Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Tampilkan postingan dengan label Helvy Tiana Rosa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Helvy Tiana Rosa. Tampilkan semua postingan
CERPEN HINGGA BATU BICARA OLEH HELVY TIANA ROSA

CERPEN HINGGA BATU BICARA OLEH HELVY TIANA ROSA


wanita palestine memungut batu sebagai senjata
image
Biarkan aku!” seru gadis itu sekali lagi sambil menatapku tajam. 

Aku memandangnya lama, tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ini ketiga kalinya ia berada di tempat ini. Melakukan hal yang sangat tidak wajar. Ia bicara pada batu-batu! Ya, pada batu! Ia bisa tampak serius, lalu tiba-tiba tertawa atau menangis sendiri. Ia membelai batu-batu. Menggendongnya seperti menggendong bayi, memasukkan batu-batu tersebut ke dalam tas kainnya yang kusam. 

“Bukankah kalian telah merampas semua? Sekarang, biarkan aku bicara pada batu-batu itu!” teriaknya lagi.

Dan seperti hari-hari kemarin, aku pun berlalu begitu saja dari hadapan gadis itu sambil membetulkan letak senapan laras panjang yang kusandang. Namun sampai di pos penjagaan, beberapa meter dari tempat perempuan itu berada, mataku masih lekat padanya. 

Aku tak tahu siapa perempuan itu. Diakah? Sejak pindah tugas bulan lalu dari Tel Aviv ke tanah kelahiranku, Yerusalem, tepatnya di sekitar Al Aqsha dan Dinding Ratapan ini, hampir setiap hari aku, juga tentara yang lain melihatnya. 

“Suatu hari aku akan bersenang-senang dengannya!” ujar David, teman bertugasku di sini yang senantiasa memproklamirkan dirinya sebagai Lohamei Herut Israel sejati. Ia menyeringai, menampakkan gigi-giginya yang kecoklatan. “Lihat saja nanti!” serunya. 

“Ya, setelah itu kita akan menghabisi perempuan gila itu!” sambung Goldstein, temanku yang lain dengan nada dingin, sambil melipat koran Yediot Aharonot, yang sejak tadi dibacanya. 

Perempuan itu memang masih muda. Mungkin usianya sekitar dua puluh sampai dua puluh lima tahun. Wajahnya cantik, seperti kebanyakan gadis Palestina, hanya sedikit lebih runcing. Matanya kelabu, bulat dan bening. Kedua alisnya yang hitam dan tebal hampir menyatu di atas hidung yang mencuat. Ia tinggi namun sangat kurus dan tampak semakin tenggelam dalam abaya dan kerudung hitamnya yang besar, longgar dan lusuh. Dari jauh sosok- nya mengingatkanku pada tiang-tiang abu-abu dan hitam yang sering kami pancangkan di perbatasan daerah pemukiman. 

“Apa yang dibicarakannya dengan…,” David tak sanggup menahan tawa, 

“batu-batu itu…?” 

Aku mengangkat bahu. Membuka helm ‘perang’ dengan kaca plastik yang kerap menutupi wajahku. Kini aku dapat memandang gadis itu lebih jelas. Wajah pasinya tak wajar. Kulihat ia komat kamit, berbicara pada batu-batu itu. Tangannya cekatan menyusun bebatuan tersebut dalam satu barisan panjang. Lalu ia memberi aba-aba, layaknya seorang komandan mempersiapkan para prajuritnya. Perempuan itu menghentak-hentakkan kaki ke bumi, berjalan di tempat, berulangkali. Wajahnya lurus ke depan, tepat ke arah kami. Namun pandangannya kosong. Beberapa saat kemudian ia sudah duduk begitu saja di tanah. Menyusun batu-batu lain, me- numpukkannya ke atas dan tersenyum-senyum sendiri. Pernah pula aku melihatnya sedang melakukan gerakan-gerakan sembahyang. Sementara batu-batu besar dan kecil berjajar rapi di belakang- nya. 

Gila, batinku. Dan sama gilanya bila aku masih memperhatikannya. 

“Selama ia cuma bicara pada batu, biarkan saja. Kita juga butuh hiburan kan?” Goldstein mendengus, kemudian meludah. 

“Kau tak akan percaya, tetapi batu-batu ini memang bicara padaku!” Gadis itu berusaha meyakinkanku. “Kau mau tahu apa katanya?” Aku mengangguk bodoh. 

Mata gadis itu berubah liar. Bibirnya melengkung ke bawah. Penuh keyakinan ia berkata, “Mereka, batu-batu itu akan membinasakan kalian, sebagaimana kalian membinasakan bangsa kami!” Ia tertawa-tawa, sambil mengusap batu-batu itu. Makin lama makin keras. Mengikik, menukik-nukik. Menyeramkan. Lalu tiba-tiba dingin. Angin! Tawa itu menjelma angin puyuh yang berputar, terus berputar menggulungku…, lalu menghempaskanku ke sebuah tepian.

Tiba-tiba saja aku telah berada di tempat lain. Sekelilingku gelap. Aku berada dalam lorong panjang yang pekat. Bulu kudukku berdiri. Aku merasakan tangan dan kakiku dingin, namun hawa panas juga menyergapku. Keringat menetes, membasahi baju seragamku. 

Hati-hati sekali aku berjalan. Aku tersesat dalam labirin sunyi tanpa nama. Aku meraba-raba mencari cahaya. Tertatih-tatih. Rasanya aku telah berjalan beratus-ratus jam, sampai kulihat setitik sinar. 

Detak jantungku makin keras. Setengah memicingkan mata, perlahan aku menghampiri sumber cahaya tersebut. Tiba-tiba kudengar suara-suara isakan. Erangan-erangan yang memenuhi segenap ruangan. Lalu tangisan, jerit kesakitan dan teriakan his- teris yang tak putus-putus. 

Dan… aku nyaris terpekik. Aku biasa melihat mayat, namun tak sebanyak ini! Di hadapanku kini kulihat ratusan mayat bergelimpangan. Semakin lama semakin banyak. Menjadi ribuan dan terus bertambah lagi. Mayat-mayat itu berjejalan, seperti ikan-ikan sardin dalam kaleng. Darah terus menetes-netes dari tubuh-tubuh itu. Anyir. Mengental, menganak sungai. Beberapa kali aku terpeleset, dan jatuh di atas mayat-mayat itu. 


“Negeri kami! Di mana negeri kami?” 

“Tanah, kembalikan tanah kami!” 

Suara-suara itu menggema, bergelombang, berulang-ulang. Meninggalkan pedih. Seperti pisau yang mengerat-ngerat sanubari. Badanku gemetar, menggigil. Kepalaku pening. Rasanya aku akan pingsan, saat sayup-sayup kudengar suara ayah, ”Ingat Joshua I,3: Setiap tempat yang akan kami injakkan dengan telapak kakimu, sudah Aku berikan padamu….” 

Suara ayah, para rabbi dan erangan-erangan tadi seperti berebutan menarik-narik kedua kupingku. Aku merasa kupingku meleleh. Pandanganku kabur.

Samar, kulihat gadis itu. Wajahnya beku. Ia tak bicara. Hanya buliran bening di matanya jatuh menetes membasahi tanah dan batu-batu di sekitar yang telah meresap darah. 

Aku mengucek kedua mataku. Apa aku tak salah lihat? 

Batu-batu itu! Batu-batu itu bergerak, perlahan membubung ke atas. Aku terperanjat! Batu-batu itu beterbangan! Mereka menuju ke arahku! Mereka berlomba-lomba mengejarku. Aku berlari di atas mayat dan tulang-tulang berserakan. Tenagaku tinggal sisa-sisa. Kakiku perlahan membeku. Semakin kaku. 

Aku terjatuh. Terjerembab di atas mayat para kanak-kanak yang membusuk. Dan sebuah batu yang paling besar sekonyong-konyong akan menimpa kepalaku. Aku terbelalak. Tak percaya, kulihat kedua mata yang tiba-tiba tampak pada batu itu. Mata! Batu itu punya mata! Juga mulut! Ia bahkan bersuara! Ia terus memanggil-manggil namaku. 

“Aaaaaaaaaaaa!” 

Aku berteriak sekeras-kerasnya! 

Aku terbangun! Sekujur tubuhku peluh. Penuh ngilu. 

Belum pukul dua dini hari. Gadis itu. Gadis yang berbicara dengan batu-batu. Mengapa aku memimpikannya? Aku mengusap peluh di dahi. Mimpi-mimpi seram telah memilihku menjadi tempat persemayaman sejak aku berada di tanah ini dan semakin menjadi-jadi sejak aku mulai bertugas lima tahun lalu. Sungguh, kami telah begitu karib. Tak pernah ada hal buruk yang terjadi padaku sesudah mimpi-mimpi seram itu datang. Jadi…, secara logika, aku harus meneruskan tidurku. Meneruskan hidupku.

Namun gadis itu…dan batu-batu yang berterbangan, kini berpindah dari dalam mimpi ke langit-langit kamarku. Membentuk bayang-bayang aneh bersama lambaian pepohonan yang dibawa cahya rembulan masuk, melalui celah jendela. 

Aku terjaga. Aku terus berjaga! 

“Kami tak dapat menjagamu lagi, Hanan….” 

Aku melihat seorang lelaki bersimbah darah, merangkak tertatih mendekati mayat seorang perempuan sebayanya. Di sisi mayat perempuan tersebut, seorang gadis kecil seusiaku menangis sesenggukan. Ia membuang boneka kain yang sejak tadi bersamanya dan memeluk jasad ibunya yang kaku dengan segenap jiwa. Lalu ia menatap ayahnya, meratap parau. 

“Jangan menangis, Hanan? Ja… ngan… menangis…, kau masih ingat cerita ayah tentang batu-batu…itu?” Lelaki itu berusaha tersenyum sambil terus merayap. Perlahan ia menjatuhkan badannya di samping mayat istrinya. Sebelah tangannya meng- genggam tangan sang istri. Sebelah lagi, yang luka dan berlumuran darah membelai wajah gadis kecil bernama Hanan itu. 

“Lelaki utama itu sudah mengatakannya, bannatii…, kiamat tak akan datang sampai tiba pertempuran kita dengan mereka. Hingga…seluruh batu berbicara dan memberitahu kita: ya hamba Allah, ini Yahudi di belakangku! Mereka tak akan… bisa sembunyi, Nak. Batu-batu dan semua tentara Allah di alam ini akan membantu kita….” 

“Abi!” 

“Jaga dirimu baik-baik….” 

Dari balik pintu yang rapuh, aku melihat lelaki itu tak bergerak lagi. Dan Gadis delapan tahunan itu menjatuhkan kepalanya di dada sang ayah. 

“Yatom! Yatom!” 

Aku terperanjat. Lututku gemeretak. Sekilas kulihat gadis itu memandang ke arah pintu dan menemukan wajahku di sana. Matanya sembab. Kedua pipinya yang merah jambu, kini benar-benar merona darah ayahnya. 

“Anak nakal!” Suara ayah menggelegar. Ia menjewer dan nyaris menendangku dengan sepatu larsnya. 

“Tapi…, Ayah…,” aku mengusap keringat dingin di dahiku. Sementara gadis kecil itu menatap kami dengan pandangan penuh tanya yang menusuk. 

“Setelah dibersihkan, besok rumah ini bisa kita tempati. Ayo, beritahu ibumu!” seru Ayah tak peduli. 

Aku menatap gadis itu lagi dan menemukan diriku yang masih gemetar, tenggelam dalam bulat matanya. Dan wajah runcing kanak-kanaknya memperlihatkan garis-garis tegar, tarikan-tarikan keras. Aku merasa nyeri dan teriris-iris. Betapa pedih ditinggal ayah dan ibu. Bahkan bila kau tak menyukai mereka! 

Ya, aku menyaksikan sendiri! Ayahku telah membunuh ayah gadis itu. Teman-teman ayahku menelanjangi sebelum membongkar tubuh ibunya, hingga darah bercipratan di mana-mana dan tentara yang lain mengobrak abrik tempat ini dengan bengis. 

“Mengapa… kita… harus tinggal… di sini, Ayah?” tanyaku ketika berlalu. Ah, aku selalu gagap bila berbicara dengan Ayah. 

“Sebab ini tanah yang dijanjikan untuk kita dan besok rumah ini menjadi milik kita, “Ayah mengusap kumisnya yang lebat. “Yatom, apa pun yang terjadi kau harus jadi seperti aku dan membela tanah ini. Sekarang coba sebutkan satanim atau harar!” perintahnya. 

“A…a…a…takkim, shada…, parokim, libarim…, babill, onan, protokolat…,aa…gorgah, plotisme, qornun….” 

Ayah terbahak-bahak. Menyentak-nyentak. “Hilangkan gagapmu!” serunya kemudian, masih menggelegar. “Aku tak suka mendengarnya!” Aku menunduk. Mengangguk-angguk. 

Setiap kali bicara, Ayah selalu menjelma raksasa yang menelanku bulat-bulat. Ketika aku menjadi tentara lima tahun lalu, ia masih seorang raksasa. Hingga kini. Bagiku, tak seorang pun mampu menghadapinya! 

Keluargaku mulai menempati rumah itu dua hari kemudian. Kami membuat rumah tersebut tampak lebih bagus dan nyaman. Pintu rapuh itu telah berganti dengan pintu baru yang kokoh. Ibu menghias semua ruangan, diantaranya dengan perabotan yang diplitur mengkilap. Tetapi tetap saja aku sering bergidik membayangkan bahwa pernah ada mayat yang terkapar di sana. 

Sementara itu si gadis kecil entah ke mana. Aku menemukan boneka kainnya dalam keadaan kotor dan lapuk, di samping rumah. Beberapa kali, kala senja, aku memergokinya tengah memandangi tempat tinggal kami dari jauh. Ia tampak kurus, kumuh dan tak terurus. Bajunya campang-camping, wajahnya penuh debu. Samar, kulihat sebongkah batu dalam genggaman tangannya yang mungil. 

Keterangan: 

Bannatii : anakku 

Lohemei Herut Israel: Pejuang-pejuang kemerdekaan Israel 

Satanim/harar: sepuluh program freemansory Yahudi Internasional, berlambangkan gurita berkaki sepuluh, ular berbisa berkepala sepuluh dan hantu penerkam berkuku baja.
Terima kasih sudah berkunjung. Semoga menginspirasi. Baca juga cerpen Relikui Ibu

CERPEN LORONG KEMATIAN OLEH HELVY TIANA ROSA

CERPEN LORONG KEMATIAN OLEH HELVY TIANA ROSA


lorong kematian
image
Senja di bulan Juli 1995. Menteri Luar Negeri Inggris, Malcolm Rifkind, menegaskan bahwa Bosnia Herzegovina, kini dalam situasi aman dan damai. Ia menyatakan pasukan Serbia tak akan lagi melakukan penyerangan terhadap penduduk sipil. 

"Gila," gerutu Jod Selovic. Diliriknya Dean Milovic, anak buahnya yang sedang asyik menimang emas yang kemarin ia jarah dari puluhan mayat wanita Bosnia korban perkosaan di barak mereka. 

"Kau dengar, Dean? Tak ada perang lagi? Tak ada? Ha…ha…ha…." 

Dean terkekeh juga. 

"Siapa yang bisa mencegah kita melumuri negeri cantik ini dengan darah?" 

"Aku bahkan mempunyai taktik baru. Lebih brilyan dari Ratko Mladic!" sela Jod. 

"Oh ya?" Dean menaikkan alis matanya. 

"Apa itu, komandan?" 

"Kau akan tahu," tegas Jod. "Ayo!" ia segera bangkit menuju lapangan, di belakang barak prajurit. Dean tergopoh-gopoh mengikutinya. Lengkingan pluit diikuti dengan suara panggilan berulangkali pada seluruh pasukan terdengar. Kesibukan segera tampak di sekitar barak. Para lelaki tegap dan gagah menuju satu titik temu: Komandan Jod! 

"Saatnya pengarahan, minuman dan suntikan!" kata Jod pada sekitar lima ratus prajuritnya. 

"Dean, siapkan!" 

"Siap Komandan!" seru Dean. 

Cepat ia membagi lima ratus orang itu dalam dua puluh kelompok. Jod memperhatikan sambil menarik-narik hidungnya yang lancip. ‘Suntikan kesehatan’ dan ‘minuman kebugaran’ akan membantu prajuritnya untuk beraksi melebihi angin bura mana pun. Berani dan buas. 

*** 

Srebrenica lepas Isya. Kota yang poranda itu adalah dua mayat raksasa yang mendekap mayat-mayat manusia yang tiada bisa dikenali lagi. Bahkan udara seakan mati. Bangunan rapuh sisa reruntuhan, menjadi tempat bermalam mereka yang kehilangan tempat tinggal. Sepi, dingin ditingkahi suara serangga malam. 

"Tidak, tak akan ada lagi pembantaian. PBB telah menjamin…," suara-suara itu menghibur diri sendiri dalam dekapan malam. 

Keheningan pecah seketika saat suara tank, bom, mortir dan berbagai senjata mengoyak dan mencabik setiap sudut kota. Para penduduk Srebrenica yang sejak tadi tak dapat memicingkan mata barang sesaat menjadi panik. Tiba-tiba saja puing-puing reruntuhan dan bedeng hunian tempat mereka berteduh dibombardir! Jeritan kematian, pekik histeria dan berbagai rintihan membuat malam merah menangis. Orang-orang berlarian sendiri tanpa arah, tanpa sempat mengajak atau melindungi keluarga mereka. Bertemu Serbia berarti mati tanpa bentuk. Maka tanpa berpikir lagi, ratusan orang memasuki hutan di tepi Srebrenica. Itulah satu-satunya tempat yang aman, meski bukan mustahil mereka menjadi mangsa binatang buas! Satu persatu dari mereka rebah ke tanah, terkena tembakan dan mortir sebelum bisa mencapai hutan. Kebanyakan para balita, wanita dan orangtua. Ledakan. Di mana-mana api. Asap membumbung tinggi…. 

Jod Selovic berlari kencang sambil memuntahkan peluru dari senjata laras panjangnya. Dan saat darah muncrat dan menggenangi jalan, terasa ada kepuasan yang menyentak-nyentak dalam dirinya. Di hadapannya tak ada manusia. Hanya hewan-hewan liar yang berlarian menyelamatkan diri. Jod menembak domba dan sapi. Lalu ayam-ayam yang beriringan. Ketika seekor harimau melintas, ia menembaknya berulangkali! Hewan-hewan berlarian di pekat malam! Jod tak akan melepaskannya…. 

"Dean!" panggilnya. 

Dean menyeringai. "Komandan, berapa yang kena?" 

"Aku pemburu jitu! Pemburu jitu, Dean!" 

Jod terus berburu. Domba-domba jatuh. Ayam-ayam menggelepar. Rintihan mereka menyayat segala, juga bulan. Tetapi tak menyentuh sedikit pun hati Jod dan anak buahnya. Suara riuh rendah para tentara Serbia yang menikmati perburuan mereka tak teredam oleh derap tank-tank mereka baja. Tak lama sambil mengusap peluh di dahinya berulangkali dan menenggak sebotol zilavka, Jod memberi komando agar ‘perburuan’ dihentikan. 

"Komandan, kami belum selesai!" protes para tentara. 

"Kami akan menghanguskan hutan ini sekalian!" seru yang lain. 

Jod Selovic mengangkat tangannya: 

"Mundur!" teriaknya. "Kita kembali!" 

Dean Milovic dan ratusan tentara lainnya, meninggalkan tempat itu dengan setengah hati. Biasanya Jod menyuruh mereka untuk selalu menuntaskan masalah. Termasuk menghabisi nyawa setiap Bosnia, tanpa satu pun yang luput. Tanpa ada saksi mata . Tapi kini…. 

*** 

"Komandan, bisa kau jelaskan soal ini?" tegur Dean sambil mengatur napasnya. 

Jod tersenyum, masih dengan dada yang turun naik. 

"Nanti kujelaskan. Setelah minum dan mendapat suntikan sekali lagi di markas," ujarnya kemudian, dingin, sambil mengisi kembali senjatanya dengan peluru. 

*** 

Pukul 21.00, waktu Srebrenica. Semua seperti tak percaya mendengar uraian Jod. Malam ini mereka akan mengepung pos PBB di tepi Srebrenica! 

"Kita akan merampas bahan makanan, senjata, hingga seragam mereka!" tegas Jod. 

"Bila mereka mengancam atau melawan kita bunuh!" 

"Mengapa harus demikian…, maksudku mengapa seragam mereka juga harus kita rampas?" tanya seorang prajurit. 

"Bodoh! Pakai otakmu bila berbicara. Kita akan menggantikan tugas mereka ‘melindungi’ para penduduk." Jod terbahak-bahak. Diraihnya ‘minuman kebugaran’. Sambil minum ia terus tertawa-tawa, menyampaikan rencananya. 

Mata Dean Milovic berbinar-binar. Yang lain menyeringai atau ternganga…, beberapa bergidik. Ah, semua tentara yang pernah mengenalJod berkata benar. Jod dan Ratko Mladic atasannya, bagai si kembar pencabut nyawa yang maha licik! 

"Dean, bagi kelompok! Saatnya minum dan suntik!" 

Para tentara baret merah itu tertib masuk dalam kelompok masingmasing. Siap untuk diberi minuman dan suntikan. Mereka merasa selalu lebih segar,hebat dan tangguh bila sudah mendapatkan semua itu! 

Kalau saja kalian tahu, pikir Jod. Bahwa suntikan dan minuman itu semata untuk menghilangkan kemanusiaan kalian, seperti juga aku. Sebab peperangan adalah ladang pembantaian yang dilakukan oleh mereka yang bukan manusia. Begitu menurut Ratko Mladic…. 

Tak sampai satu jam kemudian iring-iringan sekitar lima ratus prajurit telah sampai di Pos PBB, Srebrenica. Jod cukup merasa takjub, ketika para petugas ‘pelindung’ kiriman PBB itu terbelalak ketakutan menghadapi ancamannya. Bahkan pada akhirnya mereka dengan sukarela menyerahkan bukan saja pakaian, juga semua yang mereka miliki padanya. 

"Dunia tidak boleh tahu kepengecutan kalian. Bila kalian buka suara kami akan kembali dan ingat baik-baik, bila hal itu terjadi berarti kalian telah mencoreng nama PBB di panggung internasional. Prajurit, ambil semua bahan makanan, senjata dan obat-obatan!" perintah Jod. 

Pemimpin pasukan PBB yang telah dilucuti dan cuma mengenakan singlet serta celana pendek itu menggigil ketakutan. Anak-anak buahnya berbaris menghadap tembok dengan tubuh bergetar. 

"Pakai!" teriak Jod pada Dean sambil melemparkan pakaian seragam pasukan PBB, lengkap dengan baret birunya! 

"Hup!" Dean menangkapnya sambil tertawa-tawa. Ia segera melemparkan seragam-seragam yang lain pada anggota pasukan Serbia. Dalam sekejap, baret-baret merah Serbia telah berganti dengan baret-baret biru pasukan PBB! 

"Komandan, aku belum dapat!" 

"Ya, aku juga!" kata beberapa prajurit pada Jod. 

"Di mana cadangan seragam kalian?" bentak Jod seara mengangkat wajah dan mencengkeram singlet yang dipakai kepala pasukan PBB itu. 

Lelaki separuh baya itu menunjuk ke sebuah lemari dengan daku yang nyaris rapat ke dada. Geram. Takut. Setelah mendapatkan semua, dengan cerdik Jod memaksa tawanannya masuk ke dalam markas. Sekitar dua ratus tentara itu dipaksa berhimpitan dalam ruangan yang tak begitu luas, hingga mereka megap-megap karena sulit bernapas. Lalu dengan angkuh Jod mengunci mereka dari luar. 

"Ayo kita ledakkan!" teriaknya. 


Dean dan prajurit lainnya terbelalak. Para pasukan naas yang mendengar gelegar suara Jod berteriak memohon-mohon. 

"Ampun, jangan ledakkan! Jangan bunuh kami!" ratap mereka. 

"Tolong, kasihani kami!" lolong mereka lagi. 

Jod tersenyum sinis. "Pengecut! Dean, perintahkan pasukan kita berangkat! Biarkan mereka sepertiikan-ikan dalam akuarium kecil…ha…ha…ha…." 

*** 

Jod dan pasukannya menyelusuri jalan sebelumnya, tempat ribuan manusia berlari menyelamatkan diri, beberapa jam lalu. Kini waktu menunjukkan pukul 03.00 dini hari. 

Tak jauh dari hutan…. 

"Kalian yang berbaret biru, di depan!" perintah Jod. Para tentara mengatur barisan mereka tanpa suara. 

"Kalian yang berseragam asli, sembunyikan diri kalian di balik pepohonan dan belukar!" 

Kemudian Jod dan pasukannya meneruskan perjalanan menuju hutan. Mata malam Jod yang terlatih menangkap kelebat-kelebat manusia yang bergegas menyembunyikan diri, juga suara-suara tangisan yang ditahan. 

"Halo…halo…., siapa yang bisa mendengar saya? Hutan telah dikuasai pasukan PBB! Jangan takut, kami datang untuk menolong. Halo, halo….," suara ramah Jod menggema ke sekitar belantara. 

Pelan-pelan, para penduduk yang menggigil karena lapar, sakit dan takut itu mengintip-intip dari tempat persembunyian mereka. Lalu tak lama, mulai bermunculan. Semakin lama semakin banyak. Wajah-wajah pias mereka sedikit berseri memandang pasukan baret biru tersebut. Sebagian lagi langsung bersimpuh lemas di hadapan beberapa tentara. 

"Halo, halo, siapa yang masih bersembunyi? Kami pasukan PBB. Kami akan membawa kalian ke tempat-tempat pengungsian." 

Ratusan orang, tua, muda, anak-anak dan wanita bergegas meninggalkan tempat persembunyian mereka tanpa ragu sedikit pun. 

"Alhamdulillah, pasukan PBB datang…." 

"Ya, kita tertolong…." 

"Ah, aku tak kuat lagi." 

"Hasanovic! Gervka! Keluar, bantuan telah datang!" 

"Apakah anda mempunyai sepotong saja baclava, anak saya kelaparan…." 

"Tapi, mau dibawa ke mana kami?" 

Suara-suara penduduk yang merasa diselamatkan terdengar gembira. Jod menarik napas panjang. Dua tugas lagi dan permainan selesai. 

"Dean, suruh beberapa prajurit menghitung! Kumpulkan semua orang di ujung sana!" 

Dean bergerak cepat. Tak lama ia sudah kembali membawa berita. 

"Lebih dari lima ribu orang. Sekitar lima ratus tewas oleh serangan kita sebelumnya," suara Dean setengah berbisik. 

Jod memandang ke kanan belantara. Ribuan orang terduduk menunggu nasib mereka selanjutnya. Hanya itu pemandangan yang dilihatnya. Nuraninya bahkan tiada tersentuh melihat bocah-bocah bermata jernih yang terus memperhatikan mereka. Hatinya beku melihat para wanita dan orang-orangtua yang resah gelisah. ‘Minuman’, ‘suntikan’ dan doktrin-doktrin militer Serbia telah menempanya menjadi Jod Selovic, komandan penyambar nyawa. Demi tanah air, atas nama bangsa, ia memilih menjadi manusia tak berperi! 

Tampaknya tak ada di antara orang-orang Bosnia itu yang curiga. Seragam, truk-truk tronton, semua menunjukkan kekhasan pasukan PBB. Pasukan itu juga telah memberi mereka roti dan minuman. Jod masih menatap orang-orang itu. 

"Dean, suruh para komandan pleton memisahkan para lelaki dan perempuan!" 

Suara-suara bingung terdengar, saat pasukan Jod memisah-misahkan warga Bosnia tersebut. 

"Jangan, jangan pisahkan! Ayah kami sudah tua!" 

"Ivan, Ivan anakku!" 

"Nuraa! Nuraa…." 

"Diam kalian! Para lelaki naik ke atas truk-truk itu! Cepat!" teriak Dean. 

"Ganti pakaian kalian dengan mereka! Cepat!" perintah Jod. 

Para tentara Serbia yang bersembunyi di balik pepohonan dan kegelapan malam, tiba-tiba muncul! Para penduduk sipil berteriak histeris. Beberapa orang berusaha melarikan diri. Sia-sia! Darah segar mereka malah kembali mewarnai malam. 

"Buka baju kalian! Buka!" teriak para tentara Serbia berpet merah kepada para lelaki. Rentetan suara tembakan terdengar memecah malam. Lalu sebuah pesta dini hari digelar. Para tentara Serbia memaksa penduduk sipil memakai seragam mereka. Dan sambil tertawa-tawa mereka bersalin dengan pakaian peduduk sipil tersebut. Kening Jod Selovic kembali berkerut. Hidungnya bergerak-gerak. 

"Angkut para ‘tentara Serbia’ itu segera. Kita bantai mereka di tengah jalan! Setelah itu kita undang para wartawan. Kita beri bukti pada dunia bahwa tentara-tentara kita telah disembelih oleh orang-orang Bosnia Herzegovina yang kejam ini!" 

Para penduduk semakin dicekam ketakutan, tetapi mereka mencoba sebisa mungkin menahan rasa ngeri dan pedih itu. Sebab satu gerakan bisa berarti mati! 

"Dean, selesaikan wanita dan anak-anak! Silakan berpesta, ‘pasukan PBB’! 

Tentara-tentara itu tertawa-tawa. Ketakutan warga memuncak. Semakin memuncak!

"Aaaaaaaa!" 

"Pisahkan para wanita hamil!" teriak salah seorang Serbia, terkekeh-kekeh. 

Alis Dean terangkat. 

"Kau bilang janin ini perempuan ini lelaki? Percaya padaku, ia pasti perempuan!" Tiba-tiba pedang panjang yang selalu setia menemani Dean, bergerak cepat dan seketika membelah perut seorang wanita hamil di dekatnya. 

"Tidaaaak! Allaaah!" 

"Sial, kau benar…, janin ini perempuan! Ha…ha…ha…." 

Wanita hamil itu jatuh berlumuran darah, ke tanah dengan perut yang terbelah. Janinnya dilemparkan ke udara. Lalu segera beberapa tentara itu mencari wanita hamil lainnya. Oh, betapa mereka dahaga akan hiburan! Tentu saja hiburan yang menyertakan taruhan! Jeritan-jeritan kematian masih menerkam malam, menyayat bulan. 

Mata Jod Selovic berkilat menatap kubangan darah yang menghitam dalam gelap, tak jauh di hadapannya. Tugas terakhirnya kini adalah membawa para penduduk Bosnia berseragam Serbia itu dan membantainya di berbagai tempat. Ya, ia tahu tempat-tempat bagus. Barak, jalanan…, atau gereja? Sama saja. Jod menatap langit yang kelabu. Bila saja mampu, ia akan buat langit itu retak dan berdarah. Ia tertawa keras. Semakin keras menjelang pagi.
Terima kasih sudah berkunjung. Semoga bermanfaat. Baca juga cerpen Senyum yang Kekal

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia