi karena air sumur sudah bau belerang. Jarang ada yang berpikir, ketika senja hinggap lebih lama, anak-anak takut keluar rumah. Orang-orang tua bahkan menambah-nambah ketakutan mereka dengan cerita-cerita tak berbenang-merah. Jarang yang memanfaatkan kebersamaan dalam kekalutan itu, untuk membuat mereka bergegas mengambil wuduk: solat magrib bersama!

Tamasya di Hari Lahir

Apa yang akan kaulakukan ketika anakmu tiba-tiba ingat hari lahirnya?

Kau akan berpikir keras tentang sejumlah uang yang akan kauhabiskan untuk merayakannya, bukan? Merayakan? Apa yang perlu dirayakan dari sebuah peringatan?

Ibu bisikkan padamu. Kau ajaklah anakmu pergi ke tepian Lubuklinggau. Ke Siring Agung. Kaulintasi hutan karet di Kenanga Dua Lintas. Dalam perjalanan, kau kenalkan nama-nama pepohonan yang berbaris di tepi kiri-kanan jalan, yang berjajar serupa pagar-bagus pesta perkawinan. Biasanya pohon durian yang hampir ratusan tahun umurnya paling banyak di sana, pohon kopi yang bunganya bagai rerumpun melati yang tengah berpelukan, dan sedikit memasuki daerah Siring Agung, kau akan melihat pohon yang kelopak bunganya tak lembek: bunga kamboja. Di sana, terhampar pusara-pusara orang yang telah habis jatah hidupnya. Nah, lihat tahun lahir dan meninggal mereka. Bermacam-macam, bukan? Ada yang sudah sangat tua, ada pula yang seumuran dengan kau dan anakmu. Tentu, kau dan anakmu sudah khatam mendengarkan diktum kematian, bukan? Mau dibawa ke mana hidup ini bakda mati? Jangan lupa ya, Nak. Ajak anakmu ke sana di hari lahirnya.

Karib Nenek di Seberang

Nenekmu punya seorang kawan yang tinggal di seberang pulau. Ia memiliki sembilan anak. Semuanya sudah berkeluarga dengan pekerjaan yang baik-baik pula. Kau tahu, ia hanya seorang tukang jahit. Ia sangat suka berderma. Ia selalu memasak gulai dengan melebihkan kuahnya. Agar dapat dibagi-bagi dengan tetangga, begitu alasannya. Bila masjid mengadakan acara, dari khatam Qur’an hingga Mauludan, ia yang paling banyak membawa penganan untuk para jemaah.

Bila dipikir-pikir, manalah mungkin ia mampu membiayai sekolah dan kuliah semua anaknya. Tuhan Maha adil, katanya. Aku takkan bercerita banyak perihal keajaiban itu, lanjutnya.

Ada-ada saja rezeki yang datang padanya, Anakku. Ibu akan selalu ingat sebuah kalimat sederhana yang dirawikan Nenekmu darinya: Banyak memberi takkan membuatmu jatuh miskin.

Semuanya Berkabut

Dari banyak hal yang membuat Ibu gelisah, yang satu ini harus diceritakan. Kini, dan apalagi ketika masa kau besar nanti, tidak ada silaturahim yang murni. Kedatangan adalah jembatan menghantar keperluan. Senyuman adalah senjata untuk menyembunyikan kebusukan. Tolong-menolong haruslah diawali kesepakatan yang saling menguntungkan.

Demi Tuhan yang Maha Menurunkan Keajaiban, kuingin kau menjadi orang asing di masa itu, Anakku. Jadilah orang asing yang memegang tongkat Al Hakim. Jadilah orang asing yang jernih berpikir, teguh memegang kata hati. Semuanya akan berkabut, Anakku. Hanya yang sombong yang tak melihat kabut itu. Hanya yang asing yang merasa terganggu oleh kabut itu. Kau, kuingin kau selalu was-was terhadap kabut itu, Anakku.

Jadilah Orang Miskin yang Kaya

Dengar, Anakku. Jangan pernah percaya pada kata-kata orang yang berdasi itu: Bila kau ingin berhasil, maka cintailah pekerjaanmu! Ingat, Anakku. Tak ada orang yang benar-benar mencintai pekerjaannya. Bila memang ia mencintainya, maukah ia menjabaninya tanpa imbalan?

Hidup adalah tumpukan topeng yang tak berwujud. Berlapis-lapis ditimpuk, takkan membuat mukamu tampak berbeda. Ini perkara lama. Perkara yang sudah jauh-jauh hari Tuhan ingatkan kepada kita. Padaku. Padamu pula.

Kau pelihara saja harta yang telah kaubawa sejak lahir. Kejujuran, rendah hati, mencintai saudara. Jangan kau ganti harta-harta itu dengan harta-harta yang baru: ketenaran, gelar haji, jabatan, mobil, emas-permata. Maka, jadilah orang miskin yang kaya, Anakku! Orang miskin yang bahagia.

Malam Setan

Malam, tak ubahnya siang hari. Bahkan lebih meriap. Kau akan mendapati perempuan jadi-jadian di sekitar rumah (rel kereta api tak lagi menguntungkan untuk mencari pelanggan).

Aku bersyukur karena kau perempuan, Anakku. Bukan laki-laki. Maka, demi Tuhan, janganlah pula kau menjadi siluman. Kelak, bukan hanya banyak perempuan yang mengaku bahwa mereka terperangkap dalam kegagahan perawakan laki-laki. Namun, akan banyak pula laki-laki yang mengaku terperangkap dalam kemolekan tubuh perempuan. Sering-seringlah mengunjungiku, Anakku. Agar kau ingat padaku. Pada nasihat-nasihatku. Pada kematianku. Pada kematianmu.

Lelaki Pencuri Cahaya

Sekarang kau sudah menjadi perempuan dewasa. Serupa aku beberapa tahun sebelum mengandung. Kau masih saja memakai pakaian yang landung-landung. Rok yang mencium mata tumit, dan baju kurung yang berkancing setengah kilan di atas payudara, membungkus lenganmu hingga ke gelang tangan.

Maka, carilah pemuda yang selalu membuatmu bercucuran cahaya karena mentari telah berhasil ia curi dan ia rasukkan ke dalam dirinya.* Dialah pemuda yang akan menjagamu. Menjaga pusara ibumu. Menjaga kehormatanmu. Menjaga anakmu agar tak menikah sebagaimana kau kelak: berwali hakim di hadapan penghulu.

Anak Ibu

Maafkan Ibu yang tak sempat menemanimu tumbuh, Anakku. Yang terang adalah, Ibu kini bahagia. Kau selalu mendoakanku, orang yang terbang ke langit bakda memersilakanmu menangis untuk pertama kalinya. Entah, kau mendoakan ayahmu atau tidak. Atau kau sudah tahu bahwa pemerkosa itu tak layak kaudoakan. Atau dokter yang menghadiahiku buah simalakama kala itu, menggugurkanmu agar aku hidup, atau melahirkanmu namun aku akan segera bertemu Munkar dan Nakir, telah menceritakan kepadamu bahwa aku kerap bercengkerama dengan perutku sendiri, menyampaikan ragam nasihat, harapan, dan impianku tentangmu, ketika layar monitor mesin pemindai kandunganku menyatakan kau perempuan?

Khidmatilah semuanya, Anakku. Mataku ada di mana-mana. Sebagaimana semua petuahku menyelusup dalam tindak-tandukmu.

Terima kasih sudah berkunjung. Semoga menginspirasi. Baca juga cerpen Sungai Buntung

CERPEN MALAM RAJAM OLEH BENNY ARNAS

CERPEN MALAM RAJAM OLEH BENNY ARNAS


wanita bersedih
image Avareli
Jelang dini hari. Di sebuah ranjang berkelambu coklat muda. Kau terlelap tanpa dengkur. Telanjang dada. Bersarung sebatas lutut. Di sampingmu, terbaring sebatang tubuh molek yang hanya dibalut kain lasem sebatas dada, hingga terintip ceruk di antara dua bukit tinju yang ditutupinya. Selingkaran lehernya menyerak tanda merah sebesar ujung jempol, bagai habis dihisap-kecap. Air muka kalian menyemburatkan lelah yang tak biasa. Tengah malam tadi kalian khatamkan sebuah pertarungan yang tertunda sekian lama. Bukan hanya dengan keringat, tapi kalian juga melakoninya dengan hasrat yang mendahaga. Tak ada yang ditetapkan sebagai pamuncak. Kalian sama-sama kuasa. Kalian pula sama-sama kalah. Bakda itu, lelap kalian adalah sebenar lelap. Untuk apalah bermimpi lagi bila angan-angan itu baru saja tertunai?! Tertunai di atas nama pertautan-halal; di atas ranjang yang berseprai anyar; di atas malam yang dipilahku untuk merajam. Membalas dendam!

***

Siang tadi pesta perkawinanmu digelar dengan mewah. Kau memang seorang istimewa. Anak tunggal pemilik panglong kayu terbesar di kampung. Jadi, adalah mahfum bila perempuan yang baru datang dari kota itu tertawan olehmu. O, jangan-jangan ia yang menawanmu?! Ah, tak penting itu. Perkaranya adalah, aku tak rela kau meminangnya. Tidak!

Memang, kepergianku ke kampung orang tuaku dua pekan silam tanpa sepengetahuanmu dan keluargamu. Tapi, yang membuatku murka adalah sikapmu (juga keluargamu) ketika mengetahui aku raib. Tenang-tenang saja. Ketika itu, mendidihlah darahku. Ingin sekali aku melabrakmu. Bila perlu membuatmu mati-tercekat karena mendapati kedatanganku yang tiba-tiba. Namun, rencana itu kujegal sementara. Aku benar-benar ingin tahu musabab ketakpedulianmu pada diriku, gadis yang kaujanjikan untuk dikawini. O, apakah ketaktahuanmu tentang di mana tepatnya ranah kediamanan orang tuakukah yang membuatmu tak mencariku? Kini, jujur, aku merasa sangat bodoh. Mengapa dulu aku terburu-buru mengambil ketetapan itu. Pergi meninggalkanmu. Berkelana ke kampung ayah-ibu yang justru tak kunjung kuketahui keberadaannya.

***

Aku benar-benar benci pada perawan itu. O, sungguh, kau harus tahu bahwa semua ini bukan salahku!

Apakah kau tak tahu seperti apa pembantu di rumahmu dipekerjakan? Adalah sahih bahwa titah demi titah orang tuamu telah merampas waktuku: sedari subuh hingga malam meninggi. Jadi, bagaimana mungkin aku main-gila dengan laki-laki lain?! Apakah harus kuceritakan perihal aku yang jatuh dari pohon nangka karena keponakanmu dari kecamatan minta diambilkan layangan yang tersangkut di sana; apakah harus jua kukeluhkan bahwa aku pernah terjerengkang di dapur karena ibumu berteriak memintaku gegas menyiapkan air hangat untuk mandi di subuh kau akan diwisuda dua bulan lalu; apakah jua harus kutumpahkan kekesalan bahwa, beberapa kali aku terjerembab dari kereta unta ketika mengantar rantang-rantang para tukang yang merampungkan rumah baru kalian di simpang pasar….; dan apakah harus kumeraung—dalam suara yang pasti memarau—untuk semua akibat yang dimunculkan kesialan-kesialan itu: selangkanganku sakit, perih, bahkan ketika terpeleset di kamar mandi yang akan kusikat di pagi Ahad, bercak-bercak merah tiba-tiba saja mengerubungi celana dalamku. Pedihnya tak tepermanai. Bukan hanya membayangkan bahwa beberapa hari bakda itu, aku akan berjalan sedikit mengangkang, namun… lebih dari itu. Menangis tak berbunyi aku bila membayangkan air muka lelaki—yang suatu hari nanti mengawiniku—di malam pertama kami (di bawah lampu kamar yang bercahaya remang).

***


Bertambah masailah aku ketika suatu hari kau menanam tebu di bibir. Kau tak hanya, dengan lembut dan syahdu, mengatakan (sekaligus memuji); hidungku bangir, wajahku bulat telur, bibirku merah penuh, kulitku putih rotan, mataku kilap-kelereng, alisku semut yang berbaris, rambutku sutera-hitam, daguku lekuk-mangga, bahkan telingaku kaukias bak cawan Persia. Aku luruh. Aku tahu, kau tak menuang air hingga tumpah. Kau menyampaikan yang sebenar. Ayahmu yang sudah empat kali naik haji saja sering “nakal” padaku. Beberapa kali si tua bangka itu meremas pantatku ketika aku ngepel. Beberapa kali pula ia mencoba menciumku—namun selalu gagal karena derap langkah ibumu keburu menyambangi.

“Kau bersyukurlah kami pungut di tepian rel dulu. Sekarang nak bertingkah kau!” hardiknya ketika aku menghindari cengkeramannya di pinggangku.

Ayahmu juga sangat pandai mengganti muka. Di depan ibumu ia bagai singa yang sedang memerintahkan musang menyeret ayam. Bila aku lamban atau bahkan tak melaksanakan apa-apa yang dititahkan, maka aku akan dirajam. Demikian istilah yang sering dipakai keluargamu bila aku dirundung kesialan. Ya, selain keluargamu, tak banyak yang tahu (atau bahkan memang tak ada yang tahu) bahwa ayahmu seringkali merajamku dengan pecut kuda yang disimpan di kolong ranjangnya, bila aku kedapatan melakukan hal-hal yang tak berkenan di hadapannya dan ibumu. Walaupun tidak melakukannya dengan cambuk-maut itu, ibumu tak kalah ganas. Ketika marahnya membara, barang apa saja yang ada di dekatnya akan dicangking-rajamkan ke arahku. Kau tahu, bakat biru di bahu belakangku adalah bukti yang paling makbul atas guci China dan tatakan piring keramik Turkmenistan yang ia pecahkan ke tubuhku. Kau tahu, sejak itu, aku selalu tidur dalam keadaan telentang. Sedikit saja kumiringkan tubuh—karena tiba-tiba ingin memeluk guling misalnya, tulang belakangku serasa bersigesek. Linu yang menyayat.

Dan… kau bagai mengimani peribahasa yang tampaknya tak bercelah: orang tua adalah guru berteladan yang mustajab.

Ya, kau kerap menjambak rambutku bila telur mata sapi kegemaranmu tak kugoreng seperti yang kau inginkan. Kuningnya terlalu masaklah, putihnya terlalu keringlah, minyaknya masih berlumuranlah…. Namun kau sangat berbeda dengan orang tuamu. Rajammu adalah rajam yang membuat lenguhanku bersicepat dengan denyut nadi dan geletar jantung. Kau biasanya menyeretku ke sudut dapur yang jauh dari imbas cahaya pir kuning yang menjuntai di plafon. Melumat bibirku, menggigit-geli leherku, menjilat lekuk telingaku…. Kau melakukan semua dengan tangan yang sigap membuka kancing-kancing baju-katunku. Seolah kau benar-benar hafal bahwa jarak masing-masing pengait baju itu adalah 12 sentimeter. Tapi… kau tak melakukan (atau meminta) lebih jauh. Kau kerap berhenti ketika aku mulai menikmati rajamanmu.

“Percayalah, aku bukan iblis. Aku hanya pemuda biasa yang tak dapat menyembunyikan naluri lelakinya. Percayalah, kau bagai bidadari saban habis mandi. Dan aku takkan menghamilimu hanya karena itu. Aku hanya ingin bercumbu dengan perawan di malam pertamaku. Dan itu adalah kau….”

Aku diam. Terharu. Bangga padamu—bakal suamiku (benarkah?!). Lalu meradang dalam bayang kesedihan yang siap tumpah demi membayangkan malam-sakral itu tiba suatu waktu.

Tapi… oh, seperti yang kaukatakan. Kau adalah pemuda biasa. Hanya ditambah beberapa kelebihan: tampan, kaya, berpendidikan, dan (jujur kukatakan) menggoda. Pada suatu malam yang mendung, ketika kedua orang tuamu berhelat ke kampung sebelah, memenuhi undangan hajatan kawan lama, kau kembali merajamku. Tapi bukan karena aku tak menggoreng telur ayam itu dengan baik. Kau merajamku karena kau pemuda biasa—katamu dulu, pemuda yang memiliki naluri kelelakian (atau kebinatangan?!). O sungguh, harus jujur kukatakan, aku juga bagai terasuk setan-binal malam itu. Bila kau memintaku menumpahkan isi telur di kuali, aku akan melakukannya serampangan. Bahkan, akan kunaikkan putaran gas hingga api menyala sejadi-jadinya. Akan kuhidangkan telur pekang, gosong-arang! Ya, aku ingin kau menghukumku. Merajamku!

Dan kau melakukannya tanpa ada pasal telur goreng itu. Tapi tak seperti biasa, kali ini kau meminta lebih. Tentu saja, aku menolaknya. Bukan, bukan karena tak yakin kau akan bertanggung jawab (entah, aku begitu percaya padamu bahwa kau takkan menyia-nyiakanku), tapi karena kau belum meyakinkanku apakah ayah-ibumu akan bersetuju dengan pilihanmu; seorang pembantu tanpa orang tua dan sanak saudara.

Kau bagai membaca kegundahanku. Kau katakan betapa istimewanya dirimu. Siapa yang berani menolak permintaan anak tunggal?! Sungguh cantik kau meliuk lidah. Ya, kau tak menanyakan mengapa aku berani menolak permintaan seorang anak majikan. O, betapa ketika itu kau menguapkan sikap yang meluluh-lantakkan tembok pertahananku.

Menanglah kau! Aku gelap-pikiran. Aku tak tahu bila tebu di bibirmu sebentar lagi akan ditebas (dan hilanglah gulali itu tak lama kemudian!). Aku hanya membayangkan betapa gadis sebatangkara sepertiku akan menjadi bagian dari keluarga terhormatmu. Ohhh….

Namun, kenyataan bersibelakang dengan ramalan. Kau mulai mengganas. Kausingkap kain lasemku. Dan… berserempakan dengan petir yang bergemuruh jauh, dan air langit yang bersitumpah satu-satu; mukamu keruh seketika!

Kau mendorongku hingga terjerengkang. Kau kenakan pakaian dengan tergesa-gesa. Kau tuding aku sundal. Kau tak memberiku kesempatan untuk mengurai sebab-akibat….

Tengah malam, kutinggalkan rumahmu. Memapas jalan-jalan kelam kampung yang lengang….

***

Sedari pagi, aku memang tak sabar menyambut malam. Di antara kerumunan tetamu, kusaksikan bagaimana ijab-kabul dilewati tanpa hambatan. Sejak duha hingga bakda asar, orkes melayu mengoar-bingar panggung dan seantero kampung. Kalian bagai menginjak-injak luka-lebamku. Dan, bakda isya, aku menuju kediamanmu. Dari balik jendela, kuintip orang tuamu menghitung isi amplop yang diterima, para keponakan yang bersuka-ria menyobek bungkus kado-kado yang menyerak di kamar depan, beberapa tamu jauh yang tak henti memuji keserasian kalian….

Malam pun meninggi. Sedikit saja jarum jam yang lebih panjang tergelincir, maka hari akan bernama baru. Lamat-lamat aku menyelinap. Kalian lupa bahwa aku sangat paham leliku rumah besar itu. Aku segera menuju kamar bergorden merah jambu dengan beberapa tangkai anyelir menyelip di kaitannya. Syabas! Begitu mudah kukuak pintu kamar. O o, aku datang di waktu yang gemintang. Kalian baru akan memulai ritual wajib pengantin baru. Aku berdoa dari balik pintu, semoga selangkangan gadis itu berkembar-nasib dengan selangkanganku.

O, apakah benar yang kulihat? Kau menggumulinya dengan lunas. Apakah gadis itu masih perawan? Atau… kau tak peduli lagi perihal darah yang muncrat di antara bonggol paha itu? Puihhh!!!! Laki-laki pembual, kau!

Maka, ketika kalian lelap oleh lelah yang memuaskan… kusambangi ranjang harum melati itu. Kusingkap kelambu. Kutatap kalian satu-satu. Kubersijingkat menaiki ranjang. Sangat hati-hati, hingga tanpa bunyi derit. Aku kini sudah mengangkangimu. Ups! Setengah meloncat aku membebankan tubuh di atas perutmu….

***

Aku terkakak hingga air mataku menyeruak. Kedua bola matamu mendelik sempurna ke arahku. Kurajam kau kini! Kucekik lehermu sejadi-jadinya. Kau mengejang. Aku makin terbahak. Pun ketika perempuan di sampingmu terjaga. Ia menyangka kau tengah mengigau. Mimpi buruk.

Sejak kapan mimpi buruk bertandang di malam punai, hah?! Perempuan bengak!

Perempuan itu menarik-narik kedua tanganmu yang memegangi leher—seolah kau tengah melepaskan cengkeramanku yang memelintir tonggak kepalamu. Mana bisa?! Mati kau?!

Perempuan itu berteriak ketakutan. Keluarga dan sanak-kerabatmu menggedor-gedor pintu yang masih terkunci. Tak lama, mereka mengerumunimu. Berteriak sejadi-jadinya. Ya, siapa yang tak meradang ditinggal mati anak-bujang seorang?!

***

Aku masih tertawa ketika, di antara sikaduduk yang menyemak di sudut pemakaman umum, tempat akan digalinya liang untukmu, orang-orang menemukanku teronggok dikerumuni belatung. Beberapa bagian tubuhku ditutupi bahan katun, kain lasem yang buram coraknya, dan tentu saja tali tambang yang masih bergelung di tengkorak kepala. Itu adalah tali yang kuambil dari dapurmu di malam aku meninggalkan rumah itu. Kukaitkan di dahan beringin yang paling besar; demi beroleh restu ayah-ibu untuk merajammu malam tadi.

Terima kasih sudah membaca. Semoga menginspirasi. Baca juga cerpen Sihir Tumis Ibu

CERPEN BELAJAR SETIA OLEH BENNY ARNAS

CERPEN BELAJAR SETIA OLEH BENNY ARNAS


perempuan setia menunggu
image
Pada kedatangan tak diundang dan tanpa pemberitahuan, pemuda 27 tahun itu sudah menyiapkan sebuah cerita untuk Mayang, perawan yang saban petang selalu menyendiri di simpang kabupaten. Kebiasaan yang sudah berumur 25 tahun. 

Namun alih-alih mendengarkannya, perempuan itu bahkan tidak serta-merta bisa menerima kedatangan seorang tak dikenal. Pemuda itu berusaha tampak tenang, seolah sudah mengantisipasi semua kemungkinan. Ia katakan bahwa sudah hampir dua tahun ia mencari perempuan itu. Jadi, adalah konyol apabila ia harus kembali tanpa menuntaskan maksudnya. 

Saya datang dari Binjai, sebuah dusun di Muarakelingi, katanya. Namun apalah arti sebuah tempat bagi kedatangan yang tiba-tiba. Mayang bergeming seperti tidak mendengar apa-apa. Bagi si pemuda, itu pertanda baik. Apalagi perempuan itu lalu membuka daun pintu lebih lebar dan menyilakannya masuk. Ah, lampu-lampu di sepanjang jalan tujuannya mulai menyala. 

Namun, baru saja ia duduk di kursi rotan tua dalam rumah papan itu, perempuan itu sudah mengejutkannya. “Namamu Musmulikaing,” begitu gumamnya. Intonasinya datar sehingga kalimat itu tak menjadi kalimat tanya. Dan, ia sepertinya memang tak memerlukan jawaban. Ia hanya menatap si pemuda tanpa selidik. “Aku tak pernah berpikir kalau kali ini mimpiku akan jadi kenyataan.” Lalu ia berlalu ke bilik belakang, menyeka tirai kerang yang sudah jarang dan renggang. 

Pemuda itu diam. Matanya mengekor punggung si perempuan yang lenyap di balik bilik. 

“Sudah puluhan tahun, ada suara yang selalu berdenging dalam mimpi-mimpiku. Seorang pemuda bernama Musmulikaing akan datang dalam waktu dekat.” Suara Mayang terdengar jelas dari balik bilik kayu itu. Sesekali bunyi sendok yang beradu dengan cangkir sayup mengetuk gendang telinga. “Namamu memang rada aneh tapi kedengarannya tak asing. Aku tak tahu kapan dan di mana namamu pernah kuakrabi. Ah biarlah, namanya juga mimpi, kadang tak bisa dinalar.” Perempuan itu sudah kembali menerobos tirai dengan secangkir teh hangat di tangan kirinya. “Tapi mimpi kali ini, bagaimanapun, rasanya ada yang lain.” Ia meletakkan cangkir teh itu di atas meja lalu duduk di kursi rotannya. “Minumlah. Tamu adalah raja. Apalagi tamu dari alam mimpi.” Ia tertawa kecil, seperti mengejek kata-katanya sendiri. 

Pemuda itu cengengesan. Tangan kanannya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. 

“Di zaman sekarang, mimpi yang benar-benar mengisyaratkan sebuah kejadian sudah langka. Mimpi tak lebih sebagai perpanjangan kehendak seseorang; apa-apa yang tidak atau belum mampu diraih di alam nyata, ia bawa ke dalam tidurnya. Mimpi yang begitu, yang disebut bunga tidur, mimpi yang tak berguna!” 

“Lalu untuk apa seseorang dalam mimpi itu mendatangimu?” tanya pemuda itu setelah menyeruput teh. 

Mayang menggeleng. “Tapi… bukannya, kau ingin bercerita?” 

*** 

Syahdan, seorang laki-laki mengungkapkan rahasia terbesar dalam hidupnya. 

Ketika masih muda, ia menjalin hubungan dengan seorang gadis. Pemuda itu ingin mempersembahkan kejutan kepada gadisnya dengan meminangnya tiba-tiba. Benar! Apa yang ia lakukan memang mengejutkan. Pinangannya ditolak. O, bagaimana ia lupa kalau seseorang yang lahir, tinggal, dan berdikari di Binjai, dusun rumah tinggi yang hidup dari menyadap karet dan menjaring ikan seluang di anak Sungai Musi, taklah mampu berdiri di atas anak tangga yang sama dengan gadis keturunan pesirah di Kayuara. 

Tercorenglah keluarga besar sang pemuda. Betapa malunya. Sang gadis benar-benar kecewa dengan apa yang keluarganya perbuat. Ia memang menyesalkan tingkah kekasihnya yang tiba-tiba datang dengan 20 orang sanak kerabat, 12 nampan berisi bejek ketan hitam, 6 tandan pisang tanduk, dan sepikul beras dayang rindu. Namun, sungguh, semuanya menguap dan menjadi tak berarti bila dibandingkan dengan ketakterimaannya atas kepongahan keluarganya. Maka, lewat seorang pesuruh yang setia, ia mengirimkan sepucuk surat kepada si pemuda. Ternyata maksud tak selamanya selaras dengan kenyataan. Surat yang dilemparkan si pesuruh—sebagaimana amanah si gadis—lewat daun jendela kamar si pemuda, tertangkap pandang oleh ayah si pemuda. 

Sebuah rencana pembalasan pun disiapkan. Sang ayah tak pernah menyampaikan surat itu kepada putranya. Bahkan, hingga putranya ia jodohkan dengan seorang perempuan yang masih berkerabat jauh satu tahun kemudian. Ia tahu, putranya menerima begitu saja karena kecewa pada kekasihnya yang tiada kabar berita setelah pengusiran itu. Bagi si pemuda, peristiwa memalukan itu bagai menegaskan bahwa gadis itu sengaja menjauh darinya, melepas hubungan yang sudah sekian lama dikebat…. 

Istrinya, karena tak kuat menjadi pajangan yang hanya digauli di malam punai, akhirnya meradang berpanjangan. Sebenarnya, tiadalah si pemuda bermaksud demikian. Namun, alam bawah sadar bagai menuntunnya untuk melakukan hal-hal yang bukan tabiatnya. Mereka tak ubahnya dua orang asing yang dirumahkan. Tanpa sapa, canda, apalagi cerita mesra. Entah karena ajal yang sudah tiba atau rajaman kenelangsaan, sang istri meregang nyawa beberapa hari seusai melahirkan anak pertama; laki-laki. 

Suaminya membesarkan putra semata wayangnya sendirian. Ia ingin membuktikan kepada ayahnya yang sudah renta bahwa cintanya kepada gadis Kayuara itu tak akan luruh hingga kapan pun, oleh apa pun. Awalnya sang ayah tak mengacuhkan. Namun, mendapati kenyataan bahwa putranya mampu hidup sendirian sembari membesarkan cucunya hingga bujang, adalah tamparan keras baginya. Ia trenyuh. Sungguh, sebenarnya ia benci pada ketaklukannya. Namun begitu, sejatinya ia lebih benci lagi pada keegoisannya yang berlumut dan baru terkikis setelah hampir seperempat abad kemudian—walaupun ia jua takkan lupa kesombongan keluarga si gadis. 

Maka, pada suatu malam yang temaram, di ujung sakit tersebab usia yang berkarat, ia membuka rahasia itu. Tentang surat itu. Tentang pertemuan—di simpang kalangan dekat pohon merbau di Muarabeliti jelang terbenamnya matahari—yang tak pernah ia beritakan kepada putranya. 

*** 


“Simpang Muarabeliti—ibu kota kabupaten?” Tiba-tiba perempuan itu menyela. Pemuda itu mengangguk. 

“Petang?” Pemuda itu mengangguk lagi. 

“Jadi surat itu tak pernah dibacanya? Apakah laki-laki itu tahu bahwa, hingga saat ini, gadisnya masih melajang?” Pemuda itu diam. 

“… dan hidup sebatang kara karena keluarganya tak sudi punya anak pembangkang, tak sudi serumah dengan gadis yang mencintai pemuda tak sepadan.” 

Tiba-tiba perempuan itu bangkit dari tempat duduknya. “Mengapa, mengapa ceritamu….” 

“Ya, mungkin Ibu heran mengapa ceritaku sangat mirip dengan kisah hidup Ibu, bukan? Ibu pernah tinggal di Kayuara?” 

“Jangan sok tahu!” Suara Mayang meninggi. 

“Bukannya Ibu yang sok tahu?” Pemuda itu balas berseru. “Ibu sok tahu kalau gadis dalam ceritaku masih melajang hingga kini!” 

Mayang tercenung seperti terhenyak. Lalu perlahan ia kembali duduk. “Ternyata penantianku adalah panggilan tanpa bunyi dan jawaban.” Suaranya terdengar lempang tanpa gairah. Matanya memerah. 

“Penantian? Menantikan laki-laki dalam ceritaku?” Suara pemuda itu lirih, hampir tak terdengar. 

Mayang tak menjawab. Hanya air matanya yang tiba-tiba meleleh. 

“Menantikan Semibar?” Suara pemuda itu bagai tercekat. 

“Dan kau adalah Musmulikaing.” Suara Mayang memarau. Ada senyum tipis, sangat tipis, menggurat di bibir perempuan itu. Ia menyeka air matanya dengan ujung baju katunnya. 

“Bukan!” tukas pemuda itu cepat. “Aku….” 

“Ya, bukan hanya itu!” potong Mayang tak kalah cepat. “Musmulikaing adalah buah perkawinan Semibar dengan Jeruma yang tak berumur lama.” 

Mulut pemuda itu terkunci. 

“Dan gadis Kayuara itu adalah Mayang Nilamsari binti Umar Hamid, kan?!” 

Pemuda itu tiba-tiba merasa kerongkongannya menyempit. 

Perempuan itu kini tersenyum, benar-benar tersenyum. “Terima kasih atas ceritamu. Ayahmu memang pujangga ulung. Untuk menjelaskan semua keganjilan masa silam kami, ia bahkan merasa perlu mengutusmu untuk bertandang dalam mimpi-mimpiku sebelum akhirnya hadir di hadapanku.” 

Pemuda itu tersenyum, senyum yang lebih mirip seringaian. 

“Aku tidak marah pada Semibar. Tak ada guna. Aku bahkan memaklumi perkawinan itu. Cinta yang tulus adalah tinta daun bilau yang menetes di kain kafan, nodanya takkan terkelupas apalagi terhapus oleh air hujan sekalipun. O ya, sampaikan pada ayahmu: ‘Ada salam dariku’.” 

Pemuda itu bangkit dari tempat duduknya. Sebenarnya ia ingin menjelaskan kalau namanya bukan Musmulikaing. Tapi hal itu menjadi tidak penting lagi ketika mendapati kenyataan yang begitu menggetarkan: seorang perempuan rela melajang hingga usianya merayap separuh abad. 

Pemuda itu mencium punggung tangan Mayang dengan takzim, seolah tengah mengucapkan selamat tinggal kepada ibu kandungnya, untuk membawa kabar gembira nan memilukan ke tepian anak Sungai Musi lalu menyampaikannya kepada Semibar. 

Kepada ayahnya.
Terima kasih sudah berkunjung. Semoga bermanfaat. Baca juga cerpen Rasa

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia