Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

CERPEN GADIS KUPU-KUPU OLEH CANDRA MALIK

CERPEN GADIS KUPU-KUPU OLEH CANDRA MALIK

kupu-kupu biru
image Belle
Sehelai daun jatuh dari setangkai mawar, disusul derai bulu-bulu bunga ilalang yang berguguran. Senja dan angin laut melepas rekah-rekah kulit semesta di garis cakrawala. Merah bata berubah warna, menggelap, lambat laun menggulita. Bintik-bintik di atas sana, bintang-gemintang itu, ah, tak ada yang disebut rasi kupu-kupu. Langit tak lagi sebenderang ketika engkau datang. Masih di sini aku menantimu, memegang selembar kertas bergambar kupu-kupu. Engkau berjanji mewarnainya dengan pastel biru. ’Mana ada kupu-kupu bersayap biru?’ tanyaku. ’Ada! Kupu-kupu angkasa. Dia terbang sangat tinggi, menyatu dengan langit,’ jawabmu.

Kita masih sangat hijau saat saling berkenalan. Di gurun pasir pesisir ini, kita mengkhayalkan taman yang sama: tak perlu kaktus. Kita lebih suka mawar, liuk-lekuk sungai dangkal yang airnya bening menampakkan batu-batu, dan Dandelion yang berkejaran ditiup angin. ’Satu lagi. Harus ada bunga matahari. Harus!’ pintamu. Jika ada bunga matahari di sini, kupu-kupu angkasa tak perlu ke sana, pergi ke langit untuk menghisap sari bunga. Ah, kupu-kupu bersayap biru, ada-ada saja engkau ini. Tapi, itulah yang aku rindukan dari kehadiranmu. Kini, aku menertawakan kebodohanku sendiri membacakan ensiklopedia kupu-kupu kepada siswa-siswi di kelas empat ini.

”Ada ratusan spesies kupu-kupu di dunia. Dua di antaranya bersayap biru, yaitu Polyommatus bellargus dan Morpho rhetenor helena.”

”Bolehkah gambar kupu-kupu ini saya warnai merah menyala, Pak Guru?”

”Boleh, Tanaya. Warnai sesukamu. Anak-anak, bebaskan idemu. Warnai kupu-kupu sesuai khayalan kalian. Lalu, sore nanti, temukanlah kupu-kupu itu di taman.”

Anak ini mengingatkanku pada tatap matamu. Setiap melihatku, engkau seperti melamun, seperti melihat lebih dalam dari sekadar bertemu pandang. Lalu, engkau tiba-tiba tersenyum dan berpaling meninggalkanku, memburu kupu-kupu yang diam di ujung sana. ”Ssssst, kita harus mengendap-endap. Jika engkau berlari, dia akan terbang!”

Engkau mengatupkan bibir, dengan sebatang telunjuk kauletakkan bagai slot kunci pintu gerbang, dan spontan aku mematung. Pelan, pelan, pelan, hap! Telunjuk dan ibu jarimu berhasil menangkap sepasang sayap kupu-kupu. Engkau menari-nari kegirangan mengejek aku yang sering gagal dalam operasi perburuan setiap senja itu. Aku mencintaimu, kurasa. Ya, kurasa itulah alasanku datang setiap senja di taman ini, kadangkala lebih dulu tiba, tapi lebih sering terlambat. Sore itu, bibir mengerucut dan mata cemberut yang kuterima darimu. ”Lama amat! Nih!” Engkau langsung pergi dari taman, seraya menyodorkan baju hangat dari rajutan benang wol hijau kesukaanku.

”Terimakasih. Eh, mau ke mana?”

Punggungmu lenyap di ujung jalan, dan enyahlah jawaban yang kutunggu. Baju hangat ini, ah, ada bordir kupu-kupu di bagian dada kiri. Seharusnya engkau mengucap lebih dari kalimat itu, entah mengapa bergegas pergi. Baju hangat ini untukku? ”Ya, untuk kado ulang tahunmu, bodoh!” aku menggumam sendiri di ruang kelas.

Siswa-siswi sudah pulang. Pelajaran menggambar, mata pelajaran dariku, adalah jam terakhir mereka. Tanaya, siswa baru dari Ubud, mengingatkan aku padamu. Pada pesisir, gurun pasir, Dandelion, angin laut, dan kupu-kupu. ”Aku Tanaka,” ujarku, mengulurkan tangan ke arahmu. ”Aku Tanaya,” tukasmu. Kita bersalaman, tertawa. Nama kita mirip. Engkau pindah dari Bandung, aku dari Surabaya, dan kita berjumpa di Yogyakarta. Ayahmu dan ayahku sesama pegawai perusahaan kereta api. Sekali keluarga pegawai berkunjung ke Pantai Parangkusumo, abadi ingatan kita yang melihat sejoli kupu-kupu berkejaran lalu hinggap di rumpun bunga matahari.

”Gara-gara kupu-kupu Lepidoptera, aku jadi suka juga warna oranye.”

”Lepidoptera?”

”Ya. Kupu-kupu oranye di Pantai Kupu-Kupu, Langkat, Sumatera Utara.”

”Pantai Kupu-Kupu? Aku harus ke sana!”

Ya, engkau harus ke sana, Tanaya. Tapi, tidak hari ini. Tidak senja ini. Tadi malam, kita berjanji akan bertemu lagi di taman khayalan ini. Kubawa kertas bergambar kupu-kupu darimu, yang harus engkau warnai dengan pastel biru. Apakah engkau balas dendam padaku setelah dua hari lalu datang sangat telat? Engkau masih marah? Malamnya aku sudah bertandang ke rumahmu membawakan sepotong kue dan mengucap terimakasih untuk baju hangat kado ulang tahun ini. Ini, aku pakai sore ini, baju hangat dengan bordir kupu-kupu di bagian dada kiri. Tak seharusnya begitu marah engkau padaku. Bahkan aku membantumu memasukkan baju-baju ke kardus.

Ya, Tuhan! Baju-baju, kardus-kardus. Engkau, engkau mau pergi ke mana? Alangkah bodoh aku yang melumat habis kudapan bikinan ibumu sambil membantu kalian merapikan rumah. Bodoh benar aku. Kusangka malam itu kalian merapikan rumah. Sampai rapi betul. Hampir semua perkakas dan baju dimasukkan ke kardus-kardus. Butuh tumbuh mendewasa dulu untuk akhirnya paham ternyata malam itu malam terakhir kita. Engkau pergi tanpa berpamitan, dan aku menunggu di taman, tak bergairah mengejar kupu-kupu seperti senja-senja yang telah kita jalani selama bertahun-tahun. Dari taman, aku mendatangi rumahmu. Tak lagi berpenghuni. Kata ayahku, kalian pindah ke Jakarta. Dan, kami pun tak lama lagi akan ke Surabaya. Ayahmu diangkat menjadi kepala stasiun di Cikini, sedangkan ayahku memilih kembali ke kampung halaman mendekati masa pensiunnya. Aku bersyukur pekerjaan orangtua telah mempertemukan kita. Masih kusimpan foto kita di gerbong kereta.

”Pernah, seekor kupu-kupu hinggap di kaca jendela kereta api yang kunaiki dari Bandung. Dia diam saja sepanjang perjalanan.”

”Tidak engkau tangkap?”

”Aku memandanginya sampai terlelap, dan tahu-tahu kami sudah sampai di Yogyakarta.”

”Dan, kupu-kupu itu?”

”Itulah kupu-kupu bersayap biru yang pernah kulihat dan tak kulihat lagi.”

Entah Polyommatus bellargus dari Inggris atau Morpho rhetenor helena dari Amerika Selatan, tak kudebat ceritamu tentang kupu-kupu bersayap biru di kereta api pagi itu. Jika kita bisa mengkhayalkan taman gurun pasir di pesisir, dengan rimbun mawar, sungai, dan Dandelion, apa pun bisa saja kita sulap dalam sekejap. Simsalabim! Engkau menamai kupu-kupu oranye yang kusuka dengan sebutan Kupu-Kupu Tanaya. ”Agar engkau selalu mengingatku,” serumu. Dan kunamai kupu-kupu biru dengan julukan Kupu-Kupu Tanaka. ”Engkau takkan pernah terlelap lagi memandanginya, seperti ketika menatap aku.” Ah, masa-masa konyol itu kini terngiang kembali.

Masih rapi terlipat baju hangat darimu di lemari. Ah, andai punya istri, aku akan memintanya merajutkan baju hangat dengan bordir kupu-kupu di bagian dada kiri. Baju hangat ini aku temukan di binatu. Entah bagaimana bisa tercampur dengan baju-bajuku yang lain. Sudah ada begitu saja kala kuambil baju-bajuku dari sana. Ya sudah, kupakai saja siang ini ke sekolah. Tanaya, siswi yang lekas mengingatkanku padamu, sempat bertanya,”Pak Guru suka kupu-kupu ya? Ibuku juga! Baju ini rajutan istri Pak Guru?” Aku terbengong. Merah padam romanku, antara malu dan ingin menjawab,”Sampai sekarang, Bapak masih membujang.” Sebenarnya, aku ingin pula bertanya siapa Ibu anak itu. Tapi, alangkah tak sopan. Setelah uban mengeroyok seluruh kepalaku, barulah aku kini menyesal mengapa tidak sekali itu mendobrak kesopanan. Dia Tanaya dan engkau Tanaya. Setidaknya, aku bisa basa-basi dengan bertanya,”Siapa yang memberimu nama, Nak?”

Ah, sudahlah. Gara-gara Kopi Bali ini berlogo kupu-kupu, mengapa pula ingatanku terbang jauh ke masa lalu? Baiklah, Nona, secangkir kopi Luwak khas Bali. Berapa pun, akan kubayar asalkan setelah engkau sajikan kopi itu engkau lantas duduk menemaniku. Takkan kuceritakan padamu selain mengapa aku mencintai kupu-kupu.

”Saya juga cinta kupu-kupu, Om.”

”Hush. Jangan panggil aku Om.”

”Maaf. Saya harus menyapa Anda bagaimana?”

”Tanaka. Namaku Tanaka. Seluruh rambutku sudah perak, memang, tapi engkau tak punya alasan menyebut aku Om. Siapa namamu?”

Baca: Cerpen Perempuan Di Loteng Rumah

”Tanaya. Tunggu sebentar, saya akan bawakan Kopi Luwak khas Bali dari The Butterfly Globe Brand, lalu kita akan mengobrol tentang kupu-kupu.”

Tanaya? Tanaya lagi? Malam apa ini? Mengapa malam ini seluruh ingatanku disergap ribuan kupu-kupu biru dan namamu? Sudah tiga puluh lima tahun, mungkin lebih, kita terpisah. Tanaya, untukmu yang di sana, entah kau di mana, rinduku terjaga, selalu berjaga, untukmu, Cinta. Kurasa, aku cinta padamu. Gagal aku melupakanmu.

”Siapa tadi nama Om? Eh, Anda?”

”Tanaka. Dan, engkau Tanaya.”

”Ta-na-ka. Seingat saya, ada seorang guru di sekolah dasar yang bernama Tanaka.”

”Engkau Tanaya, gadis kupu-kupu?”

”Ya, Tuhan! Pak Tanaya?”

Secangkir Kopi Bali mempertemukan aku dengan siswiku di sekolah dasar. Ingin aku menceritakannya padamu, Tanaya. Sudah berlembar-lembar surat kutulis. Kutumpahkan kisah-kisahku sejak engkau pergi tanpa berpamitan. Setiap surat kuakhiri dengan stempel bertinta biru bergambar kupu-kupu. Entah ke mana harus mengirimnya.

”Ibumu. Dulu aku ingin bertanya siapa Ibumu dan dari siapa kaudapatkan nama Tanaya.”

”Dari ibuku. Dia juga bernama Tanaya.”

”Tanaya? Perempuan ayu dengan bekas luka di lengan kirinya?”

”Om tahu dari mana? Eh, Pak Guru..”

Engkau memanjat pagar bambu, tak mau mendengar kata-kataku. Bukan kakimu yang ringkih, tapi deretan bambu itu. Engkau terjatuh, lengan kirimu terkoyak ditembus bambu, dan kupu-kupu yang kau incar pun kabur menertawakan kita. Mana bisa aku melupakan kebodohanmu? Tak akan hilang bekas luka sedalam itu. ”Ibu masih ada. Tapi, sekarang lebih sering melamun. Memandang jauh, entahlah, sepertinya dia menunggu seseorang.”

”Menunggu ayahmu?”

”Ibu seorang diri merawat saya. Ayah tidak pernah pulang sejak pergi melaut ketika saya masih bayi.”

”Kalian tinggal di Kedonganan?”

”Ya. Dulu. Ibu lalu membawa saya ke Ubud. Kami lama tinggal di sana. Semula, ibu ingin menjauh dari angin laut. Tapi kami sekarang di Legian. Ibu ternyata tak bisa jauh dari pantai. Dulu, sesekali ibu suka sendiri menyusuri pesisir, tak peduli usianya sudah senja.”

”Apa sekarang kegiatan ibumu?”

”Dia sudah pikun. Sepanjang hari, ibu hanya merajut baju hangat. Nanti dulu, nanti dulu. Pak Guru juga memakai baju hangat ke sekolah!”

”Dengan bordir kupu-kupu di bagian dada kiri!”

”Ya, Tuhan! Pak Guru harus ikut saya ke rumah! Sekarang!”

Kami bergegas ke Legian, malam ini, Tanaya, demi menemuimu. Engkau masih ingat aku? Aku Tanaka, bocah yang suka mengganggumu setiap akan menangkap kupu-kupu. Kusenggol pundakmu, buyarlah semua. Engkau marah mengejarku. Kita berlarian. Dari mengejar kupu-kupu, menjadi saling berkejaran di antara kita. Ayo masuk ke rumah. Angin malam terlalu dingin untukmu. Ini, kubawa baju hangat dengan bordir kupu-kupu di bagian dada kiri. Kuperoleh dari binatu. Apakah ini milikmu? Aku tinggal tak jauh dari sini, tak pernah kusangka akan bersua engkau lagi di usia kita yang sesenja ini. Ayo Tanaya, masuklah ke rumah. Dingin di sini. Lihat, lihat itu. Seekor kupu-kupu hinggap di daun pintu rumahmu. Kita harus mengejarnya. Seperti dulu tatkala senja tiba dan kita berdua saja di taman gurun pasir, dengan mawar, sungai dangkal yang airnya bening menampakkan bebatuan, Dandelion yang berguguran, dan tanpa kaktus. Tanaya, mengapa engkau diam saja? Terpisah waktu, selama ini aku jauh darimu, tapi tak menyerah kutempuh kesunyian untuk akhirnya bertemu lagi denganmu. Setiaku padamu ada di sini, di dada ini, Tanaya. Perasaanku padamu sejati, dan aku percaya nyala cintamu padaku pun abadi. Maafkan aku yang sangat terlambat datang. Tanaya, ini aku Tanaka, kupu-kupumu

Terima kasih sudah membaca. Semoga menginspirasi. Baca juga cerpen Perempuan yang Tergila-Gila Pada Mesin Cucinya

CERPEN PURNAMA TENGGELAM DI RAJASTHAN OLEH BADRUL MUNIR CHAIR

CERPEN PURNAMA TENGGELAM DI RAJASTHAN OLEH BADRUL MUNIR CHAIR

perempuan berdiri depan purnama tenggelam
image
Tentu saja kau tak ingin menjadi Kurawa seperti dalam kisah Mahabharata karya Mpu Vyasa yang pernah kaubaca ketika masih remaja. Kau ingin menjadi Gatotkaca, ksatria Pandawa yang selalu kau kagumi. Namun kini kau tak lagi percaya pada cita-cita. Sayap-sayapmu patah, hatimu remuk. Kau mulai mengutuk, meragukan cerita-cerita dalam Mahabharata, kau menyesal karena pernah bermimpi untuk menjelajahi India, hanya karena seorang perempuan? Ah!

Kau baru saja tiba di Negeri Rembulan. Ya, Negeri Rembulan yang selama ini hanya ada dalam angan-anganmu, menggenapi mimpi-mimpi remajamu. Akhirnya kau bisa menginjakkan kedua kakimu di Rajasthan, tempat kau bisa melihat purnama dari titik paling sempurna dari belahan dunia mana pun. Ketika kemudian kau tak sengaja melihat perempuan itu datang dari arah berlawanan, begitulah, kalian lalu berkenalan.

Adalah hal biasa bukan? Kau selalu berkenalan dengan orang-orang yang kau temui selama perjalananmu.

Tapi ia berbeda, batinmu. Wajah perempuan itu seperti Srikandi yang wajahnya kau kenali dari patung lilin di Kurusetra yang dua hari lalu kau singgahi. Benar-benar seperti pinang dibelah dua. Sorot mata tajam seperti ujung pedang, hidung mancung sebagaimana mestinya perempuan India, dagunya lancip, dan wajah berbinar seperti bulan.

Namanya Devi, usianya sembilan belas tahun lebih satu hari. Ia lahir ketika malam purnama, ketika bulan membentuk lingkaran bulat sempurna seperti bola. Dan malam ini ia merasa seperti burung, terbang bebas ke mana pun ia mau. Ia sedang mencari ksatria untuk mendampingi hidupnya selamanya, tepat saat bulan purnama bersinar sempurna. Begitulah ia bercerita padamu di bawah purnama. Di Padang Pasir Thar yang mengelilingi Rajasthan, kau menggenggam erat jemarinya.

“Perempuan sembilan belas tahun sepertiku sudah selayaknya bersuami,” ucap dia sembari mengerlingkan mata.

Kau hanya tersenyum, menatap wajahnya tanpa berkedip. Jemarimu semakin erat menggenggam jemarinya yang kurus.

Sungguh malam yang sempurna. Di bawah guyuran cahaya purnama, kalian saling berbagi cerita. Kau bercerita tentang mimpi-mimpi masa mudamu, tentang obsesimu untuk pergi menjelajahi India karena kau terbius pada keindahan yang kau saksikan dalam film Bollywood dan cerita Mahabharata, tentang gadis-gadis cantik dalam film-film India yang sering kau saksikan ketika masih muda. Dan kau merasa tak malu ketika kau juga bercerita tentang negaramu yang porak-poranda akibat krisis ekonomi dan korupsi yang merajalela. Kau tak lupa berusaha sedikit merayunya, kau katakan padanya bahwa wajahnya seperti Srikandi, dia hanya tersenyum, lalu kalian sama-sama tertawa.

Purnama semakin menggila menerangi India, dan kau sepertinya terlalu cepat jatuh cinta….

Kau teringat akan masa remajamu ketika kau sering harus menginap di rumah tetanggamu demi menyaksikan film Bollywood yang selalu diputar menjelang tengah malam. Dari sanalah kau kali pertama tahu betapa indah India, dan sejak saat itu kau terobsesi dan berjanji kelak akan menginjakkan kaki di India. Ketika remaja kau juga membaca kisah dalam Mahabharata. Kau begitu tertarik pada cerita tentang pertarungan antara Pandawa melawan Kurawa 3000 tahun silam di India, dan sejak saat itu keinginanmu untuk menjelajah India semakin menggebu, kemudian angan-angan itu selalu menghiasi mimpi malam-malammu.

Begitulah cerita, kini kau menginjakkan kedua kakimu di India, setelah berbulan-bulan berjalan kaki menelusuri negara-negara lain di penjuru Asia. Seperti mimpi yang nyata, seperti utang yang ditunaikan. Namun, yang kau rasakan adalah miris dan kecewa, India tak seindah cerita-cerita yang pernah kau baca.

Iya, India memang berbeda, kau begitu kecewa ketika menerima kenyataan bahwa India tak seindah dalam adegan film ataupun cerita-cerita yang pernah kaubaca, semua orang sibuk mencari Rupee, ratusan orang rela berjubel seperti ikan sarden di atas gerbong kereta ataupun bus kota demi menghemat ongkos, bioskop-bioskop tua yang selalu penuh, ah, nama besar Gandhi dan Tagore seakan tenggelam di negerinya sendiri. Dan rasa kecewa semacam itu pula yang kau rasakan ketika kau menemui ayah Devi untuk meminangnya.

“Kau hanyalah seorang pengembara, anak muda, selain itu kau punya apa?” lelaki tua itu memang tak salah, kau membatin. Seorang ayah tentu selalu mencari lelaki yang mapan untuk bakal suami anaknya.

“Kau sudah menyiapkan berapa Rupee untuk membawa anakku?”

Tentu saja kau terkejut, hatimu remuk, caranya menawarkan anaknya seperti menjual wanita murahan saja—seperti cukong-cukong dan mucikari yang pernah kau temui di jalan-jalan kecil Kota Kalkuta. Pyuh, kau meludah di hadapannya.

Kau memang hanya pengembara, menggerakkan tubuhmu tanpa tujuan yang kau tahu. Kau hanya ingin membuang kecewa, kecewa terhadap negerimu yang porak-poranda, ribuan mil dari Rajasthan, Jakarta sudah menjadi neraka, kuburan raksasa yang sudah dipersiapkan para penguasa kepada setiap orang yang hendak melawan mereka, jika kau tak segera pergi, kau hanya tinggal menunggu mati, apalagi sebagai mahasiswa, kau adalah sasaran empuk para penguasa.

“Curilah aku dari ayahku, Rama. Bawalah aku lari ke negaramu, mungkin di sana aku akan menemukan impian yang tak pernah aku dapatkan di Rajasthan.”

Kau hanya diam, memandangi lentik alis perempuan yang meratap di hadapmu, di atas dua mata bulat. Kau mengecup keningnya di bawah sorotan rembulan yang membulat sempurna.

Purnama di Rajasthan jangan pernah dilewatkan….

Kau teringat pada sebuah tulisan yang kau temukan dalam sebuah tulisan di majalah travelling, tentang purnama di Rajasthan. Bahkan kau sangat mengingat kata demi kata yang dituliskan di majalah itu: “Di Padang Pasir Thar Kota Puskhar, salah satu sudut di Provinsi Rajasthan, purnama akan tampak begitu sempurna, membulat seperti bola, dan letaknya tepat di atas kepala kita, seperti bola lampu yang menempel di langit-langit kamar kita, seakan-akan purnama memang diciptakan khusus untuk penduduk kota ini.” Sepertinya, kekecewaanmu pada India akan terbayar lunas di Rajasthan. Setelah perjalanan menjenuhkan menyusuri sudut-sudut kota Kalkuta, perlakuan tidak menyenangkan oleh polisi Amristar, hiruk-pikuk New Delhi yang sangat padat sekali, mendapati Sungai Gangga yang kumuh di Varanasi, benar-benar tak seindah cerita dalam film Bollywood.

Namun kau mendapati suasana yang sama sekali berbeda ketika menjejakkan kedua kakimu di Rajasthan, tak seperti di kota-kota sebelumnya yang membuatmu tak betah, di Rajasthan, semua orang yang berlalu-lalang seakan tersenyum memberi ucapan selamat datang, wajah-wajah yang ramah, dan kota yang begitu indah.

Pada malam hari, ketika kau tiba di Padang Pasir Thar, kau sungguh tak percaya mendapati purnama seakan-akan hanya berjarak beberapa meter di atas kepalamu, kau sungguh bahagia dan terpesona, dan hatimu terasa semakin berbunga-bunga ketika tak sengaja kau melihat seorang perempuan datang dari arah berlawanan, dan kalian berkenalan.

Kalian duduk berdua beralaskan hamparan pasir, kau dan Devi, walau sebenarnya kalian tak hanya duduk berdua karena begitu banyak orang yang datang memenuhi Padang Pasir Thar untuk melakukan ritual purnama, namun bagimu, purnama itu hanyalah milik kalian berdua.

Saat itu, tentu saja kau tak pernah menyangka, bahwa perempuan itu hanya akan menambah cerita kelam perjalanan panjangmu menyusuri India.

Baca: Cerpen Teh dan Kopi 

“Apakah aku mencintai orang yang salah?” Pertanyaan itu kini diam-diam menggelayuti hatimu. Walau seharusnya yang kau tanyakan adalah, “Apakah aku terlalu cepat jatuh cinta?” Ah, sebelumnya kau memang tak pernah merasakan cinta yang lebih indah dari ini, dan tentu saja indah dari ini, dan tentu saja lebih luka dari segalanya.

Kini kau merasa kesepian di tengah Padang Pasir Thar yang telah menjelma lautan manusia. Setiap purnama, orang-orang dari pelosok India berduyun untuk melakukan ritual purnama, semacam persembahan dan ucapan terima kasih kepada dewa, membaca doa-doa dan pujian menurut kepercayaan mereka.

Devi baru saja meninggalkanmu, menghilang di antara kerumunan orang-orang yang sibuk mendirikan tenda untuk tempat bermalam mereka, sebagian yang tak punya biaya hanya tidur beralaskan pasir dan beratapkan purnama, —seperti kalian.

Ah, dia memang tak pernah mau mengerti, betapa kalian bernasib hampir sama, mempunyai kekecewaan yang sama terhadap kampung halaman, negara yang sama-sama kacau, poor country, dan secercah harapan kalian yang sama-sama sirna.

Kau benar-benar merasa sepi, kau merebahkan diri di atas pasir, memandang rembulan yang bersinar seperti bola lampu dengan watt tinggi. Ah, kau jadi teringat dengan kamarmu, kamar kecil tempatmu biasa merebahkan diri, ribuan mil dari India, di sebuah kota kecil dekat Jakarta, tempat kau menghabiskan masa remaja. Kau tersadar, terkadang pepatah memang benar, hujan batu di negeri sendiri lebih berarti daripada hujan emas di negeri orang.

Tiba-tiba kau ingin sekali pulang ke Indonesia, sepetak tanah yang sudah hampir kau lupa. Kau benar-benar rindu, rindu untuk mencium aroma tanah negeri kelahiranmu. Kau segera mengemasi barang-barangmu, kau telah bertekad untuk pulang, pulang ke tanah kelahiranmu, tanah kelahiran nenek moyang.

Baru beberapa jauh dari tempatmu melangkah, seorang lelaki paruh baya menegurmu, menawarimu untuk mampir kedalam tendanya, “Perempuan, Tuan. Silakan dipilih, boleh dibawa ke hotel atau di dalam tenda.”

Kau begitu tercengang, bukan karena tawaran lelaki itu, namun kau melihat Devi duduk di antara perempuan-perempuan yang ditawarkan di dalam tenda, mengenakan pakaian minim bahkan nyaris telanjang. Kau merasa benar-benar tak percaya!

Di pinggiran Rajasthan, ketika kau hendak meninggalkan negeri itu dalam keterasingan, sekali lagi kau melihat rembulan. Kau lihat warna rembulan yang langsat berubah pucat, lalu perlahan kenangan dan mimpi-mimpimu memudar, seperti purnama yang tenggelam di Rajasthan.

Terima kasih sudah berkunjung. Semoga bermanfaat. Baca juga cerpen Relikui Ibu

CERPEN PERAHU MORANTAB OLEH BADRUL MUNIR CHAIR

CERPEN PERAHU MORANTAB OLEH BADRUL MUNIR CHAIR


perahu kertas yang hanyut
image Selma
Matahari sore membiaskan warna jingga pada air laut ketika Morantab berjalan menyusuri tepian pantai dengan kaki telanjang. Sesekali ombak kecil datang ke tepian membasahi kakinya, hingga tiba-tiba Morantab merasakan kaki kirinya menginjak sesuatu empuk yang tak asing: kotoran manusia. Tak jauh dari pandangannya, seorang laki-laki duduk berjongkok menghadap laut, menyingkap sarungnya hingga pundak, kedua matanya terpejam, dan dahinya mengerut seperti menahan sesuatu. “Huh… patek!” Morantab mendengus, jengkel.

Morantab menepikan sampah-sampah yang berserak di tepian pantai. Ia mendekati perahu-perahu yang berderet di sepanjang tepi. Setiap sore ia harus memeriksa perahunya yang dilabuhkan di ujung desa, tak jauh dari gugusan karang tanda batas kecamatan. Morantab memastikan tali tambang terikat kuat dan perahunya tak akan hanyut terbawa angin pasang. Perahu diikat dengan temali pada pohon lontar. Tak perlu jangkar, sebab perahu itu dilabuhkan di tanah pasir, hanya berjaga-jaga bila sewaktu-waktu air laut terlalu pasang.

Cat-cat perahunya terlihat memudar, sebagian mengelupas, pertanda sudah lama tidak dirawat. Padahal papan-papan masih kokoh, merekat simetris. Papan-papan kayu itu dahulu diperoleh Morantab dari tengah laut, buangan kapal besar yang bertolak dari arah Pulau Kalimantan.

Ah, Morantab teringat dengan kejadian 15 tahun silam. Saat itu Morantab hanyalah kuli nelayan—mencari ikan dengan menumpang perahu orang—yang penghasilannya tidak seberapa dan terkadang tak cukup untuk menghidupi keluarga. Bahkan karena kondisi ekonominya sudah sangat memprihatinkan, Halil—anak semata wayangnya—memilih mengadu nasib hingga ke luar negeri sebab Morantab tidak mampu lagi membiayai sekolahnya.

Dalam kondisi terpuruk seperti itulah, pada suatu malam, di tengah laut, Morantab melihat papan-papan kayu terapung tak jauh dari pandangan. Beberapa kayu ada yang sudah menyangkut di jalanya. Tak banyak pikir, Morantab melompat dari perahu, mengumpulkan kayu-kayu itu, mengikatnya agar tidak berserak dan tetap mengapung di sekitar perahu. Morantab kemudian meminta izin kepada juragan perahunya untuk mengangkut kayu-kayu itu ke atas perahu untuk dibawa ke pulau. Juragannya setuju, tentu dengan perjanjian ia juga mendapat bagian.

Morantab yakin, papan-papan kayu itu sengaja dibuang oleh kapal yang terlalu banyak muatan, atau bahkan sengaja dihanyutkan awak kapalnya untuk menghindari patroli polisi laut sebab kayu yang mereka bawa adalah kayu ilegal hasil dari penebangan liar di Kalimantan yang hendak diselundupkan.

***

Matahari belum terbit ketika perahu yang membawa Morantab dan kayu-kayu itu berlabuh di pulau. Lamat-lamat terdengar suara sautan “Amiin….” dari speaker Toa di atap Masjid. Orang-orang desa sedang shalat, sebagian lainnya mungkin masih tidur. Selagi hari masih gelap dan pantai sedang sepi, Morantab bergegas memindahkan papan-papan kayu itu sebelum pantai menjadi ramai oleh orang-orang yang menunggu perahu datang untuk membeli ikan-ikan segar.

Dengan tergesa, Morantab memindahkan kayu-kayu itu ke rumahnya yang tak jauh dari pantai. Belasan papan kayu bergantian ia pindahkan ke dapur rumahnya yang tak beratap, memikulnya sendiri. Jangan sampai ada orang lain atau tetangga yang tahu, sebab mulut mereka begitu licin untuk mengadukannya kepada petugas kepolisian agar mereka juga mendapat imbalan dari sang petugas. Ah, di desanya itu memang banyak penjilat yang kerap mencari keuntungan walaupun orang lain harus jadi korban. Ketika semua kayu itu sudah dipindahkan ke dalam rumahnya, Morantab dikejutkan oleh suara bentakan istrinya. “Dari mana kau curi kayu-kayu itu, Morantab?” dengan sisa-sisa kantuk sehabis bangun tidur, istrinya bertanya curiga.

“Jaga mulutmu, Ramlah! Kayu-kayu ini sudah dibuang pemiliknya ke laut, sekarang jadi milikku!”

“Mana ada orang bodoh membuang kayu segini banyaknya ke laut?”

“Jaga mulutmu!” Morantab membanting kayu di hadapan Ramlah. Suami-istri itu lalu beradu mulut, bertengkar sengit. Mereka berdebat. Ramlah terus mencurigai asal kayu-kayu itu, dan penjelasan Morantab tak membuat Ramlah percaya.

***

Pertengkaran itu sudah 15 tahun berlalu. Kini kayu-kayu temuan itu menjelma sebuah perahu, perahu yang warnanya terlihat pudar, pertanda sudah lama tidak dirawat, perahu yang papan-papannya sebagian bocor dan sudah sekian lama tidak dipakai berlayar, perahu yang dahulu berjasa mengangkat martabat keluarganya hingga ia dan istrinya bisa membangun rumah dan naik haji.

“Kabarnya, perahumu mau dijual, Ji?” tiba-tiba seseorang mencegat langkahnya tak jauh dari tempat perahunya dilabuhkan. Orang-orang desa itu memang memanggilnya “Haji” sebagai panggilan kehormatan.

“Badanku sudah tak kuat, Mat. Kelamaan kena angin laut bisa meriang dan muntah.”

“Jadi, betulan mau dijual?”

“Tak tahulah, Mat. Perahu ini sudah banyak berjasa, sayang kalau dijual.” Sore itu Morantab kembali ke rumahnya dengan hati bimbang. Sudah banyak orang yang menawar perahunya, bahkan dengan harga yang lumayan tinggi. Berkali-kali ada orang yang mendatangi rumahnya untuk menawar perahunya, berkali-kali pula ia menolak. Dan tentu, berkali-kali pula ia harus mendengar ocehan istrinya.


“Kamu sudah tua, tak kuat lagi melaut, perahu itu sudah lama nganggur, kenapa tidak dijual saja?”

“Belum ada harga yang cocok.”

“Belum cocok katamu? Uang segitu bisa buat beli mobil pikep!”

Ramlah berpikir realistis, memang banyak nelayan yang putus asa menjual perahunya lalu membeli mobil pikep guna disewakan kepada nelayan lain untuk mengangkut ikan hasil tangkapan, atau mengangkut terasi untuk dibawa ke luar kota. Itu akan lebih menguntungkan terutama jika pancaroba berkepanjangan yang membuat nelayan tak berani melaut, yang barang tentu tak akan punya penghasilan. Perahu berlayar menyesuaikan cuaca, sedang mobil pikep bisa disewakan kapan saja. Begitulah pikiran Ramlah.

Tetapi Morantab tidak mau tergoda dengan tawaran tinggi orang-orang yang datang hendak membeli perahunya. Ia enggan menjual perahunya dengan alasan ia masih punya harapan kepada Halil, anak semata wayangnya. “Halil bisa meneruskan perahu itu, Lebaran depan ia akan pulang.” Masih ada harapan bagi Morantab untuk tidak menjual perahu yang sangat berjasa dan banyak menyimpan kenangan itu. Harapan yang sebenarnya ia jadikan alasan untuk tidak menjual perahunya.

“Halil ke Malaysia karena enggan jadi nelayan. Kalau Halil ada disini, tentu ia tak akan banyak pikir untuk menjual perahu tua yang sudah rusak itu!”

“Halil ke Malaysia karena tidak tahan mendengar ocehanmu!” Kali ini terdengar suara pintu dibanting. Ramlah tak kalah sengit membalas perkataan suaminya dengan sumpah-serapah. Suami-istri yang berusia lebih dari separuh abad itu lagi-lagi bertengkar sengit, seperti biasanya.

***

Hampir enam bulan perahu itu tak berlayar, masih terikat kuat pada batang sebuah pohon lontar di tepi pantai ujung desa. Selama itu pula hampir setiap hari Morantab datang ke pantai, untuk memastikan perahunya masih terikat kencang. Mesin perahu dan segala perkakas penting sudah ia amankan di rumah, lampu-lampu kecil yang menghias tiang dan layar perahu, jala dan pancing, semuanya sudah ia simpan.

Morantab menatap laut lepas. Sudah begitu lama ia tidak berlayar. Terakhir kali melaut sekitar setengah tahun lalu, ketika itu ia muntah di tengah laut dan sekarat di atas perahu. Awak-awak perahunya memutar arah perahu kembali ke pulau Madura. Ia benar-benar kritis ketika itu.

Usia memang tak bisa dilawan, semakin tua penyakit semakin mudah datang. Morantab jadi sering mabuk laut, tubuh tuanya tak lagi tahan angin, belum lagi linu di punggungnya yang semakin menjadi setiap ia menarik jala. Sebab itulah ia memutuskan istirahat, walau keputusan itu tentu teramat berat. Sebulan dua bulan perahu itu memang masih terus berlayar walau tanpa Morantab. Awak-awak perahu yang sudah belasan tahun menemani Morantab masih bisa dipercaya. Selama itu pula Morantab hanya diam di rumah, menunggu hasil tangkapan tanpa jerih payah. Ramlah pun tinggal menunggu perahu datang, lalu menjual ikan-ikan tangkapan. Hasil penjualannya dibagi rata kepada empat orang awak perahu, tentu saja sudah dikurangi biaya beli solar, perbaikan perkakas, juga jatah keluarganya sebagai juragan.

Namun itu hanya berjalan sebulan dua bulan. Bulan-bulan berikutnya hasil tangkapan ikan semakin berkurang, pendapatannya semakin jauh menurun. Penghasilan perahunya tak cukup lagi untuk makan empat orang awak dan buat beli solar dan perbekalan melaut. Padahal perahu-perahu nelayan lain membawa tangkapan melimpah. Sungguh sesuatu yang janggal.

Menurut kabar burung yang beredar, awak-awak perahu Morantab kongkalikong dengan nelayan lain, memindah ikan-ikan tangkapan ke perahu lain dan hasil penjualannya dibagi rata ketika sampai di daratan. Karena kini awak-awak perahunya sudah tak bisa dipercaya, akhirnya Morantab memilih mengistirahatkan perahu yang banyak menyimpan kenangan itu. Kini awak-awak perahunya telah menyeberang ke perahu orang. Tak mungkin ia berlayar sendirian. Keadaan menjadi semakin rumit karena Ramlah bersikukuh ingin menjual perahu itu. Morantab semakin bimbang, antara mempertahankan atau melepaskan, merelakan atau mengabadikan kenangan.

***

Sebenarnya ada alasan lain mengapa Morantab bersikeras tak ingin menjual perahu itu. Bukan hanya kenangan indah bersama Ramlah, bukan karena jasa-jasa perahu itu yang membuatnya bisa membangun rumah dan naik haji, bukan pula karena perahu itu adalah tumpuan hidupnya untuk mencari nafkah selama belasan tahun. Bukan itu, melainkan ada kenangan lain yang dirahasiakan Morantab dari siapa pun, tentang perahu itu.

Setiap sore menjelang matahari surup, Morantab tak pernah absen memeriksa perahunya. Awalnya memang karena khawatir perahunya akan hanyut jika air pasang tiba, juga untuk memeriksa papan-papan perahu yang mungkin saja dicuri orang. Namun setelah beberapa minggu berlalu, Morantab mempunyai alasan lain untuk selalu datang memeriksa perahunya setiap sore, sesuatu yang begitu rapat ia sembunyikan, serapat papan-papan itu merekat di lambung perahu.

Di ujung desa itu, di balik gugusan karang tak jauh dari tempat Morantab melabuhkan perahunya, setiap sore, seorang perempuan cemas menunggu kedatangan Morantab, menunggu lelaki itu menjemputnya di sungai kecil di balik karang, lalu membawanya mengendap menuju sebuah perahu, perahu yang jauh terpisah dari perahu-perahu lainnya, perahu yang sudah lama tak berlayar.

Ya, sebenarnya setiap sore Morantab datang tidak hanya untuk memeriksa perahunya, melainkan untuk menemui Halima, janda satu anak yang telah lama ditinggal mati suaminya. Di balik karang itu, Halima selalu menunggu kedatangan Morantab sambil (pura-pura) mencuci baju di sungai kecil, sesekali ia memandang ke timur jauh, mencari-cari bayangan tubuh Morantab.

Maka setelah Halima melihat Morantab datang dari kejauhan, ia sudah bersiap untuk meninggalkan sungai itu, dengan pakaian dan rambut basah tergerai. Sementara di sepanjang jalan pantai, Morantab tentu sudah memperhatikan seberapa ramai pantai itu, ia menghitung berapa orang yang masih berlalu-lalang, memastikan seberapa aman kesempatan untuk bercumbu, mencumbu Halima di atas perahu.

Setelah semua dirasa aman, Morantab menjemput Halima yang menunggu di balik karang, lalu membawanya mengendap menuju perahunya. Di atas perahu itu, mereka duduk berdua menunggu matahari lengser, menyaksikan senja surup di balik cakrawala, seperti sepasang kekasih yang dimabuk asmara. Morantab memeluk Halima tanpa khawatir ada orang lain yang mengetahuinya. Perahu itu cukup aman untuk mereka bercinta, memadu asmara.

Itulah alasan mengapa Morantab tak pernah mau menjual perahunya, dengan tawaran berapa pun. Terlalu banyak kenangan, akan ada yang hilang jika perahu itu tak lagi jadi miliknya. Terlalu banyak yang ia rahasiakan, yang mungkin akan terungkap setelah perahu itu terjual. Ia tak ingin kenangannya luntur, tak ingin rahasianya terungkap. Ia masih ingin lebih lama lagi menjaring kenangan di atas perahu itu, bersama Halima.

Terima kasih sudah membaca. Semoga menginspirasi. Baca juga cerpen Pelajaran Pertama Bagi Politisi

CERPEN WARUNG NYI TASLIMA OLEH BADRUL MUNIR CHAIR

CERPEN WARUNG NYI TASLIMA OLEH BADRUL MUNIR CHAIR


korban warung yang rubuh
image 
Tak ada kopi yang lebih nikmat daripada kopi buatan Nyi Taslima. Kopikental hitam agak pahit dengan larutan daun pandan yang aromanya mengundang selera, kopi yang dipetik dari kebunnya sendiri lalu disangrai pada kuali lempung, dengan tambahan rempah rahasia, resep warisan nenek moyang. Gula merah sari siwalan yang dipilih Nyi Taslima menjadikan kopi buatannya semakin kental dengan rasa manis yang hanya sesekali datang, sebab gula merah itu tak sepenuhnya larut dalam seduhan.

Ah, ketika mencium aromanya, seakan-akan seduhan kopi sudah menyentuh kerongkongan.

Setiap pagi, tukang becak dan kernet angkot yang sedang menunggu penumpang sering mangkal di warung Nyi Taslima.Warung yang menghadap jalan raya, beratapkan asbes dan berdindingkan papan kayu. Kursi-kursi memanjang mengelilingi meja persegi tempat menyajikan aneka makanan dan camilan.

Warung Nyi Taslima memanglah strategis karena terletak di tepi jalan raya tak jauh dari pertigaan di persimpangan jalan ke arah kota dan pantai utara. Biasanya, para penumpang angkot yang kebanyakan pedagang ikan, kerap menunggu di bangku warung itu, menunggu angkot penuh atau menunggu sopir menghabiskan segelas kopi.

Begitupun kami, anak-anak sekolah yang baru belajar ngopi, kerap kali mampirdi warung Nyi Taslima untuk membeli sarapan nasi bungkus, atau berteduh dari sengatan matahari ketika pulang sekolah dan sekadar menikmati aneka gorengan juga camilan kecil sembari menyaksikan para kernet, sopir, dan tukang becak bertaruh bermain kartu remi.

Bi Sumi, anak perempuan Nyi Taslima, sering cemberut dan mengomel ketika kami ikut nimbrung menyaksikan sopir angkot dan tukang becak itu berjudi. “Kalian masih SMP, jangan ikut-ikutan jadi pemalas. Sekolah saja yang pintar,” begitulah Bi Sumi sering menasihati kami.

“Cepat pulang, orang tua kalian pasti menunggu!” Secara halus Bi Sumi seringkali mengusir kami yang sedang asyik menikmati permainan dan secangkir kopi.

‘’Lebih baik jadi pemalas daripada jadi maling!’’ Jupri, si tukang becak itu menyindir Bi Sumi, disambut gelak ngakak orang-orang yang berada di warung siang itu. Kulihat wajah Bi Sumi pucat, sedangkan Nyi Taslima diam-diam menitikkan air mata.

Di kampung kami, sudah menjadi rahasia umum jika Abdur Rajah, suami Bi Sumi, adalah seorang maling. Tak terhitung lagi sudah berapa kali Abdur keluar masuk penjara. Untungnya Abdur tak pernah sekalipun mencuri di kampung kami. Biasanya, Abdur bersama komplotannya membobol rumah di kecamatan sebelah, sebelum kemudian Abdur kembali tertangkap dan dijebloskan ke penjara dua hari yang lalu.

Namun ramainya berita tentang tertangkapnya Abdur untuk kesekian kalinya tak pernah bisa mengalahkan ramainya warung Nyi Taslima. Rasa kopi di warung itu tentulah lebih enak untuk dinikmati daripada perbicangan basi tentang tertangkapnya Abdur. Perbincangan yang menarik di warung itu hanyalah perihal kartu remi dan taruhan, pertandingan bola tadi malam, tentang cuaca yang menyebabkan nelayan rehat melaut, hingga perihal angkot dan becak mereka yang sepi penumpang.

Sepinya penumpang menjadi alasan parasopir dan kernet angkot itu untuk berlama-lama mangkal di warung Nyi Taslima. Bermain kartu remi dibumbui taruhan menjadi pelepas penat, selain juga untuk menambah penghasilan bagi yang menang. Abdur bukanlah topik menarik untuk dibicarakan, mungkin mereka merasa tak enak hati dengan Nyi Taslima dan Bi Sumi. Lagipula,

Abdur tak pernah lama mendekam di penjara. Dalam waktu kurang dari satu bulan, Abdur kembali bebas dan sesekali menampakkan batang hidungnya di warung Nyi Taslima.

***

Kemasyhuran warung Nyi Taslima di kampung kami memanglah tiada tandingan. Namun lazimnya setiap ketenaran, warung Nyi Taslima juga tak lepas dari cerita miring dan gunjing. Begitu banyak cerita yang didengungkan orang-orang kampung perihal warung Nyi Taslima, keluarga, dan kopi nikmat buatannya.

Pernah kami mendengar cerita dari kakek salah seorang kawan kami. Dulu, sebelum tanah di tepi jalan itu ditempatiwarung Nyi Taslima, di lahan itu berdiripohon asam besar yang kerap mencelakakan para pengguna jalan. Tak terhitunglagi berapa jumlah kendaraan yang mengalami kecelakaan di sekitar pohon asam itu, juga tak sedikit kendaraan besar seperti truk dan bus, yang menghantam batang pohon asamitu hingga menelan banyak korban. Ketika pohon asam itu kemudian ditebang, semakin banyak saja kejadian ganjil. Seorang sopir angkot mengaku pernah menabrak seorang perempuan yang tiba-tiba menyeberang di sekitar pohon asam yang baru ditebang itu hingga tubuhnya hancur dan ususnya terburai. Namun anehnya, tak ditemukan sedikit pun bercak darah di angkot dan badan jalan, apalagi bekas adanya tabrakan.

Maka ketika Nyi Taslima mendirikan warung di tepi jalan yang terkenal angker itu, semakin banyak cerita miring yang beredar. Tentang tumbal empat ekor kepala kambing yang ditanam di setiap sudut warung. Tentang sesajen yang dihadiahkan Nyi Taslima kepada makhluk halus penunggu lahan itu setiap Selasa Kliwon, cerita ini sedikit masuk akal karena diperkuat dengan tutupnya warung Nyi Taslima setiap hari itu.

Namun cerita yang paling kami sukai tentu saja cerita tentang Bi Sumi. Perempuan berusia tiga puluhan berparas ayu dengan tahi lalat kecil di dagunya. Bi Sumi kerap memakai baju ketat sehingga tonjolan di bagian dada dan pinggulnya tercetak rapi. Senyumnya yang penuh isyarat godaan ketika menghidangkan menu pesanan tak jarang membuat para kernet, sopir angkot, dan tukang becak, para pelanggan setia warung Nyi Taslima, menelan ludahnya mentah-mentah. Kerlingan mata nakalnya kerap membangkitkan fantasi kami yang beranjak remaja.

Maka beredarlah cerita, bahwa warung Nyi Taslima tak hanya digunakan sebagai tempat mangkal para kenek, sopir angkot, dan tukang becak pada pagi dan sore hari, melainkan juga sebagai ‘’tempat penginapan sementara’’ lelaki kesepian pada malam hari.

Sedangkan Abdur Rajah, ah, nama yang membuat bulu kuduk kami berdiri. Siapa yang tak kenal nama itu di seantero kampung ini? Raja Maling, Ketua Bajingan,dan sederet julukan lain yang semakin memantapkan eksistensinya di dunia kriminal. Badan tegap tinggi menjulang. Sorot matanya yang tajam membuat kami tak kuasa menatapnya terlalu lama. Tato naga di lengan kanannya, bekas jahitan memanjang di kening kirinya, ujung kumisnya yang meliuk bagai ombak menjadikan sosoknya semakin sangar dan menakutkan. Dari bisik-bisik sopir angkot dan tukang becak, kami pernah mendengar bahwa sebenarnya Abdur adalah seorang dukun. Sampai sekarang, masih banyak orang yang meminta petunjuk padanya tentang jodoh, karir, hingga asmara. Tak jarang, para pejabat juga kerap mendatanginya untuk meminta petunjuk agar naik jabatan, menjatuhkan saingan, hingga menaklukkan istri tuanya.


Konon, Abdur tahu kapan waktu yang tepat untuk mencuri,bisa memperdaya penjaga keamanan, hingga memilih rumah dan target yang tepat ketika akan melakukan pencurian. Abdur bisa begitu mudah keluar penjara karena mengelabui sipir penjara dengan mantra ampuhnya. Kalian boleh percaya, boleh tidak. Entahlah!

Suatu pagi pada hari Sabtu, kami ingat betul harinya karena ketika itu kami mengenakan seragam pramuka, kami melihat Abdur duduk di warung Nyi Taslima. Sorot matanya yang tajam menatap ujung jalan yang mulai ramai. Sebatang rokok kretek dihisapnya dalam-dalam.

Melihat sosok Abdur, saat itu kami sempat mengurungkan niat untuk membeli sarapan di warung Nyi Taslima. Namun tiba-tiba suara berat memanggil kami dan mempersilahkan kami duduk di kursi papan yang sedari tadi didudukinya sendirian. ‘’Duduk di sini!’’ Suaranya berat, hingga membuat jantung kami berdetak lebih cepat.

Ah, bertemu Abdur hanyalah sedikit tantangan bagi kami untuk menikmati kopi nikmat buatan Nyi Taslima, selain antrean yang cukup panjang yang tak jarang membuat kami terlambat tiba di sekolah, juga omelan orang tua yang percaya akan cerita-cerita miring tentang warung Nyi Taslima hingga mereka kerap melarang kami membeli sarapan di situ.

***

Ramai gunjing dan cerita-cerita miring mengenai warung Nyi Taslima tak pernah menyurutkan niat kami untuk selalu mendatangi warung itu. Menyaksikan sopir angkot, kenek, dan tukang becak bertaruh bermain kartu remi. Menikmati kopi kental hitam agak pahit dengan larutan daun pandan yang aromanya mengundang selera, buatan Nyi Taslima. Mengisi perut dengan aneka makanan, gorengan, dan camilan yang tak kalah nikmatnya. Diam-diam mencuri pandang ke tonjolan dada dan lekuk tubuh Bi Sumi yang memantik berahi.

Sepertinya tak pernah sehari pun kami alpa mengunjungi warung Nyi Taslima, kecuali ketika warung itu tutup setiap hari Selasa Kliwon. Hingga suatu subuh, puluhan orang tak dikenal beramai-ramai mendatangi warung Nyi Taslima. Mengacungkan celurit dan berbagai senjata tajam. Mengenggam batu seukuran kepalan tangan yang kemudian dilemparkan ke warung Nyi Taslima.

“Hancurkan!”

“Warung maksiat!”

Orang-orang yang tidak kami kenali itu semakin membabi buta menyerang warung Nyi Taslima. Menghujani warung dengan batu-batu seukuran kepalan tangan. Mengacungkan celurit dan berbagai senjata tajam. Meneriakkan sumpah-serapah dan ancaman. Tak beberapa lama kemudian, orang-orang itu membakar warung Nyi Taslima tanpa bisa kami hentikan. Api melalap seisi warung Nyi Taslima.Dari kejauhan, kami hanya pasrah melihat asap yang menghitam, warung yang ambruk, mencium aroma kopi yang hangus, mendengar gemeretak kayu yang perlahan menjadi arang. Entah di mana Nyi Taslima dan Bi Sumi? Kami tak melihat bayangan seorang pun di dalam warung.

Pagi menjelang, sisa-sisa arang dan puing warung Nyi Taslima yang berserakan masih jelas dalam pandangan. Kami hanya menatapnya sembari kembali mengingat kenangan. Mengingat para kenek, sopir angkot, dan tukang becak yang bertaruh sembari menyeruput nikmatnya kopi di pagi hari. Mengingat ketika kami, anak-anak sekolah, yang berebutan nasi bungkus di warung Nyi Taslima agar tak kehabisan. Tentu juga mengingat kenikmatan kopi kental hitam agak pahit dengan larutan daun pandan dan gula merah sari siwalan yang rasanya sungguh tiada tandingan.

Entah bagaimana kami harus melewati hari-hari kami, terutama pagi hari, tanpa sarapan nasi bungkus dan menikmati kopi di warung Nyi Taslima. Entah di mana lagi sopir angkot dan tukang becak itu akan beristirahat melepas penat, bermain kartu remi, lalu membagi cerita-cerita kocaknya kepada kami. Entahlah!

Beberapa hari kemudian cerita tentang musabab pembakaran warung Nyi Taslima pun mulai bermunculan. Tentang Bi Sumi yang pada malam harinya sempat berteriak ketakutan. Tentang orang-orang yang tak kami kenali yang merusak dan membakar warung Nyi Taslima, yang menurut kabar burung, adalah orang suruhan. Juga tentang Nyi Taslima dan Bi Sumi yang sampai kini keberadaannya belum kami ketahui.

Cerita demi cerita yang terus bermunculan tak bisa menghibur hati kami yang kehilangan.

Terima kasih sudah berkunjung. Semoga mengispirasi. Baca juga cerpen Senyum yang Kekal

CERPEN MENINGGALKAN SEMUT DI MESJID OLEH DADANG ARI MURTONO

CERPEN MENINGGALKAN SEMUT DI MESJID OLEH DADANG ARI MURTONO


Hujan turun.

semut di jari
image 
Butiran-butiran air sebesar biji jagung menghajar genting dan ranting, pohon dan kebun, dan memaksa orang-orang menyembunyikan diri mereka dalam rumah masing-masing. Angin buruk berembus. Tiang listrik di ujung gang bergoyang-goyang. Tiga dahan besar pohon trembesi di pinggir jalan patah dan melintang dari tepi ke tepi yang lain. Itu adalah salah satu sore terburuk di sepanjang tahun 1987. Di antara guyuran hujan dan deru angin yang semakin menggila, samar-samar, terdengar entakan kaki yang diayunkan dengan berat. Itu adalah langkah dari seorang lelaki dengan jaket tebal usang. Ia mengenakan fedora dengan tiga tambalan dan kacamata hitam. “Tak ada tempat berteduh,” ia menggumam. Dan ia terus berjalan. “Seperti juga tak ada tempat sembunyi dari maut jika memang waktunya sudah tiba,” ia kembali menggumam, kali ini sambil mengetatkan jaketnya. Di balik jaket itu, seekor semut diam dalam saku bajunya, basah tapi aman. Seekor semut yang ia pungut dari jatuhan dahan trembesi. “Tapi waktunya belum tiba bagimu.”

***

Empat puluh hari setelah Kiai Haji Alim Alimin wafat dalam damai pada usia sembilan puluh satu, Ali si bilal bersumpah bahwa ia melihat sesosok makhluk aneh tengah duduk dekat pengimaman masjid wakaf yang ditinggalkan Kiai Haji Alim Alimin. “Tapi ia bukan manusia,” ujar Ali si bilal dengan napas tersengal.

“Sungguh, demi Allah,” lanjutnya.

Mak Ijah si pemilik warung mengangsurkan gelas berisi air putih yang segera ditandaskan Ali. Ia tampak masih kesusahan mendapatkan kendali penuh atas dirinya sendiri. Hari itu Jumat. Dan tak ada satu pun penduduk di sana yang ingat menunaikan salat Jumat hari itu.

“Seperti kalian tahu, aku datang pukul setengah sebelas seperti biasanya untuk menyiapkan segala keperluan salat Jumat. Tidak ada yang aneh. Pintu depan masih terkunci. Pagar tertutup tapi tidak dikunci. Semua seperti biasa. Aku masuk seperti biasa. Aku membuka pintu depan seperti biasa. Dan aku melihat makhluk itu. Aku melihat makhluk itu.”

“Seperti apa makhluk itu?” seseorang bertanya.

“Penuh bulu. Dan besar. Dan kakinya banyak. Aku tak tahu jumlah pastinya. Tapi banyak. Dan ia sangat hitam.”

“Apa kau tidak bermimpi?”

“Aku bersumpah. Demi Allah.”

Beberapa orang kemudian memeriksa masjid itu. Mereka kembali ke warung Mak Ijah beberapa saat kemudian dan mengatakan tak melihat makhluk seperti yang diceritakan Ali si bilal. Tapi bagaimanapun, Ali si bilal adalah satu dari sedikit orang yang tak memiliki riwayat suka membual. Maka sesuatu yang tidak beres pasti sedang terjadi. Kerumunan orang semakin banyak. Mereka-mereka yang hendak ke masjid berhenti di warung Mak Ijah dan melibatkan diri dalam kerumunan. Sebagian dari mereka yang heran kenapa tidak ada azan siang itu segera mendapatkan jawaban. Namun ingatan mereka tentang kewajiban menunaikan salat Jumat benar-benar muksa. Apa yang terjadi dengan Ali si bilal, ternyata, lebih menarik dari sekadar ancaman dosa dan neraka.

***

Kiai Haji Alim Alimin tak pernah terdaftar sebagai jemaah haji. Namun tak satu pun orang yang meragukan bahwa orang suci itu setiap tahun, pada musim haji, berziarah ke Tanah Suci dan menunaikan semua rukun haji. Banyak orang—bukan satu atau dua—yang bersaksi bahwa mereka bertemu dengan Kiai Haji Alim Alimin di sana. Meski pada waktu yang bersamaan, orang-orang di sekitar tempat tinggal Kiai Haji Alim Alimin juga bersumpah bahwa sang kiai tidak pergi ke mana-mana. Itulah yang kemudian membuat orang-orang yakin bahwa Kiai Haji Alim Alimin memiliki karomah yang membuatnya bisa berada di banyak tempat dalam waktu berbarengan. “Beliau hanya perlu membatin ingin pergi ke mana, dan hanya sekedipan mata, beliau sudah berada di tempat itu.”

Begitulah kabar beredar. Dan begitulah ia mendapatkan gelar kiai haji meski ia tak menyukai orang-orang memanggilnya seperti itu.

Itu bukan cerita satu-satunya tentang kehebatan Kiai Haji Alim Alimin. Pada tahun 1984 yang dikenal dengan tahun kesuraman lantaran wabah tikus menghancurkan lahan pertanian dan menjarah isi dapur orang-orang dan pemerintah kabupaten menyerah lantaran segala upaya yang dilakukan untuk membasmi hama itu tak membuahkan hasil, Kiai Haji Alim Alimin konon berbicara dengan seekor tikus. Kemudian, bersama tikus itu, Kiai Haji Alim Alimin pergi ke sebuah gorong-gorong. Di situlah kabarnya raja tikus tinggal. Kiai Haji Alim Alimin, dengan karomahnya, mengadakan perundingan dengan si raja tikus. Dan keesokan harinya, tak ada lagi tikus yang berkeliaran.

“Beliau tidak hanya bisa berbicara dengan binatang, melainkan dengan tumbuhan dan jin, juga angin.”

“Seperti Kanjeng Nabi Sulaiman.”

“Benar-benar beliau orang suci.”

“Orang suci yang sederhana.”


***

Kiai Haji Alim Alimin hidup selibat sampai malaikat maut menjemputnya. Orang tuanya merupakan juragan tanah dan sang kiai adalah ahli waris tunggal dari kekayaan yang melimpah. Setelah orang tuanya meninggal, Kiai Haji Alim Alimin menyedekahkan kekayaannya untuk panti asuhan, anak-anak yatim di sekitar tempat tinggalnya, pembangunan jalan, perbaikan rumah warga yang kurang mampu, menyekolahkan anak-anak jalanan, dan hal-hal lain semacamnya. Rumah warisan yang ia tempati kemudian ia pugar menjadi masjid dan ia wakafkan. Di samping masjid, dibangun bilik kecil tempat Kiai Haji Alim Alimin tinggal. “Aku hanya meminjam bilik ini saja. Ini bukan milikku,” ujar Kiai Haji Alim Alimin berkali-kali.

“Beliau melakukan semua itu agar perhatiannya sepenuhnya tercurah kepada ibadah belaka,” kata orang-orang.

***

Dalam hidup, seseorang hanya perlu berjalan. Kadang berjalan dalam arti kiasan. Kadang berjalan dalam arti harafiah.

Dan begitulah. Hari itu, ketika langit mendung dan bibit angin mengabarkan badai, Kiai Haji Alim Alimin, tanpa mengerti benar apa alasannya, berjalan ke ujung gang di saat orang lain bersiap menyambut hujan dahsyat dengan menutup pintu dan meracik wedang hangat. Ia mengenakan jaket tebal usang satu-satunya yang ia miliki, fedora dengan tiga tambalan, dan kacamata hitam. Dari ujung gang, ia berbelok ke arah jalan raya. Ia menunggu sesaat sebelum badai benar-benar tiba. Dan tak lama kemudian, terdengar derak dahan trembesi besar.

Kiai Haji Alim Alimin berjalan ke arah jatuhan dahan itu. Langit semakin gelap. Ia membalik dedaunan, menyingkirkan ranting-ranting kecil, menyingkap rerimbunan. “Kemarilah, makhluk kecil.”

“Jangan sentuh aku,” makhluk itu menjawab. Suaranya tipis dan tajam. “Aku tak tahu lagi apa yang aku cari.”

“Ya, hampir semua makhluk tak tahu apa yang mereka cari.”

“Kau tak tahu rasanya menjadi makhluk hina.”

“Semua makhluk itu hina. Hanya Allah yang mulia.”

“Kau makhluk mulia. Manusia makhluk mulia. Kau tak tahu rasanya menjadi aku. Kau tak tahu.”

“Kau juga tak tahu rasanya menjadi manusia. Kemarilah.”

Makhluk itulah yang mendekam dalam saku Kiai Haji Alim Alimin di salah satu sore terburuk sepanjang tahun 1987 itu.

***

Tidak ada yang tahu bagaimana Kiai Haji Alim Alimin menghadapi malaikat mautnya. Orang-orang membuka pintu bilik setelah mereka tak mendapati Kiai Haji Alim Alimin keluar dari sana selama tiga hari. Bau harum menyeruak ketika pintu itu dibuka.

“Masya Allah.”

“Innalillahi.”

“Benar-benar beliau orang suci.”

Bagian di mana tak ada yang tahu bagaimana Kiai Haji Alim Alimin menghadapi malaikat mautnya tak sepenuhnya benar. Si semut, yang semenjak salah satu sore terburuk sepanjang tahun 1987 senantiasa mengikutinya, yang mendengar semua yang dikatakannya, mengetahui benar bagaimana si orang suci mengeluh tiga kali ketika nyawanya sampai di tenggorokan, lalu mengucap syahadat dengan payah, lalu terpejam selamanya, dengan sesungging senyum di bibir. Beberapa menit sebelum saat-saat menyedihkan itu, si kiai berkata kepadanya, “Sering-seringlah ke masjid ini. Tapi maaf, kau tak bisa tinggal di bilik ini. Aku hanya meminjamnya, dan karenanya, meski aku ingin, aku tak bisa mewariskannya kepadamu. Dan kau tak perlu terus-terusan menyembunyikan dirimu dalam wujud seekor semut.”

***

“Ada jin di masjid itu, ada jin. Pasti,” ucapan itu keluar setelah empat belas orang—dalam jangka waktu sebulan setelah Ali si bilal tersengal-sengal di warung Mak Ijah—mengutarakan bahwa mereka melihat sesosok makhluk aneh tengah duduk dekat pengimaman.

“Jangan-jangan itu roh Kiai Haji Alim Alimin.”

“Bisa saja.”

“Hush… jangan ngomong sembarangan… beliau orang suci.”

“Loh, bukannya di makam para wali dan para kiai juga sering penampakan seperti itu? Itu tandanya mereka masih bersama kita, menjaga kita. Itu berkah. Kita semestinya melantarkan doa-doa kita melalui beliau, biar lebih cepat dijawab.”

***

Bertahun-tahun kemudian, ketika luas masjid wakaf Kiai Haji Alim Alimin telah bertambah tiga kali dari ukuran semula dan jemaah yang datang seringkali meluber hingga trotoar jalan raya dan banyak hotel serta restoran berdiri di sekitarnya, seekor semut merayap di pinggir selokan. Ketika ia mendengar orang-orang berdoa dan meminta berkah serta dimudahkan hajatnya kepada hadratus syaikh Kiai Haji Alim Alimin, ia merasa matanya basah.

Terima kasih sudah berkunjung. Semoga bermanfaat. Baca juga cerpen Semusim

CERPEN PEREMPUAN TUA DALAM RASHOMON OLEH DADANG ARI MURTONO

CERPEN PEREMPUAN TUA DALAM RASHOMON OLEH DADANG ARI MURTONO


perempuan tua yang menangis di samping mayat
image 
Perempuan itu berjongkok di antara mayat-mayat yang hampir membusuk dalam menara Rashomon. Perempuan yang tua, berbaju kecoklatan, bertubuh pendek dan kurus, berambut putih dan mirip seekor monyet. Dengan oncor dari potongan kayu cemara di tangan kanannya, perempuan itu memandangi wajah sesosok mayat. Mayat seorang perempuan dengan rambut panjang.

Bagaimana bisa ada tumpukan mayat dalam menara Rashomon, baiknya kuceritakan dulu. Ini adalah Kyoto, kota yang ramai dan permai, dulu. Namun beberapa tahun silam, kota ini didera bencana beruntun. Gempa bumi, angin puyuh, kebakaran dan paceklik. Itulah sebab kota ini menjadi senyap dan porak poranda. Menurut catatan kuno, patung Buddha dan peralatan upacara agama Buddha lainnya hancur, dan kayu-kayunya yang masih tertempel cat dan perada ditumpuk di pinggir jalan, dijual sebagai kayu bakar. Dengan kondisi seperti itu, perbaikan Rashomon sulit diharapkan. Rubah dan cerpelai, musang dan burung punai, juga para penjahat, memanfaatkan reruntuhannya sebagai tempat tinggal. Dan akhirnya, bukan perkara aneh membawa dan membuang mayat ke gerbang itu. Setiap senja seperti sekarang ini, seperti saat si perempuan tua itu berjongkok sambil memandang wajah mayat perempuan itu, suasana menjadi teramat menyeramkan. Tak seorang pun—kecuali perempuan tua itu, tentu saja—berani mendekat.

Perempuan itu sebatang kara, tak mempunyai keluarga. Perempuan itu tak menikah sebab tak ada lelaki yang ingin menikah dengan perempuan berwajah buruk seperti monyet. Apalagi ia bukan seorang kaya atau turunan bangsawan. Dulu, ia bekerja sebagai pelayan di rumah bangsawan Kyoto. Bertahun-tahun ia bekerja dengan baik dan tak pernah mengeluhkan gaji yang terlalu sedikit. Majikannya menyayanginya. Ia merasa bahagia. Dan sepertinya tak bakal ada alasan bagi majikannya untuk memberhentikannya. Ia sudah seperti keluarga saja dengan keluarga majikannya. Karena perlakuan seperti itulah ia tak terlalu bersedih sewaktu bapak ibunya meninggal terkena wabah penyakit.

Namun ia keliru. Kondisi Kyoto pada waktu seperti ini mengalami kemunduran yang teramat cepat. Dan majikannya yang baik itu juga merasakan dampak kemunduran itu. Majikannya memecatnya. Majikannya bilang tak mampu lagi membayar gajinya yang tak banyak dan memberinya makan. Majikannya tak sekaya dan sebaik yang ia sangka ternyata. Kemudian ia pergi dari rumah majikannya. Dan karena ia tak mempunyai sanak famili untuk menumpang tinggal, juga rumah orangtuanya yang sempit telah lama dijual untuk biaya pengobatan mereka, maka ia melantung, tidur di emper rumah penduduk atau meringkuk di relung-relung reruntuhan bangunan yang banyak terdapat di seantero Kyoto bersama pencoleng dan orang-orang buangan.

Awalnya ia kebingungan bagaimana bekerja dan mendapat uang untuk menopang kehidupannya. Ia tak punya keahlian apa-apa selain menyiapkan teh dan membikin sushi, menyapu rumah dan mencuci pakaian. Ia tahu, tak bakal ada yang mau menerimanya sebagai pelayan. Semenjak krisis berkepanjangan ini, orang-orang kaya tak lagi mencari pelayan baru, sebagian besar malah memecat pelayan mereka. Dan para istri saudagar atau bangsawan mesti belajar menanak nasi, membersihkan rumah dan merawat kebun. Krisis berlangsung terlalu panjang dan menimbulkan akibat yang teramat hebat. Pemecatan perempuan tua itu dan pelayan-pelayan lainnya barangkali hanya sekadar riak kecil saja dari kemunduran itu.

Dalam kebingungan seperti itu, perempuan tua itu berpikir untuk menjadi pencuri. Ia kelaparan. Daripada mati kelaparan lebih baik ia mencuri. Tidak ada yang bisa dilakukannya untuk menopang hidupnya selain dengan mencuri. Namun belum sempat menjalankan pikiran itu, kesadarannya timbul. Tubuhnya sudah lemah dimakan usia, ia tak bakal bisa berlari cepat menyelamatkan diri bila terpergok pemilik rumah. Ia akan mudah tertangkap dan menjadi bulan-bulanan penduduk Kyoto. Itu akan sangat memalukan. Memang, seringkali rasa malu lebih penting dari perut yang kelaparan.

Hingga pada suatu ketika, ia sampai di Rashomon. Dengan menaiki beberapa anak tangga, ia menuju menara yang teduh untuk beristirahat. Alangkah terkejut ia dan hampir saja semaput demi dilihatnya dalam menara itu bertumpuk mayat-mayat. Sebagian mayat-mayat itu berpakaian, sebagian lagi telanjang. Sebagian mayat laki-laki dan sebagian lagi perempuan.

Mayat-mayat itu berserakan dan bertumpuk di lantai, serupa boneka-boneka dari tanah. Ada yang mulutnya menganga dan tangan terentang. Sulit baginya membayangkan bahwa mayat-mayat mengerikan itu pernah hidup sebelumnya.

Perempuan tua itu nyaris berlari balik ke arah darimana ia datang, ke jalan yang tadi ia tempuh. Namun secepat ia berbalik badan, secepat itu pula terbersit pikiran untuk mendapatkan uang dari mayat-mayat itu. Barangkali di saku baju mayat-mayat yang masih berpakaian ada barang berharga yang tertinggal, barang berharga yang bisa dijual. Tapi mayat-mayat itu adalah mayat buangan. Bagaimana bisa ada barang berharga dari mayat-mayat semacam itu. Tentu orang yang membuang mayat-mayat itu telah lebih dulu mengambilnya.

Namun ia menemukan ide yang lebih cemerlang. Dulu, sewaktu masih kanak-kanak, bapaknya pernah mengajarinya membuat cemara palsu dari bahan rambut. Itu bisa dijual. Dan kini di hadapannya, tersedia banyak sekali rambut untuk membuat cemara. Rambut mayat-mayat itu. Ia tinggal mencabutinya. Kemudian ia putuskan untuk tinggal dalam menara itu, tidur bersama tumpukan mayat-mayat itu.

Senja ini, hujan mengguyur Kyoto. Perempuan tua itu tak peduli. Ia merasa nyaman dan terlindung dalam menara itu. Tadi siang seseorang melempar mayat baru ke dalam menara itu. Mayat perempuan dengan rambut panjang yang lembut, perempuan yang seperti ia kenal, atau paling tidak pernah ia jumpai, hanya saja ia tak tahu persisnya di mana dan kapan. Ia tak tahu kenapa wanita itu mati dan dibuang ke dalam menara. Tak ada bekas luka di tubuh mayat itu, karena itulah ia menyimpulkan perempuan itu meninggal karena wabah penyakit. Tapi itu tak menjadi pikiran yang penting dan perlu berlama-lama direnungkan. Ia juga tak peduli siapa yang membuang mayat perempuan itu. Yang penting baginya adalah sesegera mungkin mencabuti rambut di kepala wanita itu untuk membuat cemara.

“Alangkah bagus rambut ini. Tentu bakal jadi cemara yang bagus dan berharga mahal nantinya,” bisiknya pada diri sendiri.

Setelah mengamati beberapa saat, perempuan itu menancapkan oncor kayu cemara di sela lantai papan, kemudian menaruh kedua belah tangannya pada leher mayat itu. Perempuan tua itu mulai mencabuti rambut panjang si mayat helai demi helai. Persis seekor monyet yang sedang mencari kutu di tubuh anaknya. Pada waktu itulah, ia teringat siapa perempuan yang kini menjadi mayat dan tengah ia cabuti rambutnya itu. Ia terlalu bersemangat mencabuti rambut mayat itu sampai tak tahu bahwa sedari tadi seseorang tengah mengamatinya. Seorang Genin, samurai kelas rendah. Genin itu tiba-tiba saja melompat dari tangga. Sambil menggenggam gagang pedang, lelaki itu menghampirinya dengan langkah lebar.


Ia terkejut. Saking kagetnya, ia sampai terlonjak bagai dilontarkan dengan ketapel. “Hei, mau ke mana kau?” hardik Genin itu seraya mencengkeram tangan perempuan itu yang bermaksud melarikan diri. Ia masih meronta-ronta dengan hebat. Namun sehebat apa pun rontaan dari tubuhnya yang lemah, tetap saja tak mampu membuatnya lolos dari cengkeraman Genin itu.

“Apa yang sedang kamu lakukan? Jawab! Kalau tidak mau mengaku….”

Genin itu melepaksan cengkeramannya seraya menghunus pedang baja putih berkilau dan mengacungkannya ke depan mata perempuan tua itu. Namun perempuan itu bungkam, kedua tangannya gemetar hebat, napasnya terengah, matanya membelalak seperti hendak melompat keluar dari kelopaknya. Genin mengerti perempuan tua itu tengah ketakutan.

“Aku bukan petugas Badan Keamanan. Aku kebetulan lewat di dekat gerbang ini. Maka aku tidak akan mengikatmu atau melakukan tindakan apa pun terhadapmu. Kau cukup mengatakan sedang melakukan apa di sini.”

“Aku mencabuti rambut. Aku mencabuti rambut untuk membuat cemara.”

Genin itu merasa kecewa dan kaget dengan jawaban sederhana dan di luar dugaannya itu.

Perempuan tua itu melanjutkan, “Ya, memang, mencabuti rambut orang yang sudah mati bagimu mungkin merupakan kejahatan besar. Tapi mayat-mayat yang ada di sini semua pantas diperlakukan seperti itu. Perempuan yang rambutnya barusan kucabuti, biasa menjual daging ular kering yang dipotong-potong sekitar 12 sentimeter ke barak penjaga dan mengatakannya sebagai ikan hering. Kalau tidak mati karena terserang wabah penyakit, pasti sekarang pun ia masih menjualnya. Para pengawak katanya kerap membeli, dan mengatakan rasanya enak. Perbuatannya tak dapat disalahkan, karena kalau tak melakukan itu ia akan mati kelaparan. Ia terpaksa melakukannya. Jadi, yang kulakukan pun bukan perbuatan tercela. Aku terpaksa melakukannya, karena kalau tidak, aku pun akan mati kelaparan. Maka, perempuan itu tentunya dapat pula memahami apa yang kulakukan sekarang ini.”

Genin menyarungkan pedangnya kembali. Ia mendengar ocehan perempuan tua itu dengan dingin.

“Kau yakin begitu?” tanyanya dengan nada mengejek ketika perempuan itu telah selesai bicara. Lalu sambil mencengkeram leher baju perempuan itu, ia berkata geram.

“Kalau begitu, jangan salahkan aku bila aku merampokmu. Aku pun akan mati kelaparan kalau tak melakukannya.”

Dengan kasar, lelaki itu merenggut pakaian si perempuan tua, menarik tangan dan menyepak tubuh ringkih itu hingga jatuh menerpa tumpukan mayat-mayat. Dengan mengempit pakaian hasil rampasan, Genin itu menuruni tangga dan hilang di ujung jalan. Beberapa saat kemudian, tubuh perempuan tua yang telanjang itu menggeliat di antara tumpukan mayat-mayat. Ia pandang berlama-lama tumpukan tubuh tak bernyawa itu sambil memijit-mijit bagian tubuhnya yang sakit karena ditendang dan jatuh tadi. Ia memandang jasad-jasad itu seperti tak pernah memandang sebelumnya. Tiba-tiba ia bergumam, “Alangkah damai mayat-mayat itu, alangkah tenang mereka yang tak lagi berurusan dengan perkara lapar, dengan perkara duniawi.”

Pada waktu itu, ia ingin menjadi mayat. Terlentang di tempat itu. Tak lagi berpikir apa-apa. Tak lagi merasa sedih sewaktu ada seseorang yang datang mencabut rambut atau mengiris sekerat dagingnya.

Terima kasih sudah berkunjung. Semoga menginspirasi. Baca juga cerpen Racun untuk Tuan

Info:

Minggu, 06 Februari 2011, Kompas secara resmi mencabut cerpen Perempuan Tua dalam Rashomon karena ditemukan merupaan Plagiat dari cerpen Rashomon karya Akutagawa Ryunosuke


ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia