Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

CERPEN PELUKAN OLEH MASHDAR ZAINAL

CERPEN PELUKAN OLEH MASHDAR ZAINAL


seorang ibu memeluk anaknya
image
Setiap pagi, di depan gerbang sekolah, Hardi selalu menyaksikan adegan peluk-memeluk yang begitu menggetarkan. Pagi-pagi, sebelum masuk ke dalam kelas, Hardi selalu berdiri berlama-lama di depan gerbang sekolah, demi menghitung adegan peluk-memeluk yang ia saksikan, yang begitu indah dan ia idam-idamkan. Mata Hardi menyipit dan hampir tak berkedip mengawasi Siska dipeluk dan dicium mamanya sebelum masuk kelas. Sepulang sekolah, ia juga selalu memperhatikan bagaimana Bram meloncat-loncat setelah dipeluk kakeknya, sebelum masuk ke dalam mobil jemputan. Ia juga selalu melirik Bu Guru yang sangat suka memeluk erat-erat anaknya yang masih TK, dengan bonus kecupan di kening.

Banyak sekali adegan peluk-memeluk yang ia saksikan sepanjang hidupnya, dan ia hanya bisa menggigit jari. Membayangkan tubuhnya yang kecil dapat memeluk atau dipeluk seseorang. Hardi merasa, hidupnya sangat menderita. Selama tinggal di panti asuhan, ia tak pernah memeluk atau dipeluk siapa pun. Bahkan, dalam mimpi sekalipun, Hardi tak pernah memeluk atau dipeluk siapa-siapa. Menyedihkan sekali, bukan?

Di panti asuhan yang ia huni, untuk mendapatkan sebuah pelukan, beberapa balita harus menangis terlebih dahulu, hingga ibu pengasuh datang dan kemudian mendiamkannya dengan pelukan. Tapi Hardi sudah masuk SD, dan hampir kelas dua, ia merasa malu jikalau harus menangis. Ia terngiang kata Bu Guru di TK, setelah masuk SD seorang anak, apalagi anak laki-laki, tidak boleh menangis. Lagi pula, menangis bukan perkara mudah. Pernah sekali ia mencoba mencubit pahanya sendiri sampai merah, tapi ia tetap tidak bisa menangis. Sejak itu, Hardi bertekad, ia ingin mendapatkan pelukan dengan cara yang lain.

***

BILA malam mulai larut, dan Hardi sudah naik ke ranjang susunnya, Hardi akan memeluk guling pesingnya berlama-lama sampai ia tertidur. Memeluk guling sebelum tidur rasanya sangat nikmat. Seperti memeluk seseorang yang sedia menemaninya sepanjang malam, ketika lampu dimatikan dan kamar menjadi gelap. Hmm, memeluk guling saja sudah begitu hangat dan nyaman, apalagi memeluk seseorang. Pasti jauh lebih hangat dan nyaman, pikirnya.

Pagi hari, sampai di sekolah, Hardi kembali menyaksikan adegan peluk-memeluk: Siska dan ibunya, Bram dan kakeknya, Bu Guru dan anaknya, dan masih banyak lagi. Hardi melongo. Keinginannya untuk memeluk dan dipeluk seseorang kian menjadi-jadi. Hingga ketika jam istirahat tiba, Hardi memutuskan untuk memeluk seseorang. Hardi akan mencari seseorang yang cukup berpengalaman untuk ia peluk. Dan Hardi sudah memutuskan, ia akan memeluk Siska atau Bram, dan kalau boleh, Bu Guru juga.

Namun, rupanya kenyataan tak semanis yang dia bayangkan. Ketika ia mencoba untuk memeluk Siska, Siska malah mendorongnya hingga ia terjerembab. Ketika ia mencoba memeluk Bram, Bram malah menjotosnya dan mengatainya homo. Hardi benar-benar bingung. Memeluk seseorang ternyata bukan pekerjaan yang mudah.

Tak selesai sampai di situ, setelah mendorongnya hingga jatuh, rupanya Siska masih belum puas dan melaporkan kejadian itu pada Bu Guru. Bu Guru memarahinya dan menyuruhnya berdiri di muka pintu, sambil memeluk daun pintu, selama satu jam pelajaran penuh. Teman-teman sekelas Hardi tertawa tak karuan. Hardi kian sedih, mengapa tak ada seorang pun yang sudi memahaminya.

Sambil memeluk daun pintu, Hardi terus bertanya-tanya, apakah memeluk seseorang tanpa izin termasuk perbuatan tak pantas, hingga ia dihukum sedemikian rupa—memeluk daun pintu satu jam pelajaran lamanya. Ketika jam pelajaran selesai, Bu Guru baru mempersilakannya duduk. Kaki dan tangan Hardi terasa pegal-pegal semua setelah memeluk daun pintu yang keras, gepeng, dan hanya diam tak berperasaan, selama satu jam pelajaran penuh.

Sesampainya di rumah panti, Hardi berjanji dalam hati, akan lebih berhati-hati. Ia tak akan memeluk orang sembarangan lagi. Ia juga akan menahan sekuat mungkin perasaan ingin memeluk atau dipeluk seseorang. Sampai malam tiba, seperti malam-malam sebelumnya, Hardi akan kembali mengobati keinginannya untuk dipeluk dengan memeluk guling pesingnya. Ya, memeluk guling memang lebih aman. Bu Guru tak akan mungkin memarahinya, apalagi menyuruhnya memeluk daun pintu.

***

Keesokan harinya, Hardi tidak ingin lagi memperhatikan adegan peluk-memeluk di depan gerbang sekolah. Karena itu bisa membuat keinginannya untuk memeluk atau dipeluk seeorang bertambah parah. Ia akan berjalan sedikit menunduk sampai pintu depan kelas. Hardi tak mau keinginanya untuk memeluk atau dipeluk seseorang kembali menjadi malapetaka. Hardi tak berniat memeluk siapa pun. Hardi tak ingin Bu Guru menyuruhnya memeluk daun pintu lagi.

Bel jam pelajaran pertama sudah berbunyi. Pelajaran Bahasa Indonesia.

“Anak-anak, hari ini kita akan belajar tentang perkenalan,” Bu Guru melenggang. Tiba-tiba Hardi memperhatikan lengan Bu Guru yang jenjang, juga dadanya yang lebar. Pasti mujur sekali menjadi anak Bu Guru, pikirnya. Setiap hari mendapatkan pelukan yang nyaman.


“Sekarang, mari kita menuliskan identitas kita masing-masing, mulai dari nama, alamat, tanggal lahir, hobi, dan cita-cita. Nanti akan kita bacakan satu per satu, di depan,” Bu Guru masih terus mengoceh di depan, sementara Hardi masih terbengong-bengong, membayangkan dipeluk Bu Guru.

“Hardi!” bentak Bu Guru membuyarkan khayalannya. Ia mengkhayalkan dipeluk Bu Guru, tapi Bu Guru malah membentaknya dan membuatnya kaget. Benar-benar tidak setimpal.

“Perhatikan!” tegas Bu Guru lagi.

Hardi mengangguk, merunduk-runduk.

“Baiklah,” Bu Guru kembali melenggang di depan kelas, “sekarang tuliskan identitas kalian, Bu Guru kasih waktu sepuluh menit.”

Serentak anak-anak mulai sibuk dengan pensil dan buku tulis masing-masing, termasuk Hardi.

“Yang sudah selesai boleh dikumpulkan di depan,” ujar Bu Guru setelah beberapa menit berlalu.

Di antara 30 anak, Hardi selesai paling pertama. Beberapa anak mulai menyusul. Satu per satu, Bu Guru meneliti tulisan anak-anak. Bu Guru berhenti agak lama ketika membaca buku tulis milik Hardi.

“Hardi,” seru Bu Guru.

Hardi kaget. Apakah ia mendapatkan giliran pertama untuk membaca di depan kelas?

“Coba bacakan ini, hobi dan cita-cita kamu, di depan, yang keras.”

Hardi maju ke depan kelas dan mulai mengeja tulisannya sendiri. Terbata-bata.

“Nama Hardian, alamat….”

“Stop, stop, baca hobi dan cita-citanya saja,” pekik Bu Guru.

“Hobi saya…,” berhenti sejenak, “memeluk.”

Tawa-tawa anak sekelas meledak. Serentak.

“Siapa yang tertawa?” Bu Guru menggebrak meja, “ayo lanjutkan!” Bu Guru memelototi Hardi.

Dengan suara terlunta, Hardi melanjutkan bacaannya, “Cita-cita saya… ingin dipeluk.”

Alunan tawa kembali menggelegar. Gempar.

“Diam!” Bu Guru kembali menggebrak meja, sebelum kembali memelototi Hardi, “Apa ini maksudnya, hobi kok aneh, memeluk, cita-citamu malah lebih aneh, dipeluk. Apa ini maksudnya? Mau melucu? Mau cari perhatian?”

Hardi mengerut. Tak tahu di mana letak kesalahannya, sehingga Bu Guru kembali marah-marah dan memelototinya.

“Memalukan! Kecil-kecil otaknya sudah nggak jelas. Sekarang kamu Bu Guru hukum memeluk tiang di teras depan, supaya kamu tidak ngawur. Hobi sama cita-cita kok sama-sama nggak jelas. Besok harus kamu perbaiki. Harus lebih jelas. Ingat. Je-las.”

Sepulang sekolah kepala Hardi berdenyut-denyut memikirkan kata-kata Bu Guru. Ia tak paham, “harus lebih jelas” yang dimaksudkan Bu Guru itu seperti apa. Sepanjang malam Hardi berpikir bagaimana memperjelas hobi dan cita-citanya. Setelah menggigit pensil sampai hampir patah barulah Hardi mengangguk-angguk. Matanya berbinar, ia akan menulis begini: hobi saya memeluk Bu Guru, dan cita-cita saya ingin dipeluk Bu Guru. Sangat jelas.

Hardi yakin, Bu Guru akan puas.

***

Keesokan harinya, jam pelajaran Bahasa Indonesia ada di jam terakhir. Hardi tak sabar menunggu komentar Bu Guru tentang hobi dan cita-citanya yang sudah sangat jelas. Ia berkhayal lagi, setelah membaca hobi dan cita-citanya, barangkali Bu Guru akan terharu dan kemudian benar-benar memeluknya.

Namun, seperti sebelum-sebelumnya, kenyataan memang tak pernah berpihak pada Hardi. Tak seperti yang ia bayangkan, setelah membaca hobi dan cita-citanya yang baru, Bu Guru malah semakin marah dan kembali menghukumnya. Kali ini Bu Guru menyuruhnya memeluk pohon mangga yang ada di depan ruang guru. Kata Bu Guru, sambil marah-marah, hobi itu paling tidak harus menggambar, memancing, berkebun, nonton tivi, atau sejelek-jeleknya bermain game. Sedangkan cita-cita lebih banyak lagi pilihanya, bisa menjadi pilot, polisi, ABRI, dokter, pelukis, atau petani juga boleh.

Hardi benar-benar kesal dengan Bu Guru yang tak pernah mau memahaminya. Lepas dari itu, Bu Guru juga sudah melakukan pemaksaan terhadap dirinya. Sungguh, dalam hati kecilnya, Hardi tak pernah suka menggambar, memancing, berkebun, nonton tivi, apalagi bermain game. Hobinya memang memeluk. Hanya satu. Memeluk. Meski hobi itu tak pernah terlaksana dengan baik, kecuali memeluk guling, daun pintu, tiang, dan pohon mangga di depan ruang guru.

Terlebih tentang cita-cita yang ditawarkan Bu Guru, sama sekali tak ada yang menggiurkan. Keinginannya cuma satu, cita-citanya cuma satu; dipeluk. Lebih jelasnya dipeluk Bu Guru. Tapi, setelah kejadian menjengkelkan itu, sertamerta cita-citanya berubah: ia ingin dipeluk siapa pun yang penting bukan Bu Guru. Ia sudah terlanjur membenci Bu Guru.

***

Sampai di rumah panti, kejengkelan Hardi terhadap Bu Guru masih belum padam. Hardi jadi berpikir, jangan-jangan, di dunia ini memang tak ada seorang pun yang benar-benar ikhlas untuk memeluk atau dipeluk orang lain, kecuali keluarganya. Buktinya, ia tak pernah melihat Siska dipeluk orang lain, kecuali mamanya atau terkadang papanya. Ia juga tak pernah menyaksikan Bram memeluk orang lain selain kakeknya. Begitu juga dengan Bu Guru, yang hanya sudi memeluk anaknya.

Pikiran Hardi semakin ke mana-mana. Bukankah ia tinggal di panti asuhan? Tanpa ibu, tanpa ayah, tanpa keluarga yang sebenarnya. Dan itu artinya, takkan pernah ada orang yang mau untuk ia peluk atau memeluknya. Menyadari hal itu, Hardi semakin sedih. Masa iya, aku harus memeluk tubuhku sendiri, batinnya. Hatta, berulang kali Hardi mencoba menyilangkan kedua tangan untuk memeluk tubuhnya sendiri, namun tetap saja, kedua tangannya tak cukup panjang untuk tubuhnya. Bagaimanapun, seseorang memang tak pernah bisa memeluk tubuhnya sendiri, ia tetap butuh orang lain. Sampai matanya terlelap, Hardi masih bertanya-tanya, adakah seseorang yang sudi memeluknya?

Terima kasih sudah membaca. Semoga menginspirasi. Baca juga cerpen Di Sini Dingin Sekali

CERPEN KABUT TAK PERNAH BERDUSTA OLEH IRWAN KELANA

CERPEN KABUT TAK PERNAH BERDUSTA OLEH IRWAN KELANA


seorang wanita berdiri di tengah kabut
image
29 Februari! Makin mendekati tanggal tersebut, Sabila Granada makin gelisah. Inilah kedelapan kalinya ia menjumpai tanggal kabisat tersebut. Dengan kata lain, usianya kini 32 tahun! Usia yang sudah lebih dari matang untuk menikah. Bahkan, sudah sangat terlambat untuk menikah bagi seorang wanita.

Teman-temannya saat SMA, teman kuliah, maupun rekan kerja yang seumur dengannya, semuanya sudah menikah dan punya anak. Hanya Sabila yang hingga saat ini masih sendiri.

Kalau saja tragedi kecelakaan pesawat itu tidak terjadi, saat ini ia pun sudah menjadi seorang istri dan ibu. Mungkin, dengan satu atau dua orang anak yang lucu-lucu.

Ia selalu teringat saat itu. Rabu, ia bersama keluarganya dan keluarga besar calon mertuanya menjemput Fadlan ke Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng.

Fadlan yang merupakan kakak kelasnya waktu di STEI SEBI Depok, Jawa Barat, baru saja menyelesaikan S-2 Ekonomi Syariah di Pakistan. Mereka akan menikah pada Jumat. Tempat acara di rumah orang tua Sabila di Depok.

Namun, pesawat yang ditumpangi Fadlan tak pernah mendarat di Soekarno- Hatta. Pesawat itu mengalami kecelakaan dan tercebur ke laut. Butuh waktu berhari- hari hingga akhirnya jasad Fadlan ditemukan. Jasadnya bisa diidentifikasi karena di dompetnya ada foto Sabila dengan tulisan di belakangnya: Bidadari Surgaku.

Kehilangan calon suami di saat pernikahan tinggal dua hari lagi, undangan sudah disebar, gaun pengantin sudah dipesan, kue-kue sudah dipersiapkan, dan bayangan ijab kabul yang indah, sungguh berat bagi Sabila.

Selama tiga tahun lamanya ia menutup hati terhadap lelaki. Padahal, banyak sekali lelaki yang ingin mempersuntingnya. Dari rekan kuliah, teman sekantor, kliennya di perusahaan tempatnya bekerja, bahkan atasannya, duda beranak dua. Tak seorang pun mampu membukakan kembali hatinya yang terkunci rapat.

***

Hingga suatu hari, setahun berikutnya, ia bertemu dengan Fajri, seorang pemuda berusia 24 tahun yang selalu ceria. Ia mengaku karyawan sebuah perusahaan logistik yang berkantor di gedung yang sama.

Padahal, ia sebenarnya anak pemilik perusahaan itu. Mereka sering bertemu di mushala saat shalat Zhuhur dan Ashar berjamaah. Keduanya juga rajin mendengarkan kultum Zhuhur.

Sejak awal bertemu, Fajri menyatakan tertarik kepada Sabila dan ingin memperistrinya. Bahkan, walaupun Sabila mengatakan bahwa usianya terpaut empat tahun darinya, Fajri tidak peduli.

Tidak mudah bagi Sabila menerima Fajri. Fajri harus berjuang selama enam bulan untuk meyakinkan Sabila. Begitu Sabila menyatakan bersedia menjadi istrinya, Fajri tak sabar membawa Sabila untuk bertemu orang tuanya.

Sore itu, sepulang kerja kantor, Fajri mengajak Sabila ke rumah orang tuanya di Pondok Indah, Jakarta Selatan. Begitu memasuki halaman rumah mewah tersebut, firasat Sabila mengatakan, ia tidak akan diterima oleh keluarga orang kaya tersebut.

Benar saja. Saat Fajri memperkenalkan Sabila kepada mamanya, pertanyaan pertama wanita itu adalah, “Berapa tahun usiamu?”

Manakala mendengar jawaban Sabila, ia langsung berteriak kepada anak satu- satunya itu, “Apa kamu tidak bisa mencari wanita yang lebih muda darimu? Paling tidak, seumur denganmu. Apa kata orang kalau mama punya menantu usianya empat tahun lebih tua dari kamu? Nanti dikira anak mama tidak laku!”

Sabila langsung meninggalkan rumah itu dan menyetop taksi. Tak dihiraukannya Fajri yang berseru memanggil namanya sambil mengejarnya. Sepanjang perjalanan, ia tak berhenti menangis. Hal itu membuat sopir taksi khawatir.

“Maaf, Mbak. Mbak tidak apa-apa? Apa perlu saya belikan obat atau saya antar ke dokter?”

Sabila menggeleng lemah. Air matanya masih berderai. “Tidak usah, Pak. Langsung ke rumah saja,” sahutnya lemah. Sejak itu, Sabila kembali menutup hatinya untuk laki-laki.

***

Tiga tahun berlalu, hingga akhirnya ia kembali dipertemukan dengan salah seorang imam sebuah masjid Agung di Jakarta. Suatu malam, seusai iktikaf akbar malam 27 Ramadhan, ia diajak teman kuliahnya yang juga pengurus masjid agung tersebut untuk menikmati makan sahur di ruang pengurus.

“Malam ini, imam qiyamullail Syekh Muhammad dari Madinah. Makanya, pengurus masjid menyiapkan makanan khas Arab, nasi kebuli dan nasi mandi yang dipesan dari Restoran Abu Nawas. Kamu pasti suka. Ayo ikut aku,” tuturnya.

Masjid agung tersebut mempunyai enam imam rawatib yang dibagi menjadi tiga pasang. Tiap pasang bertugas selama dua hari, lalu libur sehari, kemudian bertugas lagi, begitu seterusnya.

Pada iktikaf akbar itu, semua imam hadir. Semua sudah menikah, kecuali Iqbal. Melihat Sabila, teman-teman Iqbal pun sambil bercanda berupaya menjodohkannya dengan Sabila.

Iqbal serius. Dia berusaha meyakinkan Sabila bahwa ingin menikahi wanita tersebut, walaupun usia Sabila lebih tua darinya.

“Cita-citaku sederhana, tapi agung. Aku ingin punya anak hafizh Alquran dan menjadi imam Masjid al-Haram, Makkah. Kalau anak kita jadi imam masjid itu, tentu ayah dan ibunya bisa kapan saja datang ke Makkah untuk berhaji atau berumrah. Alangkahnya bahagianya hatiku kalau engkau mau bersamaku mewujudkan cita- cita tersebut.”

Betapa ingin Sabila bersama-sama Iqbal mewujudkan cita-cita indah itu. Ia selalu bercita-cita akan mendidik anak-anaknya agar menjadi pencinta dan penghafal Alquran dan ahli sedekah. Tapi, apakah hal itu mungkin? Mungkinkah semuanya berakhir indah?

***

Sepekan menjelang hari ulang tahunnya, Sabila sengaja mengambil cuti. Pagi itu, ia naik sepeda motor dari Depok menuju Kampung Sarongge, Desa Ciputri, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

Di daerah puncak itulah, di kaki Gunung Gede, keluarga Pak De Dadang tinggal bersama istri dan anak-anaknya. Pak De Dadang seorang petani, sedangkan Bu De Tuti guru SD.

Jarak Depok-Cipanas sekitar 90 km. Cukup jauh untuk seorang wanita. Tapi, Sabila sudah berniat menempuh perjalanan itu dengan sepeda motor, sebab ia ingin menikmati kesendiriannya.

Ia mampir di Bogor untuk membeli oleh-oleh roti unyil merek Venus untuk keluarga Pak De Dadang. Kemudian, melanjutkan perjalanan. Memasuki Gadog-Ciawi, udara sejuk kawasan Puncak sudah mulai terasa. Makin ke atas, makin dingin. Beberapa kali, ia mengusap wajahnya yang terasa dingin meski sebagian tertutup masker.

Ketika kendaraan yang ditumpanginya melewati Taman Safari Indonesia, Cisarua, ia segera menjumpai pemandangan sangat indah. Sepanjang mata memandang di kiri kanan jalan, yang tampak adalah hamparan kebun teh menghijau. Tampak para wanita asyik memetik pucuk daun teh.

Tak lama kemudian, ia tiba di Masjid At-Ta’awun. Ia shalat Dhuha empat rakaat. Menikmati sekuteng hangat, baru kemudian melanjutkan perjalanan. Tiba di Pacet, Cipanas, kira-kira enam kilometer dari Desa Ciputri, Sabila kembali berhenti. Kali ini, ia menikmati satai maranggi dan uli bakar.


Tiap kali kunjungan ke Cianjur bersama keluarganya, Sabila tak pernah melewatkan satai maranggi dan uli bakar yang terkenal tersebut. Kabarnya, setiap hari tukang satai maranggi itu mampu menjual sekitar 3.000 tusuk.

Ia tiba di rumah Pak De Dadang pukul 11 menjelang siang. Pak De Dadang masih berada di sawah, sedangkan Bu De Tuti belum balik dari sekolah. Tak sabar, Sabila langsung menyusul ke sawah.

“Assalamualaikum, Wak,” ujarnya.

Pak De Dadang yang tengah menyiangi rumput di sela tanaman wortel terkejut campur senang.

“Walaikumsalam. Sabila? Sama siapa?”

Sabila mencium tangan Pak De Dadang.

“Sendiri, Wak. Saya cuti. Mau menginap di Sarongge. Boleh kan?”

“Wah, Wak senang banget kalau Sabila mau menginap di sini. Mau sepekan atau sebulan juga boleh.”

“Sepekan aja, Wak. Saya mau ikut Wak ke sawah tiap hari.”

“Boleh. Tapi, nanti kulit kamu jadi hitam kebakar matahari.”

“Ah, nggak apa-apa, Wak. Yang penting sehat.”

Di Sarongge, hari terasa berjalan lambat. Pukul sembilan, matahari baru keluar. Sebelum pukul dua siang, matahari sudah menghilang.

Pagi-pagi, Sabila menikmati sarapan teh manis dan rengginang. Ada juga ragining (semacam rengginang yang terbuat dari beras) dan opak singkong yang di sana lebih dikenal dengan sebutan enye.

Seusai sarapan dan shalat Dhuha, Sabila pergi ke sawah untuk membantu Pak De Dadang yang bertani wortel, labu siam, kubis, caisim, dan bawang daun. Bertani membuatnya sejenak bisa melupakan duka hatinya.

***

Ahad pagi sekitar pukul 10.00 WIB, Sabila menyusuri kebun teh Gambung Sarongge. Tak henti-hentinya ia mengagumi kebun teh yang hijau itu, diselingi dengan pohon lamtorogung di kiri kanan dan tengah pembatas petakan kebun.

Kabut tebal turun menutupi pemandangan Gunung Gede di belakangnya. Ia terkejut saat mendengar suara seseorang memanggilnya.

“Sabila! Sabila!”

“Iqbal?!” Sabila berbicara dengan dirinya sendiri.

“Sabila!” Kali ini, wajah Iqbal terlihat beberapa meter dari tempat Sabila berdiri.

Dari mana dia tahu saya ada di sini? Ia tidak memberitahukan siapa pun ke mana ia cuti. Hanya Ustazah Maemunah, tempatnya belajar banyak tentang Islam, ia memberitahukan ke mana ia cuti.

Iqbal tidak sendirian. Di belakangya ada sepasang lelaki-perempuan yang berusaha menyejajari Iqbal.

Dengan napas tersengal-sengal, Iqbal akhirnya tiba di hadapan Sabila.

“Assalamualaikum, Sabila.”

“Wa ‘alaikumsalam.”

“Sabila, kenalkan ini kedua orang tuaku.”

“Assalamualaikum, Bu, Pak.” Sabila mencium tangan kedua orang tua Iqbal.

“Iqbal, kok kamu tahu saya ada di sini? Dan apa tujuan kamu ke sini?” tanya Sabila hati-hati.

“Ustazah Maemunah guru mengaji ibu, Nak,” Mutia, ibunya Iqbal, menyela. “Dari beliaulah Ibu tahu bahwa kamu adalah seorang Muslimah yang salehah. Dan bahwa kamu cuti ke Cianjur.”

“Maafkan aku, Sabila. Aku datang untuk kembali meminta kesediaanmu menemaniku mewujudkan cita-citaku mempunyai anak-anak penghafal Alquran dan imam Masjid al-Haram. Kamu mau kan?”

Sabila terdiam.

Mutia memegang bahu gadis itu.

“Apakah Iqbal pernah menyakit hatimu, Nak?”

Sabila mengeleng.

“Apakah Iqbal pernah berbuat kurang ajar padamu?”

Lagi-lagi, Sabila menggeleng.

“Iqbal sangat sopan dan selalu menjaga akhlaknya terhadap perempuan, Bu.”

“Atau, apakah anak Ibu kurang ganteng untuk jadi suamimu?”

Tiba-tiba, Sabila menghambur ke dalam pelukan Mutia. Ia menangis sesenggukan.

Mutia membelai kepala gadis itu.

Setelah beberapa waktu, barulah Sabila bisa berkata terbata-bata. “Saya trauma, Bu. Saya … saya takut ditolak dan dihina lagi. Beberapa tahun lalu, ada pemuda seperti Iqbal yang menyatakan ingin menyunting saya. Namun, setelah tahu usia saya lebih tua dari anaknya, ibunya langsung menolak dan menghina saya dengan kata-kata kasar.

Mutia mengangkat wajah gadis itu menyapu air matanya dengan selembar tisu.

“Nak, tentu saja ibu tersebut menolak kamu. Sebab kamu memang bukan diciptakan untuk anaknya. Allah sudah menyiapkan kamu untuk jadi istri Iqbal dan jadi menantu ibu.”

Air mata Sabila kembali menitik.

“Bu … apakah Ibu mau punya menantu seperti saya? Ibu tidak malu kepada tetangga dan kerabat? Usia saya empat tahun lebih tua dari Iqbal,” suara Sabila bergetar.

Mutia tersenyum. “Pertanyaannya di balik. Maukah Sabila jadi menantu Ibu?”

Air mata Sabila kembali menderai. Ia tak kuasa menjawab. Lagi-lagi, ia menjatuhkan wajahnya di dada perempuan yang berhati pengasih itu.

Ayah Iqbal, Fakhruddin, yang sedari tadi menyaksikan pemandangan itu tersenyum.

“Sabila.”

Sabila bangkit dari pelukan Mutia.

“Ya, Bapak.”

“Tahukah kamu, usia ibunya Iqbal lima tahun di atas Bapak? Tapi, Bapak malah sering lupa tuh. Rasanya, Bapak dan ibunya Iqbal seumur, bahkan lebih tua Bapak. Muda-tua perempuan itu bukan hanya ditentukan usia biologisnya. Justru keikhlasan, ketulusan, syukur, dan senyum, semua itu yang membuat perempuan jadi awet muda.”

“Bapak pertama kali bertemu ibunya Iqbal waktu kelas satu MTs. Ibunya Iqbal kelas tiga MA atau kelas XII. Kami sama-sama di pesantren. Sejak itu, Bapak jatuh cinta kepadanya.”

“Kami terpisah beberapa tahun lamanya. Ibu kuliah di UIN Malang. Bapaknya Iqbal menjadi penulis novel Islami yang top. Suatu hari, ada acara bedah buku di UIN Malang. Ibu jadi moderatornya. Kami pun kembali bertemu,” tutur Mutia.

“Hingga beberapa tahun kemudian, setelah melalui suka duka dan alur yang panjang, kami pun menikah,” Fakhruddin menimpali.

“Subhanallah. Luar biasa kisah cinta Ibu dan Bapak,” ujar Sabila.

“Sabila. Kau lihat kabut itu?” tanya Fakhruddin.

Sabila mengangguk.

“Cobaan dalam hidup itu bagaikan kabut. Bukankah kita sering merindukannya? Bapak, setiap kali pergi ke Puncak, selalu berharap kabut turun dan Bapak bisa menikmatinya. Kabut memang menghalangi pandangan kita, namun memberikan keindahan rasa yang luar biasa. Dan, setelah kabut pergi, langit kembali biru, kita bisa melanjutkan perjalanan kembali. Kabut tak pernah berdusta, percayalah.”

Tanpa sadar, Sabila kembali mengangguk.

***

“Nak, kamu cuti sampai kapan?” tanya Mutia.

“Hari ini terakhir, Bu. Besok saya masuk kerja lagi.”

“Kalau begitu, kamu pulang bareng Ibu ya.”

“Tapi, saya bawa motor, Bu.”

“Motor kamu biar Iqbal saja yang bawa pulang,” kata Mutia seraya melirik Iqbal.

Mendengar itu, Iqbal pura-pura kesal. “Ibu …!” ujarnya merajuk.

“Ibu nggak rela Sabila pulang sendirian ke Depok naik motor. Kalau ada apa-apa dengan calon menantu Ibu yang secantik dan sesalehah ini, Ibu akan menyesal seumur hidup.”

Untuk pertama kalinya, Sabila tersenyum. Mata indahnya melirik Iqbal yang juga tersenyum. Spontan, ia memalingkan wajah. Namun, pipinya telanjur merona merah.

Mutia dan Fakhruddin yang menyaksikan pemandangan itu turut tersenyum.

“Ayo, Nak. Kita turun. Temui pakdemu. Sekaligus kami mau meminta izin membawamu pulang untuk mengatur waktu lamaran dengan orang tuamu.”

Betapa penuh hati Sabila. Spontan, ia mencium tangan Mutia. “Terima kasih, Bu.”

Ia juga mencium tangan Fakhruddin. “Terima kasih, Pak.”

Perlahan, mereka menyusuri kebun teh itu menuju pintu gerbang. Angin berkesiuran lembut membelai tubuh dan terasa meresap hingga ke dalam hati.

Sabila menoleh ke belakang. Kabut sudah pergi, berganti pemandangan Gunung Gede yang hijau kebiruan bagaikan hamparan permadani. Benar kata ayahnya Iqbal, kabut tak pernah berdusta.

Terima kasih sudah membaca. Semoga menginspirasi. Baca juga cerpen Kota-Kota Rantauan

CERPEN KEMATIAN HEARTFIELD OLEH GUNTUR ALAM

CERPEN KEMATIAN HEARTFIELD OLEH GUNTUR ALAM


kematian
Represemptational Image
Sampai sekarang, orang-orang masih bertanya-tanya: Kenapa Heartfield, pengarang yang diceritakan Haruki dalam Kaze No Uta O Kike, memilih bunuh diri dengan cara terjun dari Empire State Building pada tahun 1938 itu? Tahun ketika ibunya meninggal. Seharusnya dia bisa bunuh diri dengan cara yang lebih indah dan baik dan gagah. Yah, semisal dia menembak kepalanya sendiri dengan revolver 38 mm yang berhiaskan mutiara di gagangnya itu. Bukankah dia sangat membangga-banggakan senjatanya itu? Bahkan dia pernah berujar, “suatu saat nanti aku akan menembak diriku sendiri dengan benda ini.”

Tapi pada kenyataannya, dia mati dengan cara loncat dari balkon Empire State Building. Memang sih, cara dia bunuh diri itu tetap terasa luar biasa. Bayangkan saja, di pagi hari Minggu yang cerah pada bulan Juni, dia loncat indah dari ketinggian puluhan kaki, mendekap lukisan Hitler di tangan kanan dan payung yang mengembang di tangan kiri. Cuma tetap saja, itu bukanlah kematian yang bagus. Badannya ringsek. Dan dia terlihat konyol –menurutku.

Nah, orang-orang terus bertanya, kenapa Heartfield memilih mati seperti itu? Itulah yang ingin aku ceritakan. Aku punya sedikit cerita rahasia. Dan karena ini sebuah cerita pendek, kau boleh percaya atau tidak. Sebab dalam cerita pendek, kita bebas bercerita sebuah kebenaran atau dusta. Bisa jadi pula, kita sebenarnya bercerita tentang kebenaran melalui dusta. Apa pun itu, cerita pendek memerlukan sedikit dusta agar dia menarik. Karena tak ada satu pun redaktur koran yang berkenan memuat cerita tak menarik di medianya. Pembaca juga seperti itu, tak mau membaca cerita buruk. Apalagi jika yang membaca AS Laksana, kau akan diceramahi sampai tuli jika tulisanmu jelek. Sebenarnya itu baik, tapi bila kau tak kuat mental, kau bisa bunuh diri mendengar ocehannya. Ah, sudahlah, tak usah pikirkan itu. Kita kembali pada cerita kematian Heartfield.

***

Kupikir kau perlu tahu siapa Heartfield itu. Dari cerita Haruki, namanya Derek Heartfield. Dia lahir di salah satu kota kecil di Ohio pada tahun 1909. Dan bunuh diri tahun 1938. Usia yang masih sangat muda. 29 tahun.

Apa mungkin dia bunuh diri karena patah hati?

Ayahnya seorang insinyur telekomunikasi yang pendiam dan ibunya seorang ibu rumah tangga yang pintar membuat kue serta mahir meramal. Heartfield kecil tumbuh menjadi remaja laki-laki yang membosankan. Dia tak punya teman. Kerjanya cuma baca komik, majalah, makan kue buatan ibunya, dan tentu saja masturbasi sebagaimana remaja pada umumnya. Masa remajanya yang menyedihkan itu berlangsung sampai dia lulus SMA.

Kuterka, Heartfield pasti tak pernah punya pacar dan berkencan dan merasakan berdansa di kelulusan SMA dan bahkan dia belum pernah berciuman sekalipun sampai kelulusan itu.

Apa mungkin dia bunuh diri karena tak kunjung mendapatkan kekasih?

Selulus SMA, Heartfield bekerja di kantor pos. Tapi tidak berlangsung lama. Dia berhenti. Itu katanya. Tapi aku yakin sebenarnya dia dipecat. Dan itu lebih masuk akal bila mengingat betapa dia laki-laki yang membosankan. Dia tak pandai tersenyum pada costumer. Juga tak mahir mengoceh untuk menyenangkan orang-orang. Sejak itu, dia benci dengan kantor pos. Sebenarnya, dia benci banyak hal. Tapi ada dua yang paling dia benci: Kantor pos dan perempuan.

Mungkin dia benci perempuan karena tak ada satu pun yang tertarik dan jatuh cinta padanya, lalu mengajaknya berkencan. Atau mungkin sebenarnya Heartfield seorang gay? Tak tahulah, dia juga tak punya teman laki-laki, selain seekor kucing jantan yang sangat dia sayangi. Dalam hidupnya memang hanya ada tiga hal yang paling disukainya; senapan, kucing jantannya itu, dan kue yang dipanggang ibunya –diingat, kue bukan ibunya.

Ajaibnya, berdasarkan cerita Haruki, Heartfield ini kelak bisa menulis cerita pendek dan novel dan bahkan novel petualangan yang berseri sampai empat puluh dua seri! Tentu itu terdengar agak ganjil.

Cerita-ceritanya juga ganjil dan aneh dan kurang masuk akal.

Di novelnya yang berseri itu. Wald: The Adventure Kid. Dia bercerita tentang Wald yang meninggal 3 kali, membunuh 5000 orang musuh, dan tidur dengan 375 perempuan, termasuk perempuan alien alias dari Planet Mars.

Ketika orang-orang bertanya; “tidakkah novelmu itu kurang masuk akal?” Heartfield menjawab dengan santai, “apa artinya menulis novel yang isinya sudah diketahui orang lain?”.

Dan memang, cerita-cerita Heartfield banyak tak masuk akal.

Apa sebenarnya dia memang kurang waras dan karena ini dia bunuh diri?

***

Heartfield menulis selama delapan tahun dua bulan sebelum mengakhiri hidupnya. Dan menurut cerita, dia pengarang yang gagal. Plotnya kacau, kalimatnya sukar dipahami, tema ceritanya kekanak-kanakan, dan banyak lagi kekurangannya. Berbeda sekali dengan pengarang sezamannya: Hemingway dan Fitzgerald.

Apa mungkin dia bunuh diri karena dianggap pengarang gagal?

Ada beberapa cerita yang terdengar tentang muasal Heartfield memilih bunuh diri. Ada yang terdengar konyol dan ada juga yang menurutku masuk akal. Terlebih bila aku teringat jika cerita-cerita yang Heartfield tulis dan disinggung Haruki, juga banyak yang konyol dan tak masuk akal. Dan perlu diingat, yang Heartfield tulis itu fiksi. Sementara kita tahu, cerita di dunia nyata terkadang lebih konyol dan lebih tak masuk akal daripada fiksi.

Cerita pertama. Sebelum ibunya meninggal dan akhirnya Heartfield bunuh diri, kucing kesayangan Heartfield lebih dulu mati.

Kau ingat. Di dunia ini cuma ada tiga hal yang disukai Heartfield. Salah satunya kucing jantannya ini. Kucing ini bukan mati karena tua, tapi dia mati karena bunuh diri. Kucing itu menabrakan dirinya pada mobil dan mati.


Dari cerita seseorang yang tak bisa disebutkan namanya, karena dia tahu kisah ini dari seseorang yang pernah mendengarnya dari seseorang, kemudian seseorang lagi, dan seseorang lagi, seseorang lagi, yang ujungnya seseorang itu mendengarnya dari Heartfield atau keluarganya atau membaca catatan Heartfield tentang ini –tak bisa dipastikan, yang jelas bukan dari Haruki.

Kucing jantan itu memilih bunuh diri karena dia patah hati. Terdengar ganjil, kan? Tapi itulah cerita yang berembus. Seumur hidup kucing jantan itu, dia tak pernah berkencan, kawin, atau bahkan sekadar memiliki pacar seekor kucing betina. Selama ini, tak ada satu pun kucing betina yang tertarik padanya. Itulah kenapa kucing itu begitu menyukai Heartfield juga. Mereka memiliki kesamaan. Sama-sama tak disukai lawan jenis.

Lalu, pada suatu musim panas, ada sebuah keluarga yang baru pindah ke daerah mereka dan keluarga itu punya kucing betina yang cantik. Kucing jantan itu jatuh cinta pada pandangan pertama. Sialnya, dia ditolak mentah-mentah. Berbagai cara kucing jantan itu lakukan, tetap tak berhasil. Dari merayu dengan seekor ikan, seiris paha ayam goreng, bahkan sampai kue kegemarannya yang dipanggangkan ibu Heartfield, tak ada satu pun yang membuahkan hasil.

Biadabnya, kucing betina itu justru jatuh cinta pada kucing tetangga samping rumah Heartfield. Dan kucing jantan ini sejak dulu membenci kucing jantan tetangganya. Karena kucing itu memiliki hidup yang menyenangkan; dikelilingi gadis-gadis. Karena patah hati, kucing jantan itu memilih bunuh diri. Seumur hidupnya, baru kali itu dia sangat-sangat jatuh cinta pada kucing betina. Dan ditolak. Jadi dia memilih bunuh diri.

Heartfield sangat terpukul. Dia kehilangan satu dari tiga hal yang dia sukai di dunia ini.

Saat itu, Heartfield sudah berniat ingin bunuh diri juga. Tapi urung dia lakukan, karena di masih memiliki ibu yang memanggangkan kue enak untuknya. Dia juga masih punya senapan revolver 38 mm kesayangannya. Dan cerita yang beredar kedua berhubungan dengan senapan yang gagangnya berhiaskan mutiara ini.

Pada hari saat dia ingin menembakkan sebutir peluru dari revolver 38 mm itu ke kepalanya –memang hanya ada sebutir peluru di dalamnya. Tiba-tiba saja Heartfield mendengar senapan itu berteriak dan memakinya.

Edan! Senapan bisa berteriak dan memaki?

Ya, dan kupikir hanya ada dalam cerita pendek sebuah senapan bisa berteriak dan memaki. *

Revolver 38 mm itu berteriak karena dia ketakutan melihat otak Heartfield berhamburan nantinya. Dia juga takut pada darah. Dan senapan itu juga takut ditinggalkan. Selama ini, senapan itu tak punya siapa-siapa selain Heartfield yang mencintainya. Bila Heartfield mati bunuh diri, dia akan kesepian.

“Sebagai seorang kawan, aku tak akan sudi membunuhmu!” teriak revolver 38 mm itu.

“Kau terlalu goblok! Masih ada aku dan kue buatan ibumu! Setidaknya masih ada yang kau cintai dan mencintaimu! Kau juga belum berhasil jadi pengarang! Jangan mati dulu!”

Karena itulah, Heartfield mengurungkan niatnya bunuh diri di hari kematian kucing jantan kesayangannya itu.

Lalu cerita ketiga?

Tentu saja kau bisa menebaknya. Ini berhubungan dengan ibunya.

Saat ibunya mati di tahun 1938 itu. Heartfield sangat terpukul. Dia kehilangan kue kesukaannya, sekaligus satu-satunya perempuan di dunia (yang mungkin) dia cintai. Dia sudah berusaha menghibur diri dan menganggap hidupnya akan baik-baik saja karena dia masih punya senapan kesayangan. Tapi dia gagal. Dia telah berjuang untuk melewatinya.

Karena tak mungkin bunuh diri dengan revolver 38 mm kesayangannya, Heartfield memilih loncat indah dari atas gedung. Dan beberapa orang yang mengenalnya lewat Haruki mengenang betapa cara dia bunuh diri itu sangat romantis. Dan aku tak tahu di bagian mananya romantis yang dimaksud? Karena dia memeluk lukisan Hitler bukan Monalisa atau perempuan cantik lainnya.

***

Begitulah cerita yang beredar tentang muasal kematian Heartfield. Seperti yang kukatakan di awal, kau boleh percaya, boleh juga tidak. Termasuk bila kau meyakini jika Heartfield cuma seorang tokoh rekaan oleh Haruki. Bagaimanapun aku harus menulis cerita pendek yang menarik jika ingin dimuat dan bisa kau baca. Jadi aku menulisnya seperti ini. 

Juni 2013.

Setelah membaca novel “Dengarlah Nyayian Angin” karya Haruki Murakami.

Terima kasih sudah berkunjung. Semoga menginspirasi. Baca juga cerpen Palung

CERPEN KOTA ORANG-ORANG BISU OLEH DADANG ARI MURTONO

CERPEN KOTA ORANG-ORANG BISU OLEH DADANG ARI MURTONO


perempuan yang bisu
image Steve
Siapapun pasti akan sulit percaya bila aku katakan bahwa saat ini aku sedang berada di sebuah kota yang tak ada dalam peta. Kota dengan penghuni yang bisu. Ya. Bisu. Semua penduduknya bisu.

Dan karena semua penduduknya bisu, maka mereka hanya saling tersenyum atau menganggukkan wajah bila berpapasan sebagai tanda menyapa. Mereka menunjuk barang apa saja yang ingin mereka beli di toko. Dan karena semua bisu, maka sebanyak apa pun penduduk kota itu, suasana tetap saja begitu hening.

Kota itu adalah kota yang tua. Begitu tua. Kau bisa mengetahuinya hanya dengan melihat bangunan-bangunan yang ada di kota itu. Semua mengesankan bahwa bangunan-bangunan itu telah ada semenjak ratusan tahun yang lampau. Begitu pula dengan model pakaian yang mereka kenakan. Aku tidak tahu kenapa bisa begitu. Aku menduga karena posisinya yang begitu sulit dicari (bahkan, peta paling lengkap pun tak sanggup menggambarkan letak kota itu), maka kota itu menjadi terputus dengan peradaban yang ada di luar kota tersebut.

Konon, dulu sekali, penduduk kota itu sama seperti orang normal kebanyakan. Tidak bisu. Bisa bicara. Pada waktu itu, kota tersebut dikuasai oleh seorang penguasa yang kejam. Yang begitu haus kekuasaan. Yang takut kekuasaannya bakal direbut orang lain. Tidak sekali dua kali si penguasa menerapkan kebijakan yang sama sekali tidak bijak. Misal: menetapkan tarif pajak yang sama dengan penghasilan penduduknya. Atau ketika si penguasa hendak merenovasi kediamannya yang besar selayaknya istana, mewajibkan setiap penduduk kota itu bekerja di sana tanpa upah. Persis kerja rodi. Atau romusa. Si penguasa juga menjadikan segala tambang yang ada di kota itu (dulu, kota itu memiliki banyak tambang, mulai tambang emas, tambang minyak bumi, hingga tambang batu bangunan) menjadi milik pribadinya.

Tidak ada yang berani melawan si penguasa. Si penguasa memiliki pasukan yang kuat dengan persenjataan yang canggih. Siapa pun yang berani melawan, akan bernasib tragis. Pagi melawan, sore mati. Begitulah selama bertahun-tahun.

Tidak ada yang secara terang-terangan mencoba melawan si penguasa. Semua penduduk merasa ketakutan. Dan orang yang takut, pada akhirnya, hanya berani bergunjing di belakang. Membicarakan segala sesuatu tentang si penguasa yang buruk-buruk.

Namun, seperti kata pepatah, sebaik-baik menyimpan bangkai, baunya akan tercium juga, begitu pula dengan gunjing-gunjing tersebut. Entah bagaimana, si penguasa akhirnya tahu juga bila semua warga kota itu selalu menggunjingnya, membicarakan keburukannya.

“Suatu hari, gunjing-gunjing itu bisa berubah menjadi gerakan pemberontakan!” demikian kesimpulan si penguasa. “Ketika waktu itu tiba, bukan tidak mungkin sekuat apa pun pasukanku, tidak akan dapat meredam orang-orang itu,” pikirnya lagi.

Maka begitulah. Pada suatu ketika, dengan tujuan agar tak ada lagi penduduk kota yang membicarakan keburukannya, yang kemungkinan besar bisa membahayakan kedudukan si penguasa di kemudian hari, si penguasa mengeluarkan kebijakan yang aneh. Kebijakan paling aneh yang pernah dibuat. Memotong lidah semua penduduk kota itu.

Dan bukan hanya lidah orang yang sudah dewasa yang dipotong, melainkan juga lidah anak-anak. Bahkan, lidah mereka yang masih bayi. Lalu begitulah. Entah kenapa, setelah semua lidah penduduk dipotong, setelah semua yang ada di kota itu menjadi bisu, setiap bayi yang lahir, tiba-tiba saja sudah tak berlidah. Semua orang menjadi bisu. Hingga hari ini.

Itu memang cerita yang sulit diterima akal sehat. Namun, cerita itu bukanlah satu-satunya cerita tentang asal mula bisunya penduduk kota tua itu.


Ada cerita lain. Konon, dulu, penduduk kota ini adalah orang-orang yang banyak bicara. Tidak sedetik pun mereka tidak bicara. Bahkan, dalam tidur pun, mereka bicara. Mengigau. Semua selalu ingin bicara. Semua selalu ingin ucapannya yang didengar. Namun siapa yang mendengar bila semua orang hanya ingin bicara? Semua seolah lupa kenapa Tuhan menciptakan satu mulut dan dua telinga. Semua seolah lupa bila Tuhan ingin kita lebih banyak mendengar daripada berbicara. Dan keadaan seperti itu semakin parah karena ternyata yang mereka bicarakan semata bualan! Bualan belaka!

Pada waktu itu, entah dari mana, seseorang yang konon adalah wali Tuhan, sampai ke kota itu. Si wali begitu terkejut mengetahui betapa orang-orang di kota itu teramat suka membual. Namun si wali tahu, lidah bisa membual, tetapi tidak halnya dengan mata. Mata selalu jujur perihal apa yang ada di dalam hati. Segala yang ada di hati, yang sebenarnya, seperti tersirat dari pandangan mata. Mata seolah telaga bening dengan dasar berupa hati. Itu pula sebabnya orang-orang menyebut mata sebagai jendela jiwa.

Konon, kemudian si wali yang prihatin berdoa. Berdoa agar semua orang di kota itu berhenti membual. Agar orang-orang di kota itu tidak lagi bicara dengan mulut dan lidah. Melainkan dengan mata.

Semenjak itu pula, semua orang menjadi bisu. Bisu hingga turun temurun. Hingga hari ini.

Aku tidak tahu cerita versi mana yang benar. Dan itu tak penting benar bagiku. Aku datang ke kota ini dengan niat awal untuk tinggal di sini. Tinggal bersama kekasihku. Kekasih yang pada awal-awal percintaan kami berkata bahwa dia akan selalu mencintaiku. Kekasih yang bersumpah hanya akan mengucap cinta kepadaku.

Waktu itu, aku percaya. Hingga kemudian, beberapa waktu yang lalu, aku tahu, ia menggunakan lidah dan mulutnya untuk mengucap cinta kepada lelaki lain. Dan bukan hanya mengucap cinta, lidah dan mulut itu juga mengecup serta mengulum mulut dan lidah lelaki lain. Bahkan, mungkin, bukan hanya lidah dan mulut lelaki lain itu saja yang ia kecup dan kulum. Mungkin juga bagian tubuh yang lain dari lelaki itu.

Aku cemburu. Aku menuntut sumpahnya. Tapi ia bilang aku terlalu mengada-ada. Ia bilang aku terlalu cemburu. Ia bilang ia tidak melakukan apa-apa yang aku tuduhkan kepadanya. Ia berkata lagi, ia bersumpah lagi tetap mencintaiku. Dan aku meminta pembuktian. Aku meminta kepastian bahwa lidahnya tidak bakal mengucap cinta kepada lelaki lain. Aku meminta kepastian bahwa lidahnya tidak bakal menjilati tubuh lelaki lain.

Begitulah. Dengan bersusah payah, dengan cara yang teramat sulit dijelaskan, kami sampai ke kota ini. Kota tua bisu. Aku yakin, ada enggan di dalam hati kekasihku. Barangkali kadarnya cuma sedikit. Tapi ada. Dan aku memaksanya.

Demi cinta.

“Di sana, di kota orang-orang bisu, tidak bakal ada yang melihat kita dengan aneh. Tidak ada yang memandang kita dengan pandangan kasihan. Bukankah sangat tidak nyaman menyadari bahwa orang memandang kita dengan pandangan yang serupa itu, bukan? Bukankah kita hidup di negeri yang aneh? Negeri di mana orang- orang suka meremehkan orang-orang yang mereka anggap cacat? Di kota itu, di kota orang-orang bisu itu, kita tidak akan mendapat pandangan yang aneh. Kita tetap menjadi manusia yang utuh, manusia normal ketika berada di sana,” kataku. Meyakinkan.

“Bukankah kau mau membuktikan kalau kau memang benar-benar mencintaiku?” desakku.

Begitulah mulanya kami sampai di kota itu. Kami saling mengucap cinta. Mengucap nama masing-masing. Itulah kata-kata terakhir yang lidah kami ucapkan. Sebab setelah itu, kami sama-sama menghunus pisau. Saling memotong lidah. Saling membisukan diri.
Terima kasih sudah membaca. Semoga menginspirasi. Baca juga cerpen Sang Penulis

CERPEN BELAJAR SETIA OLEH BENNY ARNAS

CERPEN BELAJAR SETIA OLEH BENNY ARNAS


perempuan setia menunggu
image
Pada kedatangan tak diundang dan tanpa pemberitahuan, pemuda 27 tahun itu sudah menyiapkan sebuah cerita untuk Mayang, perawan yang saban petang selalu menyendiri di simpang kabupaten. Kebiasaan yang sudah berumur 25 tahun. 

Namun alih-alih mendengarkannya, perempuan itu bahkan tidak serta-merta bisa menerima kedatangan seorang tak dikenal. Pemuda itu berusaha tampak tenang, seolah sudah mengantisipasi semua kemungkinan. Ia katakan bahwa sudah hampir dua tahun ia mencari perempuan itu. Jadi, adalah konyol apabila ia harus kembali tanpa menuntaskan maksudnya. 

Saya datang dari Binjai, sebuah dusun di Muarakelingi, katanya. Namun apalah arti sebuah tempat bagi kedatangan yang tiba-tiba. Mayang bergeming seperti tidak mendengar apa-apa. Bagi si pemuda, itu pertanda baik. Apalagi perempuan itu lalu membuka daun pintu lebih lebar dan menyilakannya masuk. Ah, lampu-lampu di sepanjang jalan tujuannya mulai menyala. 

Namun, baru saja ia duduk di kursi rotan tua dalam rumah papan itu, perempuan itu sudah mengejutkannya. “Namamu Musmulikaing,” begitu gumamnya. Intonasinya datar sehingga kalimat itu tak menjadi kalimat tanya. Dan, ia sepertinya memang tak memerlukan jawaban. Ia hanya menatap si pemuda tanpa selidik. “Aku tak pernah berpikir kalau kali ini mimpiku akan jadi kenyataan.” Lalu ia berlalu ke bilik belakang, menyeka tirai kerang yang sudah jarang dan renggang. 

Pemuda itu diam. Matanya mengekor punggung si perempuan yang lenyap di balik bilik. 

“Sudah puluhan tahun, ada suara yang selalu berdenging dalam mimpi-mimpiku. Seorang pemuda bernama Musmulikaing akan datang dalam waktu dekat.” Suara Mayang terdengar jelas dari balik bilik kayu itu. Sesekali bunyi sendok yang beradu dengan cangkir sayup mengetuk gendang telinga. “Namamu memang rada aneh tapi kedengarannya tak asing. Aku tak tahu kapan dan di mana namamu pernah kuakrabi. Ah biarlah, namanya juga mimpi, kadang tak bisa dinalar.” Perempuan itu sudah kembali menerobos tirai dengan secangkir teh hangat di tangan kirinya. “Tapi mimpi kali ini, bagaimanapun, rasanya ada yang lain.” Ia meletakkan cangkir teh itu di atas meja lalu duduk di kursi rotannya. “Minumlah. Tamu adalah raja. Apalagi tamu dari alam mimpi.” Ia tertawa kecil, seperti mengejek kata-katanya sendiri. 

Pemuda itu cengengesan. Tangan kanannya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. 

“Di zaman sekarang, mimpi yang benar-benar mengisyaratkan sebuah kejadian sudah langka. Mimpi tak lebih sebagai perpanjangan kehendak seseorang; apa-apa yang tidak atau belum mampu diraih di alam nyata, ia bawa ke dalam tidurnya. Mimpi yang begitu, yang disebut bunga tidur, mimpi yang tak berguna!” 

“Lalu untuk apa seseorang dalam mimpi itu mendatangimu?” tanya pemuda itu setelah menyeruput teh. 

Mayang menggeleng. “Tapi… bukannya, kau ingin bercerita?” 

*** 

Syahdan, seorang laki-laki mengungkapkan rahasia terbesar dalam hidupnya. 

Ketika masih muda, ia menjalin hubungan dengan seorang gadis. Pemuda itu ingin mempersembahkan kejutan kepada gadisnya dengan meminangnya tiba-tiba. Benar! Apa yang ia lakukan memang mengejutkan. Pinangannya ditolak. O, bagaimana ia lupa kalau seseorang yang lahir, tinggal, dan berdikari di Binjai, dusun rumah tinggi yang hidup dari menyadap karet dan menjaring ikan seluang di anak Sungai Musi, taklah mampu berdiri di atas anak tangga yang sama dengan gadis keturunan pesirah di Kayuara. 

Tercorenglah keluarga besar sang pemuda. Betapa malunya. Sang gadis benar-benar kecewa dengan apa yang keluarganya perbuat. Ia memang menyesalkan tingkah kekasihnya yang tiba-tiba datang dengan 20 orang sanak kerabat, 12 nampan berisi bejek ketan hitam, 6 tandan pisang tanduk, dan sepikul beras dayang rindu. Namun, sungguh, semuanya menguap dan menjadi tak berarti bila dibandingkan dengan ketakterimaannya atas kepongahan keluarganya. Maka, lewat seorang pesuruh yang setia, ia mengirimkan sepucuk surat kepada si pemuda. Ternyata maksud tak selamanya selaras dengan kenyataan. Surat yang dilemparkan si pesuruh—sebagaimana amanah si gadis—lewat daun jendela kamar si pemuda, tertangkap pandang oleh ayah si pemuda. 

Sebuah rencana pembalasan pun disiapkan. Sang ayah tak pernah menyampaikan surat itu kepada putranya. Bahkan, hingga putranya ia jodohkan dengan seorang perempuan yang masih berkerabat jauh satu tahun kemudian. Ia tahu, putranya menerima begitu saja karena kecewa pada kekasihnya yang tiada kabar berita setelah pengusiran itu. Bagi si pemuda, peristiwa memalukan itu bagai menegaskan bahwa gadis itu sengaja menjauh darinya, melepas hubungan yang sudah sekian lama dikebat…. 

Istrinya, karena tak kuat menjadi pajangan yang hanya digauli di malam punai, akhirnya meradang berpanjangan. Sebenarnya, tiadalah si pemuda bermaksud demikian. Namun, alam bawah sadar bagai menuntunnya untuk melakukan hal-hal yang bukan tabiatnya. Mereka tak ubahnya dua orang asing yang dirumahkan. Tanpa sapa, canda, apalagi cerita mesra. Entah karena ajal yang sudah tiba atau rajaman kenelangsaan, sang istri meregang nyawa beberapa hari seusai melahirkan anak pertama; laki-laki. 

Suaminya membesarkan putra semata wayangnya sendirian. Ia ingin membuktikan kepada ayahnya yang sudah renta bahwa cintanya kepada gadis Kayuara itu tak akan luruh hingga kapan pun, oleh apa pun. Awalnya sang ayah tak mengacuhkan. Namun, mendapati kenyataan bahwa putranya mampu hidup sendirian sembari membesarkan cucunya hingga bujang, adalah tamparan keras baginya. Ia trenyuh. Sungguh, sebenarnya ia benci pada ketaklukannya. Namun begitu, sejatinya ia lebih benci lagi pada keegoisannya yang berlumut dan baru terkikis setelah hampir seperempat abad kemudian—walaupun ia jua takkan lupa kesombongan keluarga si gadis. 

Maka, pada suatu malam yang temaram, di ujung sakit tersebab usia yang berkarat, ia membuka rahasia itu. Tentang surat itu. Tentang pertemuan—di simpang kalangan dekat pohon merbau di Muarabeliti jelang terbenamnya matahari—yang tak pernah ia beritakan kepada putranya. 

*** 


“Simpang Muarabeliti—ibu kota kabupaten?” Tiba-tiba perempuan itu menyela. Pemuda itu mengangguk. 

“Petang?” Pemuda itu mengangguk lagi. 

“Jadi surat itu tak pernah dibacanya? Apakah laki-laki itu tahu bahwa, hingga saat ini, gadisnya masih melajang?” Pemuda itu diam. 

“… dan hidup sebatang kara karena keluarganya tak sudi punya anak pembangkang, tak sudi serumah dengan gadis yang mencintai pemuda tak sepadan.” 

Tiba-tiba perempuan itu bangkit dari tempat duduknya. “Mengapa, mengapa ceritamu….” 

“Ya, mungkin Ibu heran mengapa ceritaku sangat mirip dengan kisah hidup Ibu, bukan? Ibu pernah tinggal di Kayuara?” 

“Jangan sok tahu!” Suara Mayang meninggi. 

“Bukannya Ibu yang sok tahu?” Pemuda itu balas berseru. “Ibu sok tahu kalau gadis dalam ceritaku masih melajang hingga kini!” 

Mayang tercenung seperti terhenyak. Lalu perlahan ia kembali duduk. “Ternyata penantianku adalah panggilan tanpa bunyi dan jawaban.” Suaranya terdengar lempang tanpa gairah. Matanya memerah. 

“Penantian? Menantikan laki-laki dalam ceritaku?” Suara pemuda itu lirih, hampir tak terdengar. 

Mayang tak menjawab. Hanya air matanya yang tiba-tiba meleleh. 

“Menantikan Semibar?” Suara pemuda itu bagai tercekat. 

“Dan kau adalah Musmulikaing.” Suara Mayang memarau. Ada senyum tipis, sangat tipis, menggurat di bibir perempuan itu. Ia menyeka air matanya dengan ujung baju katunnya. 

“Bukan!” tukas pemuda itu cepat. “Aku….” 

“Ya, bukan hanya itu!” potong Mayang tak kalah cepat. “Musmulikaing adalah buah perkawinan Semibar dengan Jeruma yang tak berumur lama.” 

Mulut pemuda itu terkunci. 

“Dan gadis Kayuara itu adalah Mayang Nilamsari binti Umar Hamid, kan?!” 

Pemuda itu tiba-tiba merasa kerongkongannya menyempit. 

Perempuan itu kini tersenyum, benar-benar tersenyum. “Terima kasih atas ceritamu. Ayahmu memang pujangga ulung. Untuk menjelaskan semua keganjilan masa silam kami, ia bahkan merasa perlu mengutusmu untuk bertandang dalam mimpi-mimpiku sebelum akhirnya hadir di hadapanku.” 

Pemuda itu tersenyum, senyum yang lebih mirip seringaian. 

“Aku tidak marah pada Semibar. Tak ada guna. Aku bahkan memaklumi perkawinan itu. Cinta yang tulus adalah tinta daun bilau yang menetes di kain kafan, nodanya takkan terkelupas apalagi terhapus oleh air hujan sekalipun. O ya, sampaikan pada ayahmu: ‘Ada salam dariku’.” 

Pemuda itu bangkit dari tempat duduknya. Sebenarnya ia ingin menjelaskan kalau namanya bukan Musmulikaing. Tapi hal itu menjadi tidak penting lagi ketika mendapati kenyataan yang begitu menggetarkan: seorang perempuan rela melajang hingga usianya merayap separuh abad. 

Pemuda itu mencium punggung tangan Mayang dengan takzim, seolah tengah mengucapkan selamat tinggal kepada ibu kandungnya, untuk membawa kabar gembira nan memilukan ke tepian anak Sungai Musi lalu menyampaikannya kepada Semibar. 

Kepada ayahnya.
Terima kasih sudah berkunjung. Semoga bermanfaat. Baca juga cerpen Rasa

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia