Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Tampilkan postingan dengan label Irwan Kelana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Irwan Kelana. Tampilkan semua postingan
CERPEN MERPATI-MERPATI MAKKAH OLEH IRWAN KELANA

CERPEN MERPATI-MERPATI MAKKAH OLEH IRWAN KELANA


merpati terbang
image Gary Griffith
Akhirnya, aku tiba juga di kota yang kurindukan ini. Makkah, kota kelahiran Rasulullah Muhammad SAW, lokasi Masjid al-Haram berada.

Kemarin pagi aku dan 29 wartawan Indonesia dari berbagai media tiba di Bandara King Abdul Aziz Jeddah. Dari Jeddah, kami naik bus ke Madinah yang berjarak sekitar 450 kilometer selama kurang lebih enam jam. Shalat di Masjid Nabawi dan mengunjungi beberapa tempat di Kota Nabi tersebut.

Bakda Isya kami melanjutkan perjalanan ke Makkah dengan bus. Sebelumnya, kami mampir di Bir Ali untuk mengambil miqat dan mengenakan pakaian ihram. Perjalanan sepanjang sekitar 490 km itu kami tempuh dalam waktu sekitar enam jam.

Waktu sudah menunjukkan pukul 02.00 dini hari ketika bus tersebut tiba di kantor Daerah Kerja (Daker) Makkah Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi. Dari jarak belasan, bahkan lebih 20 kilometer, Abraj Al- Bait Tower, gedung tertinggi di Kota Makkah tampak megah seakan mengucapkan selamat datang. Sebuah jam raksasa yang bertengger di puncaknya makin menegaskan keberadaan Menara Abraj Al-Bait sebagai landmark dan ikon Kota Makkah.

Dari berbagai literatur yang aku baca sebelum berangkat ke Tanah Suci, di dalam Menara Abraj Al-Bait terdapat beberapa hotel bintang lima, seperti Fairmonth, Raffles, Retaz, Movenpick, SwissBell, dan Grand Zam-Zam. Terdapat mal di lantai dasar dan food court di lantai tiga yang antara lain menjual makanan Indonesia, seperti bakso dan lain-lain. Tower yang buka 24 ini sangat strategis karena berdiri persis di depan pintu Masjidil Haram.

Kami hanya sebentar di kantor Daker, menyimpan koper. Setelah itu, tiga minibus sudah siap mengantar kami ke Masjid al-Haram untuk melakukan tawaf qudum dan umrah wajib.

Mendekati terminal bus Bab Ali, menara-menara Masjidil Haram sudah kelihatan. Diterpa cahaya lampu gemerlapan, menara-menara tersebut bagaikan potongan surga yang diturunkan ke bumi.

Makin lama, cahaya tersebut makin benderang dan wajah Masjidil Haram dengan Ka’bah di dalamnya makin tampak jelas. Tanpa terasa bibir ini berucap, “Subhanallah.” Air mataku meleleh.

Tak sabar rasanya aku menunggu mobil ini parkir di Terminal Bab Ali yang berjarak sekitar 100 meter dari Masjidil Haram. Ingin rasanya aku berlari dan segera memutari kiblat miliaran umat Islam sedunia itu sambil melantunkan kalimat talbiah. “Labbaikallaahumma labbaik. Labbaika laa syariika laka labbaik. Innalhamda wanni’ mata laka walmulk laa syariikalak.”

***

Rasa syukur tak henti-hentinya aku panjatkan sejak masih di Tanah Air. Di usiaku yang menginjak 31 tahun, Allah izinkan dan panggil aku menghadap-Nya ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji. Memang bukan haji atas biaya sendiri, melainkan haji abidin atau atas biaya dinas.

Atas izin Allah, aku terpilih menjadi salah satu dari 30 orang wartawan peliput haji yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) di bawah koordinasi Kementerian Agama. Sebagai peliput haji, kami datang sebelum kelompok terbang (kloter) pertama jamaah haji Indonesia tiba di Tanah Suci, Arab Saudi. Dan, kami baru akan pulang pada saat jamaah kloter terakhir sudah kembali ke Tanah Air.

Insya Allah, kami akan berada di Tanah Suci selama 75 hari atau hampir dua kali lipat lamanya prosesi ibadah haji jamaah reguler yang mencapai 40 hari dan tiga kali lipat pelaksanaan ibadah haji jamaah haji plus yang mencapai 25 hari.

Namun, berbeda dengan teman-teman peliput haji lainnya, aku datang ke Tanah Suci ini juga membawa misi lain: Setelah prosesi ibadah haji selesai, aku akan menikah!

Ya, di Kota Makkah yang diberkahi, di Masjidil Haram yang dimuliakan, lebih khusus lagi, di depan Ka’bah yang sakral ini aku akan mengikat janji suci dengan seorang gadis salehah bernama Kuntum Khaira Ummatin.

Takdir mempertemukan aku dengan gadis desa yang sederhana, namun manis dan cantik itu saat meliput Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) dan Musabaqah Hifzhil Qur’an (MHQ) yang diadakan oleh Kementerian Agama bekerja sama dengan Pemerintah Arab Saudi di Jakarta, beberapa bulan lalu.

Gadis yang baru saja menyelesaikan kuliah S-1 di Sekolah Ekonomi dan Bisnis Islam (SEBI) Parung, Bogor, Jawa Barat, itu berhasil meraih juara pertama lomba menghafal Alquran. Setelah mewawancarainya, aku tak heran kalau dia memenangkan lomba menghafal Alquran tersebut. Dia bersekolah di madrasah ibtidaiyah di desa kelahirannya di Surakarta. Kemudian, melanjutkan tsanawiyah dan aliyah di Pondok Pesantren Gontor Putri (Mantingan). Lulus aliyah, dia hafal 20 juz Alquran. Selepas mengabdi selama setahun, Kuntum mendapatkan beasiswa dari SEBI yang diperuntukkan bagi para penghafal Alquran dengan target lulus kuliah harus hafal 30 juz.

vvvvvvvvvvvv Di balik sosoknya yang sederhana, gadis ini menyimpan pesona yang luar biasa. Sorot matanya lembut keibuan dibalut kerendahan hati dan kesantunan—dua hal yang sudah jarang dijumpai pada gadis-gadis modern zaman sekarang. Dan, ketika ia melantunkan ayat-ayat Alquran, suaranya begitu bening dan mengalir ke setiap sudut hati.

Ya, Tuhan, apakah aku jatuh cinta pada kesan pertama? Sudah lama aku tak merasakan perasaan indah seperti ini. Sudah bertahun-tahun lalu, sejak aku beberapa kali ditolak oleh calon reporter (carep). Mungkin, ada banyak alasan mereka menolak cintaku. Tapi, yang aku yakini—boleh jadi aku terlalu sensitif dan sentimental—mereka mungkin menolak aku karena tak siap dibonceng sepeda motor bebek butut manakala sudah menjadi istriku nanti.

Salah seorang carep menolakku dengan cara yang halus, tapi sungguh menyakitkan. Dia bilang belum memikirkan soal cinta, tapi keesokan harinya dia dijemput seorang pemuda ganteng yang mengendarai Honda Jazz keluaran terbaru berwarna merah!

Kini, usiaku sudah kepala tiga. Sudah waktunya aku mempunyai tempat berlabuh dari kepenatan kerja dan kerasnya perjuangan hidup. Sudah waktunya aku memberikan menantu dan cucu untuk ibuku yang tinggal di kampung.

Namun, pada zaman sekarang, mencari wanita yang siap dijadikan istri dan mau diajak hidup susah dan senang bersama-sama ternyata sangat sulit.

“Mas Fadil, kalau Anda ingin tahu apakah seorang wanita baik untuk dijadikan istri, tanya saja apa mahar yang diinginkannya,” begitu nasihat Ustaz Salim, seorang dai kondang, saat aku meminta nasihatnya, beberapa bulan lalu.

“Kalau mahar yang dimintanya sederhana dan mudah, itulah tanda bahwa dia adalah wanita yang sangat layak dijadikan istri.”

***

Saat aku dalam perjalanan pulang meli put MTQ dan MHQ itu, aku lihat Kuntum berjalan sendirian menuju halte busway. Aku sengaja menyejajarinya dengan sepeda motor bututku.

“Kuntum, maafkan saya. Saya ingin menanyakan satu pertanyaan yang sifatnya sangat pribadi. Terserah Kuntum mau jawab atau tidak.”

Ia terdiam. “Ada apa, Mas?” tanyanya lembut.

“Jangan marah ya. Kalau Kuntum menikah, apa mahar yang Kuntum inginkan?” akhirnya keluar juga pertanyaan itu dari mulutku.

Tiba-tiba, Kuntum tersenyum teramat manis. “Saya punya dua impian untuk pernikahan saya, Mas. Pertama, saya selalu memimpikan mahar berupa hafalan surah Yasin dari calon suami saya. Kedua, saya memimpikan ijab qabul di depan Ka’bah.”

Sebuah jawaban yang tidak pernah aku bayangkan. Inilah tipe menantu dambaan ibuku! Teriakku dalam hati.

Aku menemui Dr Oni Sahroni, direktur Cyber-C SEBI dan juga dosen SEBI. Kepada doktor lulusan Al-Azhar University Kairo, Mesir, itu aku sampaikan bahwa aku ingin meminang Kuntum kalau dia masih belum punya calon suami.

“Terus terang, Ustaz. Saya belum hafal surah Yaasin. Namun, saya akan berusaha menghafalnya dengan metode Ustaz Yusuf Mansur, satu hari satu ayat (one day one ayat),” kataku.

“Alhamdulillah, saya sangat mendukung niat baik Mas Fadil,” kata pakar ekonomi syariah yang sangat rendah hati itu. “Setahu saya, Kuntum belum punya calon.”

Tanpa sadar, aku berucap, “Alhamdulillah.”

Oni tersenyum. “Memang sudah seharusnya kita melakukan perbaikan keturunan, Mas. Maksud saya, bukan menikah dengan lelaki yang ganteng atau wanita yang cantik, tapi menikahlah dengan laki-laki atau perempuan yang hafal Alquran. Insya Allah, keturunan kita akan lebih baik,” tuturnya.

***

Singkat cerita, aku dipertemukan dengan Kuntum dan dia menyatakan bersedia menjadi istriku. Aku mengajak orang tuaku mengunjungi orang tua Kuntum untuk menyatakan lamaran.

Sebagai juara pertama lomba menghafal Alquran, Kuntum mendapatkan hadiah berupa undangan beribadah haji dari Pemerintah Arab Saudi. Ketika Kuntum menyampaikan niatnya kepada Dubes Arab Saudi di Jakarta bahwa dia ingin sekali menikah di Masjid al-Haram—dan karenanya harus ada wali yang mendampinginya—Pemerintah Arab Saudi memberikan hadiah berupa undangan haji untuk ayah dan ibunya sekaligus.

Kuntum dijadwalkan tiba di Makkah, Jumat, 11 September 2015. Dia termasuk jamaah haji gelombang kedua. Dari Halim Perdanakusuma, Jakarta, dia dan rombongan akan mendarat di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah, kemudian langsung ke Makkah.

Pukul 09.00 dia mengabarkan sudah tiba di Jeddah dan pukul 14.00 tiba di Masjid al-Haram. Kemudian, ia melakukan tawaf qudum dan umrah wajib. Pada pukul 16.00 dia mengatakan menunggu Maghrib sambil berzikir di Masjidil Haram.

Hatiku sangat berbunga-bunga setiap kali menerima SMS-nya. Akhirnya, wanita yang kucintai dan akan kunikahi selepas menunaikan ibadah haji datang juga ke Tanah Suci. Tak sabar rasanya aku untuk melihat wajah lembut dan senyum manisnya itu. Matanya yang teduh selalu mampu mendamaikan batinku.

Aku sejak pagi mendampingi Menag yang merupakan amirul haj melakukan kunjungan ke beberapa tempat di Kota Makkah dalam rangka mengecek segala hal terkait persiapan puncak ibadah haji di Arafah-Muzdalifah-Mina (Armina). “Insya Allah, saya shalat Maghrib di Masjidil Haram. Kita ketemu di depan Hotel Grand Zam-Zam,” ujarku membalas SMS calon ibu anak-anakku.

***

Cuaca Makkah tidak bersahabat. Sore itu, badai debu disertai tiupan angin kencang melanda kota kelahiran Rasul. Tak lama kemudian, hujan es mengguyur Makkah. Badai dan hujan itu menyebabkan satu dari 15 crane raksasa yang mengelilingi Masjidil Haram—untuk proyek perluasan dan renovasi—ambruk menimpa ratusan jamaah yang berada di bawahnya.

Belakangan, aku ketahui jatuhnya crane raksasa yang dipegang kontraktor Bin Ladin Group pada pukul 17.23 waktu Arab Saudi (WAS) itu menewaskan 107 orang dan menyebabkan 238 jamaah terluka. Dari kalangan jamaah Indonesia, 11 jamaah meninggal dunia dan 29 korban luka.

Aku berkali-kali menghubungi HP Kuntum, namun tidak diangkat. Perasaanku tidak enak. Firasatku mengatakan, ada sesuatu yang terjadi pada calon istriku.

Beberapa jam setelah mencari informasi ke sana kemari, barulah aku tahu bahwa Kuntum termasuk korban yang terluka. Ia dirawat di RS Al Noor yang berlokasi di Aziziah Janubiyah.

Aku dan Ratna, salah seorang wartawan peliput haji, bergegas ke sana. Ternyata, Menteri Agama pun datang ke sana. Kehadiran pejabat Pemerintah Indonesia itu memungkinkan kami langsung masuk ke ruang UGD.

Aku langsung mencari Kuntum. Kepalanya diperban, namun darah menembus perban tersebut. Dia tampak sangat lemah.

Aku memburunya dan bersimpuh di sampingnya. “Kuntum!” suaraku tercekat di tenggorokan.

Matanya membuka perlahan. “Mas… Fadil.”

“Kamu akan sembuh, Kuntum. Kita akan menikah setelah prosesi ibadah haji selesai.”

Ia mencoba tersenyum.

“Apakah Mas Fadil sudah hafal Surah Yasin?”

Tanpa sadar, aku mengangguk. “Insya Allah, Kuntum.”

“Maukah Mas Fadil membacakannya untuk Kuntum?”

“Ya, Kuntum.”

“Saya ingin tayamum.”

Ratna membantu Kuntum tayamum. Kemudian, menggenggam tangannya.

Sementara, aku membacakan surah ke-36 dalam Alquran itu. “Yaa Siin. Walqur ‘aanil hakiim. Innaka laminal mursaliin. ‘Alaa shiraatim mustaqiim. Tanziilal azizirrahiim ….”

Aku berhenti sejenak. Kutatap wajah Kuntum. Ia tampak tersenyum bahagia. Aku melanjutkan, “Litundzira qaumam maaundzira abaauhum fahum ghafiluun.”

Berkali-kali aku berhenti sejenak untuk menatap wajah Kuntum. Wajahnya begitu tenang seperti orang yang sedang tidur.

Ketika aku sampai pada ayat, Alyauma nakhtimu ‘alaa afwaahihim watukallimunaa aidiihim wa tasyhadu arjulujum bimaa kaanu yaksibun (ayat 65), genggaman tangannya melemah. Wajahnya kian bercahaya, senyumnya makin mengembang di bibirnya dan lamat-lamat kudengar kalimat terakhir meluncur dari bibirnya, “Lailaha illallah, Muhammadur Rasulullah.”

***

Pukul 06.00. Langit Makkah masih temaram. Hanya semburat jingga menyembul di sebelah timur.

Aku keluar dari Masjidil Haram seusai qiyamullail, subuh berjamaah, dan tadarus Alquran. Demi mengejar saf pertama, barisan di belakang Imam Misyari Rasyid, tadi malam aku datang ke Masjidil Haram pukul 02.00.

Sepanjang jalan, aku terus mengulang-ulang bacaan surah Yasin. Setiap kali kubaca satu ayat, aku seperti merasakan Kuntum mengiringi bacaanku.

Aku selalu terngiang-ngiang ucapannya, “Surah Yasin mengajarkan kita tentang kehidupan dan kematian. Dan, pada akhirnya manusia akan sampai pada suatu hari ketika mulut dikunci, hanya tangan yang berbicara, dan kaki menjadi saksi atas segala yang kita perbuat selama hidup di dunia.”

Tanpa terasa, langkah kakiku membawaku ke Terminal Syib Amir, sekitar 200 meter dari Masjid al-Haram. Di sinilah setiap pagi ratusan bahkan ribuan merpati berkumpul dan beterbangan. Namun, pagi ini tempat itu sepi. Kemana gerangan merpati-merpati Makkah itu?

Tanpa sengaja, mataku menatap ke atas, ke arah kabel-kabel listrik yang menjuntai memanjang sepanjang jalan. Kulihat sepasang merpati hinggap di sana. Namun, tiba-tiba keduanya terbang menjauh hingga membentuk bayangan kecil dan akhirnya hilang sama sekali. Seperti nasib cintaku yang kandas di Kota Suci ini.


CERPEN KABUT TAK PERNAH BERDUSTA OLEH IRWAN KELANA

CERPEN KABUT TAK PERNAH BERDUSTA OLEH IRWAN KELANA


seorang wanita berdiri di tengah kabut
image
29 Februari! Makin mendekati tanggal tersebut, Sabila Granada makin gelisah. Inilah kedelapan kalinya ia menjumpai tanggal kabisat tersebut. Dengan kata lain, usianya kini 32 tahun! Usia yang sudah lebih dari matang untuk menikah. Bahkan, sudah sangat terlambat untuk menikah bagi seorang wanita.

Teman-temannya saat SMA, teman kuliah, maupun rekan kerja yang seumur dengannya, semuanya sudah menikah dan punya anak. Hanya Sabila yang hingga saat ini masih sendiri.

Kalau saja tragedi kecelakaan pesawat itu tidak terjadi, saat ini ia pun sudah menjadi seorang istri dan ibu. Mungkin, dengan satu atau dua orang anak yang lucu-lucu.

Ia selalu teringat saat itu. Rabu, ia bersama keluarganya dan keluarga besar calon mertuanya menjemput Fadlan ke Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng.

Fadlan yang merupakan kakak kelasnya waktu di STEI SEBI Depok, Jawa Barat, baru saja menyelesaikan S-2 Ekonomi Syariah di Pakistan. Mereka akan menikah pada Jumat. Tempat acara di rumah orang tua Sabila di Depok.

Namun, pesawat yang ditumpangi Fadlan tak pernah mendarat di Soekarno- Hatta. Pesawat itu mengalami kecelakaan dan tercebur ke laut. Butuh waktu berhari- hari hingga akhirnya jasad Fadlan ditemukan. Jasadnya bisa diidentifikasi karena di dompetnya ada foto Sabila dengan tulisan di belakangnya: Bidadari Surgaku.

Kehilangan calon suami di saat pernikahan tinggal dua hari lagi, undangan sudah disebar, gaun pengantin sudah dipesan, kue-kue sudah dipersiapkan, dan bayangan ijab kabul yang indah, sungguh berat bagi Sabila.

Selama tiga tahun lamanya ia menutup hati terhadap lelaki. Padahal, banyak sekali lelaki yang ingin mempersuntingnya. Dari rekan kuliah, teman sekantor, kliennya di perusahaan tempatnya bekerja, bahkan atasannya, duda beranak dua. Tak seorang pun mampu membukakan kembali hatinya yang terkunci rapat.

***

Hingga suatu hari, setahun berikutnya, ia bertemu dengan Fajri, seorang pemuda berusia 24 tahun yang selalu ceria. Ia mengaku karyawan sebuah perusahaan logistik yang berkantor di gedung yang sama.

Padahal, ia sebenarnya anak pemilik perusahaan itu. Mereka sering bertemu di mushala saat shalat Zhuhur dan Ashar berjamaah. Keduanya juga rajin mendengarkan kultum Zhuhur.

Sejak awal bertemu, Fajri menyatakan tertarik kepada Sabila dan ingin memperistrinya. Bahkan, walaupun Sabila mengatakan bahwa usianya terpaut empat tahun darinya, Fajri tidak peduli.

Tidak mudah bagi Sabila menerima Fajri. Fajri harus berjuang selama enam bulan untuk meyakinkan Sabila. Begitu Sabila menyatakan bersedia menjadi istrinya, Fajri tak sabar membawa Sabila untuk bertemu orang tuanya.

Sore itu, sepulang kerja kantor, Fajri mengajak Sabila ke rumah orang tuanya di Pondok Indah, Jakarta Selatan. Begitu memasuki halaman rumah mewah tersebut, firasat Sabila mengatakan, ia tidak akan diterima oleh keluarga orang kaya tersebut.

Benar saja. Saat Fajri memperkenalkan Sabila kepada mamanya, pertanyaan pertama wanita itu adalah, “Berapa tahun usiamu?”

Manakala mendengar jawaban Sabila, ia langsung berteriak kepada anak satu- satunya itu, “Apa kamu tidak bisa mencari wanita yang lebih muda darimu? Paling tidak, seumur denganmu. Apa kata orang kalau mama punya menantu usianya empat tahun lebih tua dari kamu? Nanti dikira anak mama tidak laku!”

Sabila langsung meninggalkan rumah itu dan menyetop taksi. Tak dihiraukannya Fajri yang berseru memanggil namanya sambil mengejarnya. Sepanjang perjalanan, ia tak berhenti menangis. Hal itu membuat sopir taksi khawatir.

“Maaf, Mbak. Mbak tidak apa-apa? Apa perlu saya belikan obat atau saya antar ke dokter?”

Sabila menggeleng lemah. Air matanya masih berderai. “Tidak usah, Pak. Langsung ke rumah saja,” sahutnya lemah. Sejak itu, Sabila kembali menutup hatinya untuk laki-laki.

***

Tiga tahun berlalu, hingga akhirnya ia kembali dipertemukan dengan salah seorang imam sebuah masjid Agung di Jakarta. Suatu malam, seusai iktikaf akbar malam 27 Ramadhan, ia diajak teman kuliahnya yang juga pengurus masjid agung tersebut untuk menikmati makan sahur di ruang pengurus.

“Malam ini, imam qiyamullail Syekh Muhammad dari Madinah. Makanya, pengurus masjid menyiapkan makanan khas Arab, nasi kebuli dan nasi mandi yang dipesan dari Restoran Abu Nawas. Kamu pasti suka. Ayo ikut aku,” tuturnya.

Masjid agung tersebut mempunyai enam imam rawatib yang dibagi menjadi tiga pasang. Tiap pasang bertugas selama dua hari, lalu libur sehari, kemudian bertugas lagi, begitu seterusnya.

Pada iktikaf akbar itu, semua imam hadir. Semua sudah menikah, kecuali Iqbal. Melihat Sabila, teman-teman Iqbal pun sambil bercanda berupaya menjodohkannya dengan Sabila.

Iqbal serius. Dia berusaha meyakinkan Sabila bahwa ingin menikahi wanita tersebut, walaupun usia Sabila lebih tua darinya.

“Cita-citaku sederhana, tapi agung. Aku ingin punya anak hafizh Alquran dan menjadi imam Masjid al-Haram, Makkah. Kalau anak kita jadi imam masjid itu, tentu ayah dan ibunya bisa kapan saja datang ke Makkah untuk berhaji atau berumrah. Alangkahnya bahagianya hatiku kalau engkau mau bersamaku mewujudkan cita- cita tersebut.”

Betapa ingin Sabila bersama-sama Iqbal mewujudkan cita-cita indah itu. Ia selalu bercita-cita akan mendidik anak-anaknya agar menjadi pencinta dan penghafal Alquran dan ahli sedekah. Tapi, apakah hal itu mungkin? Mungkinkah semuanya berakhir indah?

***

Sepekan menjelang hari ulang tahunnya, Sabila sengaja mengambil cuti. Pagi itu, ia naik sepeda motor dari Depok menuju Kampung Sarongge, Desa Ciputri, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

Di daerah puncak itulah, di kaki Gunung Gede, keluarga Pak De Dadang tinggal bersama istri dan anak-anaknya. Pak De Dadang seorang petani, sedangkan Bu De Tuti guru SD.

Jarak Depok-Cipanas sekitar 90 km. Cukup jauh untuk seorang wanita. Tapi, Sabila sudah berniat menempuh perjalanan itu dengan sepeda motor, sebab ia ingin menikmati kesendiriannya.

Ia mampir di Bogor untuk membeli oleh-oleh roti unyil merek Venus untuk keluarga Pak De Dadang. Kemudian, melanjutkan perjalanan. Memasuki Gadog-Ciawi, udara sejuk kawasan Puncak sudah mulai terasa. Makin ke atas, makin dingin. Beberapa kali, ia mengusap wajahnya yang terasa dingin meski sebagian tertutup masker.

Ketika kendaraan yang ditumpanginya melewati Taman Safari Indonesia, Cisarua, ia segera menjumpai pemandangan sangat indah. Sepanjang mata memandang di kiri kanan jalan, yang tampak adalah hamparan kebun teh menghijau. Tampak para wanita asyik memetik pucuk daun teh.

Tak lama kemudian, ia tiba di Masjid At-Ta’awun. Ia shalat Dhuha empat rakaat. Menikmati sekuteng hangat, baru kemudian melanjutkan perjalanan. Tiba di Pacet, Cipanas, kira-kira enam kilometer dari Desa Ciputri, Sabila kembali berhenti. Kali ini, ia menikmati satai maranggi dan uli bakar.


Tiap kali kunjungan ke Cianjur bersama keluarganya, Sabila tak pernah melewatkan satai maranggi dan uli bakar yang terkenal tersebut. Kabarnya, setiap hari tukang satai maranggi itu mampu menjual sekitar 3.000 tusuk.

Ia tiba di rumah Pak De Dadang pukul 11 menjelang siang. Pak De Dadang masih berada di sawah, sedangkan Bu De Tuti belum balik dari sekolah. Tak sabar, Sabila langsung menyusul ke sawah.

“Assalamualaikum, Wak,” ujarnya.

Pak De Dadang yang tengah menyiangi rumput di sela tanaman wortel terkejut campur senang.

“Walaikumsalam. Sabila? Sama siapa?”

Sabila mencium tangan Pak De Dadang.

“Sendiri, Wak. Saya cuti. Mau menginap di Sarongge. Boleh kan?”

“Wah, Wak senang banget kalau Sabila mau menginap di sini. Mau sepekan atau sebulan juga boleh.”

“Sepekan aja, Wak. Saya mau ikut Wak ke sawah tiap hari.”

“Boleh. Tapi, nanti kulit kamu jadi hitam kebakar matahari.”

“Ah, nggak apa-apa, Wak. Yang penting sehat.”

Di Sarongge, hari terasa berjalan lambat. Pukul sembilan, matahari baru keluar. Sebelum pukul dua siang, matahari sudah menghilang.

Pagi-pagi, Sabila menikmati sarapan teh manis dan rengginang. Ada juga ragining (semacam rengginang yang terbuat dari beras) dan opak singkong yang di sana lebih dikenal dengan sebutan enye.

Seusai sarapan dan shalat Dhuha, Sabila pergi ke sawah untuk membantu Pak De Dadang yang bertani wortel, labu siam, kubis, caisim, dan bawang daun. Bertani membuatnya sejenak bisa melupakan duka hatinya.

***

Ahad pagi sekitar pukul 10.00 WIB, Sabila menyusuri kebun teh Gambung Sarongge. Tak henti-hentinya ia mengagumi kebun teh yang hijau itu, diselingi dengan pohon lamtorogung di kiri kanan dan tengah pembatas petakan kebun.

Kabut tebal turun menutupi pemandangan Gunung Gede di belakangnya. Ia terkejut saat mendengar suara seseorang memanggilnya.

“Sabila! Sabila!”

“Iqbal?!” Sabila berbicara dengan dirinya sendiri.

“Sabila!” Kali ini, wajah Iqbal terlihat beberapa meter dari tempat Sabila berdiri.

Dari mana dia tahu saya ada di sini? Ia tidak memberitahukan siapa pun ke mana ia cuti. Hanya Ustazah Maemunah, tempatnya belajar banyak tentang Islam, ia memberitahukan ke mana ia cuti.

Iqbal tidak sendirian. Di belakangya ada sepasang lelaki-perempuan yang berusaha menyejajari Iqbal.

Dengan napas tersengal-sengal, Iqbal akhirnya tiba di hadapan Sabila.

“Assalamualaikum, Sabila.”

“Wa ‘alaikumsalam.”

“Sabila, kenalkan ini kedua orang tuaku.”

“Assalamualaikum, Bu, Pak.” Sabila mencium tangan kedua orang tua Iqbal.

“Iqbal, kok kamu tahu saya ada di sini? Dan apa tujuan kamu ke sini?” tanya Sabila hati-hati.

“Ustazah Maemunah guru mengaji ibu, Nak,” Mutia, ibunya Iqbal, menyela. “Dari beliaulah Ibu tahu bahwa kamu adalah seorang Muslimah yang salehah. Dan bahwa kamu cuti ke Cianjur.”

“Maafkan aku, Sabila. Aku datang untuk kembali meminta kesediaanmu menemaniku mewujudkan cita-citaku mempunyai anak-anak penghafal Alquran dan imam Masjid al-Haram. Kamu mau kan?”

Sabila terdiam.

Mutia memegang bahu gadis itu.

“Apakah Iqbal pernah menyakit hatimu, Nak?”

Sabila mengeleng.

“Apakah Iqbal pernah berbuat kurang ajar padamu?”

Lagi-lagi, Sabila menggeleng.

“Iqbal sangat sopan dan selalu menjaga akhlaknya terhadap perempuan, Bu.”

“Atau, apakah anak Ibu kurang ganteng untuk jadi suamimu?”

Tiba-tiba, Sabila menghambur ke dalam pelukan Mutia. Ia menangis sesenggukan.

Mutia membelai kepala gadis itu.

Setelah beberapa waktu, barulah Sabila bisa berkata terbata-bata. “Saya trauma, Bu. Saya … saya takut ditolak dan dihina lagi. Beberapa tahun lalu, ada pemuda seperti Iqbal yang menyatakan ingin menyunting saya. Namun, setelah tahu usia saya lebih tua dari anaknya, ibunya langsung menolak dan menghina saya dengan kata-kata kasar.

Mutia mengangkat wajah gadis itu menyapu air matanya dengan selembar tisu.

“Nak, tentu saja ibu tersebut menolak kamu. Sebab kamu memang bukan diciptakan untuk anaknya. Allah sudah menyiapkan kamu untuk jadi istri Iqbal dan jadi menantu ibu.”

Air mata Sabila kembali menitik.

“Bu … apakah Ibu mau punya menantu seperti saya? Ibu tidak malu kepada tetangga dan kerabat? Usia saya empat tahun lebih tua dari Iqbal,” suara Sabila bergetar.

Mutia tersenyum. “Pertanyaannya di balik. Maukah Sabila jadi menantu Ibu?”

Air mata Sabila kembali menderai. Ia tak kuasa menjawab. Lagi-lagi, ia menjatuhkan wajahnya di dada perempuan yang berhati pengasih itu.

Ayah Iqbal, Fakhruddin, yang sedari tadi menyaksikan pemandangan itu tersenyum.

“Sabila.”

Sabila bangkit dari pelukan Mutia.

“Ya, Bapak.”

“Tahukah kamu, usia ibunya Iqbal lima tahun di atas Bapak? Tapi, Bapak malah sering lupa tuh. Rasanya, Bapak dan ibunya Iqbal seumur, bahkan lebih tua Bapak. Muda-tua perempuan itu bukan hanya ditentukan usia biologisnya. Justru keikhlasan, ketulusan, syukur, dan senyum, semua itu yang membuat perempuan jadi awet muda.”

“Bapak pertama kali bertemu ibunya Iqbal waktu kelas satu MTs. Ibunya Iqbal kelas tiga MA atau kelas XII. Kami sama-sama di pesantren. Sejak itu, Bapak jatuh cinta kepadanya.”

“Kami terpisah beberapa tahun lamanya. Ibu kuliah di UIN Malang. Bapaknya Iqbal menjadi penulis novel Islami yang top. Suatu hari, ada acara bedah buku di UIN Malang. Ibu jadi moderatornya. Kami pun kembali bertemu,” tutur Mutia.

“Hingga beberapa tahun kemudian, setelah melalui suka duka dan alur yang panjang, kami pun menikah,” Fakhruddin menimpali.

“Subhanallah. Luar biasa kisah cinta Ibu dan Bapak,” ujar Sabila.

“Sabila. Kau lihat kabut itu?” tanya Fakhruddin.

Sabila mengangguk.

“Cobaan dalam hidup itu bagaikan kabut. Bukankah kita sering merindukannya? Bapak, setiap kali pergi ke Puncak, selalu berharap kabut turun dan Bapak bisa menikmatinya. Kabut memang menghalangi pandangan kita, namun memberikan keindahan rasa yang luar biasa. Dan, setelah kabut pergi, langit kembali biru, kita bisa melanjutkan perjalanan kembali. Kabut tak pernah berdusta, percayalah.”

Tanpa sadar, Sabila kembali mengangguk.

***

“Nak, kamu cuti sampai kapan?” tanya Mutia.

“Hari ini terakhir, Bu. Besok saya masuk kerja lagi.”

“Kalau begitu, kamu pulang bareng Ibu ya.”

“Tapi, saya bawa motor, Bu.”

“Motor kamu biar Iqbal saja yang bawa pulang,” kata Mutia seraya melirik Iqbal.

Mendengar itu, Iqbal pura-pura kesal. “Ibu …!” ujarnya merajuk.

“Ibu nggak rela Sabila pulang sendirian ke Depok naik motor. Kalau ada apa-apa dengan calon menantu Ibu yang secantik dan sesalehah ini, Ibu akan menyesal seumur hidup.”

Untuk pertama kalinya, Sabila tersenyum. Mata indahnya melirik Iqbal yang juga tersenyum. Spontan, ia memalingkan wajah. Namun, pipinya telanjur merona merah.

Mutia dan Fakhruddin yang menyaksikan pemandangan itu turut tersenyum.

“Ayo, Nak. Kita turun. Temui pakdemu. Sekaligus kami mau meminta izin membawamu pulang untuk mengatur waktu lamaran dengan orang tuamu.”

Betapa penuh hati Sabila. Spontan, ia mencium tangan Mutia. “Terima kasih, Bu.”

Ia juga mencium tangan Fakhruddin. “Terima kasih, Pak.”

Perlahan, mereka menyusuri kebun teh itu menuju pintu gerbang. Angin berkesiuran lembut membelai tubuh dan terasa meresap hingga ke dalam hati.

Sabila menoleh ke belakang. Kabut sudah pergi, berganti pemandangan Gunung Gede yang hijau kebiruan bagaikan hamparan permadani. Benar kata ayahnya Iqbal, kabut tak pernah berdusta.

Terima kasih sudah membaca. Semoga menginspirasi. Baca juga cerpen Kota-Kota Rantauan

CERPEN MATA MERINDU OLEH  IRWAN KELANA

CERPEN MATA MERINDU OLEH IRWAN KELANA


ekspresi wajah merindu
image Alexandra White
Pesawat Citilink yang aku naiki bersama dengan anakku, Khalid, mendarat mulus di Bandara Lombok Praya. Aku melirik jam tangan. Pukul 09.05 Waktu Indonesia Tengah (WITA). Pesawat tiba tepat waktu. Pesawat berangkat dari Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta pukul 05.45. Ada perbedaan waktu satu jam. 

Inilah untuk pertama kalinya dalam setahun ini aku keluar kota. Sejak istriku, Rindu Ramadhan, meninggal setahun lalu, tepat pada malam Nuzulul Quran 17 Ramadhan, aku tak pernah mau menerima undangan ceramah ke luar Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). Aku pun hanya menerima undangan ceramah siang hari. 

Aku tak ingin meninggalkan Khalid, anakku satu-satunya yang baru berusia lima tahun, sendirian di rumah pada malam hari. Ia baru saja kehilangan ibu yang dicintainya, seorang Muslimah yang salehah, adik kelasku di Al Azhar. 

Kalau pada akhirnya aku memutuskan mau datang ke Lombok karena info dari Mansur, wartawan Republika yang juga sama-sama aktif di Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat. Aku di Komisi Fatwa, sedangkan Mansur di Komisi Budaya bersama dengan sastrawan yang juga sama-sama alumnus Al Azhar, Mesir. Seperti Kang Abik, panggilan akrab Habiburrahman El Shirazy, Mansur juga alumnus Al Azhar yang memilih sastra sebagai medan dakwah. 

v “Kang, Tuan Guru yang meminta Akang untuk mengisi ceramah Ramadhan di Masjid Hubbul Wathan, Islamic Center NTB, Mataram. Ini merupakan rangkaian acara Pesona Khazanah Ramadhan 1438 yang diadakan sebulan penuh. Event yang baru pertama kali diadakan di NTB, bahkan di Indonesia ini merupakan kerja sama Pemda NTB dengan Harian Republika. 

Pemda NTB mengundang empat imam besar dari Suriah, Lebanon, Maroko, dan Mesir. Masing-masing bertugas selama satu minggu. Kegiatan keempat imam besar ini yaitu mengimami shalat serta memimpin tadarus dan doa pada malam Ramadhan. Juga memberikan kuliah Ramadhan bakda shalat Zhuhur. 

Selain itu, Pemprov NTB juga mengadakan sebanyak 28 kegiatan lainnya seperti festival kuliner, pameran buku, ekonomi kreatif, diskusi panel Rembuk Republik, meet and greet dengan penulis, hijab tutorial, serta ceramah Ramadhan, ceramah Zhuhur, ceramah Nuzulul Quran, dan tausiyah zikir. 

Tuan Guru ingin sekali Kang Fajar mengisi ceramah Ramadhan yang diadakan bakda shalat Isya, menjelang shalat Tarawih,” kata Mansur saat menemui aku pekan lalu di kantor MUI. 

Tuan Guru yang dimaksudkan oleh Mansur adalah Tuan Guru Bajang (TGB), gubernur NTB saat ini. Nama aslinya adalah Tuan Guru Haji (TGH) Muhammad Zainul Majdi. Ia boleh dikatakan satu-satunya gubernur yang merupakan doktor tafsir lulusan Al Azhar, hafiz Alquran. 

Aku adik kelasnya tujuh tahun di Al Azhar. Namun, aku masih sempat beberapa kali bertemu dengannya. Hal yang paling mengesankan, dan juga menjadi sumber inspirasi bagi banyak mahasiswa Indonesia di Mesir, adalah ketika Zainul Majdi berhasil menyelesaikan disertasi dan ujian doktoralnya di Al Azhar di tengah kesibukannya yang luar biasa sebagai gubernur NTB. Sempat aku dengar informasi, Zainul Majdi menyelesaikan disertasinya itu selama dua tahun, 2009-2011. Tiap malam ia mengerjakan disertai tersebut dari pukul satu malam sampai menjelang Subuh. Luar biasa. Aku menyusul diwisuda sebagai doktor tafsir tiga tahun kemudian. 

“Baiklah,” kataku kepada Mansur, “Tapi aku ambil yang hari Sabtu malam Ahad. Pulang hari Senin pagi. Tapi aku mengajak Khalid, boleh?” 

“Siap, Kang. Tuan Guru pasti senang. Kalau Akang pulang Senin pagi, Akang bisa ceramah Ramadhan pada malam Ahad dan kuliah Zhuhur pada hari Ahad. Ajak Khalid, Kang. Semoga perjalanan ini jadi obat bagi hatinya,” kata Mansur. 

*** 

Ketika aku dan Khalid berjalan menuju pintu keluar bandara, Mansur sudah menunggu. 

“Assalamualaikum, Kang Fajar dan Khalid. Selamat datang di Lombok. Bumi Seribu Masjid. Kenalkan ini Eki, sopir yang akan mengantar dan melayani Kang Fajar dan Khalid selama berada di Lombok,” ujar Mansur. 

“Assalamualaikum, Ustaz,” kata Eki seraya mencium tanganku. 

Kami naik Innova seri terbaru yang sudah diparkir di depan gerbang keluar bandara. 

“Terima kasih lho, Kang, sudah berkenan hadir memenuhi undangan Tuan Guru,” kata Mansur. 

“Terus terang, saya juga kangen kepada Tuan Guru. Makanya saya datang,” sahutku. 

“Kang, biasanya para tamu atau pembicara menginap di Hotel Santika. Akang pun kami pesankan kamar di sana,” kata Mansur. 

“Antum menginap di mana?” 

v “Saya dan teman-teman Republika menginap di Fave Hotel. Letaknya dekat dengan Islamic Center. Hanya sekitar 100 meter. Jadi, bisa jalan kaki dari hotel ke Islamic Center.” 

“Boleh tidak kalau saya pindah ke Fave Hotel? Supaya lebih dekat dengan Islamic Center?” 

“Oh, bisa, Kang. Sebentar saya koordinasikan dengan rekan saya, Indra.” 

Mansur kemudian menelepon rekannya. Tak lama kemudian dia berkata, “Beres, Kang.” 

“Mas Eki, kita langsung ke Fave Hotel ya,” kata Mansur. 

Perjalanan dari bandara ke Kota Mataram lancar. Lombok boleh dikatakan tidak kenal macet seperti halnya ibu kota Jakarta. Namun, yang membuat aku selalu kagum dengan Lombok adalah masjid bertebaran di berbagai tempat. Ke manapun kita memandang, mata kita akan melihat masjid. Masjid-masjid yang indah, dengan bentuk kubah dan menara mirip Masjid Nabawi. 

Sore hari Mansur mengajak aku dan Khalid ke Islamic Center. Selesai shalat Ashar berjamaah, dia mengajak aku keliling Masjid Hubbul Wathan tersebut. 

“Islamic Center dan Masjid Hubbul Wathan yang ada di dalamya pertama kali di gunakan pada MTQ Nasional ke-26 yang diadakan di Lombok, pada 2016,” kata Mansur. 

Tiba-tiba aku dikejutkan dengan sebuah poster raksasa. Isinya tentang talk show hijab dan kosmetik halal bersama Presiden Direktur Wardah Cosmetics Nurhayati Subakat. Acara tersebut akan digelar Ahad sore. 

Yang membuatku terkejut adalah di situ ditulis nama moderatornya adalah Ziza Almeyda. Dia adalah staf di kantor MUI Pusat. Di baliho itu ada foto Nurhayati Subakat, ada pula foto Ziza. 

“Mansur, besok Ziza jadi moderator?” tanyaku tidak senang. 

“Iyyya, Kang,” jawab Mansur agak gugup. 

“Apa maksudmu? Engkau hendak mengejek saya ya? Setelah engkau melamar Ziza, sekarang engkau ingin menunjukkan Ziza kepada saya? Begitu?” 

“Bukan begitu, Kang. Jangan marah dulu,” Mansur berupaya meredam amarahku. 

Aku menarik napas panjang. “Ya, apa hakku marah kepadamu? Bukankah aku yang selama ini beberapa kali menyuruh engkau untuk mengkhitbah Ziza? Usianya sudah 30 tahun. Dia wanita yang salehah. Namun, sampai sekarang belum menikah. Selamat, Mansur. Engkau sungguh lelaki yang beruntung mendapatkan wanita sebaik Ziza,” kataku dengan suara getir. 

“Terima kasih, Kang. Ziza datang besok pagi. Mohon izin, nanti saya pertemukan Ziza dengan Akang ya.” “Ya, silakan.” 

*** 

Sepanjang sore dan malam itu aku kepikiran Ziza terus. Ziza yang lembut. Ziza yang busananya selalu modis dan syar’i. Dia sangat pandai memadukan atasan, bawahan, dan kerudungnya. Apalagi kalau dia mengenakan overcoat warna hijau lumut atau sweter warna putih susu. Tak heran kalau dia menjadi salah seorang tokoh hijabers di Ibu Kota.  

Terus terang, sejak Rindu meninggal dunia, aku menghindari untuk bertemu dan berbincang dengan dia. Kecuali kalau terpaksa dan terkait urusan dinas. Entah mengapa, setiap kali aku berbicara dengannya, dia langsung menundukkan wajahnya yang teduh. Dia hanya berkata seperlunya. 


Keesokan hari, Mansur mengajak aku, Khalid dan Ziza naik Menara 99. “Menara 99 atau Minaret merupakan menara tertinggi dari lima menara yang ada di Islamic Center. Sekaligus menjadi bangunan tertinggi di Kota Mataram. Sesuai namanya, menara ini setinggi 99 meter, sebagai perlambang Asma’ al-Husna atau 99 nama indah Allah SWT. Dari Menara 99 ini kita bisa memandang Kota Mataram dari ketinggian, baik saat siang maupun malam hari,” Mansur menerangkan. 

Kami naik lift diantar petugas Menara 99. Ziza mengenakan setelan jilbab warna biru tua. Dia kelihatan sangat anggun. Apalagi postur tubuhnya tinggi semampai. Hidungnya bangir, mirip gadis-gadis Mesir. Berada di dalam lift, baru sekali ini aku berdiri begitu dekat dengan Ziza. 

Tanpa sengaja aku dan Ziza beradu pandangan. Ia langsung menunduk, aku pun langsung menunduk. 

Sampai di puncak tertinggi, kami keluar dari lift. Benar kata Mansur, dari puncak Menara 99 itu kita bisa memandang Kota Mataram yang dihiasi dengan taburan masjid di berbagai titik. Begitu indah. 

“Kang Fajar, bolehkah saya mengatakan sesuatu tentang Ziza?” 

“Apa, Mansur?” 

“Sesuai saran Akang kepada saya untuk mengkhitbah Ziza, seminggu menjelang Ramadhan, saya bersama adik perempuan saya, Maryam, mengantar Ziza ke rumah orang tuanya di Cirebon.” 

“Selamat ya, Mansur, dan Ziza,” kataku perlahan. 

“Kang, sepanjang jalan aku banyak bertanya kepada Ziza tentang hubungan dia dengan keluarga Akang. Dia mengatakan bahwa dia sangat dekat dengan istri Akang, Teh Rindu. Bahkan dia mengatakan, bahwa Teh Rindu adalah tempatnya berbagi duka, terutama mengenai masalah jodohnya yang belum juga Allah berikan. Bagi Ziza, Teh Rindu bagaikan kakak yang sangat perhatian kepadanya. Teh Rindu banyak memberikan nasihat kepadanya agar sabar. 

Lalu, aku tanyakan kepada Ziza, bagaimana kalau Ziza menikah dengan Ustaz Fajar? Mula-mula ia terkejut, dan berpura-pura menolak. Tapi aku katakan kepadanya, jangan pernah menolak seorang laki-laki saleh yang datang kepadamu untuk menawarkan pernikahan. 

Aku pun bertanya kepadanya apakah dia menyimpan perasaan cinta kepada Akang? Dia menjawab dengan anggukan kepala kemudian menunduk. Maka aku katakan kepadanya, “Baiklah, Ziza. Saya mengantar Ziza ke Cirebon untuk meminta izin orang tua Ziza, bahwa saya akan mengkhitbahkan Ziza untuk Ustaz Fajar.” “Apakah Ziza mau?” spontan aku bertanya. 

Ziza tidak langsung menjawab. Hanya butiran air mata yang meleleh di pipinya ketika itu. Kemudian dia mengangguk. 

“Kang Fajar, inilah usaha saya sebagai seorang sahabat untuk Akang. Semoga Akang dan Ziza memang digariskan Tuhan untuk memintal kehidupan penuh cinta, kasih dan, sayang dalam sebuah biduk bernama rumah tangga.” 

v *** 

Aku menatap Ziza. 

“Ziza,” panggilku lembut. 

“Ya, Ustaz.” 

“Afwan, bolehkah saya meminta kamu memanggil saya, Kak Fajar?” 

“Iyyyyaaa, Kak.” 

Aku menggenggam tangan Khalid. Ziza, di hadapanmu ini ada seorang duda beranak satu. Dia bukan orang kaya. Dia hanya orang biasa. Tapi dia punya cita-cita besar membina keluarga yang takwa, mencetak para penghafal Alquran dan imam besar Masjidil Haram, Masjid Nabawi dan masjid-masjid raya di berbagai belahan dunia. Maukah engkau mendampingi dan menemaninya mewujudkan cita-citanya itu?” 

“Saya bersedia, Kak. Terima kasih Kak Fajar memilih saya untuk menjadi ibu bagi generasi Muslim yang hebat itu. Maafkan saya, saya mungkin tidak sebaik Teh Rindu,” tuturnya lembut. 

“Saya yang berterima kasih kepadamu, Ziza. Engkau mau menerima saya apa adanya. Semoga Allah selalu memuliakan Ziza di dunia dan akhirat.” 

Ziza dan Khalid asyik melihat-lihat dan memilih buku bacaan di tempat pameran buku. Aku menarik Mansur ke tempat pameran pedang Rasulullah yang berada di sebelah tempat pameran buku. 

“Mengapa akhirnya engkau memutuskan untuk menjodohkan aku dengan Ziza?” 

“Aku melihat mata Kang Fajar dan mata Ziza.” 

“Ada apa dengan mata kami?” 

“Setiap kali aku melihat Kang Fajar berbicara dengan Ziza, aku melihat mata Akang selalu gelisah. Begitu pula mata Ziza selalu gelisah. Akang dan Ziza kalau bicara hanya satu atau dua kalimat, namun aku menangkap bahasa tubuh dan sorot mata kalian berdua.” 

“Terus?” aku jadi penasaran. 

“Mata itu adalah mata yang merindu. Akang dan Ziza sesungguhnya saling mencintai, meskipun Akang tak pernah berterus terang kepada Ziza maupun sebaliknya. Tapi sorot mata Akang dan Ziza sudah lebih dari cukup bagi saya untuk mengerti bahwa kalian saling mencintai.” 

“Sok tahu kamu akh,” kataku pura-pura kesal. 

“Aku kan novelis, Kang. Aku paham banget bahasa tubuh dan sorot mata seseorang.” 

“Terus terang, aku ingin jawaban yang jujur, apakah kamu sama sekali memang tidak berminat kepada Ziza?” 

“Tentu saja aku sangat ingin punya istri seperti Ziza. Laki-laki mana yang menolak mendapatkan jodoh wanita yang salehah, cantik dan lembut seperti Ziza? Tapi aku merasa sangat berdosa kalau aku mengkhitbah Ziza, sedangkan batinku mengatakan bahwa Akang dan Ziza saling mencintai? Biarlah untukku, Allah pasti sudah menyiapkan jodoh yang lain, yang semoga salehah juga seperti Ziza.
Terima kasih sudah berkunjung. Semoga menginspirasi. Baca juga cerpen Rumah Masa Kecil

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia