Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan
CERPEN MUSAFIR OOLEH RISDA NUR WIDIA

CERPEN MUSAFIR OOLEH RISDA NUR WIDIA


musafir
image Imran Kadir
Barangkali, pria itu tercipta dari sebuah ketabahan. Sudah satu minggu berlalu, ketika ia pertama kali berdiri dengan pakaian serba putih di persimpangan jalan Kota J.

Tidak ada yang tahu apa yang sedang ia lakukan di sana. Selain termenung dengan kedua kaki yang bergetar dan menatap penuh murung. Tak banyak pula orang menghiraukannya.

Setiap senja, ia selalu memainkan biolanya yang tak kalah tua darinya. Terdengar lantunan nada-nada menyedihkan yang mengantarkan tenggelamnya langit sore. Kota J yang muram pun lamat-lamat menjadi sepenggal kisah yang malang, yang hanya menyisakan kerisut angin, sampah yang berserak, dan deretan lampu merkuri yang tertunduk.

“Mungkin, pria tua itu adalah segelintir dari ratusan gelandangan di kota ini,” kata suamimu sinis. Kau baru saja melewatinya dan kau melihatnya dari balik jendela bus.

“Kau tahu, di tengah kota, setiap tahun, pasti ada puluhan rumah yang digusur dan ratusan gelandangan tumpah ke jalan karena sebuah pembangunan mal atau hotel.”

“Jadi, mereka memang tak memiliki rumah?”

“Ya, begitulah,” tambah suamimu. “Mereka seperti jin yang berkeliaran di gorong-gorong kota.”

Kota, kini memang seperti belantara kesunyian yang asing. Gedung-gedung tumbuh layaknya tunas pohon. Tak teratur. Orang-orang senantiasa bergegas dan terburu- buru akan suatu gagasan pribadi di dalam pikiran. Setiap saat, suatu perubahan bisa saja terjadi. Pembangunan pabrik, mal, bahkan penggusuran tempat-tempat ibadah. Kau pun ikut terjebak dalam labirin menjemukan itu dan kau juga merasa ada yang selalu hilang setiap harinya di dalam hidupmu.

Namun, ketika kau melihat pria tua dengan pakaian putih itu, selalu ada perasaan aneh yang membuatmu bebas. Kau merasa pria di tepi jalan itu tak seperti gelandangan pada umumnya. Memang, sebenarnya kau tidak begitu memedulikannya. Ia bisa saja datang dari desa untuk mengadu nasib atau sekadar singgah sebentar kemudian pergi melanjutkan perjalanannya.


Mungkin juga ia seorang yang baru saja terkena gusur. Tetapi, tatapan matanya yang selalu melirik ke ufuk barat itu seakan menyiratkan berbagai pertanyaan di benakmu. Tatapan mata kosong yang seolah begitu tabah menanti seseorang yang kelak akan muncul dari sana.

“Aku pikir, pria tua itu sedang meratapi kota yang semakin murung ini, sayang,” desismu pelan.

Ada raut kebosanan pada wajah suamimu—mendengarkan perkataanmu—ketika bus yang kalian tunggangi melewati persimpangan jalan itu. Suamimu mendengus tak acuh saat kau mengatakan perihal pria tua dengan biolanya.

“Apa yang sedang ia lakukan? Mengapa ia dapat begitu tabah di sana, sayang?” Tanyamu lagi.

“Entahlah, sayang,” jawab suamimu ketus.

Kau terdiam. Apakah benar pria tua itu sedang menunggu? Pikirmu lagi. Bus yang kau tunggangi hanya melintas begitu saja bersama seluruh penumpang yang sama sekali tidak memedulikannya. Suamimu pun kembali tertidur. Ia tampak kecapaian setelah seharian bekerja di kantor. Ah, apa pun memang bisa terjadi di jalan. Seorang yang dirampok, mati kelaparan, atau menemukan sebongkah emas di dalam parit. Kau memandang jalanan yang padat, yang dibalut cemerlang lampu-lampu kota. Bus yang kau tunggangi hanya melintas tanpa menghiraukan sosok di tepi jalan itu.

***

Kau sudah tak dapat menghitung, telah berapa kali senja jatuh dan angka-angka di tubuh kalender berguguran. Tetapi, pria tua itu masih kukuh berdiri di tepi persimpangan jalan. Tubuhnya semakin kurus dan rambutnya tak terawat, mengisyaratkan ia telah lama beradu dengan kerasnya jalan. Kau takjub melihat ketabahannya berdiri di sana. Ia pun tetap memainkan biolanya, seraya mengalunkan nada-nada kesedihaan setiap senja. Pria tua itu seperti menjadi saksi bagi tumbuhnya kota yang semakin cepat.

Sosok itu pun kini sudah menjadi arca penunggu perempatan jalan. Sepasang matanya masih kukuh menatap ke ufuk barat—ke arah tenggelamnya senja.

“Apakah ia seorang musafir, sayang? Seorang yang terus mengelana tanpa rumah demi mencari ilmu dan pengalaman baru,” katamu lirih kepada suamimu di dalam bus saat kembali melewati simpang jalan itu.

Suamimu tidak menghiraukan. Satu tahun tinggal di kota memang sudah banyak mengubah sikap suamimu. Ia tidak lagi ceria dan romantis seperti pertama kali kalian bertemu.

“Mungkin, sayang,” jawabnya ketus.

Kau tak menjawab lagi. Di dalam hatimu, malah tersemat ratusan pertanyaan tentang pria tua dengan biola itu. Sosok lusuh yang selalu menyita perhatianmu. Kau ingat saat pertama kali melihatnya. Ia tampak segar dan bertenaga. Sepanjang hari ia termenung dengan mata berharap, sembari memainkan biolanya dengan nada-nada kesedihan.

Tetapi, ia bisa saja memang seorang gelandang an yang sengaja tinggal di persimpangan jalan itu. Seorang yang terlunta-lunta hidup di jalanan tanpa tujuan. Namun, tak menutup kemungkinan juga ia memang seorang musafir yang sedang tabah menunggu sesuatu.

“Aku rasa, ia bukan gelandangan seperti umumnya, sayang,” katamu pada suamimu yang terpejam di samping jendela bus.

“Lantas?” Suamimu bertanya balik.

“Mungkin, ia seorang musafir.”

“Seandainya ia seorang musafir, mengapa ia selalu ada di sana? Bukankah seorang musafir selalu berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain.”

“Entahlah,” kau termenung dan membuang pandanganmu keluar jendela bus.

“Barangkali, ia sedang mencari sesuatu di tengah kota ini. Sebuah pelajaran hidup baru dari manusia-manusia yang bergegas. Namun, seandainya benar ia seorang musafir, betapa beruntung dirinya.”

Suamimu kembali tertidur. Tak menanggapi perkataanmu. Sedangkan, gerimis mulai menggu yur kota dan jalanan. Lampu-lampu merkuri tampak semakin suram di tepi jalan. Tampias air mengenai jendela bus dan sesekali kau membayangkan pria tua itu. Suamimu pun mendengus karena tidurnya terganggu dan kau merasa ada suatu hal yang kembali hilang dalam hidup. Namun, kau tidak pernah tahu apa, yang selalu hilang itu….

***

Lembar-lembar waktu terus mengelupas. Berbulan-bulan berlalu dan sosok itu masih di tepi jalan. Kota semakin padat dengan gedung-gedung dan kemalangan demi kemalangan yang beranak-pinak di setiap simpang kota. Pembunuhan, pemerkosaan, dan perampokan terus terjadi. Orang-orang tetap bergegas dalam satu gagasan di dalam kepala masing-masing. Tetapi, kau masih melihat pria tua itu kukuh berdiri di simpang jalan, sembari menghibur kota yang sibuk dengan memainkan biolanya setiap senja.

Kau pun berpikir, ia memang bukan sembarang gelandangan. Gelandangan dan musafir memang hampir serupa. Mereka sama-sama tak memiliki rumah. Tetapi, seorang musafir selalu memiliki tujuan untuk hidupnya. Malam itu, mungkin untuk yang keseribu kalinya, kau kembali melintasi persimpangan jalan itu. Tetapi, ada yang berbeda ketika bus yang kau tunggangi melintasi tempat itu. Pria tua itu tak tampak lagi di sana. Pun mulai muncul pertanyaan ganjil di benakmu. Apa ia sudah bertemu dengan orang yang ditunggunya dan melanjutkan perjalanannya menuju suatu tempat baru yang tak pernah terukir di dalam peta?

Begitulah, setelah kepergiannya, setiap pulang kerja, kau selalu mencarinya di persimpangan jalan itu atau membayangkan wajahnya yang penuh harap. Kadang-kadang, kau juga merindukannya. Kau sering membayangkan ketika ia memainkan biola. Kau pun acap menjadi iri karena pria itu begitu bebas melakukan segala hal di luar sana. Sedangkan, kau terjebak dalam sebuah rutinitas yang selalu sama. Pria itu seolah tidak terikat akan kejemuan yang membunuhnya secara perlahan.

“Apakah benar ia seorang musafir? Bila memang, betapa beruntung pria itu! Ia dapat berkelana dan mengetahui banyak hal dengan bebas. Ia tak perlu takut kehabisan waktu di masa muda dan menjadi tua dengan menjemukan. Sedangkan, kita terus terkurung dalam ketidakpastian dan kebosanan serta kekhawatiran akan mati dalam keadaan yang tak bahagia. Tanpa meninggalkan apa pun selain kemurungan,” katamu untuk keseribu kalinya kepada suamimu yang sudah tak pernah menjawab lagi di dalam bus.

Kau merasa jengah dengan tingkah suamimu yang tak acuh. Kau meraih tangan suamimu yang dingin. Kau pun terperanjat mengetahui kalau ternyata suamimu telah mati di dalam bus yang tak pernah sampai mengantarkanmu pulang. Orang-orang di dalam bus ini pun ternyata telah membusuk bersama kebosanannya masing-masing.

Kau pun sadar, apa yang sebenarnya selalu hilang dalam hidupmu. Yaitu waktu. Bertahun-tahun bus ini hanya melaju tanpa arah. Bus yang kau tunggangi hanya mengantarkanmu pada ketidakpastian hidup. Tanpa tujuan, seperti seorang gelandangan.
Terima kasih sudah membaca. Semoga menginspirasi. Baca juga cerpen Tamu Dari Masa Lalu 

CERPEN FROM GAZA WITH LOVE OLEH IRWAN KELANA

CERPEN FROM GAZA WITH LOVE OLEH IRWAN KELANA


wartawan di gaza
image 
Ketika Ismail menyatakan ingin menjadi wartawan, aku sebetulnya tidak setuju. Cukup aku saja yang jadi wartawan. Anak-anakku jangan ada yang mengikuti jejakku. Jadi wartawan tak akan bisa kaya. Aku jadi wartawan selama 25 tahun, tapi karierku tak lebih dari redaktur senior. Dan gajiku kalah dibandingkan anak muda yang baru kerja dua tahun di sebuah perusahaan BUMN. 

Namun, putra sulungku itu bersikeras tetap ingin menjadi wartawan. Ia menegaskan, “Dahulu Ayah pernah berkata, jadi wartawan itu memang tidak kaya secara materi, tapi kaya hati, kaya jiwa. Jiwa kita akan terasa lapang dan lega manakala kita bisa membantu orang-orang yang tertindas, orang-orang yang teraniaya. Sebagai wartawan, kita mempunyai kesempatan untuk melakukan hal tersebut.”

*** 

“Yah, mohon izin dan doa, aku akan ikut rombongan relawan kemanusiaan yang akan berangkat ke Gaza minggu depan,” ujar Ismail melalui telepon. 

Aku terkejut. 

“Gaza? Tempat itu sangat berbahaya, Is. Pemerintah dan tentara Israel pasti tak akan membiarkan siapa pun melewati perairan tersebut menuju Gaza. Tempat tersebut diblokade sejak beberapa tahun terakhir.” 

“Memang, Yah. Kami semua tahu itu. Tapi, akan tetap mencoba sebatas yang mungkin bisa dilakukan. Lagipula, rombongan kami jumlahnya ratusan orang dan berasal dari puluhan negara, termasuk Amerika dan Eropa. Di antara relawan itu banyak tokoh terkemuka, seperti peraih hadiah nobel, mantan senator, dan penulis novel terkenal. Tentu saja puluhan jurnalis dari berbagai negara, termasuk dari Indonesia.” 

“Sudah kau pikirkan masak-masak niatmu itu? Bagaimana dengan Sindy yang tengah hamil tua?” tanyaku khawatir. 

“Ah, Ayah seperti lupa. Sembilan belas tahun lalu, Ayah meninggalkan ibu yang sedang mengandung Yusuf sembilan bulan demi meliput Perang Teluk yang pertama. Ayah tidak ragu sedikit pun. Sekarang aku pun begitu. Dan Sindy sudah siap lahir batin. Dia bahagia kalau aku pulang dengan selamat dan dia pun ikhlas kalau kelak aku pulang dalam peti mati sebagai seorang syahid. Lagipula dia masih muda, cantik, dan salehah pula. Kalau pun dia jadi janda, pasti banyak lelaki saleh dan insya Allah lebih kaya dari aku yang siap menyuntingnya.” 

“Husss! Kamu kalau ngomong suka sembarangan!” 

Terdengar tawa kecil di seberang sana. “Pokoknya Ayah doakan aku dan seluruh rombongan biar selamat dan misi kemanusiaan kami dapat membuat anak-anak Palestina tersenyum. Ibu mana, Yah?” 

“Sebentar, Bu, ini anakmu mau bicara. Katanya dia mau ke Gaza untuk mengantarkan bantuan kemanusiaan sekaligus melakukan liputan di sana.”

*** 

Sejak rombongan dari Indonesia berangkat ke Gaza melalui Turki bersama dengan relawan lainnya, aku terus memantau perkembangannya. Ada lebih 600 relawan dari berbagai negara. Mereka membawa bermacam-macam bantuan untuk rakyat Palestina. 

Ismail beberapa kali kirim SMS kepadaku. “Doain, Yah. Titip Sindy ya.” Ketika kapal raksasa yang membawa rombongan relawan itu makin mendekati Gaza, aku makin khawatir akan reaksi Israel yang bertekad dan nekat menghadang rombongan relawan tersebut. Apalagi, selama ini, Israel sering tidak peduli apa kata dunia. 

Akhirnya apa yang aku khawatirkan itu menjadi kenyataan. Pasukan Israel menyerbu dengan membabi buta saat kapal yang mengangkut relawan itu berada di perairan internasional. Penyerbuan yang biadab itu menyebabkan sembilan orang tewas. Ada pula yang luka tertembak. 

Berita simpang siur. Aku berkali-kali mencoba menghubungi HP Ismail, tapi tidak ada nada sambung sama sekali. Aku sangat cemas kalau-kalau Ismail termasuk korban yang tewas atau luka tembak. Aku dan istriku segera ke Depok untuk menemani Sindy sambil terus mencari informasi tentang Ismail. Istriku sangat mengkhawatirkan Sindy, tapi istri Ismail itu tampak tenang dan pasrah. “Tenanglah, Bu. Kalau Allah mengizinkan Mas Ismail pulang dengan selamat, dia pasti pulang dengan selamat. Namun, kalau Allah menghendaki Mas Ismail meninggal di Gaza, dia tidak mati sia-sia. Dia gugur sebagai syuhada. Saya sudah ikhlas, Bu,” tuturnya mantap. 

Betul-betul menantu yang luar biasa. Tidak salah Ismail memilih istri. Perempuan berjilbab bernama Sindy Mara’atush Shalihah! Lulusan sebuah pesantren tahfizh di Jawa Tengah itu hafal Alquran 30 juz. 

Dua hari kemudian barulah ada informasi bahwa seluruh rombongan relawan dari Indonesia selamat. Ada dua orang yang tertembak dan dirawat di rumah sakit di Israel, sedangkan yang lainnya ditahan dan diinterogasi oleh tentara Zionis Israel. Melalui beberapa kontakku, aku mencari nomor telepon Dubes RI di Yordania. Aku kenal baik dengan beliau. Sewaktu dia menjabat dirut sebuah bank, aku sering mewawancarainya. 

“Assalaamualaikum, Pak Dubes. Saya Abdurrahman, wartawan yang biasa meliput Bapak pada tahun 1990an.” 

“Waalaikumsalam, Pak Rahman. Saya ingat. Apa yang bisa saya bantu, Pak?” 

“Salah satu anggota rombongan relawan adalah anak saya. Seorang wartawan, namanya Ismail. Mohon bantuan, Pak Dubes, bagaimanakah keadaannya?”

“Pak Rahman tak perlu cemas. Alhamdulillah, sepuluh orang, semuanya selamat. Delapan orang sudah ada di Yordan, termasuk Ismail. Hanya dua orang yang masih dirawat di RS di Israel karena kena tembak tentara Israel.” 

Dubes menjelaskan bahwa dia sudah ditelepon oleh Presiden, menanyakan kondisi seluruh relawan dari Indonesia. Presiden juga berpesan kepada Dubes agar memberikan pelayanan semaksimal mungkin kepada para relawan itu agar bisa segera kembali ke Tanah Air. Para tokoh dan masyarakat di berbagai negara mengutuk aksi barbar tentara Israel. Di Indonesia, demo digelar di berbagai tempat. Semuanya mengutuk zionis Israel. Keesokan harinya, akhirnya aku bisa berbicara dengan Ismail. 

“Bagaimana keadaanmu, Nak?” tanyaku tak sabar. 

“Alhamdulillah, berkat doa ibu, Ayah dan Sindy, aku dan rombongan dari Indonesia semuanya selamat.” 

“Syukurlah. Kapan kamu pulang?” 

“Tergantung pemerintah mengurusnya. Tapi, insya Allah secepatnya. Sindy bagaimana, Yah, apakah sudah ada tanda-tanda mau melahirkan?” 

“Tadi pagi, dia mulai mulas-mulas. Makanya, ibumu sekarang lagi mengantar dia ke rumah sakit. Tapi, tadi ibumu menelepon, kata dokter mungkin masih dua atau tiga hari lagi. Mulas-mulas tadi mungkin lantaran tegang memikirkan kamu.” 

“Syukurlah. Kalau anakku sudah keburu lahir sebelum aku tiba di rumah, tolong azankan dan ikamatkan ya, Yah.” 


“Tentu. Yang penting kamu pulang dengan selamat.” 

Sejak peristiwa penyerbuan kapal bantuan tersebut, rumah kecil milik Ismail jadi ramai. Tiap hari banyak wartawan dari berbagai media datang untuk mewawancarai Sindy, istriku, bahkan juga aku. Biasanya, aku mewancarai orang, kini aku diwawancarai. 

Para wartawan bertambah banyak yang datang ke rumah Ismail. Apalagi ketika dua hari kemudian Sindy melahirkan. Mereka seakan berlomba-lomba melakukan liputan yang penuh humanisme. 

Akhirnya, Ismail pulang. Di bandara, ia disambut oleh ratusan penjemput. Begitu pula di rumah, ratusan orang tetangga dan puluhan wartawan sudah menunggunya. Ismail seperti pahlawan.

*** 

Lewat pukul sepuluh malam, para tetangga sudah pulang. Demikian pula para pemburu berita, baik dari media cetak, online, maupun elektronik. Aku dan Ismail duduk di beranda rumah. Semburat purnama bertengger di langit. Angin malam membelai lembut. 

“Sudah punya nama buat bayimu?” 

“Sudah, Yah.” 

“Siapa?” 

“Muhammad Fatih El-Ghozi.” 

“Artinya apa?” 

“Muhammad Sang Pembebas Gaza. Aku berdoa, semoga 25 tahun lagi dia akan datang ke Gaza, meneruskan jejak ayahnya untuk membebaskan Gaza, membongkar segala blokade yang menyengsarakan rakyat Palestina, membuka jalan seluas-luasnya untuk kesejahteraan mereka, serta mengibarkan panji-panji cinta dan perdamaian di antara warga dan para pemimpin Palestina,” tutur Ismail penuh semangat. 

Aku menepuk-nepuk bahunya. “Tak ada doa yang lebih pantas untuk aku ucapkan selain ‘Aamiin’,” kataku. 

Ia memelukku. “Terima kasih, Yah. Tidak salah kan aku memilih profesi sebagai wartawan? Seperti pernah Ayah katakan bertahun-tahun lalu, jadi wartawan mungkin tidak kaya materi, tapi kaya hati,” bisiknya. 

Aku hanya tersenyum.
Terima kasih sudah membaca. Semoga menginspirasi. Baca juga cerpen Lelaki Sepi

CERPEN MENUNGGU IMAM OLEH IRWAN KELANA

CERPEN MENUNGGU IMAM OLEH IRWAN KELANA


perempuan yang menunggu imam
image
Sepuluh kali cukup sudah! Aku tak mau mengalami kegagalan cinta yang kesebelas kali. Sudah lelah aku menawarkan cinta ini kepada para wanita, semua berakhir dengan kekecewaan. Padahal, cinta yang aku tawarkan sederhana saja; ‘Maukah engkau menikah denganku?’ Tiga dari 10 orang wanita itu langsung menolakku mentah-mentah. “Bagaimana kita akan menikah kalau kita belum saling kenal?” begitu alasannya. 

Dua di antaranya menyatakan mau, tapi minta waktu setahun lagi. Aku tak bersedia menunggu. 

Tiga lainnya ternyata sudah ada yang punya. Mereka teman sekantorku. Rupanya sikap ramah mereka hanya sebagai sesama kolega. 

Satu orang hampir saja jadian denganku, tapi dia dijodohkan oleh orang tuanya. 

Namun, yang paling tragis adalah Mia, adik kelasku di Pesantren Gontor dulu. Ketika aku datang ke rumahnya di Solo, ternyata baru kemarin dia dilamar oleh Ustaz Hidayat, kakak kelasku. 

Lima tahun berlalu tanpa cinta. Tahun ini, di usiaku yang sudah beranjak 30, aku ingin lebih banyak merenung dan menjauh dari cinta wanita. 

Karena itu, ketika di kantorku ada karyawati baru yang bernama Nindy dan orangnya sangat cantik, aku telah berbulat tekad untuk tak akan pernah mendekatinya. Biarlah para lelaki yang ada di kantorku ini berlomba-lomba mengejar gadis tinggi semampai itu. 

Meskipun demikian, aku tak bisa menghindarinya seratus persen. Sebagai sebuah kelompok perusahaan advertising, media online, dan media radio, jumlah karyawan di perusahaan tempatku bekerja relatif sedikit, hanya sekitar lima puluh orang. Jadi, kami pasti sering berinteraksi. Di samping itu, aku selalu diminta menjadi imam shalat berjamaah, sebab akulah satusatunya karyawan yang lulusan pesantren. Dan, direktur utama telah memerintahkan seluruh karyawan wajib shalat berjamaah. 

*** 

Enam bulan telah lewat. Belum ada seorang pun yang berhasil merebut hati gadis yang sehari-hari tampil dengan baju motif polos dan rambut diikat itu. 

“Ngomong-ngomong, kamu nggak minat sama Nindy?” tanya Mbak Ayu pada suatu siang. 

“Nggak ah, Mbak.” 

“Kenapa? Nindy lagi kosong, lho,” kata direktur yang lebih senang dipanggil ‘mbak’ oleh anak buahnya. 

“Ah, aku gak percaya Mbak, ada cewek secantik dia ngejomblo.” 

“Benar, Fatih. Dua bulan sebelum bekerja di tempat kita, Nindy udah hampir nikah, tapi nggak jadi. Cowoknya menikah dengan orang lain.” 

“Sebentar lagi pasti dia udah dapat gantinya,” sahutku cuek. 

“Jadi, benar kamu nggak mau sama dia?” Aku menggeleng. 

“Kenapa? Dia cantik dan sopan. Keturunan Arab lagi.” 

“Apalagi keturunan Arab. Biasanya dijodohin di antara sesama mereka. Katanya untuk menjaga kemurnian ras dan harta.” 

“Jangan sinis begitu. Nggak semua orang keturunan Arab yang tinggal di Indonesia seperti itu. Banyak juga kok yang menikah sama orang pribumi. Kakak mbak yang nomor satu menikah dengan wanita keturunan Arab di Pekalongan. Sepupu Mbak juga menikah dengan wanita keturunan Arab di Surabaya.” 

“Setahu saya, biasanya orang Arab menikahnya ya sama orang Arab juga. Apalagi Arab Alawiyyin.” [1] 

“Itu dulu. Sekarang orang-orang Alawiyyin pun banyak yang menikah dengan pribumi. Nindy sendiri Arab campuran kok. Ibunya orang Semarang asli. Dua orang kakak Nindy menikah dengan orang Jawa.” 

“Nindy bukan campuran Arab Cina?” 

“Memangnya kenapa?” 

“Matanya agak sipit dan wajahnya sangat putih.” 

“Nah, ketahuan. Diam-diam perhatian sama Nindy ya?” seru Mbak Ayu. 

Aku tak menjawab. Hanya wajahku kurasakan mendadak panas dan sudah pasti merona merah. 

*** 

Acara paparan publik klien kami sore itu selesai pukul setengah empat. Kami segera membereskan perlengkapan dan peralatan. Pukul lima sore, kami bersiap meninggalkan Hotel Gran Melia yang berlokasi di Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan. 

“Ade, Sinta, Nonik, dan Putri pulang duluan ya. Mbak sama Fatih dan Nindy belakangan. Masih ada sedikit urusan dengan klien,” kata Mbak Ayu tiba-tiba. Aku ingin protes, tapi Mbak Ayu memberi kode dengan ekor matanya. Hampir pukul setengah enam sore ketika Kijang Innova yang aku kemudikan keluar dari kawasan hotel tersebut. Mbak Ayu duduk di sampingku, sedangkan Nindy di kursi tengah. 

Sepanjang perjalanan menuju kantor di Kemang, Jakarta Selatan, Mbak Ayu berkali-kali menggoda aku dan Nindy. Mulanya, aku dan Nindy sama-sama grogi. Tapi, lama kelamaan aku merasa nyaman juga. Kulihat dari kaca spion Nindy pun berkali-kali tersenyum kecil. Suaranya terdengar merdu dan manja. Ketika mata kami beradu, wajahnya yang putih bersemu merah dadu. Seperti biasanya, Jalan Warung Buncit di sore hari selalu macet. Kami tiba di kantor lewat pukul enam. Baru saja aku mau ke mushala untuk menunaikan shalat Magrib, Mbak Ayu memanggilku ke ruangannya. Ia menyampaikan beberapa hal penting yang harus aku kerjakan besok. “Maaf, Mbak buru-buru. Soalnya udah ditunggu suami, dan kebetulan Mbak lagi nggak shalat,” ujarnya. 

Tergesa-gesa aku berwudhu, lalu masuk ke ruang mushala. Tiba-tiba mataku terpaku pada sosok Nindy dalam balutan mukena. Ia tampak jauh lebih cantik dari yang selama ini pernah aku lihat. Dadaku berdesir. 

“Sudah shalat, Nindy?” pertanyaan itu seperti meluncur begitu saja dari bibirku. 

“Belum. Saya menunggu imam.” 

“Oh, kalau begitu mari kita shalat bersama-sama.” 

Belum pernah aku merasakan shalat sesyahdu itu. Rakaat pertama, aku membaca surah al-Waqiah ayat 15-26 dan rakaat kedua ayat 27-40. Kelompok ayat itu bercerita tentang keindahan surga yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa, baik dari golongan terdahulu maupun golongan kanan. Di antaranya adalah bidadari-bidadari yang bermata indah laksana mutiara yang tersimpan baik, merupakan gadis-gadis perawan, dan penuh cinta. 

Selesai shalat, Nindy berkata perlahan, “Mas, bisa sekalian pimpin baca doa ya.” 


Aku membacakan sejumlah doa. Ketika tiba pada doa Rabbanaa hablanaa min azwaajinaa wa dzurriyyaatina qurrata a’yun waj’alnaa lilmuttaqiina imaama, [2] aku mengulanginya sampai tiga kali. Tanpa terasa butiran kristal bening menggenang di pelupuk mataku. 

“Mas, apa arti doa yang Mas ulang sampai tiga kali tadi?” tanya Nindy. 

“Ya Allah jadikanlah bagi kami, istri-istri kami dan anak-anak cucu keturunan kami perhiasan mata, dan jadikanlah kami pemimpin orang-orang yang bertakwa.” 

“Mengapa khusus doa tersebut Mas mengulanginya sampai tiga kali?” Aku menghela napas sejenak. “Karena, aku sangat berharap kepada Allah segera mendapatkan jodoh wanita yang salehah, yang dengannya aku dapat membina keluarga yang indah, penuh ketakwaan, dan kebahagiaan.” 

Kutatap matanya, tiba-tiba dia menunduk. Mendadak timbul keberanian dalam diriku untuk bertanya, “Kamu sendiri, apa harapan dan cita-citamu tentang keluarga?” 

Nindy mengangkat wajahnya perlahan. Matanya mengerjap. Seperti ada bintang berkilat di sana. 

“Kira-kira sama dengan Mas Fatih. Berharap mendapatkan jodoh seorang lelaki yang beriman dan mampu membimbingku ke jalan yang diridhai Allah.” 

“Sudah ada calonnya?” 

Nindy mengangguk mantap. “Pasti sudah ada.” 

Mendadak aku merasa hampa. 

“Tapi, Nindy belum tahu dia berada di mana saat ini,” kata Nindy sambil tersenyum. Ruhku seperti hidup kembali. 

“Aku ada satu pertanyaan dan satu persyaratan. Maukah engkau menjawabnya?” 

“Baik, Mas.” 

“Maukah Nindy menikah denganku?” 

“Nindy mau,” jawabnya tegas. 

“Tapi, ada syaratnya. Aku tidak mau menunggu lama. Aku mau menikah minggu depan. Apakah kamu siap?” 

“Siap. Jangankan minggu depan, besok pun Nindy siap.” 

“Allahhu akbar! Subhanallah! Alhamdulillah!” 

Aku sujud syukur sambil berulang-ulang memuji kebesaran Allah SWT. 

*** 

Malam pertama, pukul tiga dini hari. Aku dan Nindy baru selesai mandi. Kemudian kami menunaikan qiyamullailberjamaah. Shalat Tahajud empat rakaat; dua rakaat-dua rakaat. Disusul shalat Witir tiga rakaat; dua rakaat dan satu rakaat. 

Seusai shalat, Nindy mencium tanganku penuh khidmat. Tak henti-hentinya aku mengagumi kecantikan wajahnya yang memancar dari balik mukena putihnya. “Ya Allah, ternyata ada makhluk yang Engkau ciptakan seindah ini. Barangkali beginilah bidadari surga yang Engkau janjikan,” bisikku dalam hati. Nindy tersenyum. “Kok Mas menatap Nindy terus? Nindy jadi malu.” tuturnya lembut. 

Aku meraih wajahnya ke dalam pelukanku. 

“Sayang, aku mau berterus terang kepadamu,” bisikku perlahan. Ia mendongakkan kepalanya. Mata lembutnya seperti menunggu. 

“Sesungguhnya, sejak pertama kali melihatmu, aku langsung jatuh cinta. Aku berusaha menutup pintu hatiku serapat-rapatnya, namun bayang wajahmu selalu menggodaku siang dan malam. Di kantor, sulit sekali rasanya aku memalingkan mataku dari wajahmu, walaupun aku berusaha mati-matian.” 

“Nindy tahu itu.” 

“Maksudmu?” 

“Memangnya kalau dilirik orang nggak terasa? Kalau lelaki itu sering kali mencuri pandang kepada kita?” sahutnya manja. 

“Mati aku! Ternyata dari dulu udah ketahuan ya,” gemas aku mencubit hidung bangirnya. 

“Itu sebabnya Mas melakukan puasa Daud [3] ya?” tanya Nindy. 

“Kok tahu?” 

“Teman-teman bilang.” 

“Betul, aku puasa Daud ketika itu, terutama untuk menjaga mata dan hatiku agar tidak berpaling kepadamu. Bukankah salah satu hikmah terpenting ibadah puasa adalah menjaga pandangan?” 

Nindy tersenyum. Ia beranjak dari pelukanku. Kemudian membuka mukenanya. 

“Sekarang Mas boleh memandangku sepuas hati. Tak ada dosa dan tak ada yang menghalangi.” Sorot matanya begitu teduh. 

“Terima kasih ya, Allah. Engkau anugerahkan kepadaku bidadari terindah.” Kembali kupeluk dia dan kubelai rambutnya yang hitam legam. 

“Satu lagi pengakuanku. Aku selalu berdebar dan mendadak cemburu setiap kali kamu membuka ikat rambut dan membiarkan rambutmu tergerai.” 

“Mengapa, Mas?” 

“Rambutmu adalah rambut paling indah yang pernah aku lihat. Aku tak rela kalau ada orang lain yang tahu bahwa kamu memiliki rambut yang seanggun itu.” 

Tiba-tiba Nindy menyunggingkan senyum yang paling manis. 

“Mulai sekarang, rambut indah ini hanya untuk Mas Fatih seorang. Tak ada lagi orang lain, apalagi laki-laki yang bisa melihatnya.” 

“Bagaimana caranya?” aku kurang mengerti. 

“Nindy telah berjanji sama Allah, akan mengenakan jilbab kalau sudah mendapatkan suami yang saleh, yang mampu menjadi imam di dunia dan akhirat. Selama ini, Nindy bekerja sebetulnya sambil menunggu imam. Sekarang imam itu sudah Nindy dapatkan.” 

Aku kehabisan kata-kata. Ya Allah, nikmat-Mu ini teramat besar bagiku. Kembali kupeluk istriku dan kubiarkan air mataku jatuh di wajahnya yang seputih pualam. (*) 

Jakarta, 2010 

Catatan: 

[1] Orang-orang Arab yang berasal dari Hadramaut (Yaman), dan mengklaim masih keturunan Rasulullah. 
[2] Quran Surat ke-56. 
[3] Sehari puasa, sehari berbuka.
Terima kasih sudah membaca. Semoga bermanfaat. Baca juga cerpen Percakapan Pengantin

CERPEN KOTA INGATAN OLEH SUNGGING RAGA

CERPEN KOTA INGATAN OLEH SUNGGING RAGA


kota bekas perang
image Encyclopaedia
Di matanya tersimpan ribuan kenangan yang ganjil tentang kota itu. Kota yang sekujur bangunan dan tanahnya—serta jurang semestanya—kini telah berselimut debu, tak tersisa bahkan reruntuhan secuil nisan pun, semuanya mendadak abu-abu seragam, seperti bangunan sejarah yang menganga, dengan masih menyisakan beberapa helai napas penduduknya. 

Orang-orang datang ke kota itu hanya untuk berwisata, bukan tentang keindahan, melainkan tentang rasa kehilangan. Lelaki itu, masih dengan matanya, menatap kotanya sendiri dengan perasaan yang menggebu, ia seperti berdiri di tapal batas, di sebuah medan yang memisahkan masa depan dengan masa lalu, ia tak lagi bisa bergerak, sekujur tubuhnya kaku, seperti kepedihan yang menahannya selama bertahun-tahun di tempatnya berdiri. Sekarang ia hanya bisa memandang, tanpa bisa dipandang oleh orang-orang yang berlalu-lalang—ia telah terbungkus debu yang amat berjarak bagi setiap penglihatan.

Mengunjungi kota itu seperti mengunjungi detik-detik kematian. Aroma debu terasa sampai ke hidung, aroma penderitaan terasa sampai ke ubun-ubun. Aroma kematian seperti cuaca kemarau yang tersedak. Dan hujan tak pernah datang, kecuali dalam puisi anak-anak yang sekolahnya telah sempurna terendam. 

Bagaimana pun, ingatan akan tetap berjalan, bersama tumpukan kisah yang berkelindan, menebas masa lalu yang tumbuh sewaktu-waktu. Ingatan itu mengucur setiap saat dalam pikirannya. Lelaki itu akan selalu punya cara, entah bagaimana, untuk tetap menganggap kota ini masih berbentuk seperti sedia kala. 

“Dulu, rumahku di sana itu, yang pagarnya bambu, di dekat sebuah pos ronda yang dibangun bergotong-royong sebelum tahun baru. Di halaman rumah, aku punya kebun anggur, biar kecil, tetapi istriku rajin merawatnya, menggunting ranting yang nakal, menyapu daun-daun kering, ranting-ranting anggur itu terjulur sampai menyentuh genteng, rumahku jadi sejuk, para tetangga senang berkunjung, hanya untuk duduk-duduk, memetik anggur yang dekat, dan bersandar sambil berbincang tentang apa saja. Ada juga bunga matahari yang tertanam di pot-pot, berbaris di teras rumah, bersebelahan dengan bunga mawar, melati, dan tanaman bonsai. Aku, meskipun bekerja sebagai buruh pabrik, tetapi hidupku sempurna, gaji bulanan memang kecil, itu pun sudah dengan korupsi kecil-kecilan setiap kali ada proyek bulanan. Aku bahagia di kota ini, terutama desa tempatku tinggal, begitu asri, bahkan secara khusus, desaku pernah jadi juara lomba kebersihan lingkungan, aku pun pernah ditunjuk jadi seksi kebersihan. 

Tetapi tentu tak semuanya bersih, di kota ini, industri tumbuh seperti jamur musim penghujan. Sepanjang siang, aku akan memakai masker, helm, dan seragam, beradu dengan cerobong yang menganga, mengeluarkan gas dan menumpahkan limbah: plastik dan cairan kental berbau busuk. Saluran-saluran terkadang saling bersilang di tempat yang tak semestinya. Tetapi inilah hidup kami. Dan kami menikmatinya, dan kami mengamininya.” 

Dalam setiap ucapannya yang entah kepada siapa, lelaki itu seperti hendak melakukan ziarah masa lalu, entahlah, apa yang diucapkannya seperti tidak pernah ada, seperti tidak mungkin ada di tempat yang penuh debu pejal seperti sekarang ini. 

Debu itu, awalnya adalah air keruh di perut bumi, berupa titik yang tak terpikirkan, lalu sebuah industri merasa terdesak, lalu kepanikan melanda sebuah dusun, dinding retak, lalu tanah ikut merendah, bumi seperti sedang melakukan metabolisme tingkat tinggi. Selanjutnya semua menyebar, dari dusun ke dusun, bertambah luas area, desa, kecamatan, hingga bertahun-tahun kemudian, seluruh kota retak, pecah, semacam ledakan kimiawi yang menantang sebuah peradaban. Kemudian debu datang sebagai hadiah perpisahan, bersama dengan lubang menganga yang mengeluarkan asap menantang. Dan bumi, bagi mereka, seperti tak mau lagi berjabat tangan. 

*** 

Sesaat terdengar derak-derak gerbong dan suara peluit kereta. Tak jauh. Mata lelaki itu selalu bisa menangkap bagaimana kereta menyibak kesuraman waktu, menyalakan lampu lokomotif yang temaram menelan udara kelabu. Kereta merangkak pelan, rel pernah terisap cairan keruh, yang setelah mengering hanya menitipkan debu. Kereta apakah yang melaju seperti cacing itu? Mutiara Timur? Sri Tanjung? Logawa? Warna gerbongnya begitu samar. Para penumpang dalam kereta pun hanya memandang, entah memandang apa. Sekali lagi, sebab ini bukan wisata, melainkan sebagai terapi hati yang bisa didatangi setiap hari. 

“Lihat Nak, itu pasti tinggi dan dalam sekali.” 

“Hebat ya, Bu. orang-orang bisa membuat gunung.” 

“Itu bukan gunung, Nak. Tapi pulau, kita sedang melihat janin sebuah pulau.” 

“Itu asap apa, Bu?” 

“Anggap saja itu gunung berapi.” 

“Gunung berapi?” 

“Ya. Kamu harus tahu, pulau selalu punya gunung berapi.” 

Rel kereta bergetar pelan, tak jauh di seberang rel, orang-orang pekerja sibuk menutupi jalan raya yang pecah, di mana-mana pecah, berlubang, dan memancar cairan kental, basah. Itu jalan raya terakhir yang masih bisa terlihat, mereka hendak menyelamatkannya. Orang-orang menutup pecahan itu dengan tanah, lalu merembes lagi. Orang-orang menimbunnya lagi, dengan karung beras, dengan batu-batu, lalu menambalnya dengan aspal panas. Namun tak lama, di bagian lain tak jauh dari situ, sebuah lubang muncul lagi, jalan retak lagi, orang-orang bekerja lagi. Jalan raya itu menjadi penuh tambalan yang memilukan, tanpa pola yang manis, abstrak, dan mencemaskan.

Dari kejauhan, lelaki itu bisa melihat mobil-mobil seperti terayun di lautan. Debu menjebak kaca mereka seperti malam menyergap kelam. Jurang mengancam. Kemudian ia kembali sibuk dengan monolog batinnya. 

“Tentu saja, sepanjang hidup ini, sepanjang udara yang kuhirup di bawah kebun anggur, aku tak pernah terpikir untuk tidur di pasar, bertumpuk seperti bangkai binatang yang tak laku dijual. Tak pernah terpikir bahwa rumahku hanya setumpuk debu, sisa cairan yang mengendap bisu. Tetapi bukankah hidup penuh disharmoni? 


“Memang seperti sihir saja, tak butuh waktu lama, tiba-tiba kota ini menjadi debu, rumahku menjadi debu, dinding retak seperti roti kering, bau menyengat tercium sampai ke tempat tidur kami. Air keruh, sumur seperti jurang neraka menganga, kami tak bertanya, tiba-tiba kami hanyalah sampul sebuah berita. 

“Ya. Tiba-tiba dunia berubah, dunia menjadi sempit, sebatas pasar yang hampir runtuh, kami ditumpuk di sana, istriku begitu cepatnya menjadi tua, wajahnya keriput, dahinya mengkerut, anak-anakku muntaber, sekolahnya hanya di angan-angan. Buku-buku menjadi bungkus kacang yang dijual setengah kilo. Aku tidur bersama bau bacin selokan, selokan yang penuh limbah, yang ketika diperas akan mengucurkan uang, dan uang itu mengalir entah ke laut mana. Kami, para lelaki yang masih memiliki tanggung jawab, hanya menghabiskan malam dengan main kartu, domino, tetapi kami tidak berjudi, apa yang harus dipakai untuk judi? Sampah-sampah? Bukankah kami yang justru telah menjadi korban perjudian? Kami juga main catur, kami gerakkan pion, dan setiap kali aku memindahkan sesuatu dalam petak segiempat itu, entah kuda, menteri, atau ratu, aku merasa memindahkan sebuah dunia, memindahkan sekumpulan nasib yang meraung-raung tak bisa kemana-mana. Tetapi itu hanya papan catur, yang ketika dini hari menyergap, maka akan dirapikan dan ditumpuk di atas kardus-kardus mie. Kami melihat mie seperti padi, menjadi makanan pokok, tetapi mie tak bisa ditanam, tak bisa dipanen, entahlah, plastik itu menjadi sangat berharga bagi kami. Setelah lelah bermain, kami pun kembali ke tempat masing-masing, melihat anak dan istri kami tak ubahnya calon ikan asin. 

“Dunia kemudian hanya menawarkan sayuran yang tumpah. Malam hari dingin udara menusuk, siang hari panas merasuk, seharian bau badan membusuk. Tiba-tiba istriku bilang tidak kuat lagi. Ia ingin pergi ke rumah orangtuanya. Tak jauh memang, hanya berselang beberapa kota. Anak-anak juga seperti lidi, kurus kering bukan karena dimakan usia atau penyakit, melainkan dimakan oleh manusia yang tak kasat mata. Ya, kami semua telah menjadi mangsa manusia. Dan yang tersisa hanya debu, yang membuat kami merasa hanya bertelanjang dada tanpa bisa tersedu. 

“Anak-anakku dibawa istriku pergi, ke kota yang tak begitu kukenal. Sebenarnya ia sudah memaksaku ikut, tetapi, apakah mudah seseorang pindah dari kota yang lama ditinggalinya? Kota yang bertahun-tahun menabung kenangan di kepalanya? Aku memilih untuk tinggal, mengumpulkan kembali secercah harapan. Bahkan dalam debu pun aku berpikir tentang sisa keindahan, kota ini memang telah rata, sama dengan gurun Sahara, tetapi kenangan tak akan hilang, meski perjuangan hanya berhenti di tangan undang-undang, tetapi toh kami masih bisa merasakan gerimis turun di ubun-ubun kami, seperti hendak mencairkan pikiran yang membatu. Seperti ingin menghibur bahwa hidup tak selamanya peluru. 

“Kami masih punya doa, kami punya mulut yang tak sepenuhnya terkatup, sudah habis rintihan, tetapi segalanya seperti ziarah, ketika Hari Raya tiba, seakanakan sirna debu itu, seakanakan kami menjelma kembali, dan orang-orang pun merasa takjub. Kemudian kami akan kembali, berdiri, berpencar, di batas-batas tempat kami pernah hidup sebagai manusia.” 

*** 

Setiap saat, suara lelaki itu terus menggema dan bertiup bersama debu, debu yang dinikmati sebagai bencana, sebagai sisa jelajah manusia. Lelaki itu sendiri masih berdiri di pintu batas kota, seperti pangeran yang tiba di panggung sandiwara, seperti pengelana yang merenungi sisa kepergiannya: Halaman rumahnya masih ia hapal, ia ingat betul berapa langkah untuk tiba di depan pagar, membuka pintu bambu yang artistik, lalu menerima sambutan hangat dari anak-anaknya yang masih kecil dan lucu. Tetapi kini tubuhnya pun hanya debu, berapa tahun ia tak berganti pakaian? Haruskah ia masih berpikir tentang penampilan? Di bibirnya yang pecah itu seperti memancar sisa-sisa doa. 

“Ibu, Ibu, orang itu siapa?” 

“Yang mana?” 

“Itu, yang berdiri, yang bajunya abu-abu.” 

“Abu-abu? Mana, sih?” 

“Lho, Ibu tidak lihat? Itu, jelas kok, berdiri mengadap ke sana.” 

“Ah, kamu ada-ada saja. Di sini sudah tidak ada orang tinggal, semuanya pergi….” 

Orang-orang—siapa pun dan dari mana pun asalnya—memang tak pernah bertanya keberadaan sisa penduduk kota itu, semua jejak kisah dan jerit rintih meresap alami, mengendap dan hilang ke dalam debu. Seperti berita dalam koran bekas. Padahal mereka semua juga manusia, yang paham tentang hakikat kehilangan. Tetapi bukankah segenap cerita tentang manusia di tempat ini telah usai? Ya. Sama seperti benda-benda lain di kota ini, rasa kemanusiaan pun telah lama hilang, menjadi debu.
Terima kasih sudah berkunjung. Semoga memberi manfaat. Baca juga cerpen Dua Orang Sahabat

CERPEN PEMAKAMAN YANG BAHAGIA OLEH SUNGGING RAGA

CERPEN PEMAKAMAN YANG BAHAGIA OLEH SUNGGING RAGA


mawar putih diatas makam
image 
Ketika tak ada lagi yang bisa diharapkan dari hidupnya, ketika tak ada lagi yang bisa dibanggakan setiap kali mata itu terbuka menatap dunia yang muram, lelaki itu pun bersumpah, bahwa setidak-tidaknya ia harus bisa menciptakan sesuatu yang akan memuaskannya kelak, sesuatu yang barangkali akan menjadi satu-satunya sejarah yang tercatat atas namanya. Ya, dan hal itu sudah ada di antara sepasang matanya. Diam-diam, ia ingin sekali mengakhiri hidupnya, dengan sebuah pemakaman yang bahagia. Pagi ini, ia bangkit dari lelap dengan dahaga yang tak sudah-sudah, baru saja ia beranjak dari kasur lapuk itu, membuka mata yang berair, sementara sang istri masih mendengkur di sampingnya. Terkadang ia heran bagaimana bisa menikah dengan istri yang suka mendengkur keras-keras. Setiap kali tetangga bertanya —sebab merasa terganggu—maka lelaki itu akan mengaku bahwa itu adalah dengkurannya. 

Cahaya matahari tak juga masuk ke dalam kamar yang penuh dengan kenangan lapuk itu. “Inilah kamar tempat aku merasa dilahirkan kembali.” Harusnya ia bangga karena memulai hidup baru dengan seorang wanita, tentu masih teringat ketika ia melepaskan baju masa kecilnya yang sungguh tidak bahagia. Kebahagiaan macam apa yang didapat dari bekas luka di sekujur tubuh akibat seorang ayah yang bengis? Kebahagiaan macam apa yang dihasilkan dari terik matahari ketika ia dan sebuah sepeda harus mengantarkan hewan-hewan ternak curian itu ke penadah yang selalu datang pada siang hari ketika bumi terbakar. 

Kemudian ia pun dilahirkan kembali, dengan takdir-takdir yang justru menggerogoti usia pada akhirnya. Segalanya diawali ketika seorang wanita mulai menemaninya, wanita yang ditemuinya sedang tertawa sambil mencuci pakaian di tepian sungai, waktu itu, setiap detik baginya sungguh luar biasa, sungguh pesona yang lebih jernih daripada muara. Proses perkenalan hingga pernikahan seperti menuju gerbang istana lapuk yang lama tak dibuka. Ia sudah membayangkan kebahagiaan memang sesuatu yang tertahan, dan butuh seseorang untuk membukanya. Tetapi apalah kemudian arti tidur bersama, malam-malam mutiara, pesona yang membabi buta, kalau pada akhirnya ia kembali harus menerima kenyataan yang sama pahit dengan masa kecil itu. Wanita itu memang menarik, cantik dari setiap sudut, dan selalu nampak ceria dalam keadaan apa pun. Namun itu tak mengubah garis takdirnya. Bagi lelaki itu, kedewasaan adalah ular berbisa yang tidak pandang bulu. Lelaki itu menggambarkan hidupnya sebagai mimpi buruk yang nyata, mimpi yang keluar begitu saja dari otak lantas menjelma kengerian-kengerian yang tak terbantahkan.

Maka hari-harinya kemudian diliputi keresahan, istri mulai hamil, apa yang didapat? Bahkan ia tak sempat mengecapnya, ia tak peduli jika anak itu ternyata anak dari salah satu laki-laki yang setiap malam bergantian menjemput istrinya. Ya, hanya sesaat wanita itu menemaninya. Kemudian segalanya berlangsung kilat, istrinya pergi tanpa tujuan yang jelas, hingga tiba-tiba hamil dan melahirkan seorang bayi. Laki-laki tua dan muda yang hadir silih berganti itulah yang mungkin berhak menjadi ayah bayi itu. Lelaki itu tak berhak apa-apa, bahkan ia tak punya kuasa terhadap hidup istrinya, ia tidak merasa bekerja begitu keras hingga wanita yang hanya pulang untuk mendengkur itu memiliki banyak perhiasan yang diimpor dari luar negeri. Perhiasan antik itu memang kemudian membuat kamar tampak indah, cermin rias selalu memantulkan cahaya kemilau itu, cahaya yang bagi lelaki itu adalah cahaya dari neraka. 

Ia merasa lumpuh, ketika bayi itu lahir, bahkan seminggu setelahnya bayi itu belum juga ia beri nama. Dan sebulan kemudian ia bahkan tak tahu bahwa bayi itu sudah memiliki nama, entah siapa yang memberinya. Sementara istrinya seperti kerang yang dengan cepat kembali segar. Hanya sebentar lelaki itu merasakan keberadaan seorang wanita di rumah yang tersusun dari bamboo itu. Kemudian laki-laki demi laki-laki kembali hilir-mudik menjemput istrinya setiap malam, ketika ia sendiri harus sabar mengajak bicara bayi yang sering menangis itu, mengajak bayi itu untuk mengerti bahwa hidup memang sulit untuk bahagia, berbagi kesepian bersama sepasang mata yang masih bening, mata yang diturunkan oleh wanita yang telah menyiksanya. 

Apa yang kemudian membawanya di titik tempat ia merasa pasti tidak akan memperoleh kebahagiaan selamanya? Ketika bahkan di rumahnya sendiri ia merasa seperti dibalut neraka. Ia menahan benci terhadap istrinya. Wanita itu memang tak pernah peduli, dan lama-kelamaan ia tak minta untuk dipedulikan. Sudah habis kesabarannya—sebagaimana ia tak pernah ingin menumpuk amarah— kepada wanita yang entah mengapa bisa dinikahinya itu. Lelaki itu ingin kembali ke rumah, membalik waktu yang purba, merasakan pukulan dari sang ayah seperti masa kecil dulu, ia lebih suka siksaan fisik daripada batin yang setiap saat digerogoti takdir yang menyayat, melipat hidupnya lebih cepat. Tetapi itu hanya bayangannya, bayangan sesaat yang bahkan tak mampu mengembangkan bibit-bibit senyumnya. Hidup berlalu sangat cepat dan hari-hari diliputi rutinitas batin yang menyesakkan. Lebih menyesakkan lagi sebab istrinya selalu tampak bahagia, wanita itu adalah antitesis dari suaminya sendiri. Wanita itu murah senyum, bahkan pada hal-hal kecil semacam cicak yang berkejaran di dinding pun ia tersenyum, bahkan pada kucing yang tiba musim kawinnya pun ia sempat tertawa. Wanita itu adalah potret seorang istri yang bahagia, menebar keceriaan di mana saja, di setiap sudut tempatnya berpijak. Tetapi bagi lelaki itu, setiap senyum adalah petaka, seperti silet yang siap mengiris selaput mata agar selalu memancarkan air mata higga darah, sampai kering semuanya.

“Kau terlalu memberatkan dirimu sendiri. Kau harus bisa menerima kenyataan, belajar dari keadaan. Aku seperti ini karena kau seperti keledai yang tidak berguna. Kau tidak bisa bekerja. Kau hanya terpaku merenungi masa kecilmu dan berharap kebahagiaan jatuh tiba-tiba dari langit. Ayolah, kau kuizinkan keluar, temui siapa pun yang bisa membuatmu tertawa seperti aku.”


Wanita memang pandai bersilat kata. Ia bergumam. Ia melihat srikandi yang diliputi kemewahan, yang dengan pongah mengangkat kaki di depan wajahnya. “Apa kau tidak pernah merasa sedih? Menangis? Seperti aku?” tanya lelaki itu kemudian. 

“Setitik air mata pun tak pernah jatuh dari kelopak mataku.” Saat itulah, ketika semua rasa sakit sudah membatu di hatinya, ia mulai menyusun rencana kecil untuk mengakhiri hidupnya. Ia membeli setumpuk kertas, melarikan dirinya ke sebuah tempat terpencil, di bawah ridang pohon cemara, ia mulai menulis surat. “Aku ingin semua kawanku datang tanpa baju hitam. Aku ingin mereka bahagia pada hari kematianku. Aku akan memandangi mereka meski mereka tak bisa melihatku,” katanya kepada diri sendiri. 

Lelaki itu mulai berjalan ke setiap rumah yang dikenalnya untuk menyampaikan surat itu. Sebagian surat juga dikirimkan lewat pos, surat itu ditujukan pada seluruh kawan-kawan yang masih sempat diingatnya. Ia kirimkan surat itu pada hari yang sama, dengan ratusan tujuan berbeda. Ia merasa lega, menghabiskan uang terakhir untuk menulis. Lantas ketika malam menjelang, ia mengecup bayinya dan meninggalkannya di kamar tidur. Ia pun memasuki sebuah ruang gelap tak jauh di sebelah rumah, semacam gudang, yang ketika dimasuki maka menyeruaklah bau tikus mati, botol minyak tanah, jerami, dan sepotong tali telah siap bergantung di langit-langit. Segalanya memang telah matang dipersiapkan, dan dalam malam yang remang, lelaki itu pun kemudian terbakar cahaya. Sementara di tempat lain, istrinya baru saja dinobatkan sebagai wanita termahal di kota ini, penobatan itu diputuskan di sebuah bar ingar-bingar yang dihadiri pejabat-pejabat setengah botak berperut gendut, wanita itu telah ribuan kali berpindah-pindah untuk bersandar ke perut mereka, bahkan ia bisa tahu pejabat mana yang paling punya uang, ia lah yang paling mengerti hubungan antara perut dan kepala botak dengan kekayaan. Wanita itu merasa indah malam itu ketika semua mata tertuju kepadanya, hanya kepadanya. Dan di tempat lain pula, di sebuah kamar abu-abu yang lampunya redup, seorang bayi menangis menghentak-hentak, jeritannya terdengar sampai ke pekarangan, namun tak ada seorang pun yang mendengar tangisan bayi itu. Bayi yang terus menggetarkan pita suaranya. Ia hanya butuh susu. Ia hanya butuh susu. 

Tiga jam kemudian, mayat lelaki itu diturunkan perlahan oleh pihak kepolisian setempat. Puluhan kawan yang menerima undangan kematian mulai berkumpul di sana. Mereka lihat kulit yang terkelupas hangus itu, mulut yang masih menampakkan sisa busa. Sebagian dari mereka juga langsung menggendong bayi yang entah ke mana ibunya. “Barangkali ini anaknya,” ucap salah seorang dari mereka. 

Lelaki itu benar-benar bunuh diri dengan tiga cara sekaligus yang terlalu sadis untuk dijelaskan dengan kata-kata. 

***

Pagi memaparkan mendungnya di langit ketika keesokan harinya pemakaman yang bahagia itu benar-benar berlangsung. Beberapa mobil terparkir di sepanjang jalan di luar pagar. Mobil-mobil mewah yang bisa membuat dugaan bahwa yang meninggal adalah orang kaya terhormat. Namun orang-orang di sekitar kompleks merasakan keganjilan itu, para peziarah datang dengan suka cita dan canda tawa yang seharusnya adalah hal paling terkutuk dalam keadaan seperti sekarang ini. Mereka lah kawan-kawan yang telah mendapatkan surat dan kini hadir dengan pakaian warna-warni. Mereka mengingat dengan baik permintaan lelaki itu, kompleks makam yang sedianya menyiratkan kepedihan mendalam itu justru meriah seperti pesta badut. Setiap orang hadir dengan warna pakaian yang mencolok. Tak ada karangan bunga. Tak ada tulisan belasungkawa yang dilingkupi warna-warna kelabu, apalagi isak tangis baik yang tertahan atau pun terlepas ke langit, tidak ada, semuanya ceria. Sesuatu yang sungguh terlihat ajaib bagi setiap yang kebetulan lewat. 

“Ada apa di situ?” 

“Ada pemakaman.”

“Pemakaman?” 

“Ya.” 

“Tidak mungkin. Mereka tertawa-tawa. Itu tidak seperti pemakaman.” 

“Sungguh, Kawan. Itulah pemakaman yang bahagia. Kalau tak percaya. Ikutlah. Kau tidak perlu berbaju hitam, kau hanya perlu tertawa, tertawa, dan tertawa, bersama kami.” 

Pemakaman itu pun semakin meriah. Bahkan orang-orang tak dikenal pun mulai ikut berkerumun. Diletakkan juga sebuah meja dan gelas-gelas minuman dengan botol-botol bersoda selayaknya pesta. Lelaki itu barangkali sudah nyenyak di bawah tanah, sayup-sayup menikmati canda tawa yang semua ditujukan kepadanya. Untuk kali pertama ia bahagia. Meski itu tak tampak bagi setiap orang, tetapi barangkali arwahnya sedang duduk di pohon yang paling tinggi, menatap takjub pada sikap kawan-kawan yang telah dengan baik mengapresiasi kematiannya dengan pesta dan canda tawa. Pesta itu baru berakhir menjelang siang, orang-orang mulai surut dan di sekitar makam tersisa sampah-sampah meski bukan bekas tisu. Ketika itulah dari kejauhan, muncul seorang wanita yang berjalan ke arah makam.Wanita itu berpakaian serba hitam, seperti bidadari kegelapan, tetapi ia tidak melayang, ia datang tersandung-sandung batu sambil memeluk bayinya yang tentunya tak bisa tenang. Ia terus berlari sambil sedikit menyingkap rok hitamnya, melewati deretan nisan tua yang namanya telah kabur, menuju tempat hiruk-pikuk tadi yang kini telah sepi. Ia pun kemudian duduk. Tertunduk. 

Bermenit-menit kemudian, wanita itu hanya bisa terkulai, entah apa yang telah menggerogoti pikiran dan perasaanya begitu cepat. Di atas nisan sang suami, untuk kali pertama dalam hidupnya yang serba bahagia, jatuhlah air matanya.
Terima kasih sudah berkunjung. Semoga memberi manfaat. Baca juga cerpen Epitaf Bagi Sebuah Alibi

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia